Rintik-rintik hujan sisa kemarin malam masih turun perlahan membasahi tiap permukaan yang dijatuhinya. Sudah pukul lima lebih tiga puluh menit, biasanya penampakan langit pagi akan diisi oleh riuhnya sahutan kokokan ayam yang mampu membangunkan tiap insan dari aktivitas tidurnya.
Namun, ayam pun enggan terbangun karena langit masih nampak muram karena hingga saat ini tak pula muncul semburat warna jingga yang melintang di sepanjang langit, seperti kala matahari hendak menyingsing.
Ini adalah waktu yang tepat untuk bermalas-malasan bagi kebanyakan orang, tetapi tidak untuk Samantha. Matanya tidak kunjung terlelap lagi usai terbangun dan terkesiap oleh gelegar kilat yang menyambar tengah malam tadi. Samantha risau dan benci hujan di tengah malam. Ia kalut jika lampu tidur bercahaya kuning yang terpasang di atas nakas medadak padam dan membuat seisi ruang kamarnya gelap.
Samantha benci kegelapan, itu adalah fakta kedua. Rasanya lebih baik terjaga dibandingkan tertidur dalam kondisi gelap meski rasa kantuk telah menyerang. Kakinya terpaku di depan pintu yang menjadi sekat antara kamar tidur dengan ruangan kecil berukuran 1 x 2 meter yang diubahnya menjadi dapur.
Samantha hendak memasak sesuatu karena perutnya keroncongan akibat terjaga selama kurang lebih lima jam lamanya. Tetapi, ia bingung karena persediaan makanan dalam lemari pendingin hanya tersisa enam bungkus mie instan goreng tanpa rasa-rasa dan dua butir telur ayam yang dibelinya seminggu lalu.
Apa boleh buat, katanya kepada diri sendiri. Mau tak mau, Samantha harus membuat mie instan di awal pagi ini meskipun itu bukanlah sesuatu yang baik. Ia khawatir terserang masalah pencernaan, namun rasa laparnya tak bisa dikompromi lagi.
"Kalo makan mie pagi-pagi, kemungkinan besar siang nanti pasti mules. Tapi, kalo gak makan sekarang takutnya maag." Samantha masih menimang-nimang keputusannya. Namun, semakin lama dirinya berpikir, semakin pusing juga kepalanya.
"Kalo masak nasi gak kuat nunggunya lama," keluhnya. "Duh, bingung!"
Perutnya bersuara lagi, kali ini Samantha tak tahan jika harus menunggu nasinya matang. Energi dalam tubuhnya terkuras berkat kilat yang membuat matanya terjaga.
Akhirnya, ia buru-buru mengambil sebungkus mie instan goreng jumbo dalam lemari pendingin. Tangannya bergerak lincah membuka bungkus bumbu tanpa perlu menggunakan gunting. Ia sudah handal dalam melakukan hal ini disaat orang lain mungkin masih mengeluh karena sulitnya mencari celah agar bumbu tak tumpah mengenai tangan atau tak sepenuhnya mendarat pada permukaan piring.
Semangkuk mie instan dengan dua telur orak arik sebagai sumber protein siap disantap. Samantha meniup cepat karena nafsu makannya semakin tergugah oleh sedapnya aroma mie. Rasanya benar-benar nikmat hingga membuat mulutnya tak berhenti mengunyah selama beberapa menit.
Segelas air ditenggaknya hampir habis. "Ah..., enak." Tangannya urung menyendokkan mie ke dalam mulut saat melirik ponselnya yang berkedip dan bergetar di atas kasur.
Samantha mengetahui dengan jelas siapa yang menghubunginya sepagi ini. Namun, ia hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan kembali acara makan mie-pagi-harinya yang sempat tertunda tanpa peduli dengan panggilan tersebut. Ini bukan karena alasan lebih mengutamakan urusan perut, Samantha hanya malas meladeninya.
Ponselnya kembali mengedip setelah beberapa saat. Satu pesan masuk dan itu adalah dari sahabatnya, Radinda.
"Di sana hujan deres?" tulis Radinda singkat. Samantha pun mengiyakan lalu menceritakan kejadian yang dilewatinya semalam suntuk. Ia berharap saat pesannya yang terkirim pada Radinda tengah malam tadi terbalas dengan cepat. Namun, nyatanya Radinda sudah terlelap lebih dulu.
Obrolan mereka pun berlanjut melalui sambungan telepon. Samantha sangat rindu dan ingin bertemu dengan sahabatnya tersebut. Sesungguhnya, jarak bukan menjadi penghalang untuk mereka bertemu, melainkan kepadatan aktivitas masing-masing yang membuat itu semua sulit untuk tercapai.
"Udah 6 bulan kita gak ketemu. Bener, gak, Din?"
"Iya, bener. Kan terakhir ketemu pas kamu ulang tahun. Sibuk banget sih, padahal dari Bintaro ke Depok gak jauh, huh!"
Samantha terkekeh. Kegiatannya yang super padat setelah menjadi anak organisasi membuat rutinitasnya hanya berputar di beberapa hal saja, sehingga tak sempat untuk meluangkan waktu untuk sekedar bertemu dengan sahabat karibnya sejak belia.
"Maaf, maaf. Dua minggu lagi kayaknya bisa deh ketemu." Samantha memandangi kalendar hitam yang diambil dari rak buku paling atas. "Aku samperin kamu deh. Bisa, gak?"
"Dua minggu lagi ya? Hm, belum tau sih bisa atau enggaknya. Sejauh ini bisa, tapi nanti aku kabarin lagi deh. Delapan puluh persen bisa, dua puluh persennya lagi enggak."
"Masih kerja part time?" tanya Samantha hati-hati.
"Masih kok. Untungnya kontrakku diperpanjang dan sekarang udah terbiasa sih jadinya gak keteteran lagi kayak dulu."
"Din, kalo ada apa-apa atau butuh sesuatu kabarin, ya! Aku gak masalah kok kalo mendadak ke Bintaro. Kalo ada hal urgent gitu misalnya."
"Serius banget tiba-tiba," Radinda menjeda ucapannya. "Gak ada hal urgent kok tenang aja. Udah dulu ya, dua jam lagi aku ada kelas. Mau siap-siap dulu. Nanti kita sambung lagi lewat chat, awes aja balesnya baru besok," ungkap Radinda memperingati. Samantha hanya mengiyakan dan menjadi percakapan terakhir mereka hari itu.
Sambungan telepon terputus. Tak terasa waktunya cukup tersita dan Samantha pun bergegas untuk mempersiapkan dirinya sebelum kelas dimulai. Masih ada 30 menit untuk bersiap-siap sebelum waktu menunjukkan pukul 07.30.
Notifikasi pesan masuk muncul lagi, Samantha enggan membuka atau membacanya karena sudah mengetahui dari siapa pesan itu berasal. Saat hendak membuka pintu, arah matanya melirik pada celah gorden yang memperlihatkam keberadaan sesosok pria yang tertahan di atas motor seraya memainkan ponsel.
Ah, sial!
Ini sangat mengganggu Samantha. Pikirannya jadi kacau. Ia pun menyesal memberitahu alamat tempat tinggalnya kepada orang lain yang tidak terlalu dekat dengannya. Sejujurnya ini lebih tepat disebut sebagai memberitahu secara tidak sengaja karena pada saat itu ia diantar pulang dan Samantha tak bisa menolak penawarannya.
Lagi, ponselnya berkedip tanda munculnya panggilan masuk. Namun, bukan berasal dari orang itu. Bukan juga dari Radinda atau orang tuanya. Melainkan dari Sena. Kedua alis Samantha menukik, sempat bingung mengapa Sena menghubunginya di situasi yang tidak tepat.
Seingatnya, mereka berdua tidak sempat bertemu beberapa hari lalu. Tanpa pikir panjang, Samantha sigap memencet tombol hijau dan langsung mendengar sapaan dari Sena.
"Moshi moshi, ini bener kan nomornya Samantha anak SasBud?"
Suara Sena terdengar sedikit berbeda, tetapi terkesan familiar di telinganya. Samantha urung bertanya karena itu tidak terlalu penting saat ini. "Iya bener. Kok nanya lagi? Kan kita emang sempet tukaran nomor hp."
"Iya, siapa tau bukan nomor lo yang kemarin lo kasi. Bisa jadi nomor mama atau tetangga gitu, misalnya." Sena terkesan bercanda, namun situasinya tidak tepat. Samantha berusaha memaklumi karena sudah terbiasa.
"Kenapa? Ada hal penting?"
"Temen gue yang kemarin pengen masuk SasBud mau ngumpul tugas yang lo suruh minggu lalu. Lo hari ini ngampus kayak biasa, kan?"
"Oh yang itu, maaf aku sempet lupa. Taruh aja di meja biru deket jendela. Terus kasi kertas kecil dan tulis Samantha ya biar gak dibaca atau diambil orang lain," titahnya.
"Oh gitu. Emangnya nanti gak ke kampus?"
"Ke kampus tapi nanti mau ke toko buku dulu abis kelas. Taruh aja di sana, nanti aku baca dan periksa. Tenang aja!"
"Ke toko buku mana?" tanya Sena.
"Hah? Maksudnya?" Samantha ingin memastikan jika apa yang tadi diucapkan oleh Sena tak salah ia tangkap.
"Nanti abis kelas lo mau ke toko buku mana?"
"Toko buku seberang kampus. Kenapa?" Samantha heran kenapa rasa ingin tahu Sena begitu besar perihal ke mana ia akan pergi. Padahal itu bukan urusannya.
"Eng...engga kok cuma nanya doang. Ya udah deh, nanti kalo udah ditaruh gue kabarin lagi ya. Makasi Sam!"
Samantha hendak menjawab, tetapi telepon telah terputus secara sepihak. Ponselnya segera dimasukkan kembali ke dalam tas. Samantha mengintip ke celah gorden, ternyata orang itu telah pergi dari depan pintu pagar kosnya. Ia bernapas lega karena tak perlu lama menunggu kepergiannya atau repot untuk berbasa-basi.
Samantha menengok ke kanan dan kiri sebelum benar-benar melangkah keluar pagar. Tangannya mengapit sebuah buku lalu secara tergesa mengikat tali sepatunya dengan kencang. Ikatannya belum tuntas, namun suara klakson motor berbunyi nyaring. Samantha menoleh cepat, ternyata orang itu tidak benar-benar pergi.
Ah, sialan!
Sudah dua kali dirinya mengumpat pagi ini, padahal masih awal hari. Mimik wajahnya dikontrol setenang mungkin. Semoga tak ada raut kekesalan yang tercetak. Semoga senyum paksanya nampak seperti senyum tulus agar tidak menyinggung perasaan orang lain.
Samantha masih tetap membungkuk, membongkar kembali tali sepatunya karena tak ingin cepat berinteraksi. Ia hanya mengulur-ulur waktu dan tak minat bersua lebih dulu.
"Uh, Sam? Sibuk, ya?" tanya orang menyebalkan itu. Merasa diteror sejak pagi tadi, maka tak salah jika Samantha menyebutnya seseorang yang menyebalkan.
"Iya, sibuk kan mau ke kampus." Jawab Samantha singkat tanpa menoleh.
"Ada kelas hari ini?"
"Kalo gak ada kelas aku gak mungkin bangun pagi dan udah siap berangkat sepagi ini." Helaan napas berat keluar. Samantha berusaha agar gaya bicaranya tidak ketus, meski itu sulit terjadi karena ia benar-benar kesal pagi ini.
"Siapa tau gak ke kampus, tapi ke gedung UKM buat ngumpul sama temen-temen di sana," ungkapnya. "Yuk berangkat bareng, mumpung sama-sama ke kampus."
"Makasi ya, tapi aku lebih baik jalan kaki aja. Jalan kaki di pagi hari itu sehat dan biar gak males juga," tolak Samantha secara tegas karena ia sangat ingin menjaga jarak.
"Ya udah kita jalan bareng ke kampus, aku titip motor di sini ya. Boleh?"
"Mana bisa, jangan sembarang!" sahut Samantha terpancing emosi. "Jangan parkir di sini nanti ketahuan sama penjaga kosnya karena satu penghuni itu cuma dapet jatah satu tempat parkir aja. Kamu bisa liat sendiri kalo halamannya aja gak luas."
"Kan kamu gak ada motor, bener, kan? Otomatis lahan parkir yang kamu punya itu belum ditempatin sama siapapun. Jadi gak bakal ketahuan sama penjaganya," katanya seraya bersiap membuka pagar.
Samantha kalang kabut. Opininya terkalahkan oleh orang menyebalkan yang baru dikenalnya sebulan lalu. Ini tidak bisa dibiarkan, Samantha berpikir cepat agar bisa menolak dan mencegah lahan parkir tak bergunanya itu diambil oleh orang lain.
"Kok kamu maksa? Kok kamu gak sopan main masuk-masuk aja? Ini kos-kosan khusus cewe dan motor kamu itu terlalu mencolok. Semua orang sampai penjaga kos pun tau aku gak bawa motor ke sini. Lebih baik kamu pergi ke kampus sendiri dan aku bakalan jalan kaki sendiri juga," pungkasnya.
"Tap...tapi..."
"Udah gak usah tapi-tapi lagi. Sendiri aja ya, kalo boncengan justru aku takut ngejengklang ke belakang karena motor kamu terlalu tinggi. Oke? Dah, hati-hati di jalan!"
Samantha melangkah panjang agar bisa cepat sampai di kelas pertama. Waktunya sudah terbuang banyak pagi ini. Satu sisi dirinya beruntung karena bisa meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Radinda.
Tetapi sebaliknya, dirinya turut merasa terganggu dengan kehadiran seseorang yang terus menghubunginya belakangan ini. Samantha risih dan berniat menjauh, itulah faktanya. Namun, sepertinya tidak mudah menghindarinya. Samantha harus memutar otak agar Evan 'Si Pengganggu' tak lagi merecokinya.