Evan menatap Samantha, masih belum mengiyakan atau menolak permintaannya. Bukan karena ia tak ingin membicarakan hal tersebut, melainkan dirinya tidak mengetahui dan pertama kali mendengar sesuatu yang Samantha sebutkan tadi.
Evan gelagapan, lalu merutuki dirinya dalam hati. Kesan yang selama ini dibangunnya susah payah, akan menjadi konyol jika ia tidak mengetahui apa yang Samantha katakan. Evan ingin setiap orang yang mengenal serta berinteraksi dengannya harus menilai jika ia adalah sosok sempurna. Cerdas, pintar, baik, terbuka, ramah, dan segala hal baik yang sering dikatakan oleh lawan bicaranya.
Evan risau jika terdapat suatu momen yang mampu membuka cela pada dirinya. Padahal, Samantha hanya ingin membuat obrolan ringan, tetapi Evan terlalu berpikir alot.
"Bentar, Sam. Hp gue geter-geter," dustanya. Dengan sigap, Evan membuka laman pencarian untuk menemukan penjelasan dari istilah megalomania.
"Kok gak diangkat?" Samantha bertanya iseng.
"Ini bukan telepon tapi chat dari nyokap gue," Evan kembali berdusta.
"Oh, aku kira kamu lagi baca sesuatu. Abisnya aku perhatiin kamu gak ada keliatan ngetik dari tadi, cuma fokus mantengin layar aja."
Evan cengengesan, merasa tertangkap basah karena pernyataan Samantha benar-benar menggambarkan apa yang sedang ia lakukan.
"Ini nyokap gue ngirimin chat yang didapet dari grup alumni. Biasalah, ibu-ibu jaman sekarang kalo ngasi informasi suka gak baca isinya dulu, tapi malah buru-buru dikirim. Padahal belum tentu bener informasinya," Evan kembali berdusta.
"Oh, terus? Aku masih nunggu jawaban kamu." Samantha kembali membahas hal itu, dirinya benar-benar tak berminat sedikit pun untuk memperpanjang bahasan seputar ibunya yang gemar mengirim pesan dari grup alumninya. Ia tidak heran, karena ibunya pun demikian.
"Bahas megalomania?"
Samantha mengangguk. "Iya, mau? Tadi kamu bilang gak tau mau bahas apa, sekarang aku kasi kamu pilihan. Kalo gak mau gak masalah, aku bisa langsung pulang karena aku udah kasi saran dan kamu juga gak tau mau ngobrolin apa."
"Kenapa mau ngomongin itu? Gak ada hal lain ya? Kok bahasannya berat banget," Evan menolak sehalus mungkin, berharap Samantha mau menurutinya.
"Terus, mau bahas apa? Kamu pun gak tau, kalo kayak gini mending aku pulang aja ya. Kerjaanku juga masih banyak."
"Eh, jangan dong. Gue pengen ngobrol sama lo, Sam. Jangan pulang dulu, nanti gue anterin pulang."
"Kenapa pengen ngobrol sama aku? Bukannya kamu banyak kegiatan ya, kan anak organisasi. Terus di kampus juga lagi banyak ada acara."
"Iya emang gue lagi banyak kegiatan, tapi kalo hari ini sama sekali gak ada. Sengaja gue kosongin," Evan mulai melancarkan modus tipis-tipis.
"Oh gitu. Kenapa sengaja dikosongin? Emang kamu gak ada tugas kuliah apa? Anak teknik bukannya sering nugas begadang sampai pagi, ya?"
Sudut bibir Evan terangkat, ia merasa Samantha lebih banyak bicara daripada sebelumnya. Ini tentu pertanda baik baginya.
"Banyak kok tugasnya, tapi gue bisa ngerjain dengan cepat. Tiap tugas yang dikasi gue selalu merasa bisa dan gak begitu ada kendala yang sampai bikin gue begadang berhari-hari."
Evan lagi-lagi menyempatkan diri untuk memuji dirinya agar terlihat baik di benak Samantha. Sebaliknya, Samantha justru tengah mengorek lebih dalam karakter serta personalitas yang dimiliki oleh Evan. Ia hanya ingin membuktikan jika asumsi pendeknya sesuai dengan realita, bahwa Evan tidak seperti yang didengarnya dari banyak orang.
"Kamu berarti pinter, ya?"
Evan menegakkan tubuh, lalu menarik diri hingga dadanya menyentuh permukaan meja. Perasaannya melayang kala Samantha menyebutnya pintar. Inilah momen yang Evan tunggu-tunggu. Ternyata tidak sulit membuat Samantha percaya dengan ucapan meyakinkan yang dilontarkannya sejak tadi.
"Ya, begitulah. Orang lain sering ngomong gitu kok gak cuma lo aja. Gue juga gak ngerti kenapa banyak temen gue yang muji dan bilang gue pinter, termasuk lo."
Samantha tertawa dalam hati. Gestur, ucapan, serta ekspresi dari mimik wajah Evan begitu kentara. Ia semakin yakin jika Evan adalah orang yang senang memuja diri sendiri alias narsistik.
"Temen-temen gue juga sering nanya atau minta dibantuin kalo lagi ada tugas yang susah. Gue selalu mau bantu orang cuma kesibukan gue terlalu banyak jadinya terpaksa deh nolak ajakan mereka yang minta bikin tugas bareng."
"Menarik. Temenku juga ada yang kayak kamu, Van."
"Oh ya, serius? Masa sih?" Evan meragukan ucapan Samantha.
"Iya, persis banget sama kamu. Dia pinter kayak kamu. Tapi, pinternya itu suka melebih-lebihkan. Ngerti, gak?"
"Maksudnya gimana?"
"Dia suka melebih-lebihkan omongannya. Misal nih, dia ngaku dirinya pinter, padahal sebenarnya biasa aja. Intinya, dia ngelakuin itu karena haus pujian. Merasa yakin kalo dirinya selayak itu untuk dipuji sama banyak orang," tukas Samantha.
"Terus? Dia dijauhin gak sama temen-temennya? Apa dia gak bikin temennya ilfeel ya kalo bersikap kayak gitu?"
Samantha menahan tawa. Ia mengalihkan pandangan sejenak sembari tangannya bergerak cepat meraih gelas, lalu menghabiskan smoothienya yang kini sudah tidak dingin lagi.
"Ilfeel mungkin tapi berusaha maklum. Tipikal orang yang kayak gitu biasanya gak sadar sama sikapnya. Atau, bisa jadi dia sadar, tapi susah buat berubah. Sebenernya aku kasian sama temenku, tapi aku merasa gak berhak buat ngingetin dia karena gak kenal dekat. Padahal, kalo dibiarin orang narsistik itu termasuk gangguan jiwa loh. Kasian banget, kan?"
Evan menelan ludah susah payah. Cerita Samantha membuat hatinya bergetar, namun ia menampik hal tersebut dan berusaha merasa baik-baik saja.
"Narsistik gak bisa sembuh, ya?"
"Hm, gak tau sih pastinya gimana. Kayaknya bisa deh, tapi mungkin prosesnya lama. Aku juga gak tau jelasnya kayak gimana. Kenapa, Van? Kamu narsistik juga?" goda Samantha.
Sesaat kemudian, Samantha merasa bersalah karena tidak mengontrol ucapannya. Kalo sudah terlanjur dibuat kesal, maka jangan salahkan jika lidahnya tidak bisa mengontrol kata-kata.
Samantha lantas tertawa hambar, mengantisipasi jika ucapannya menyinggung perasaan Evan. "Kok bengong, Van? Maaf tadi aku cuma bercanda aja," ungkapnya pelan.
"Iya, gak masalah. Gue tau kalo lo lagi bercanda. Santai aja, gue orangnya doyan ngelawak juga kok," katanya yang tidak sesuai realita.
"Kalo kamu punya temen narsistik kayak gitu, tanggapanmu gimana?"
"Hm...," Evan mendadak gugup, kata-katanya menggantung selama beberapa detik. "Untungnya gak ada sih yang kayak gitu. Kalo misalnya ada, gue bakalan berusaha ngertiin dia."
"Wah, kamu temen yang baik ya, Van."
"Gue selalu berusaha buat jadi orang baik, walaupun ada aja orang-orang yang iri," akunya keliwat percaya diri.
Samantha hanya ber-oh-ria, sudah bosan membahas topik ini pada Evan. Ia berharap jika Evan setidaknya bisa menyadari sikapnya selama ini dan mau berubah sedikit demi sedikit.
"By the way, narsistik itu nama lain dari megalomania yang tadi aku sebutin. Narcissistic Personality Disorder. Semoga aja aku gak ketemu sama orang narsis, soalnya kalo ketemu kemungkinan besar aku bakalan ilfil," Samantha berucap ringan sembari tersenyum, namun Evan lagi-lagi merasakan getaran di dadanya.
Getaran ini bukan pertanda dari situasi hati yang menggebu-gebu akibat perasaan romantik, melainkan lebih terasa getir.
"Iya, semoga aja kayak gitu. Makasi ya, Sam, udah mau dateng dan ngobrol panjang lebar sama gue yang gak jelas ini."
"Gak jelas gimana?" Samantha bertanya dengan nada kesal.
"Ya, siapa tau kan lo sempet mikir kalo gue orangnya gak jelas. Siapa tau nih, gue cuma antisipasi aja. Walaupun banyak temen-temen gue yang bilang kalo gue anaknya asik banget, tapi gak menutup kemungkinan kalo penilaian orang lain ke gue itu bakalan sama. Buat antisipas aja, siapa tau lo merasa kayak gitu. Kalo engga sih, gue seneng banget."
Samantha terdiam, tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya menyentil jakun Evan sekeras mungkin agar ia tidak bisa bersuara selama beberapa saat. Samantha menghembuskan napas sepelan mungkin, ekspresinya pun turut dibuat-buat agar keramahan masih tersisa sedikit di wajahnya. Meski faktanya, ia sudah sangat lelah dengan Evan dan segala omong kosongnya.
"Evan, mending kamu gak usah ngomong kayak gitu deh. Tiap orang punya pandangannya masing-masing dan kamu gak perlu mengonfirmasi pandangan temen-temenmu tentang dirimu sendiri. Biarin aja orang mau nilai kayak gimana yang penting kan kamu udah selalu berusaha buat jadi orang baik. Kayak yang kamu bilang tadi, walaupun banyak juga yang iri."
"Sorry, gue cuma khawatir aja. Takutnya lo mikir gitu, tapi makasi ya udah mikir gue baik dan asik diajak ngobrol," ucapnya tulus.
Samantha mendelik, ia lalu membuang muka. Demi apapun, Evan adalah orang ternarsis, terpercaya diri, dan tertidak asik yang pernah dirinya temui. Bisa-bisanya hati kecil serta lidah Evan begitu sinkron dan luwes untuk memuji dirinya sendiri.
Apakah hati kecilnya tidak bekerja sama sekali dan tidak merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya? Entahlah. Samantha semakin ingin pulang agar tidak berinteraksi dengan Evan lagi, jika perlu untuk selamanya.
Dan satu lagi, Samantha tidak ada mengatakan jika Evan adalah orang yang baik atau asik. Jika memang ia tidak sadar berkata demikian, tentunya Samantha akan sangat menyesal.
"Sam, gue ke toilet bentar ya. Tunggu sebentar."
Samantha tidak menanggapi, tetapi matanya mengawasi gerak-gerik Evan dari awal ia berdiri hingga kini tak terlihat lagi.
"Ada ya orang kayak gitu," Samantha geleng-geleng kepala. Pengalaman pertama bertemu tipikal orang seperti Evan membuatnya banyak-banyak bersyukur karena tidak bersikap demikian.
"Misi, Mbak. Ini pesanan take away yang tadi dipesan. Satu porsi nasi goreng ikan sama lemon squash. Ada tambahan lagi kira-kira?" tanya seorang pelayan sembari meletakkan paper bag berwarna abu kecokelatan di atas meja yang ditempati oleh Samantha.
"Maaf, saya gak ada pesen take away. Kayaknya salah meja," kata Samantha sopan.
"Mas, itu pesenan saya. Kok bisa salah meja," ucap seorang laki-laki yang muncul tiba-tiba. Tatapannya menatap Samantha cukup lama, seperti tengah mengingat suatu hal. "Lo temennya Sena, bukan?" tanyanya.
"Iya, bener. Kamu temennya Sena juga?"
"Iya. Lo ke sini bareng Evan?"
"Iya, kok kamu tau?"
"Kan gue dari tadi duduk di belakang kalian. Dari tadi," ucapnya ulang penuh menekankan. "Cuma Evan gak sadar aja kalo ada gue di situ dan gue juga males sih nyapa soalnya terlanjur nahan tawa denger kata-katanya dia."
"Kamu nguping, ya?" tuduh Samantha sepihak.
"Gue gak ada nguping pembicaraan kalian, gue punya telinga yang masih berfungsi normal dan rutin dibersihin ke THT. Jadi, gak ada gunanya gue nguping, suara Evan itu cukup keras makanya gue bisa denger jelas. Biasa, kalo udah urusan memuja dan memuji, Evan emang nomor satu!"
"Ah, gitu ya," Samantha menjawab seadanya.
"Satu lagi, hampir kelupaan. Jangan lupa ingetin Evan buat ngecek hp ya. Dari tadi dicariin sama temennya. Evan ke mana nih, kok gak ikut nugas? Gitu katanya. Wah, padahal Evan rajin dan pinter, kok bisa-bisanya dia malah melipir ke sini," ucap Gian sarkas. Ia lantas pergi meninggalkan Samantha yang masih termenung mendengar ucapannya.