"Bar, kamu mau langsung pulang?"
"Engga, kan gue nganter lo pulang dulu. Setelah itu baru deh gue pulang."
"Bar serius..., kamu ada mau pergi ke mana? Atau mau langsung pulang?"
"Gak ada sih, kenapa? Lo mau dianter ke mana?" tanya Bara.
"Di depan pertigaan depan ada yang jual cilok. Kamu mau? Searah kok dari sini, jadi kamu gak perlu bolak-balik nganterin aku pulang."
"Boleh deh, udah lama gak makan cilok. Yuk, naik!"
Bara mulai melajukan motornya. Jaraknya memang dekat dari Ayam Bakar Madu Sudirman, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana.
"Rame ya yang beli."
"Iya, soalnya enak, Bar! Coba deh nanti kamu langsung cobain sendiri."
"Gue pikir lo gak suka jajan di luar. Ternyata doyan cilok juga ya."
Samantha sudah mengira jika Bara akan menilainya seperti itu. Dan, sudah pasti hal itu terjadi karena Bara melihat dua kotak bekal berukuran sedang tertumpuk rapi di dalam tas jinjingnya yang digantung pada bagian bawah depan motor Bara.
"Aku bawa bekal ke kampus biar lebih hemat. Selain itu juga biar lebih kenyang karena bisa nyesuaiin sama porsi makanku. Nasi yang dijual di kantin dikit sih, mana kenyang sampai sore," keluhnya.
"Gue akuin porsi makan lo lumayan banyak, Sam. Agak kaget pas lo nambah nasi tadi."
"Tuh, kan! Gak percaya sih. Makan itu nasinya harus banyak biar kenyang. Apalagi kalo makan ayam bakar, makan nasi sama bumbunya aja pun tetep enak."
"Terus kenapa masih jajan? Kan tadi udah nambah, emang belum kenyang?"
"Pengen jajan soalnya lagi ngidam," jawab Samantha seadanya.
Bara terhenyak. Ingin mempertanyakan suatu hal tapi rasanya tidak mungkin jika Samantha seperti itu. Membayangkannya saja tidak bisa.
Seolah mengerti respon Bara, Samantha buru-buru memberikan penjelasan. "Kamu kira ngidam cuma buat orang hamil? Cewe kalo mau menstruasi juga bisa ngidam tahu!"
"Masa sih?"
"Iya, itu ada penjelasan ilmiahnya. Ngidam karena hamil dan ngidam karena lagi PMS. Itu ciri-cirinya hampir sama, tapi ngidam PMS lebih ringan sih."
"Maksudnya gimana?" Bara bertanya lebih lanjut karena ia benar-benar penasaran dengan masalah 'ngidam'. Padahal ia tidak akan mengalaminya sama sekali.
"Jadi, kalo pas hamil atau PMS itu sebenernya cewe sama-sama pengen ngidam. Cuma mungkin beberapa cewe masih ada yang belum sadar kalo tiap PMS itu pasti ada rasa pengen makan makanan atau minuman tertentu dan itu sebenernya karena lagi ngidam. Ada juga yang porsi makannya nambah, terus ada juga yang pengen banget makan manis atau pedes selama beberapa hari. Kalo gak diturutin itu rasanya gak enak dan mesti dituntasin biar lega," jelasnya pada Bara.
Ingin rasanya Bara memastikan langsung kepada Samantha mengenai kondisinya saat ini, namun ia urungkan karena takut menimbulkan situasi awkward antara mereka berdua.
"Jadi, sekarang lo beneran ngidam atau cuma jawab asal aja tadi?" Bara nekat bertanya, meski pertanyaannya tersirat.
"Enggak kok, tadi jawab ngasal aja biar cepet," sahut Samantha sambil tertawa.
Syukurlah Bara tidak jadi menanyakan hal yang sempat muncul di benaknya tadi secara terang-terangan. Ternyata Samantha hanya bercanda dan sedang tidak mengalaminya.
Topik pembicaraan saat ini membahas perihal sesuatu yang tidak akan pernah Bara alami. Satu sisi Bara beruntung karena wawasannya bertambah mengenai berbagai hal yang dialami oleh tiap wanita. Menurutnya, tidak ada salahnya mengetahui hal tersebut karena sesuatu yang normal dan bukan merupakan hal tabu karena berhubungan dengan kesehatan.
Namun, satu sisi ia heran karena topik obrolannya bersama Samantha terkesan random dan selalu berubah-ubah. Tidak hanya membahas satu hal saja, tetapi banyak hal yang membuat Bara tertarik untuk ingin terus membahasnya bersama Samantha.
"Kalo cowo ada ngidam gak, Bar?"
"Hm, bentar," Bara masih mengunyah saat Samantha menanyakan hal itu. "Gak tahu, gue merasa gak pernah pengen makan apa gitu karena semuanya gue makan," sambungnya.
"Astaga, Bar," Samantha kembali tertawa mendengar ocehannya. "Makan batu juga dong? Kan tadi bilang semuanya kamu makan."
"Es batu? Itu namanya batu juga kan karena teksturnya keras."
Samantha hanya geleng-geleng kepala mendengar respon Bara.
"Lagian cowo sama cewe kan beda. Kalo cewe siklusnya teratur tiap bulan. Mungkin cowo ada tapi gue aja yang gak sadar dan gak tahu," ujarnya memperjelas.
Mereka duduk di atas trotoar dengan sebungkus cilok yang masih belum usai dinikmati. Kali ini tidak ada yang bicara lagi. Samantha benar-benar sibuk mengunyah dan menelan makanannya, sementara Bara masih merasa tidak nyaman dengan perasaannya.
"Lo mau langsung pulang? Atau mau ke mana lagi?"
Samantha menggeleng, tetapi raut wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Beneran?" Bara memastikan karena tidak yakin dengan respon awal Samantha.
"Pisang aroma, yuk? Deket kok dari sini. Itu di ujung sana," Samantha menunjuk ke arah gerobak kuning yang ditengahnya berisi gambar pisang. "Aku yang traktir Bar, mau, ya?"
"Sam, abis dapet kiriman ya?"
"Enggak kok, pengen aja jajan mumpung ada temen. Biasanya kalo jajan ke sini suka sendiri."
Bara akhirnya mengiyakan, namun ia tidak memesan dan hanya menemani Samantha saja. Bara sudah kenyang, sehingga merasa tidak perlu lagi mengunyah sesuatu. Tapi tidak dengan Samantha. Gadis itu benar-benar masih ingin untuk memakan jajanan yang disukainya sebelum pulang.
"Nih, Bar buat kamu," Samantha mengulurkan 5 buah pisang aroma yang terbungkus dalam kertas minyak.
Niat Bara untuk tidak makan lagi berujung sirna. Ia memperhatikan betul ukuran pisang aroma yang nampak lebih besar dan panjang dari yang pernah ia makan sebelumnya. Pantas saja Samantha doyan.
"Pisang aroma di sini paling besar ukurannya. Enak kan, Bar?"
"Enak. Rasanya sama aja kayak yang pernah gue makan. Cuma ukurannya emang lebih besar terus lebih panjang juga."
"Ini versi premiumnya tau. Kata ibu-ibu yang jual dia nanem sendiri pisangnya di rumah. Rasa manisnya alami dari pisang makanya gak pake banyak gula juga."
Rasa manisnya Bara akui memang tidak membuat tenggorokannya sakit. Bisa dikatakan jika rasanya pas bagi Bara yang tidak begitu suka manis.
"Hebat ibunya, Bar, nanem pisang sendiri. Totalitas banget!" puji Samantha yang membuat Bara sontak menaikkan alis setelah mendengarnya.
"Iya, hebat, apalagi bisa bikin lo percaya sama dia."
"Abis ini mau ke mana, Bar?"
"Pulang lah, gue udah makan banyak malem ini sama lo. Udah jam 8 juga, lo gak mau pulang emang?"
"Pengen pulang. Tapi sebenernya masih pengen jajan lagi cuma, ya, udah deh gapapa."
Bara menghela napas pelan. Heran dengan kebiasaan makan Samantha yang cenderung banyak, namun badannya tetap kurus.
"Lo bisa boros kalo terus-terusan jajan. Kan bisa besok ke sini lagi," kata Baru berusaha mengingatkan.
"Iya, aku juga merasa boros, tapi dari masih sekolah aku gak pernah dikasi jajan di luar tau," cicitnya. Bara niat merespon tapi enggan karena Samantha belum menyelesaikan ucapannya.
"Dari SD sampai lulus SMA gak pernah yang namanya makan cilok, pisang aroma, sempol, cilor, cimol. Hm..., apa lagi, ya?"
"Kok gak pernah?"
"Karena gak dikasi. Ibu selalu bilang jangan jajan sembarangan nanti sakit perut. Padahal menurutku jajan nyoba sekali itu gak masalah biar tahu rasanya gimana."
"Beda orang tua, beda didikan. Mungkin itu cara terbaik bagi orang tua lo biar gak sampai sakit karena jajan sembarangan. Lagian kalo nyoba sekali emang menjamin lo bakalan gak nyoba lagi? Gimana kalo malah sebaliknya?" cecar Bara dengan berbagai pertanyaan.
"Kan aku dijemput tiap hari kalo pulang sekolah, jadi gak mungkin lah jajan sembarangan karena pasti ketahuan."
"Itu cuma alasan lo aja. Kalo emang pas nyoba sekali dan itu bikin lo nagih, pasti akan ada seribu satu cara yang bakalan lo coba biar bisa makan lagi. Percaya gak percaya, gue selalu merasa kalo di satu waktu niat kita yang masih 50:50 bakalan didukung oleh situasi buat ngelakuin sesuatu yang sebenernya belum tentu baik untuk dijalanin. Mungkin itu juga yang mendorong rasa penasaran kita biar jadi kenyataan."
"Contohnya?"
"Ya kayak lo bilang tadi, tiap pulang sekolah selalu dijemput. Bisa aja niat lo buat gak jajan lebih besar dibandingkan keinginan lo yang pengen jajan lagi. Ibaratnya nih ya, perbandingannya itu tujuh lima banding dua lima. Terus sekarang situasinya mendukung karena nyokap lo gak bisa langsung jemput karena lagi sibuk. Di sana pasti lo dilema mau jajan atau engganya, apalagi kalo ngeliat semua temen-temen lo pada jajan. Rasa penasaran pengen nyoba lagi itu pasti ada. Otomatis perbandingannya berbalik dan semakin ngebuat lo jadi pengen buat jajan lagi."
Samantha masih menyimak penjelasan Bara tanpa ingin menyela. Bara menggaruk pelipisnya sekejap dan berkata. "Menurut gue, orang tua lo itu gak pengen bikin lo ngerasa penasaran makanya lebih baik enggak sama sekali daripada nyoba sekali tapi gak menjamin apapun."
"Jadi maksudnya, penasaran itu gak baik ya, Bar?"
"Bukan gak baik, tergantung konteksnya. Tapi yang pasti itu adalah penasaran selalu ngasi 2 hal, hikmah dan risiko. Dan situasi itu semakin besar pengaruhnya kalo memang niat kita gak bulat sejak awal. Simpelnya sih jangan plin-plan. Kalo lo gak mau penasaran, ikutin apa yang seharusnya lo ikutin meskipun di luar sana nantinya ada banyak faktor pendorong dan muncul berbagai situasi yang gue maksud tadi. Intinya rasa penasaran itu bakalan muncul karena niat kita gak bulat sejak awal. Ini menurut pendapat gue ya."
"Kalo menurutku, rasa penasaran bakalan muncul kalo seseorang mengalami sesuatu yang membingungkan, menantang, atau justru menarik perhatiannya. Dari sini kita bakalan terus bertanya-tanya sampai ada di titik penasaran itu muncul. Mungkin rasa penasaran itu ada karena belum sampai di fase puncak alias masih belum ngerasa puas sama apa yang udah kita alami dan saksikan, melainkan harus dicoba sendiri. Rasa ego dari dalam diri manusia yang ngedorong itu semua terjadi dan batas 'memuaskan' yang dimiliki setiap orang tentunya beda-beda. That's why, kita harus bisa kontrol ego kita. Kalo gak dikontrol itu bisa jadi niat terselubung ego."
"Gue setuju sama pendapat lo. Intinya berujung pada niat, kan? Segala hal gak akan terjadi kalo gak ada niat," timpal Bara.
"Bener banget. Segala hal termasuk tentang perasaan kan, Bar?" Samantha mengembangkan senyum. Kelakarnya justru ditangkap sebagai sebuah respon yang tak biasa bagi Bara.