"Sam, jadi gimana keputusan lo? Mau dituker atau ditetepin aja sesuai sama rundown?"
"Bentar, aku masih mikir," Samantha menekan pelipisnya. Berusaha tetap tenang agar dirinya tidak tenggelam dalam kepanikan. "Ca, tunggu lagi 5 menit ya. Aku lagi mikir-mikir banget."
"Iya, oke. 5 menit lagi gue balik ke sini. Lo pikirin aja dulu. Nanti gue suruh MC buat ngulur waktu," ucap Ica seraya berlalu meninggalkan Samantha sendirian di sebuah ruangan. Ia hanya ingin memberikan ruang agar Samantha bisa berpikir dengan baik.
"Thanks, Ca!"
Samantha kembali larut dalam pikirannya. Ia sesungguhnya bingung harus bagaimana. Acara UKM SasBud yang sudah direncanakan secara matang serta dinanti-nantikan olehnya dari jauh-jauh hari, kini harus kembali ia pikirkan hingga membuat kepalanya pening.
Eternal, salah satu band pengisi acara utama mendadak tidak bisa hadir tepat waktu karena suatu hal. Kabar tak mengenakkan itu baru diterima Samantha tiga jam sebelum mereka tampil. Ica mengatakan jika mereka baru bisa tampil pada pukul sebelas malam. Padahal, pihak Eternal pun sudah mengetahui rundown acara dari awal hingga selesai. Sangat tidak mungkin untuk memberikan mereka tampil di waktu yang bertepatan dengan berakhirnya acara.
Dan kini, Samantha pun harus memutar otak karena jadwal acara menjadi berantakan. Ia merutuki dirinya sendiri. Kesal karena sejak tadi, perasaan serta logikanya tidak bisa bersatu untuk memutuskan pilihan mana yang harus ia jalankan.
Samantha takut jika banyak orang akan kecewa karena Eternal tidak jadi tampil malam ini. Apalagi mereka adalah line up yang paling ditunggu-tungu pemampilannya karena dijuluki sebagai kumpulan anak laki-laki idaman dan bertalenta.
Banyak rumor beredar jika para pengagum Eternal tidak bisa bertemu dengan kelima anggota band tersebut secara langsung di kampus, maka pada kesempatan seperti ini mereka akan berbondong-bondong datang hanya untuk bertemu idolanya.
Samantha melihat arloji yang terpasang pada tangan kanannya. Ternyata sudah tiga menit berlalu, namun tetap saja otaknya masih buntu karena bingung harus memutuskan jalan mana yang harus ia tempuh.
Setelah rapat dadakan bersama anggota panitia lainnya diadakan, Samantha dihadapkan oleh dua pilihan berat. Antara harus memilih anggotanya atau menyenangkan para pengagum Eternal.
Pertama, Eternal tetap tampil pada pukul sebelas malam, namun sisi lain, biaya sewa untuk segala peralatan pendukung serta dekorasi secara otomatis terkena biaya tambahan.
Samantha pening membayangkan ongkos yang harus dikeluarkan meskipun itu tidak memakai uangnya sendiri. Tetapi, sebagai seorang ketua pelaksana sekaligus ketua UKM SasBud, ia merasa iba dengan anggotanya. Terutama anggota dari divisi dana dan usaha yang telah bersusah payah mengumpulkan dana tambahan di luar sponsor.
Kedua, Eternal tidak jadi tampil. Tetapi konsekuensinya, Samantha harus siap merasakan kekecewaan orang-orang yang telah hadir dan meramaikan acara hari ini. Hatinya tidak tenang membayangkan hal itu terjadi.
"Gimana, Sam? Udah?" tanya Ica dari balik pintu, kepalanya menyembul ke dalam dan melihat Samantha sedang memandangnya sambil berkaca-kaca.
"Sam, kok nangis?" tanya Ica panik.
"Aku takut ngecewain orang lain. Aku pengen Eternal tampil, tapi kasian kalo kas internal jadi berkurang. Kan lumayan bayar biaya sewanya," keluhnya.
"Gak masalah kok. Ini kan udah diomomgin tadi sama anak-anak lain. Lo gak usah merasa gak enakan, gue oke aja kalo Eternal tampil," ujar Ica sembari memberikan selembar tisu kepada Samantha.
"Lo gak boleh terus-terusan gak enakan jadi orang. Kurangin dikit kenapa sih, lo udah gede dan lo harus bisa speak up apa yang lo mau. Lo itu ketua pelaksana dan tanggung jawabnya gede. Sekarang udah gak ada waktu buat ngulur-ngulur lagi karena jamnya udah mepet banget. Kalo lo masih gak enakan jadi orang, mending lo berubah jadi buah-buahan aja deh."
Samantha tertawa mendengar ucapan temannya itu. Jarinya bergerak mengusap kedua sudut mata yang masih basah dengan tisu pemberian Ica. Ia menarik napas, menghembuskan, lalu memenjamkan matanya sesaat.
"Aku mau Eternal tetep tampil, Ca. Makasi, ya, udah bantuin aku ngambil keputusan," kata Samantha dengan senyum berseri.
"Nah, gitu dong. Dari tadi kek, kan gue bisa konfirmasi lebih cepet sama Eternal. Penonton juga gak bakal kecewa sama kita."
"Itu sih karena kamu juga suka sama Eternal dan pengen banget nonton mereka tampil lagi."
"Kalo itu gak usah ditanya, siapa coba yang gak suka sama Eternal. Duh, gak sabar nanti nonton mereka!" Ica melompat-lompat kecil, merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu idolanya. "Udah ya, gue mau keluar dulu. Nanti gue kabarin jam berapa mereka nyampe di lokasi. Dah, Sam!"
***
"Kenapa jadi ramalan lo yang hasilnya bagus dan ramalan gue yang gak bagus? Aneh," keluh Sena tak henti-henti mempertanyakan hal serupa sejak tadi.
"Mana gue tau, emang lo percaya banget sama omongan peramal tadi?" tanya Bara sangsi.
"Gak percaya!" Sena menyahut dengan suara meninggi. Ia masih menyayangkan hasil ramalannya tadi karena tidak sesuai ekspektasi.
"Lah, kok engga?"
"Karena hasilnya gak bagus makanya gue gak percaya, Bar. Gue itu percaya dan senang mengaminkan ramalan yang bagus-bagus aja. Kalo ramalan gak bagus, gue sih gak milih buat percaya."
"Itu namanya lo sesuka hati. Mana ada hasil ramalan selalu bagus. Hidup kita gak sesempurna itu kali, Sen."
"Gue percaya dan suka baca-baca ramalan tiap minggu kok. Tapi gak ada salahnya menurut gue buat gak percaya sama hasil ramalan yang gak bagus menurut pandangan kita. Istilahnya kayak mencoba untuk melindungi diri dengan memikirkan hal yang baik-baik aja."
"Kalo menurut gue, kalo lo suka sama suatu hal, harus siap untuk menerima segalanya. Entah itu tentang kekurangan dan kelebihannya sekalipun. Sama aja kasusnya kayak sekarang, lo suka baca ramalan tapi malah gak suka sama hasilnya yang negatif. Padahal, itu bisa kita jadiin buat masukan dan antisipasi. Percaya gak percaya, bisa jadi ramalan yang lo baca itu suatu pertanda tentang terjadinya sesuatu di masa depan. Jadi lo punya waktu buat siap-siap, gitulah intinya."
"Iya gue ngerti dan pernah mikir kayak gitu juga. Tapi gimana ya, gue orangnya gak suka mikirin hal-hal kayak gitu nanti jatuhnya kayak kepikiran terus dan bikin gak nyaman."
"Terserah lo aja, tiap orang memang punya pilihannya masing-masing dan yang penting kita nyaman dengan pilihan itu. Tapi kalo misalnya lo gak suka sama hasil ramalannya, jangan ngeluh aja, tapi ambil hikmahnya. Ramalan itu kan yang buat manusia, jangan dipikirin terlalu serius. Buat seneng-seneng aja."
"Iya, iya. Gue gak ngeluh ke lo lagi kalo nanti hasil ramalannya gak bagus. Mau ngeluh sama buku diari aja."
"Ya, sana, kalo mau ngeluh sama buku diari. Gue tunggu sampai bukunya penuh, nanti gue maling terus gue foto dan masukin ke grup angkatan."
Sena balik berdecih sambil sedikit mengumpat. Bara selalu bisa membalas ucapan ngawurnya dengan candaan bernada ancaman.
"Siapa yang percaya ramalan?" ucap seseorang di belakang mereka.
Sena dan Bara kompak menoleh, sedikit terkejut dengan kehadirannya. Namun, hal yang terjadi selanjutnya justru tak mampu Bara duga.
"Ya ampun, Saman! Ngagetin aja," Sena menepuk pelan lengan Samantha sambil tertawa.
"Kamu sama siapa ke sini?" Samantha bertanya sambil melirik Bara yang tengah menatapnya juga.
"Ini sama temen gue. Eh, Sam, gue dari tadi nyariin lo. Gue chat kok gak dibales?"
Bara terperanjat mendengar kata-kata Sena. Apakah ia tidak salah dengar tadi? Itu berarti Sena dan Samantha sudah saling menyimpan nomor ponsel masing-masing. Sayang sekali, Bara ketinggalan banyak informasi.
Samantha mengeluarkan ponselnya, lalu mengecek pesan yang dikirimkan oleh Sena. "Maaf, tadi lagi hectic banget. Aku sempet pusing karena ada masalah, tapi, ya udah bisa diselesaikan sih."
"Waduh, masalah apaan?"
"Eternal gak bisa hadir tepat waktu, jadi acaranya berantakan dan molor. Mereka baru tampil jam sebelas malem. Tapi, untungnya sih mereka mau dateng meskipun telat. Cuma tetep aja rasanya kayak kecewa."
"Eternal, saha?" Sena kembali bertanya.
"Kamu gak tau Eternal?"
Sena menggelengkan kepala, sama sekali tidak mengetahui siapa yang sedang dibicarakan oleh Samantha.
"Itu band populer di kampus kita yang anggotanya salah satu anak BEM. Kalo gak salah inget, itu temen kamu deh."
"Siapa temen kita anak band, Bar?" Sena menoleh pada Bara yang sejak tadi diam membisu.
"Evan," jawab Bara singkat.
"Oh, si Evan. Lupa gue punya temen anak band. Gue tau dia punya band, tapi gak tau namanya. Lebih tepatnya gak peduli sih."
"Nah, bener. Namanya Evan, temen kamu, kan, Sen?"
Sena manggut-manggut membenarkan. "By the way, kenapa mereka telat? Gak profesional, gimana nanti kalo udah terkenal jadi artis? Masa mau telat juga."
"Katanya ada masalah yang gak bisa mereka selesaikan dengan cepet. Gak jelas juga masalahnya apaan. Intinya gitu, mereka gak ngejelasin apa-apa. Aku kesel dan langsung mikir kalo mereka batal tampil. Terus aku suruh buat balikin feenya. Eh, tiba-tiba mereka bilang bisa tampil, tapi agak maleman."
"Masalah apaan? Tadi sore aja Evan main futsal kok," celetuk Sena.
Samantha nampak terkejut. "Serius?"
"Ngapain gue bohong, kan gue temennya. Mungkin dia kesandung main bola terus pendarahan, masuk UGD, kakinya dijahit. Makanya gak bisa dateng tepat waktu."
"Jangan ngawur, Sen. Itu Evan dateng, sehat-sehat aja dia," ucap Bara.
Samantha dan Sena melihat ke arah pandang Bara. Ternyata memang benar Evan baik-baik saja. Bahkan, ia tertawa bersama teman-temannya seperti tidak ada beban sama sekali. Mereka tidak menunjukkan rasa sungkan atau bersalah, justru lebih terlihat ke wajah yang berseri-seri karena sedang tebar pesona kepada beberapa anak perempuan yang kebetulan ada di sana.
Evan dan teman-temannya terlihat membawa beberapa peralatan band yang akan digunakan saat tampil nanti. Dari kejauhan, nampak Ica tengah menyambut kedatangan mereka dan mengarahkan untuk memasuki salah satu ruangan.
"Aku ke sana dulu, ya. Eternal udah dateng," ujar Samantha. Sebelum benar-benar pergi, ia melirik Bara yang memilih untuk membuang muka.
"Dah, Saman. Semangat, ya!"
"Lo chat-chatan sama dia, Sen?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Jadi, dia orang yang lo suka?" tanya Bara cepat.
"Enggak, gue gak suka dia. Dia itu temen gue," elak Sena.
"Kalo temen kenapa lo chat-chatan sama dia? Lo bohong, kan? Dia pasti orang yang lo suka. Ngaku, gak?"
Sena menyilangkan tangan ke depan dadanya, kesal dengan Bara yang terus menuduhnya. "Kalo gue suka dia, kenapa? Terus kalo gue gak suka dia, kenapa?"
"Gak ada. Cuma nanya aja, kan gue perhatian sama temen gue sendiri."
"Perhatian apanya, itu sih lo maksa buat pengen tau. Udahlah, gak penting juga. Mending kita nonton Eternal aja yang katanya band populer tingkat kampus."
"Gak, ah! Gue mau pulang. Ngantuk, mau tidur. Gak tertarik nonton Eternal."
Bara berjalan ke arah berlawanan, meninggalkan Sena yang termenung memandang kepergiannya. Sena hanya bisa pasrah dan menghela napas berulang kali. Hari ini dengan terpaksa ia menuruti keinginan Bara.
"Awes aja lo Bara! Mentang-mentang gue nebeng main tinggal aja," gerutunya.
"Buruan, gue tinggal nih?" ucap Bara sambil menahan tawa.