Ace of Wands-4

1813 Kata
Bara berjalan lebih dulu sambil membuka pagar besi berwarna hijau. Sena sedikit berlari dengan tangan kanan yang menenteng helm saat menyusul Bara yang telah berada di luar halaman rumahnya. "Lo yakin, Bar?" tanya Sena memastikan ulang. "Sen, lo udah nanya 5 kali dari tadi. Gue yakinlah kenapa engga," jawab Bara sedikit sensi. "Ya gue cuma mau memastikan aja karena tumben-tumbenan banget lo tertarik sama dunia luar. Diajakin nongkrong aja biasanya lo gamau." "Gak punya duit buat nongkrong, kan anak kosan mesti hemat," kilah Bara. "Alasan aja lo. Ya udah buruan, kita berangkat sekarang nanti keburu telat." "Acaranya di mana, sih?" tanya Bara sembari mengambil kunci motor di saku kiri jaketnya. "Di parkiran kampus B, seru deh acaranya tapi gak tau menurut lo gimana soalnya kan lo sukanya yang sepi anyep kayak anu," goda Sena. "Ngeres otak lo, udah buruan berangkat katanya takut telat." Selama perjalanan dari rumah Sena, Bara sejatinya ingin cepat-cepat sampai karena penasaran akan suatu hal. Perasaannya tidak tenang saat melihat Samantha menemui Sena tiga minggu lalu. Ia ingin bertanya langsung kepada Sena, namun sungkan karena takut dianggap mencampuri urusannya. Hingga pada akhirnya, Sena bercerita jika UKM yang diikutinya mengadakan acara setelah ujian semester selesai. Ini merupakan kesempatan emas bagi Bara. Oleh karena itu, ia rela mengorbankan waktu santainya di malam Minggu ini agar bisa pergi ke acara itu bersama Sena. Bara pun tidak menyangka dirinya akan berbuat sejauh ini. Ia tidak bisa menepis rasa ingin tahunya mengenai apa yang terjadi antara Sena dengan Samantha. Apakah Sena menyukai Samantha? Jika iya, rasanya tidak rela. Entah kenapa hal ini jadi menyangkut perihal ketidakrelaan. Bara tidak yakin apabila Samantha menyukai Sena karena gadis itu terlalu serius, sedikit misterius, dan terkesan introvert untuk Sena yang lebih bersikap santai serta sangat adaptif dengan lingkungan pertemannya. Tapi, banyak orang yang beranggapan jika sepasang kekasih hendaknya yang saling mengisi. Sena dan Samantha mempunyai sikap dan sifat yang berbeda 180 derajat. Belum lagi ciri-ciri perempuan yang Sena sukai mewakili apa yang ada pada diri Samantha. Tinggi. Untuk ukuran anak perempuan, Samantha termasuk memiliki badan tinggi. Pintar. Bara akui jika Samantha terlihat pintar apalagi dari caranya menyampaikan suatu penjelasan yang membuat Bara mudah memahaminya. Berkacamata. Samantha memakai kacamata dengan lensa yang cukup tebal. Itu sudah menjadi sebuah ciri khas seseorang yang pandai, bukan? Karena sesuai dengan stereotipe masyarakat yang menganggap jika seseorang yang memakai kacamata biasanya dianggap pandai. Cantik? Ah, Sena tidak menyebutkannya. Tapi menurut Bara, Samantha bukanlah anak gadis yang berpenampilan mengikuti mode. Ia berpakaian sesuai standar dan ketentuan selayaknya mahasiswa pada umumnya. Bara menekan rem dengan kedua jarinya. Ujung kakinya ia ketuk-ketukan pada aspal yang masih basah berkat sisa hujan tadi sore. Matanya fokus mengamati hitungan waktu yang terdapat pada lampu lalu lintas. Bara gelisah. Perasaannya belum tenang sebelum mengetahui kepastian yang sebetulnya tidak perlu ia cari. "Bar! Bara!" panggil Sena dengan menepuk punggung Bara cukup kencang. "Udah lampu ijo, mau bengong sampai kapan? Sampai semut jadi mamalia?" Bara yang tidak menyadari situasi, langsung melajukan motornya membelah jalanan yang cukup ramai. Setelah berkendara selama 15 menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. "Bengong mulu lo, Bar. Kenapa sih?" tanya Sena geregetan. "PMS," Bara menyahut asal. Sena mendelik, berusaha sabar dengan tingkah aneh temannya itu. Sudah 3 minggu lamanya Sena dibuat kesal dengan tingkah Bara. Sejak menceritakan jika dirinya akan pergi ke pagelaran acara sastra dan budaya, Bara nekat dan memaksa untuk ikut dengannya. Padahal sesungguhnya acara ini diprioritaskan untuk anak SasBud saja. "Demi lo, Bar, gue rela mintain tiket masuknya. Untung masih ada sisa dan kebetulan beberapa anggota SasBud pada halangan hadir," ungkap Sena sembari mengulurkan tiket masuk kepada Bara. "Makasi, ya, Sena ganteng. Emang teman terbaik yang pernah gue punya. Tapi kan gue juga berkontribusi bantu beli dua paket bazar lo. Mana harganya gak masuk akal lagi." "Ya namanya juga nyari untung, masih mending bantu beli bukan bantu jual risol sama piscok keliling." "Lo gak ketemuan sama cewe yang lo suka, Sen?" tembak Bara tanpa basa basi. "Gak janji ketemuan juga pasti bakalan ketemu di sini," sahut Sena acuh. "Kenapa lo? Belum deketin dia juga?" "Belum, mana sempet gue deketin dia. Gue aja masih pusing dari beberapa minggu lalu ngerjain tugas sama praktik ujian. Deketin cewe itu perlu waktu dan strategi, Bar." "Menurut gue titik krusialnya itu pas sebelum lo deketin cewe. Pas sebelum deketin alias masih ada di tahap tertarik, lo harusnya bisa menilai dia kayak gimana biar waktu yang lo punya gak kebuang sia-sia. Di titik ini menurut gue yang paling butuh strategi matang." Sena menggeleng mendengar ucapan Bara. "Menurut gue, dengan lo mempelajari atau menilai seseorang itu udah termasuk ngedeketin gak sih?" "Tergantung, Sen. Tergantung maksud, tujuan, dan perasaan lo kayak gimana. Gini, cowo atau cewe tertarik sama lawan jenis itu ada alasannya, kan?" Sena mengangguk setuju dengan pertanyaan Bara, lalu meminta Bara untuk melanjutkan penjelasannya. "Belum berarti pas kita tertarik, langsung muncul keinginan untuk memiliki. Pas di tahap itulah pentingnya mempelajari, menilai, dan jangan lupa mengontrol perasaan. Itu fungsinya biar kita tau, gimana sih sifat dan sikap dari orang ini secara luar. Baru deh di sana lo nentuin sikap, mau berjuang buat ngedeketin sampai dia jadi milik lo atau berhenti. Karena menurut gue, penilaian awal tanpa melibatkan perasaan bakalan lebih manjur dan bikin kita lebih peka buat ngerasain perasaan kita yang sebenarnya. Intinya, jadi lebih objektif dan gak bias lah." "Terus cara kita ngelakuin itu semua gimana?" "Dengan cara lo perhatiin gimana dia berinteraksi sama lo, gimana dia interaksi sama orang lain, atau gimana dia memperlakukan orang lain. Itu beberapa contohnya. Karena ketika kita suka orang, hal positif bakalan mendukung penilaian kita terhadap dia dan itu gak cuma berputar antara lo sama dia, tapi juga antara kalian dan orang-orang di sekitar." Bara menarik napas, lalu membuangnya perlahan. Ia merasa terlalu bersemangat dan emosional jika sudah membahas tentang perasaan. "Sampai mana tadi, Sen? Gue terlalu semangat nih kalo udah bawa-bawa perasaan," tanyanya yang langsung digubris oleh Sena. "Sebenernya ini strategi aja biar kita gak terperangkap sama ekspektasi kita sendiri. Lebih baik kita mencari kebenaran atas ekspektasi kita pas masih belum ngedeketin ketimbang pas udah PDKT. Karena pastinya kita mengutamakan ego daripada logika. Manusia itu egois, kalo udah merasa melakukan pengorbanan untuk sesuatu yang dipengenin, kemungkinan bakalan tutup mata dan memperbesar toleransi untuk hal-hal yang sebenernya gak cocok sama kita." "Jadi intinya, lo berharap gue hati-hati biar gak sakit hati, Bar?" "Yes, betul. Gue gak mau lo sakit hati, ekspektasi dan keinginan itu membunuh. Waspada aja sih, butuh waktu buat memutuskan segala hal. Apalagi kalo masalah hati," ucap Bara penuh keyakinan. "Gue merasa lo rada aneh akhir-akhir ini. Kalo tiap bahas perasaan, lo kayak denial dan keliatan gak mau banget yang namanya ngalamin sakit hati. Bener, gak?" "Hm..., gue takut aja ngalamin itu semua makanya kalo gue tertarik sama orang butuh waktu untuk membenarkan itu semua. Mending gue sakit maag daripada sakit hati. Kalo sakit maag tinggal minum promag." "Jayus, Bar, asli. Mending kita keliling aja deh nyari camilan sambil denger orang nyanyi-nyanyi," ajak Sena yang berjalan lebih dulu. Bara dan Sena berkeliling sambil melihat-lihat situasi. Bara menilai ini seperti acara pasar malam dengan panggung hiburan yang terletak di tengah-tengah. "Kok gue berasa lagi di pasar malem, ya," Bara menoleh pada Sena yang tengah asyik menuangkan sambal pada semangkok baksonya. "Iya gue juga merasa gitu, Bar. Cuma kurang wahana bermain aja." "Terus mana pertunjukan sastra dan budayanya? Dari tadi gue liat orang nyanyi aja," keluh Bara. Sena diam tidak menjawab pertanyaan Bara karena tengah fokus menyantap bakso di depannya. Mereka makan dengan tenang, namun beberapa menit kemudian Sena mengeluh kepedasan. "Aduh, Bar, mules gue besok." Sena mengeluh sambil membuka sebotol air mineral lalu meneguknya sampai habis. "Ngapain juga ngambil sambel banyak-banyak. Besok juga hari minggu jadi aman, Sen, kalo kebelet," ungkap Bara berusaha menenangkan. Sena terdiam tanpa melakukan apapun, masih khawatir jika serangan perut mulas muncul tiba-tiba. Sementara Bara memainkan ponselnya sekejap kemudian menutupnya kembali. "Gak ada yang ngabarin ya, Bar?" ledek Sena. "Ada kok barusan operator," sahut Bara tak mau kalah. "Eh gue baru inget, di sini ada stand ramalan. Kesana yuk, Bar!" Sena berdiri dan langsung berjalan lebih dulu. Bara mengernyit, bisa-bisanya Sena percaya dengan ramalan di jaman seperti ini. Namun akhirnya ia pun turut mengikuti langkah Sena dari belakang. Sesampainya di stand ramalan, Sena harus mengantri beberapa menit karena pengunjung yang datang lumayan banyak. Bara membaca daftar harga yang tertera pada meja. Dahinya berkerut dan ia mendumal dalam hati. Untuk satu kali ramalan menggunakan kartu tarot, Sena harus membayar sebesar Rp.50.000 dan akan diberikan tiga kali kesempatan bertanya yang berkaitan dengan percintaan, karir, dan keuangan. Bara bergumam dan mulai membandingkan. Lebih baik membeli makanan atau minuman kesukaannya dibandingkan membayar ramalan yang tidak jelas kebenarannya. Di sisi lain, Sena nampak antusias menguping tiap ramalan yang dibacakan dibalik tirai. Bara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Sena yang kadang terlalu kekanak-kanakan. "Halo, namanya siapa? Dan mau pilih paket yang mana?" sapa peramal tersebut dengan ramah. "Nama saya Sena. Mau pilih ramalan tarot yang tiga pertanyaan. Tapi sebenernya saya cuma mau nanya dua hal aja, keuangan sama percintaan. Kira-kira harganya bisa ditawar gak, Mbak? Kan saya cuma nanya dua," tanya Sena tanpa merasa malu. Bara syok mendengar pertanyaan Sena. Bisa-bisanya ia melakukan penawaran pada harga yang sudah pasti. "Sen, lo jangan malu-maluin deh. Ngapain isi nawar sih ini bukan pasar!" protes Bara. "Namanya juga usaha, Bar. Gue gak pengen nanya karir maunya dua itu aja," ungkapnya setengah berbisik. Peramal tersebut hanya tersenyum. Lebih tepatnya berusaha tersenyum agar image-nya tidak rusak di depan pengunjung lain. "Maaf, ya, Sena, sayangnya gak bisa. Tapi biar kamu gak rugi bayar, mending pertanyaan satu lagi kamu kasi ke temanmu aja. Beres, kan?" tawar peramal itu berusaha memberikan jalan tengah. "Wah, boleh juga. Kalo gitu ramalin temen saya tentang percintaan ya. Namanya Bara," ujar Sena tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu. Bara tak berkutik, hanya menghela napas. Percuma juga protes, jadi ia hanya menunggu giliran saja untuk diramal. Bara sungguh tidak tertarik pada ramalan, mungkin nantinya ia akan manggut-manggut saja saat dijelaskan perihal hasil ramalannya, lalu pergi jika sudah selesai. Singkat cerita, Sena sudah selesai diramal dan ekspresi wajahnya kusut. "Bar, sakit hati abang. Masa katanya gue diminta jangan terlalu berharap sama yang saat ini karena yang lebih baik akan muncul belakangan. Huh, jodoh gue di mana, ya, kenapa munculnya lama," cicit Sena. Bara tidak banyak merespon. Hanya menyarankan Sena untuk lebih bersabar. Kini giliran Bara yang diramal dan ia diminta untuk memilih satu kartu. "Impressive! Ace of Wands," ucap peramal itu sembari menyodorkan kartu tersebut kehadapan Bara. "Adanya peluang untuk menjalankan sesuatu yang telah direncanakan. Cukup jalani saja sesuai alur, maka kemungkinan besar kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kalo lagi ada gebetan, mending langsung deketin karena di sini kamu punya pe-lu-ang," ucap peramal itu penuh penekanan. "So, good luck, Bara! Believe in your feeling walaupun kamu sering denial." Bara mengucapkan terima kasih dan keluar menemui Sena. Tiap ucapan dari sang peramal ia dengarkan dengan baik hingga terngiang di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN