Evan, Pedenya Mundur Dikit!-7

1900 Kata
Jam makan siang hampir tiba, Evan sangat antusias sejak tadi pagi. Wajahnya berseri-seri karena menunggu momen ini. Setelah menyusun berbagai strategi, akhirnya Evan berhasil meyakinkan seseorang yang disukainya agar bersedia untuk pergi makan siang bersama. Makan siang bersama kali ini sesungguhnya tidak akan terjadi apabila Evan tidak bertanya perihal sistematis serta pengelolaan media di kampusnya. Karena ingin merencanakan penyelenggaraan acara baru, Evan berkedok ingin bertemu dengan Samantha untuk melakukan kerja sama. Padahal kewajiban ini bukanlah tanggung jawab Evan sebagai wakil ketua penyelenggara, melainkan tanggung jawab divisi media dan partnership. Namun, Evan bersikeras dan beralasan ingin mempermudah pekerjaan temannya selagi ada koneksi dengan orang dalam. Begitulah ucapannya saat itu. Teman-teman panitianya pasti merasa terbantu dan menganggap jika Evan adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab serta mengayomi anggotanya. Padahal, mereka hanya tidak tau saja jika ini merupakan jalan instan bagi Evan untuk bisa dekat alias modus kepada Samantha. Setelah kelas usai, Evan memutuskan untuk langsung beranjak ke toilet. Sejujurnya ia sangat gugup. Samantha bukanlah orang pertama yang ia sukai, bukan juga orang pertama yang ia dekati, apalagi pacari. Dibandingkan dengan mantan-mantannya terdahulu, mungkin Samantha masih kalah dari segi tampilan fisik. Badannya kurus, tidak berisi. Kulitnya juga tidak terlalu putih, namun bersih. Rambutnya sedikit ikal dengan kacamata tebal yang bertengger di wajahnya. Samantha pun tidak begitu memperhatikan penampilannya. Katanya tidak terlalu sempat mengurusinya, ucap Samantha beberapa hari lalu kepada Evan. Namun, entah mengapa Evan merasa Samantha begitu menarik perhatiannya. Ia sering bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang daya tarik apa yang Samantha miliki hingga membuatnya kagum. Sampai saat ini Evan belum mengetahui alasannya. Evan memandang wajah hingga setengah badannya di depan cermin. Sudah lima menit berlalu, tatapannya masih terarah pada pantulan dirinya di depan sana. Beruntung situasi toilet saat itu tidak ada orang selain dirinya. Evan bergerak, sedikit menyerong ke kanan lalu kiri guna memperhatikan penampilannya siang ini. Badannya mundur ke belakang sebanyak tiga langkah agar bisa melihat penampilannya dari ujung kaki hingga kepala secara utuh. Kini, Evan lanjut memutar badan, melirik melalui cermin toilet yang lebar untuk memastikan penampilannya dari belakang. Evan berangguk lanjut bergumam. "Keren-keren aja. Tapi kok kayak ada yang kurang, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia kembali memperhatikan pantulan dirinya sembari berpikir apa yang kurang dari penampilannya siang ini. Tetapi, nihil. Evan sama sekali tak menemukan kekurangan ataupun hal yang membuat dirinya yakin untuk merasa tidak sempurna. "Gak ada," ungkapnya tersenyum. "Evan ganteng, sempurna, pinter, dan gak ada kurangnya lagi," katanya lagi keliwat percaya diri. Evan berjalan santai menuju gedung UKM yang berada di ujung barat gedung kelasnya. Cukup jauh, tetapi semangatnya tak berkurang. Di sepanjang jalan melewati koridor, tidak jarang Evan menerima sapaan hangat dari teman sejawatnya dari berbagai jurusan serta adik tingkat yang tak pernah ia kenali. Mereka mengagumi sosok Evan. Baik hati, tidak galak, ramah, pintar, tampan, dan tidak suka cari perhatian. Deskripsi mengenai berbagai kelebihan Evan tersebut cukup banyak diakui. Evan sangat pandai berperan menjadi seseorang yang tidak seratus persen sama seperti sikap aslinya sehari-hari. Dari jauh ia melihat Samantha tengah berdiri tepat di pintu. Badannya tak terlihat sepenuhnya karena sebagian terhalang oleh pintu, seperti tengah mengintip sesuatu. Evan turut melihat ke mana arah pandang Samantha melihat. Tidak ada sesuatu menarik, hanya ada dua orang berjalan memunggungi Samantha. Itu pun jaraknya sudah lumayan jauh. "Sam?" panggil Evan. "Lagi ngapain?" Samantha gelagapan, kakinya tak sengaja menyandung pintu sisi kiri hingga terbuka semakin lebar. "Eh..., gak ada ngapain kok," elaknya. "Udah lama nunggunya? Sorry tadi gue ada rapat mendadak makanya gak bisa dateng tepat waktu," ujar Evan berbohong. Tidak ada rapat mendadak karena yang terjadi adalah ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bercermin. Maksud awal ingin memperhatikan penampilan, tetapi Evan justru lebih banyak memuji dirinya sendiri. "Engga kok," Samantha menggeleng. "Aku juga tadi lagi ngerjain artikel buat majalah bulan depan." "Mau pergi sekarang?" "Iya boleh tapi aku mau ke dalem dulu ya, Van, masukin laptop sama barang yang lain. Kamu tunggu di sini sebentar," terang Samantha pada Evan. Evan mengangguk dan menunggu tak lama karena kurang dari lima menit, Samantha keluar dengan tas punggung yang tersampir di sebelah bahunya. "Pake yang bener tasnya, nanti sakit punggung." Tak sekedar meningatkan, Evan pun mencoba mendekati Samantha dan ikut membenahi posisi tasnya. Samantha tak siap oleh pergerakan Evan yang tiba-tiba hingga berujung tak nyaman. "Eh..., makasi ya. Gak usah repot-repot, aku bisa sendiri kok," kata Samantha sungkan. "Iya gak masalah, gue suka bantuin orang. Jadi gak perlu ngerasa gak enak gitu. Santai aja!" Samantha hanya ber-oh-ria. Perasaannya masih tidak nyaman setelah Evan mendekat. Mereka baru saling mengenal bahkan belum sampai satu minggu. Awalnya, Samantha mengira jika Evan cukup pendiam dan dirinya pun turut mendengar berbagai komentar positif tentang personalitas Evan yang dicap sebagai anak aktif organisasi serta kakak tingkat yang ramah. Namun, anggapan tersebut buyar seiring berjalannya waktu. Samantha menilai jika Evan terlalu mengumbar dirinya agar dinilai baik. Samantha juga menilai jika Evan cenderung cerewet, tidak ada kesan cool-nya sama sekali. "Sebenernya aku tadi udah makan siang sambil nungguin kamu. Aku gak makan lagi ya, palingan cuma pesen minum aja." Samantha berucap seraya membolak-balikan menu. Evan tersenyum, Samantha benar-benar niat menunggunya. Pasti tak sabar dengan pertemuan mereka siang ini, pikirnya. "Beneran gak mau makan lagi? Gue gak enak cuma makan sendiri sedangkan lo gak makan." Samantha menggeleng dan menolak halus. "Engga, makasi ya. Aku pesen minum aja, gak masalah kalo kamu makan sendiri karena aku juga udah kenyang." "Nyemil mau gak? Ada camilan nih, mau gak?" Evan masih terus membujuk, tetapi lagi-lagi Samantha menggeleng dan mengaku sudah kenyang. "Sam, pesen aja gak masalah. Gue bayarin lo tenang aja," kata Evan tersenyum penuh arti. Samantha terbelalak, namun berusaha memaksakan senyum. "Maksud kamu apa ya, Van?" "Maksud gue, lo pesen aja gapapa. Gak usah sungkan karena gue yang bayarin. Gue traktir karena kan gue yang ngajakin lo ketemu." Evan menjawab enteng, benar-benar tak menyadari sikapnya. "Aku gak pesen bukan karena aku sungkan atau merasa gak mampu untuk bayar. Aku udah makan tadi dan gak pengen makan lagi karena masih kenyang. Kalo kamu laper, pesen makanan aja ya gak usah gak enakan sama aku. Nanti kamu telat makan dan sakit," jelas Samantha serius. Evan tak menyahut lagi karena sadar raut wajah Samantha mulai berubah. Ia berpikir kenapa Samantha berucap dengan ekspresi demikian? Karena Evan measa tidak ada yang salah dengan perkataannya barusan. "Oh ya, gue mau bahas masalah media partnernya. Bisa kerjasama, kan?" "Bisa dong. Media kampus pasti selalu dukung acara yang dibuat sama mahasiswa atau lembaga terkait. Ngomong-ngomong, acaranya kapan?" "Acaranya empat bulan lagi, beneran masih bisa kerjasama, kan?" Samantha nyaris tersedak karena disaat bersamaan, ia tengah menyesap jusnya. Membahas acara yang ternyata masih terlampau jauh membuat Samantha sedikit emosi. Pasalnya, Evan begitu memaksa ingin bertemu dan membahas persoalan kerjasama media untuk acara baru yang diusung tahun ini. Samantha pikir ini adalah hal urgen hingga membuatnya langsung turun tangan. "Astaga, aku kira acaranya sebulan kurang, tapi ternyata lagi empat bulan," keluhnya. "Bagus dong kalo bahasnya dari jauh-jauh hari biar acara kampus kita yang baru ini bisa dipersiapkan secara matang. Takutnya nanti kebentur sama acara lain." "Biasanya, prosedur pengajuan itu kurang dari sebulan atau maksimal dua bulan. Kalo terlalu jauh kayak gini, takutnya kami bingung nyusun acara internal bulanan. Kamu ngerti kan maksud aku?" "Iya ngerti. Gue cuma takut aja nanti jadwal liputan acaranya malah kebentur sama acara lain," elak Evan tak mau disalahkan. "Gak mungkin kebentur dan semuanya pasti kebagian untuk diliput kalo kebetulan acaranya barengan. Sub departemen media itu anggotanya banyak, mana pernah ada acara yang terlewat diliput." Samantha tak mau kalah, ia merasa jika Evan terlalu berlebihan seolah-olah acaranya terlalu penting dan harus diutamakan. "Gue maunya lo yang ngeliput, makanya gue bilang dari jauh-jauh hari biar lo gak dateng ke acara lain. Gak salah, kan?" Samantha menepuk jidat, kesal mendengar alasan Evan. "Aku gak bisa meliput karena aku itu ketua UKM yang tugasnya memantau bukan meliput." "Tapi gue pengennya lo, Sam. Apa beneran gak bisa?" "Maaf, Van, gak bisa. Itu aturan dari dulu dan kami gak boleh ubah sembarangan. Aku juga dulu tugasnya meliput tapi setelah jadi ketua, kewajibanku otamatis berubah. Regenerasi anggota itu harus ada di tiap organisasi dan aku yakin kamu juga pasti tau hal ini." "Iya gue tau, kan gue beberapa kali jadi ketua pelaksana dan jadi kepala divisi pula. Gue cuma pengen lo yang ngeliput bukan orang lain. Kalo misalnya gak bisa, gue tetep pengen lo dateng ya ke acaranya nanti," pinta Evan. "Iya kalo gak ada halangan aku pasti dateng. Masalahnya kamu ngelakuin pengajuan jauh banget dari hari pelaksanaan. Mana bisa aku mastiin hari itu bisa atau engga. Mudah-mudahan aja bisa. Kalo gak bisa masih ada wakil lain yang bisa hadir," Samantha mencoba menerangkan sejelas mungkin agar Evan tak memaksanya lagi. Samantha kembali menyeruput jusnya tak sabar. Tenggorokannya kering karena harus meladeni Evan yang cukup membuat kesal. "Gue yakin lo bisa dateng Sam. Empat bulan lagi gak jauh-jauh banget kok," cengirnya tak berdosa. "Aku anggap ini pengajuan gak resmi ya. Kamu nanti ajuin ulang setelah acaranya masih satu bulan lagi. Itu tujuannya biar kami gak susah nyusun jadwal per bulan dan membagi orang yang ngeliput. Aku harap kamu paham penjelasanku tadi. Biasanya kalo ada acara juga mereka ngehubungin aku pas lagi sebulan kurang. Kok ini tumben banget kalian ngajuinnya dari jauh hari." "Ah, iya. Sengaja dari jauh-jauh hari biar persiapannya matang. Sebenernya ini tugas divisi partnership, tapi sebagai wakil ketua penyelenggara, gak ada salahnya bantu-bantu anggota gue biar kerjaannya aman dan gak keteteran," ucapnya sembari tersenyum kikuk. "Oh jadi kamu wakil ketua penyelenggara ya. Menurutku, ini bukan tugas kamu buat ngehubungin aku secara langsung. Terus apa gunanya divisi partnership kalo kerjaannya dihandel kamu?" "Gak ada salahnya kok buat bantuin mereka. Gue juga seneng kok bisa kontakan langsung sama lo, Sam," Evan mengembangkan senyum. Ia tak henti berseri-seri saat berinteraksi dengan Samantha. "Lain kali ikutin prosedur aja ya biar kita sama-sama enak. Karena pembicaraan kita udah jelas, aku pulang duluan ya karena masih ada hal yang harus diselesaiin. Aku merasa penjelasanku tadi udah jelas banget dan kamu juga udah paham, kan?" "Sam, gak mau ngobrolin hal lain dulu sama gue?" "Obrolin hal lain? Aku pikir gak ada, kan kita janjian buat ngomongin kerjasama media sama acara BEM aja. Emang ada lagi yang harus diomongin?" tanya Samantha memastikan. "Ngomongin apa kek gitu," Evan tampak berpikir untuk mencari topik yang pas. "Ngomongin perasaan mungkin?" "Ngapain ngomongin perasaan?" Samantha merasa tidak nyaman. Ia bertanya dengan nada sedikit membentak. "Ngomongin apa aja bebas sebenernya, siapa tau lo pengen ngobrol lama sama gue, Sam. Mumpung gue lagi gak ada kesibukan dan ada waktu luang sampai malem nanti," akunya. Jujur, Samantha merasa muak meladeni Evan. Ia mengeluh dalam hati karena waktu berharganya telah habis hanya untuk bertemu dan membahas hal yang tidak penting baginya saat ini. Tugas-tugas kuliahnya masih menumpuk, tanggung jawab di UKM juga masih belum selesai, drama yang ditontonnya sejak sebulan lalu juga masih belum sempat ia tuntaskan. Ingin rasanya menjerit di depan muka Evan agar mengetahui isi hatinya. Samantha hanya ingin pulang, berbaring, lantas beristirahat di atas ranjangnya hingga malam datang. Sebisa mungkin kekesalannya diredam agar tidak membuat kesan tak nyaman diantara dirinya dengan Evan. Samantha lanjut melirik Evan, sedikit tersenyum agar terlihat lebih ramah. Melihat Samantha mengembangkan senyum padanya, Evan merasa hatinya berdesir. Kepercayaan dirinya turut meningkat karena satu senyuman dari Samantha. "Buat apa ngomongin perasaan, aku lebih tertarik bahas hal lain ketimbang perasaan." "Oh, boleh banget. Gue dari tadi bingung juga mau ngobrol apa. Lo mau bahas apa, Sam?" Evan terlihat antusias. "Misalnya, ngomongin megalomania? Kamu tertarik, Van?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN