Mama Kangen Bara-11

1508 Kata
"Bener banget. Segala hal termasuk tentang perasaan kan, Bar?" Bara tengah bertopang dagu. Menatap tanpa minat langit sore dari jendela kamarnya sembari mengingat pembicaraan bersama Samantha sebulan lalu, saat acara makan berdua yang diinisiasi oleh dirinya sendiri. Bara tidak mengiyakan ataupun menentang pertanyaan Samantha. Ia hanya diam, tidak menggubris sama sekali melainkan membuang wajahnya dan secepat mungkin menghindari situasi yang tidak diinginkannya dengan mengajak Samantha untuk bergegas pulang. Bara sensitif dengan pertanyaan perihal perasaan, apalagi jika Samantha yang menanyakannya. Lebih baik menyudahinya secara sepihak agar tidak menimbulkan persepsi maupun asumsi lain yang dapat memengaruhi perasaan serta pemikirannya. Karena bagi Bara, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya mengejar. Masih terlalu dini lebih tepatnya. Beberapa hal harus mampu membuatnya yakin dan itu semua hanya bisa dilakukan oleh dirinya seorang. Bara kalut dan bimbang dalam pemikirannya sendiri. Bara enggan mengakui jika ia nyaman bertukar pandangan serta membicarakan banyak hal dengan Samantha. Tidak ada rasa canggung sedikit pun meski sesekali obrolan mereka mengarah pada sesuatu yang begitu spesifik. Bara mengalihkan tatapannya pada ponsel yang bergetar di atas nakas. Dari jarak yang tidak terlalu dekat Bara sudah bisa membaca siapa gerangan yang meneleponnya. "Halo," sapa Bara kepada seseorang di seberang sana. "Bar, gimana kabar kamu? Kuliahnya lancar?" "Kabar Bara baik, kuliahnya juga lancar. Minggu depan ada ujian tengah semester. Mama apa kabar?" "Mama selalu baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir ya!" Obrolan terhenti selama beberapa detik. Bara diam dan tidak ingin bertanya sesuatu atau sekedar menanggapi kata-kata ibunya. Bukannya bingung, tetapi ia memang enggan bertanya sesuatu walaupun sekadar basa-basi. "Kalo udah gak ada yang perlu diomongin, Bara tutup ya...," katanya singkat. Perasaan Bara resah, takut jika ibunya kembali membahas hal yang sama berulang kali. "Bar, tunggu," tahan ibunya. "Kamu gak mau diem di rumah aja? Berhenti ngekos ya, rumah kita gak jauh-jauh banget kan dari kampus kamu. Kamu juga bisa berangkat naik mobil biar lebih aman, apalagi kamu sering pulang malem. Di rumah kamu makannya pasti jadi lebih teratur dan lebih sehat karena mama yang masak." "Rumah kita? Sejak kapan aku patungan sama mama buat beli rumah? Aku kan gak punya uang sebanyak itu buat bantu mama beli rumah, jadi itu bukan rumah kita," elak Bara. Ia menolak halus ajakan ibunya yang meminta dirinya pulang dan tinggal bersama untuk ke sekian kalinya. Entah sudah berapa kali, mungkin ratusan? Entahlah, Bara lupa. Ia selalu menolak secara halus karena tidak ingin menyakiti perasaan ibunya. "Bar..., mama butuh kamu. Pulang, ya, Nak?" ucapnya dengan suara parau. Bara pun telah memprediksi jika ibunya kemungkinan besar akan menangis lagi setelah membahas hal yang sama sekali tidak penting ini. "Hidup itu pilihan dan pilihan itu ada karena terdapat beberapa hal yang gak bisa disatukan, gak bisa berjalan bersama, gak bisa saling bersisian, atau lebih baik memang tidak bersama agar semua pihak merasa nyaman. Gak bisa bersama belum tentu gak bahagia. Mama pun tau hal itu." "Apa kamu gak bisa maafin mama?" "Bara udah berkali-kali bilang kalo ini bukan salah mama dan kenyataannya memang kayak gitu. Mama gak usah menyalahkan diri sendiri. Kesalahan itu bukan milik mama tapi orang lain. Jadi, mama jangan rebut kesalahan orang lain dong! Bara pusing sama mama, jangan terlalu baik jadi orang," ujar Bara seraya menghembuskan napas kasar. Amarahnya bergejolak. Bara kesal karena ibunya terlalu baik dan tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri. Bertahun-tahun hidup dalam sebuah keluarga yang jauh dari kata harmonis dan ketenangan telah membuat Bara jenuh. Bara sesungguhnya tidak sengaja menjauhi atau meninggalkan ibunya, hanya saja ia lelah membujuk ibunya untuk pergi bersama lalu menjalani hidup lebih baik dibandingkan mempertahankan keluarga yang sama sekali tidak memberikan ketenangan dalam hidupnya. "Bagaimanapun dia papa kamu tanpa dia kamu gak ada di dunia ini, Bar." Bara berdecih, tak menyangka ibunya kembali membawa-bawa peran orang lain atas keberadaannya saat ini. Jika bisa menolak, Bara juga enggan dilahirkan. "Bara gak pernah minta dilahirin, kan kalian berdua yang pengen punya anak. Lagian kalo bisa milih, Bara pasti gak milih buat lahir di keluarga ini. Mungkin Bara bakalan milih jadi anak orang terkenal kayak David Beckham atau Will Smith, mungkin? Ah, Bara gak tau tapi yang jelas gak akan milih keluarga ini kok mama tenang aja," Bara mengeluarkan segala uneg-unegnya yang membuat ibunya tersinggung. "Bara astaga, kamu itu lagi ngomong sama mama bukan sama temen kamu! Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu, mama beneran gak habis pikir! Di situasi kayak gini pun kamu masih bisa-bisanya bercanda, ya," cercanya berusaha mengingatkan Bara. "Ma, Bara lagi gak bercanda. Lagian itu kan cuma berandai-andai aja dan gak akan beneran terjadi. Tapi kalo dikasi kesempatan, Bara akan tetep pilih keluarga lain sih. Kan aku anak nyusahin, pembawa sial, dan selalu bikin mama susah. Jadi, mending aku menjauh aja biar gak begitu nyusahin mama." Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia masih menunggu respon ibunya di seberang sana. Namun nihil, panggilan tanpa suara antara mereka berdua telah berjalan selama 30 detik. "Bara," panggil ibunya masih dengan suara parau. "Mama harus gimana, Bar? Biar Bara bisa sama mama, harus apa?" "Aku udah sering bilang apa yang harus mama lakuin. Dari dulu sejak mama nanya pertanyaan yang sama jawaban Bara pun gak pernah berubah sampai kapanpun." "Kalau bersama itu lebih baik, kenapa harus berpisah, Bar?" "Dari mana mama bisa menjamin kalo bersama itu pasti lebih baik daripada sebaliknya? Mama gak berubah ya, gak belajar dari pengalaman. Mama kan lama tinggal sama dia, harusnya mama bisa belajar untuk bisa gak tegaan sama orang. Jangan jadi baik terus!" Bara berucap dengan suara meninggi. Maksud hati tidak ingin membantak ibunya, namun apa daya emosinya lepas begitu saja. "Mama sedih kalo harus berpisah. Mama gak pengen kamu jadi anak broken home," jawab ibunya tak mau kalah. Bara merespon dengan tawa hambar. Ia tertawa amat kencang selama beberapa saat. Ungkapan ibunya terdengar begitu konyol di telinganya. "Ma, tanpa mama pisah pun keluarga kita udah broken. Jangan terus mendefinisikan broken home dengan perpisahan. Mama udah dewasa, tapi tolong jangan anggap Bara anak kecil lagi. Mama punya pilihan dan aku gak pernah memaksa mama buat milih atau menjalani pilihan apa yang harus mama pilih!" "Bara, kamu tenang dulu ya. Mama cuma sedih aja karena mama sebetulnya gak siap. Mama kangen sama kamu." "Iya, Bara gak masalah kalo mama gak siap. Bara cuma mau bilang kalo hidup itu pilihan dan jangan paksa Bara kalo memang keputusan mama bertolak belakang dengan apa yang Bara pengenin. Jangan sesekali nanya hal yang sama kalo mama masih belum bertindak sesuai apa yang Bara mau karena sampai kapanpun itu gak akan pernah berubah," ucap Bara tegas. Bara hendak memutus panggilan telepon ibunya, namun ibu jarinya tertahan karena mendengar suara sang ibu yang memanggil namanya. "Bara, maafin mama ya. Maaf mama ganggu kamu dan bujuk kamu terus buat tinggal di rumah. Kalau memang itu pilihan kamu, mama bisa terima. Kamu bisa main kapan aja ke sini, mama juga pengen ketemu kamu. Maaf udah bikin kamu sedih, mama bener-bener minta maaf, Bar." Helaan napas panjang keluar dari mulut Bara. Lelah dengan permasalahan antara dirinya dengan sang ayah yang tak kunjung mereda. Bara hanya ingin menenangkan diri, itu sebabnya ia menjauh dan memilih untuk tinggal sendiri. Walaupun orang lain mungkin berpikir jika Bara egois, mementingkan diri sendiri, atau masih kekanak-kanakan, ia tetap pada pendiriannya. Karena mereka tidak mengetahui hal sesungguhnya yang Bara alami dan tidak turut merasakan apa yang dirasakan Bara sejak kecil. Terlalu malu untuk mengakui keadaan demi terlihat baik-baik saja adalah hal buruk. "Udah ya, mama istirahat gak usah pikirin Bara. Mama jaga kondisi, nanti kalo ada waktu Bara dateng ke sana. Kalo ada waktu ya," ucapnya penuh penekanan. Telepon terputus, Bara merebahkan badannya di atas kasur bersprei putih yang tidak terlalu luas. Tatapannya menerawang ke langit-langit atas yang masih diterangi oleh sinar lampu. Bara kembali larut dalam pikirannya, ia sempat menyalahkan dirinya sendiri atas perkataan yang dilontarkan tadi. Sesaat kemudian, kepalanya menggeleng sebanyak tiga kali disertai decakan pula. "Gue gak salah," katanya dalam hati. Bara merasa jika ia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Mungkin apa yang dijalaninya saat ini bisa disebut sebagai pelarian? Atau mungkin lebih tepatnya bisa disebut sebagai pelarian terencana yang telah diidam-idamkannya sejak lama. Tekad kuat menyelimuti perasaan emosional, sehingga membuat keputusannya tidak dapat digugat. Bara hendak melanjutkan pendidikannya jauh dari rumah, bahkan ia rela pergi menyebrangi pulau agar mempunyai alasan untuk bisa pulang dalam waktu lama. Namun, ibunya memaksa untuk tetap berada didekatnya meski pada akhirnya Bara kembali membuat sang ibu harus memilih agar mengijinkannya untuk tinggal sendiri. Menurutnya itu adalah win-win solution. Baik permintaan ibunya dan dirinya sendiri, sama-sama bisa berjalan sesuai kehendak. Bara tidak peduli dengan omongan orang lain atau tetangga usilnya yang menyatakan jika ia terlalu egois. Untuk sesaat, Bara hanya ingin menghabiskan waktu sorenya dengan menyendiri dan melakukan berbagai kegiatan yang disukainya, seperti menonton film, membuat mie instan, atau menuntaskan pekerjaan lepasnya yang telah diabaikan selama beberapa hari. Apapun yang akan dilaluinya nanti, Bara hanya ingin tidak memikirkan ibunya, serta permasalahan keluarganya yang terlalu rumit. Dan, tentu saja ingin mengabaikan Samantha lagi untuk kesekian kalinya. Samantha telah menghambat dirinya untuk tetap fokus pada rencana serta berbagai hal yang ia batasi sejak lama. Lantas, tidak ada salahnya bukan jika Bara ingin menyangkal kembali ketertarikannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN