Si Zodiak Leo-12

1809 Kata
Suasana ruang praktikum siang ini nampak ramai. Berbagai suara saling bersahutan membahas topik yang sama perihal proyek tugas yang harus diselesaikan secepat mungkin. Keluhan pun muncul satu per satu setelah dosen pengampu berjalan keluar melewati pintu. Sebagian orang mengeluh dengan kata dan nada mengumpat. Sebagiannya lagi mengeluh dengan pelan tanpa mengumpat sama sekali dan menganggap ini hanyalah ujian sementara, pasti akan berlalu dan bisa terselesaikan. Beda halnya dengan sekumpulan mahasiswa pintar yang duduk di barisan paling depan. Mereka tidak menunjukkan ekspresi kekesalan atau menyebutkan kata-kata kotor sedikit pun, melainkan saling berdiskusi dan langsung mengerjakan konsep dan garis besar proyek tersebut secara tenang dan khusyuk. Ekspresi Bara bersama teman-temannya nampak tak bersahabat karena terlanjur emosional setelah mendengar permintaan pengumpulan proyek yang begitu mendadak dan tak manusiawi menurut Sena. Bayang-bayang terjaga sampai pagi karena mengerjakan tugas telah membuatnya gerah. Sena berdecak, ingin protes tapi nyalinya tak sampai. Oleh karena itu ia hanya mengeluarkan segala uneg-uneg kepada 3 orang temannya. "Kayaknya Pak Junet lagi marahan sama istrinya. Masa pemrograman internet dikasi waktu lagi 2 minggu, mana cukuplah!" ujar Sena begitu meledak. "Belum lagi tugas mata kuliah lain yang harus kelar minggu depan, nyut-nyutan dah kepala gue. God, help me!" "Kayaknya bener deh kata Sena. Si Junet lagi marahan sama istrinya, kan dia cancer," sahut Gian sambil menunjuk ke arah Sena. Setelah mendengar kata-kata Gian, Sena jadi penasaran dibuatnya dan hendak bertanya. "Emang apa hubungannya lagi marahan sama cancer?" "Lah, gimana sih. Kan lo sendiri yang bilang kalo Cancer itu mood swinger. Lo lupa, Sen?" "Emang, iya? Kapan gue bilang?" Gian menatap datar, lelah dengan salah satu kebiasaan buruk Sena yang sangat pelupa. Entah apa yang melatarbelakangi Sena begitu mudah melupakan hal-hal yang pernah diucapkannya meskipun itu terjadi belum dalam waktu lama. "Lo selain budeg ternyata penyakit pikunnya belum ilang juga ya. Abis beli soto dua minggu lalu sama gue, kita kan ke toko buku. Terus lo beli buku zodiak segede gaban," jelas Gian mencoba membuat Sena kembali mengingat. Pada saat itu, Gian melihat Sena mengambil sebuah buku cukup besar dan membayar dalam nominal yang bisa dibilang tidak murah. Awalnya, Gian pikir jika itu adalah buku untuk mata kuliah mereka pada semester ini. Namun tiba-tiba, Gian terkesiap ketika membaca judul buku pada sampul depannya. Merasa aneh dan mengira jika temannya tersebut salah mengambil buku, Gian berinisiatif untuk menanyakannya, tetapi respon Sena justru diluar perkiaraannya. "Emang gue sengaja beli kok, gak salah ambil. Nanti lo baca-baca juga ya kalo mau," Gian berucap menirukan ucapan Sena kala itu. Sena membulatkan mulutnya dan mengingat kembali buku yang dibelinya dua minggu lalu bersama Gian. "Oh..., buku yang itu! Ya ampun, gue lupa deh ngelanjutin buat baca. Untung lo ngingetin, Gi! Makasi ya," ungkapnya antusias. "Ngapain lo beli buku zodiak? Lo percaya ramalan?" celetuk Evan yang sedari tadi memperhatikan obrolan kedua temannya. "Gak tau nih, aneh banget. Hari gini masih percaya ramalan. Palingan cuma ramalan yang bagus-bagus aja yang lo percaya dan yang jelek-jelek pasti lo gak mau denger, kan?" "Pengen aja gue beli buku zodiak, menarik ternyata setelah gue baca-baca. Kayak ada magnet yang narik gue ke toko buku terus beli buku zodiak. Pokoknya tiba-tiba aja gitu gue beli, bahkan kakak gue aja suka dan dia minjem bukunya. Makanya gue masih belum selesai bacanya," sahut Sena menanggapi pertanyaan Evan. "Gue heran deh, lo orang terandom yang pernah gue kenal, Sen." Evan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sena. "Makasi Kakak Evan, aku anggap itu pujian!" sahut Sena seraya mengerling. "Please deh, gue geli liatnya. Gak usah aneh-aneh lo, Sen!" "Kenapa sih kan aku cuma bercanda aja Kakak Evan. Pasti kamu malu ya dan lagi jaga image, soalnya takut dilihat sama dedek gemes. Kakak Evan kan idola karena jadi kakak BEM yang paling baik dan gak suka marah-marah," Sena meledek dengan kata-kata sarkas. Bara tergelak dengan ledekan Sena, namun ia menahannya. Diakui memang jika Evan sedikit berubah semenjak bergabung menjadi anggota BEM. Dari caranya bersikap, Bara menilai jika Evan cenderung ingin terlihat agar selalu bersikap serta berpenampilan baik, sehingga kesan yang dilihat oleh orang lain sesuai dengan keinginannya. Seperti menjelma sebagai orang lain dan tidak menjadi diri sendiri. Padahal dengan menjadi diri sendiri, Evan tak akan lelah untuk berlagak menyenangkan keegoisannya. Gian turut menyambung ledekan Sena dan membuat Evan semakin terintimidasi. "Uh, kakak BEM. Kakak Sena ganteng, cool gak pecicilan, baik hati, dan gak suka marah. Idaman banget deh!" "Diem lo, gue lagi gak pengen bercanda," kata Evan sewot. Tangan kanannya tak berhenti menekan tombol kunci pada sisi kiri ponselnya, berharap muncul notifikasi pesan dari seseorang yang dihubunginya sejak kemarin malam. Pesannya belum terbalas hingga siang ini, Evan pun semakin dibuat gusar. "Maaf ya, maafin Sena. Kan aku bercanda Kakak Evan. Kenapa sih? Kok kayaknya lagi galau? Ngecek hp terus dari tadi." "Lo galau karena lagi nunggu balesan dari gebetan, ya?" tembak Gian dengan pertanyaan yang membuat Evan membulatkan matanya. Evan tak terima jika Gian mengetahui betul apa yang dirasakannya saat ini. Oleh karena itu, sesegera mungkin ia menangkis tuduhan tersebut sebelum teman-temannya mencurigai gelagatnya. "Enggak. Gue kan lagi sibuk sama organisasi, gak sempet buat mikirin gebetan apalagi buat pacaran. Gak dulu deh, gak pengen fokus gue kepecah. Nanti kasian pacar gue chatnya dianggurin lama." "Bisa aja lo ngeles, Van. Kan waktu itu gue liat notif dari seseorang waktu minjem hp lo buat mabar," ujar Gian menahan tawa. "Kayaknya lo suka sama dia, chatnya aja dipin." "Lo buka-buka chat gue ya?! Wah, parah lo, Gi." Evan berdecak, tak menyangka jika Gian sudah mengetahuinya sejak lama. Dan sekarang, Gian berkoar di depan kedua temannya tentang niatnya yang tengah mendekati seseorang. "Waduh, gak boleh buka-buka chat orang. Gak sopan tau!" Sena berkata mengingatkan Gian. "Tapi siapa namanya cewenya? Lo pasti liat mukanya, kan?" sambungnya. Sena ingin mengetahui seperti apa sosok perempuan yang bisa membuat Evan takluk dan berusaha mendekati. "Demi Tuhan, gue gak ada buka chatnya. Gue cuma iseng buka w******p aja terus liat chatnya dipin," kilah Gian. "Kalo gue buka kan lo pasti sadar hari itu kalo chatnya tiba-tiba udah kebuka. Gue juga gak tau itu siapa, gak pake foto profil." "Namanya siapa?" tanya Sena kembali karena jiwa keponya masih meronta-ronta. "Kepo banget lo, Sen!" sahut Evan tak terima dengan sikap Sena yang begitu ingin mengetahui siapa seseorang yang tengah didekatinya. "Dih, gue gak nanya lo ya, Van. Gue nanya sama Gian. Kalo lo gak mau ngasi tau gak masalah, kan masih ada Gian." Evan hanya berharap jika Gian saat itu hanya melihat sekilas, sehingga tak mengingat siapa namanya. Ya, hanya itu harapan Evan. Tetapi, Dewi Fortuna nampak tak berpihak pada Evan hari ini. Pertanyaan Sena yang merugikannya itu justru dijawab dengan lantang oleh Gian. Harapan Evan pun pupus, ternyata Gian tidak pikun seperti Sena. Ingatannya begitu jelas mengingat nama yang disimpan oleh Evan di ponselnya untuk nomor dari orang yang disukainya. "Yodya. Namanya Yodya. Gitu yang disimpen sama Evan. Terus namanya isi emot singa juga. Kayaknya Si Yodya itu zodiaknya leo deh, Sen," ucap Gian penuh keyakinan. "Yodya, ya." Sena tengah berpikir setelah mendengar nama tersebut. "Kok rasanya gak asing ya nama itu. Kayak pernah denger di mana gitu, serius gue gak bohong. Kali ini gue serius." "Ya, wajar aja kalo familiar di telinga lo, Sen. Kan nama bokap lo itu Yuda. Jadi mungkin maksud lo itu Yuda bukan Yodya," celetuk Bara asal. Sena cemberut mendengar celetukan Bara. Gidatnya bergaris-garis dengan alis menyatu. Bisa-bisanya Bara tega menyebut nama orang tuanya dalam pembahasan kali ini. "Diem lo Gunawan, gue lagi serius ini! Beneran familiar namanya di kuping gue, tapi lupa itu nama siapa." "Oh, jadi nama bokapnya Bara itu Gunawan ya. Baguslah, wawasan gue jadi bertambah. Nama bokapnya Evan, Sena, sama Bara gue tau semua. Wawasan yang sangat berguna banget buat gue kedepannya." "Udah gak jaman sekarang ledek-ledekan pake nama orang tua," terang Bara santai. "Padahal tadi lo duluan yang nyebut-nyebut nama Pak Yuda. Awes ya lo, Bar. Gue cepuin ke Pak Yuda kalo lo nyebut namanya di kampus," kata Sena mengancam, tapi Bara malah semakin tertantang. "Gue bakal cepuin lo korupsi uang bazar 200 ribu. Emang ya, kalo korupsi gak nanggung banget. Kasian nyokap lo kalo terus-terusan kayak gini," ancam Bara tak mau kalah. "Itu kan karena lo yang gak mau beli bazar gue lagi, Bar. Makanya beli lagi dong, bantuin gue jual bazar biar gak sampai gue beli semua yang ada malah rugi. Kenyang gue makan ayam kentaki 5 kotak!" "Jualan bazar apa emang? Perasaan di fakultas atau jurusan gak ada acara gede deket-deket ini," Evan turut bertanya. "Bazar UKM. Kan gue rajin dan produktif sekarang, gak kayak Bara yang cuma suka diem di kosan doang." "Emang lo ikut UKM apa?" "SasBud. Biar gue bisa jadi penulis terus bikin novel-novel romance yang indah karena kisah asmara gue gak ada indah-indahnya sama sekali." "Oh, SasBud ya. Itu salah satu UKM yang bagus tau dan gue akuin emang orang-orangnya pada pinter. Ngomong-ngomong, puncak acaranya emang kapan, Sen?" "Kenapa lo nanya-nanya? Kan lo ngambek sama gue, Van. Ngambeknya udah ilang, ya?" "Sen..., serius. Sebelum gue diemin lo seminggu kalo lo gak jawab-jawab pertanyaan gue." "Acaranya nanti akhir semester, masih lama." "Oh masih lama ya, acaranya boleh siapa aja yang masuk?" "Gak bisa sembarang orang yang boleh masuk karena tiketnya dibatasin dan diutamain buat anggota SasBud aja. Tapi kalo lo mau bantu beli bazar dan kebetulan ada tiket yang masih sisa, lo bisa kok ambil...," Sena menggantung ucapannya karena teringat sesuatu. "Eh, bentar. Bukannya di acara SasBud kemarin lo dateng, ya?" "Iya, buat ngisi acara. Lo dateng emangnya?" "Dateng, kan gue anggota produktif. Terus kenapa lo datengnya telat?" "Kenapa lo tau gue telat dateng?" Evan terkejut, ternyata ada orang lain yang mengetahuinya. "Gue punya orang dalem, jadi wajar aja gue tau. Kenapa lo telat dateng?" "Pokoknya ada sesuatu yang gak bisa gue jelasin. Intinya genting dan harus buru-buru diselesaiin." "Alasan! Bilang aja lo keenakan main futsal!" omel Sena. "Gue jadi beli bazar lo, kan, Sen? Gue mau bantu lo, gue temen yang baik soalnya," tanya Bara tiba-tiba yang membuat ketiga orang dihadapannya langsung menoleh. "Kenapa pada noleh? Gue kan baik, bantuin temen. Kasian aja Sena kalo mesti bayar semua bazarnya karena gak laku," elak Bara. "Lo suka sama anak SasBud ya, Bar?" celetuk Gian. Bara mengumpat dalam hati. Gian lagi-lagi menebak dengan tebakan yang sesungguhnya nyaris benar. Bara tidak sedang menyukai seseorang hanya saja masih dalam tahap pembuktian untuk meyakinkan diri sendiri karena ia sadar betul jika dirinya begitu nyaman atau bisa dikatakan tertarik. Saat mendengar Sena menjelaskan bahwa akan ada acara lagi yang diselenggarakan oleh UKM SasBud, Bara mendadak kaku dan tenggelam sesaat dalam pikirannya. Rasanya tidak rela baginya untuk mengubur dalam-dalam perasaannya secara singkat. Sebut saja Bara tidak konsisten atau plin-plan, namun ia merasa selalu ada hal yang berkaitan dengan Samantha dan membuatnya kembali teringat. Mungkin ini petunjuk baginya untuk meyakinkan ulang perasaannya "Ah, mana mungkin. Kan Bara bilang sendiri gak tertarik sama cewe," canda Evan. Bara hanya menarik sudut bibirnya ke atas. Tak berniat menyambung lebih lanjut ucapan Evan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN