Sena vs Ade-6

1520 Kata
Suasana ruang UKM SasBud terpantau sepi padahal ada beberapa orang di dalamnya yang tengah sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Sesekali bunyi kasak-kusuk serta bisikan terdengar, namun hanya beberapa saat karena setelahnya kondisi ruangan kembali senyap. Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu terdengar, tetapi tidak ada seorang pun yang berniat untuk berdiri dan membukakan pintu. Semuanya tengah fokus dengan kesibukan masing-masing. Karena tak kunjung ada respon, seseorang di luar sana mengetuk kembali dengan tenaga yang lebih besar hingga membuat salah satu mahasiswa bertubuh gempal berdecak, kemudian bangkit membukakan pintu. "Siapa sih?!" omel Ade, salah satu anggota senior UKM SasBud yang terkenal dengan kejutekannya. Selan itu, Ade pun sangat pemilih saat mengajak seseorang untuk berinteraksi, sehingga tidak sedikit orang yang kesal dengan tingkah lakunya itu. Dengan sekali sergapan Ade membuka pintu. Raut wajahnya yang tadi kesal kini semakin terlihat kesal setelah mengetahui siapa yang muncul di depannya. Kepala Sena menyembul ke dalam. Ade adalah orang pertama yang dilihatnya. Dari jarak yang lumayan dekat, Sena berusaha tersenyum ramah meskipun disambut dengan acuh oleh Ade. "Siang Kakak Ade, boleh masuk?" tanyanya sopan, namun tidak digubris sama sekali. Ade melengos pergi sementara Sena hanya mengelus pelan dadanya karena sejak pertama kali bertemu, Ade sangat sinis dengannya. Sena pun heran dan bertanya-tanya mengapa orang itu bersikap demikian padanya. Saat hendak melangkahkan kaki kirinya melewati garis pintu, Ade tidak sengaja menoleh ke belakang. Matanya terbelalak karena Sena nyaris menumpu kaki kirinya saat hendak melangkah memasuki ruangan. "Aturan bersama. Satu, dilarang memasuki ruangan dengan memakai sepatu demi kenyamanan bersama," kata Ade dengan suara meninggi yang membuat Sena terkesiap. Sena menyengir, bingung harus merespon apa. Beberapa pasang mata tertuju padanya, ia seperti kucing yang tengah tertangkap basah mencuri ikan. Dengan cepat Sena mundur ke belakang untuk melepas sepasang sepatunya. Bahkan, alas kakinya pun turut ia lepas agar Ade tidak menegurnya kembali. Kepercayaan diri Sena bertambah saat melangkah masuk dengan kaki telanjang karena Ade tidak memiliki alasan apapun untuk menegurnya lagi. Sungguh menyebalkan, gerutu Sena dalam hati. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk menemukan seseorang yang sedang dicari. Ternyata orang itu berada di pojok ruang sebelah kiri dengan posisi tengah duduk bersila dan sibuk dengan laptop yang berada di atas kursi. Sena mulai berjinjit, takut jika langkah kakinya bisa menimbulkan suara yang mampu mengusik Ade. "Siang Kakak Saman," bisiknya perlahan. Samantha tersenyum sebentar dan berpaling karena masih melanjutkan pekerjaannya yang belum usai. "Kenapa, Sen?" "Sam, lo lagi sibuk, ya? Kayaknya gue ganggu lo deh," ucap Sena sambil memperhatikan apa yang tengah dikerjakan Samantha. Alih-alih menjawab, Samantha justru bertanya hal lainnya kepada Sena. "Gak ada kelas?" Sena menggeleng. Ia memandang Samantha dari arah depan tanpa suara dan masih berharap pertanyaannya segera digubris. "Agak sibuk sebenernya, tapi ada perlu apa?" tanya Samantha tanpa menoleh. "Bulan Juli kan masih lama nih, boleh daftar perekrutan lebih awal?" Samantha kali ini menoleh dan menutup setengah layar laptopnya. "Maksudnya? Ada yang mau masuk SasBud?" "Iya, temen gue mendadak kesurupan pengen masuk SasBud. Bisa gak kira-kira? Karena kalo nunggu bulan Juli kan lama Sam," pintanya. "Gak bisa sih karena sistem perekrutan itu setahun sekali di bulan Juli. Jadi mau gak mau temen kamu harus nunggu. Emang siapa temen kamu yang mau masuk SasBud?" tanya Samantha penasaran. "Bara, kenal?" Samantha mengingat seseorang setelah mendengar nama itu. Ia jadi ingin tahu bagaimana kabarnya saat ini. Namun, Samantha memilih untuk menjawab sebaliknya. Ia tidak ingin Sena mengetahui jika dirinya mengenal Bara. Entah mengapa, hati kecilnya berharap demikian. "Banyak gak sih yang namanya Bara," canda Samantha. "Itu yang sama gue ke acara UKM 2 minggu lalu. Inget, gak?" "Enggak, lupa. Gak tau, Sen." "Dia emang gak tenar, Sam, jadi wajar aja lo gak inget dia," Sena berpaling sebentar melihat sekitar kemudian tak sengaja ia bertatapan dengan Ade. Ekspresi wajahnya masih tetap sama, tidak ramah dan sinis terhadap Sena. "Mungkin dia iri karena gue ceria?" Sena membatin dalam hati. "Sam, Kakak Ade kok sinis banget sih tiap liat gue ada di sini. Padahal kan gue anak SasBud. Ya meskipun gak ngasi kontribusi apapun sih," ujar Sena terlihat pura-pura sedih. "Ade seangkatan sama kita, kok panggil kakak sih?" "Seangkatan belum tentu seumuran, siapa tahu dia emang lebih tua. Siapa tahu dia sebenernya udah jadi om-om," bisik Sena pelan. Samantha hampir tertawa, namun berusaha ia tahan karena takut mengganggu anggota lain yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. "Gak tau deh kalo soal itu, tapi Ade ramah kok sama aku dan temen-temen yang lain." "Tuh kan bener! Emang dia orang pilih kasih kalo ramah sama orang, padahal gue cuma gak ada kontribusi aja di SasBud dan sama sekali gak bikin masalah lain. Lelah, ya, Sam jadi orang baik, ada aja yang iri." Samantha terkekeh mendengar ucapan Sena dan berharap semoga Ade tidak menyadari jika ia tengah menjadi perbincangan antara mereka berdua. "Alasan temen kamu pengen masuk SasBud apa?" "Apa ya alasannya?" Sena bingung. Pasalnya, Bara hanya mengatakan jika ingin mendaftarkan diri sebagai anggota SasBud tanpa menjelaskan alasan pastinya kepada Sena. Bara hanya menjawab 'gue pengen jadi pujangga' ketika Sena mengancam jika tidak diberitahu alasan dibalik keinginan Bara untuk menjadi anggota UKM yang sama dengannya. "Katanya sih dia mau jadi pujangga, Sam. Masuk akal gak kalo mau masuk SasBud?" Dahi Samantha berkerut, heran mendengar alasan yang dipaparkan oleh Sena. "Kalo mau jadi pujangga gak perlu masuk SasBud juga bisa. Kurang greget alasannya. Coba tanya dulu deh temen kamu alasannya apa, kalo alasannya kreatif kita bakal mempertimbangkan rekruitmen buat dia. Sama satu lagi, coba bikin contoh tulisan tentang hal apa aja. Panjangnya minimal lima ratus kata. Di-print terus dibawa ke sini kasi ke aku. Oke?" "Udah kayak ngumpul tugas ke dosen aja, Sam," decak Sena. Samantha tergelak dan mengiyakan ucapan Sena. "Namanya juga usaha jadi harus niat dong. Bawa ke sini dua minggu lagi ya. Aku kasi waktu lumayan lama, pasti cukuplah untuk buat tulisan minimal lima ratus kata." "Oke deh, makasi ya, Sam. Nanti gue kasi tau dia, semoga aja niatnya masuk SasBud gak cepet luntur kayak warna kain. Gue balik dulu," pamitnya pada Samantha. "Kakak Ade aku balik dulu ya, Kak," ucapnya pada Ade yang hanya meliriknya sekilas. Senyum Sena tidak memudar sedikit pun meski sikap Ade begitu terang memperlihatkan ketidaksukaan padanya. Ini merupakan salah satu ajang pencitraan diri bagi Sena agar terlihat baik dan tak berdaya apabila suatu hari nanti Ade merusuhinya. Selesai menutup pintu, Bara langsung menghampiri Sena dan menanyakan perihal informasi yang Sena terima saat membahas masalah perekrutan. "Gak bisa, Bar. Lo harus nunggu tahun depan karena sistemnya emang setahun sekali. Kecuali lo mau bikin tulisan yang panjangnya minimal lima ratus kata, topiknya bebas tentang apa aja." "Kalo gue nulis emang pasti bakalan diterima?" tanya Bara pesimis. "Gak tahu deh, katanya sih bakalan dipertimbangkan. Kalo lo niat harusnya gak masalah dong. Lo juga dikasi waktu 2 minggu buat nulis. Terus disuruh juga nyari alasan kenapa pengen masuk SasBud. Alasannya mesti out of the box. Gitu katanya." "Oh gitu ya, nanti deh gue pikirin." "Kenapa sih lo aneh banget belakangan ini? Tiba-tiba ngotot pengen masuk SasBud," gerutu Sena. "Pengen aja masuk SasBud biar bisa deket-deket sama lo!" ungkap Bara terlihat serius agar Sena tak menanyakan tentang hal itu lagi. Mendengar hal tersebut, Sena justru bergidik dan menjauhi Bara. "Tadi yang lo tanyain di dalem siapa?" "Ada pokoknya, senior gue di SasBud. Kan gue masih newbie." "Namanya siapa? Cewe atau cowo?" "Kok lo kepo banget sih gue nanya siapa? Itu gak penting kali. Yang penting kan lo tahu apa yang mesti dipersiapkan." "Kok lo ngegas sih, kan gue cuma nanya doang!" ujar Bara sedikit kesal. "Oh gue tau, jangan-jangan lo nanya sama cewe yang lo suka, kan? Ngaku lo!" "Kok jadi cewe yang gue suka sih. Bukan, gue nanya sama Samantha namanya. Lagian emang lo tahu Samantha itu siapa? Enggak, kan? Percuma juga lo nanya!" ucap Sena gemas. "Oh, Samantha bukan cewe yang lo suka ya," Bara tersenyum, namun berusaha menahannya agar tidak dicurigai Sena. Bara terlihat salah tingkah dan buru-buru mengajak Sena untuk pergi dari sana. "Udah, yuk, Sen kita ke kantin aja. Gue traktir!" Sena tersenyum lebar dan mengapit tangannya pada lengan Bara. "Oh dengan senang hati, gue gak nolak!" Sena menyeringai dan Bara bergidik ngeri karena tatapan temannya tersebut. Bara dengan cepat melepaskan apitan tangan Sena karena takut dilihat oleh orang lain dan mencegah seseorang berpikir yang tidak-tidak tentang mereka berdua. "Geli kayak orang belok, sana lo jauh-jauh!" Tak berselang lama setelah kepergian Bara dan Sena dari ruang depan UKM SasBud, seseorang muncul dari balik pintu sambil mengintip kepergian mereka berdua yang telah berjalan menjauh. Ia terus melihat ke arah Bara dan Sena hingga tak terlihat lagi dalam pandangannya. "Oh, ternyata bener Bara yang itu," ucap Samantha. Ia sebetulnya hanya ingin memastikan saja jika seseorang yang tadi ada di pikirannya adalah orang yang sama. "Sam?" seseorang memanggil dari arah berlawanan. "Lagi ngapain?" Samantha gelagapan saat aksinya dipergoki. "Eh..., gak ada ngapain kok," elaknya cepat. "Udah lama nunggunya? Sorry, tadi gue ada rapat mendadak makanya gak bisa dateng tepat waktu." "Engga kok," Samantha menggeleng. "Aku juga tadi lagi ngerjain artikel buat majalah bulan depan." "Mau pergi sekarang?" "Iya, boleh, tapi aku mau ke dalem dulu, Van. Mau masukin laptop sama barang yang lain. Kamu tunggu di sini sebentar," terang Samantha para Evan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN