Sore Bersama Samantha-9

1422 Kata
Samantha bersemangat dan berjalan mendahului Bara yang tertinggal sekitar 3 meter di belakangnya. Ia senang karena acara makan malamnya kali ini tidak dilewati sendiri, melainkan ditemani oleh Bara, teman yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Tas Bara pun sengaja dibawanya agar lebih cepat sampai di tempat parkir. Bara terlalu banyak melamun, pikirnya. Saat hampir sampai di tempat parkir, Samantha berbalik dan melihat Bara berjalan menyusulnya. "Bar, aku gak bawa helm. Jalan kaki ajak yuk?" ajak Samantha karena takut Bara akan kena tilang akibat ulahnya. "Kok bisa gak bawa helm? Lo ke kampus naik apa? Terbang?" "Jalan kaki, kan rumah kosku deket sini. Di belakang kampus cuma 200 meter aja. Deket, kan?" Bara menaiki motor sambil membuka footstep belakang motornya agar bisa ditapaki oleh Samantha. "Ya udah gak masalah naik aja, anggep kepala lo SNI." Samantha tertawa mendengar gurauan Bara, namun masih perlu memastikan lagi jika Bara benar-benar tidak keberatan. Ini masalah serius bagi Samantha karena berkaitan dengan pelanggaran aturan lalu lintas. Dirinya merasa malu karena tidak menggunakan atribut keselamatan yang sesuai, padahal itu penting bagi setiap pengendara bermotor. "Gimana kalo ambil dulu sebentar ke kos?" tawarnya. Tetapi Bara langsung menolak dan menyuruh Samantha untuk cepat naik ke atas motornya. Masalah jalan biar jadi urusan gue. Lo tinggal duduk aja yang anteng dan gak usah khawatir karena gue gak akan ngebut," jelas Bara yang terasa menenangkan. "Oh oke kalo gitu, Bar. Maaf aku cuma takut kalo nanti kamu kena tilang gara-gara aku gak pake helm," cicitnya. Bara mulai menghidupkan mesin motor dan berjalan meninggalkan area kampus. "Santai, ada banyak jalan tikus, jadi gak akan kena tilang. Lagian di sekitar area kampus kita kan gak ada polisi yang jaga." "Ada tau, Bar, kalo pagi-pagi." "Gue juga tau kalo pagi-pagi. Pasti lo tiap hari kan dibantuin nyebrang?" tebak Bara. "Iya, bener! Kok kamu tahu sih?" "Gue asal nebak aja sih, eh taunya bener." Samantha tidak menanggapi lagi ucapan Bara. Ia hanya menikmati desiran angin sore yang menerpa wajar serta rambutnya hingga sedikit berantakan. Tak ada yang memulai kembali percakapan. Baik Samantha maupun Bara, sama-sama diam tak bersuara. "Bara lagi fokus bawa motor, jangan ganggu Sam!" ucapnya dalam hati. Samantha hanya menyaksikan situasi jalanan sore yang dilewati Bara. Nampaknya ini betul-betul jalan tikus yang tidak banyak diketahui dan dilewati oleh orang lain. Jalanan sempit yang ditumbuhi oleh berbagai pepohonan besar di sepanjang sisi membuat Samantha bergidik jika harus melewatinya di malam hari. Jika di pagi atau siang hari, situasinya mungkin terlihat biasa saja. Namun, dikala sore menjelang petang seperti saat ini, suasananya sedikit menegangkan karena mulai gelap. "Kok bengong aja? Udah laper banget, ya?" tanya Bara memecah keheningan diantara mereka berdua. Ia sejak tadi sedikit risau karena Samantha sama sekali tak bersuara lagi. Bara jadi bertanya-tanya, apakah laju motornya terlalu lamban, sehingga membuat Samantha bosan menunggu? "Eng...gak kok, Bar. Aku cuma lagi liatin pemandangan aja, sore-sore kayak gini anginnya enak." "Baru pertama kali lewat sini?" "Iya, tumben lewat sini, sebelumnya gak pernah. Bahkan gak pernah tau kalo ada jalan tembusan kayak gini. Tapi, agak serem kalo lewat sini malem-malem, apalagi sendirian. Wah, tambah merinding kayaknya." "Serem? Gak, biasa aja kok. Cuma perasaan lo aja atau mungkin karena baru pertama kali lewat sini." "Kamu berani lewat sini malem-malem?" tanya Samantha tak percaya. "Iya, kadang kalo pengen, biasa aja sih. Aman-aman aja kok. Gak ada hal aneh-aneh yang pernah gue rasain atau ngeliat langsung. Lagian, di sini kan masih ada rumah warga." Samantha tak habis pikir, kenapa Bara memilih jalanan sepi di malam hari ketimbang jalan raya besar yang sudah pasti ramai ada orang yang berkendara. "Bara, gak baik tahu kalo lewat sini sering-sering apalagi malem. Takutnya ada sesuatu yang gak diduga, kamu mau minta tolong siapa kalo beneran kejadian? Di sini jarang banget ada yang lewat walaupun ada rumah warga juga jaraknya gak dempetan. Jadi, lebih baik kamu pergi atau pulang lewat jalan raya biasa aja ya biar kamu lebih aman," ujarnya cukup khawatir. Bara terkekeh mendengar kata-kata Samantha dan enggan mengajaknya untuk melewati jalan ini lagi nanti sewaktu pulang. "Gak masalah kok Sam, makasi udah ngingetin," sahut Bara. "By the way, kita mau makan di mana, Bar?" "Lo suka ayam bakar, gak?" "Suka! Tapi kalo gak pedes. Apapun makanan yang gak pedes aku suka dan aku anggap enak." "Oh dia gak suka pedes," pikir Bara. "Kita mau makan ayam bakar?" Samantha bertanya lagi untuk memastikan. "Iya, ngomong-ngomong kita udah nyampe dan lo bisa turun sekarang." Kepulan asap menyambut kedatangan mereka. Nampak beberapa orang tengah antusias mengipas lalu membolak-balikkan daging ayam di atas bara api. Samantha turun dan memandang ke arah spanduk besar berwarna hijau di atasnya. 'Ayam Bakar Madu Sudirman' begitulah tulisan di spanduk besar tersebut. Suasananya cukup ramai, belum lagi ada beberapa orang yang masih mengantri untuk dicatat pesanannnya. "Sam, lo duluan aja duduk cari tempat yang kosong. Gue yang pesenin makanannya. Lo minumnya mau apa?" "Air putih aja. Bar, punyaku gak usah pake sambel, ya," pintanya. "Iya, kalo gue inget," canda Bara. Samantha duduk di meja yang berada di pojok kanan belakang. Sengaja memilih tempat yang jauh di dalam agar terhindar dari kepulan asap dengan bau yang begitu menyengat. Samantha memandang kondisi mejanya, dengan sigap tangannya mengambil 2 lembar tisu, lalu menyeka beberapa tetesan air yang masih menempel di meja. Tidak ada lembaran menu di atas meja seperti tempat makan pada umumnya karena di sini hanya menjual seporsi ayam bakar madu lengkap dengan nasi. Varian minumannya pun hanya ada 3, yaitu es jeruk, es teh, dan air mineral. Samantha masih membersihkan meja saat Bara datang dan duduk di depannya. Bara mulai memperhatikan gerak-gerik Samantha yang masih fokus mengelap meja, entah mengetahui atau tidak jika Bara telah berada dihadapannya. "Sam," panggil Bara. "Hm?" Samantha menjawab. Kemudian ia mengambil tisu basah dari dalam tangannya dan mulai membersihkan jari-jarinya. "Kamu mau tisu basah?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. Bara mengambil tisu basah tersebut dari Samantha, lalu ikut mengelap kedua tangannya. "Lo sakit?" Samantha kebingungan ditanya seperti itu oleh Bara. "Enggak, kok nanya gitu?" "Lo dari tadi diem mulu, pas lagi di jalan juga kebanyakan diem. Gue pikir lo sakit." "Ah, gak kok. Aku emang gak terbiasa ngajak orang ngomong kalo lagi bawa motor. Takutnya ngeganggu konsentrasi," jelasnya. Bara berhenti mengaduk es tehnya. Jawaban Samantha membuatnya tertarik untuk bertanya lagi. "Ganggu konsentrasi? Maksud lo kalo orang ngobrol di motor itu gak bagus?" "Bukan gak bagus sih, agak kurang tepat aja menurutku. Takutnya nih bikin fokus jadi kepecah gitu karena harus ngelihat jalan sambil nimpalin omongan kita. Makanya aku gak terbiasa ngajak orang ngomong di jalan kalo lagi dibonceng. Kecuali memang ada hal penting yang pengen aku tanyain saat itu juga, baru deh aku ajak ngomong." "Oh, jadi yang tadi lo kasi tahu gue buat jangan lewat jalan tikus tadi, itu termasuk hal penting?" "Penting dong, Bar! Itu berguna buat keselamatan kamu. Memang lebih baik lewat jalan raya biasa bukan jalan tikus kayak gitu, apalagi kalo malem." "Kan kita lewat sana karena lo gak pake helm. Jadi, terpaksa gue ambil jalan tikus biar gak kena tilang." "Kan tadi kata kamu kepalaku SNI. Terus aku juga udah ngajakin kamu untuk ambil helmku dulu di kos, padahal kosanku deket cuma 200 meter dari kampus. Tapi kamu gak mau dan kamu bilang kalo kita bakalan lewat jalan tikus biar lebih aman dan nyampenya cepet." "Intinya kita lewat jalan tikus karena lo gak pake helm, kan?" tanya Bara mengintimidasi. "Kata kamu di deket kampus gak ada polisi. Terus kamu juga bilang kalo tempat makan ini masih area sekitar kampus jadinya aman. Harusnya tadi kita lewat jalan besar aja, gak lewat jalan tikus. Padahal kalo lewat jalan raya kita nyampenya lebih cepet ketimbang jalan tadi," Samantha lagi-lagi mampu menjawab setiap pertanyaan Bara walaupun mukanya terlihat sedikit kesal, tetapi ia masih berusaha tersenyum di akhir penjelasannya. Senyuman itu bukan senyum biasa, tetapi senyum mengejek untuk mentertawakan kekalahan Bara yang hingga kini masih belum mampu membalas argumen Samantha. Bara tergelak sebentar, lalu mendengar Samantha berceloteh perihal suasana jalan tikus yang masih asing baginya. Sambil menyimak, Bara berpikir ulang tentang kata-kata Samantha yang membuatnya tersadar. Mengapa ia memilih untuk melewati jalan tadi? Apakah alam bawah sadarnya menuntun agar ia mengulur waktu untuk bisa lebih lama bersama Samantha? Yang jelas perasaannya saat ini tidak nyaman, ada sesuatu begitu mengganjal. Bara hendak memastikan dan sesegera mungkin mencegah hal yang belum tepat baginya agar tidak datang setidaknya untuk saat ini. Bara hanya berpikir jika waktunya belum tepat. Ia pun tidak mengetahui definisi waktu yang tepat baginya itu kapan. Atau mungkinkah ia terlalu berlebihan? Entahlah, Bara hanya berusaha melakukan hal terbaik bagi dirinya sendiri. Tindakannya pun tidak merugikan orang lain. Begitu pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN