Si Pembaca Zodiak-14

1736 Kata
"Kusut ba...ba...banget tuh muka. What's wrong my man?!" Sena mengomentari kusutnya wajah Evan pagi ini dengan sedikit berlebihan. "A...a...alay banget lo!" Gian menimpali dengan gaya yang sama. "Su...su...suka-suka gue dong! Lo juga ikutan, dasar plagiator!" "Bisa gak sih, Sen, sekali aja lo gak alay?" Evan menyahut malas dan mengalihkan perhatiannya ke depan. Melihat papan tulis lebih menarik daripada meladeni ketidakjelasan sikap Sena. "Ma...ma...maaf Kakak Evan. Gue lagi belajar ngerap biar keren kayak Khalid." "Emang Khalid rapper? Bukannya penyanyi biasa?" Gian kembali menimpali ucapan Sena. "Emang. Gue kan cuma asal ngomong doang kok lo cepet banget nyautnya," katanya sambil tertawa. Sena tak tahan melihat wajah kesal Gian. "Tapi kayaknya lebih mirip kayak orang gagap ya. Gak masalah lah, namanya juga usaha menarik perhatian." Suasana diantara mereka bertiga berakhir senyap. Baik Evan atau Gian saling fokus dengan kegiatan masing-masing dan sama sekali tak berniat menanggapi ucapan Sena. Begitu pula dengan Sena, ia malah sibuk membaca buku zodiak yang dibelinya waktu lalu bersama Gian. Sesekali Sena membaca karakter dari kedua zodiak temannya secara gamblang, namun tidak ada yang menanggapinya. "Sen, coba bacain zodiak gue dong. Akhir-akhir ini gue perhatiin lo seneng banget baca buku zodiak," pinta Sarah, teman sekelasnya. "Lo beneran merhatiin gue?" tanya Sena merasa kepedean. "Sar, lo gak ada kerjaan ya? Ngapain merhatiin Sena? Mending lo ngerjain hal yang lebih berfaedah daripada merhatiin dia," kata Gian. Sorot matanya memandang Sena dengan penuh ledekan. Sena menyambat dengan senyum merekah dan lanjut berkata. "Banyak omong banget lo! Lama-lama gue bacain kejelekan scorpio biar lo overthinking terus mimpi buruk." Sena buang muka dan langsung menoleh ke samping kanan untuk melanjutkan percakapannya dengan Sarah. "Udah siap gue bacain, Sar?" Sarah mengangguk dan mulai mendengarkan penjelasan Sena dengan raut wajah yang semakin serius. "Leo itu kalo gak suka ya bakalan bilang gak. Bagi mereka, pilihan itu cuma ada dua. Kalo gak yes pasti no, jadi kalo leo dingin itu artinya mereka gak suka dan kalo mereka ngerespon atau peduli banget itu tandanya mereka tertarik. Kalo menurut gue, leo itu gak suka keribetan." Penjelasan Sena tak hanya didengarkan secara seksama oleh Sarah karena diam-diam Evan pun turut mendengarkan secara jelas meski nampak acuh. "Tapi, emang bener sih, leo kalo udah gak suka kadang suka sadis. Ekspresif banget! Ah, kesel gue, Sen!" keluh Sarah, mukanya menekuk menahan kesedihan. "Lah, kok lo kesel sama diri lo sendiri?" "Perasaan gue gak ada bilang kalo leo itu zodiak gue. Iya, kan?" Sarah bertanya balik. "Oh, ternyata lo lagi naksir sama leo? Terus lo ditolak? Kalo ditolak artinya dia gak tertarik. Percaya deh sama gue karena buku yang gue baca ini emang suka relate sama kenyataan," Sena merasa bangga. Ia merasa jika buku zodiak tersebut adalah belahan jiwanya. "Gak naksir!" elak Sarah cepat, ia tidak ingin merasa malu karena kenyataan. "Gue cuman iseng nanya karena kebetulan temen gue abis ditolak sama orang kemarin dan zodiaknya leo." "Alah, gak usah malu-malu kenapa, sih? Toh, juga gue gak tau siapa cowo yang udah nolak lo. Ditolak bukan berarti lo gak menarik. Gak usah terlalu effort buat bikin orang tertarik. Mending energinya lo simpen buat advance skill, ability, or potential yang ada di diri lo biar dia nyesel karena udah nolak lo. Paham kan maksud gue?" Pernyataan Sena begitu menohok dan membuat seisi kelas riuh. Pandangan terpukau dan tepukan tangan tertuju pada Sena hingga membuatnya besar kepala. "Buset, Sena beringgris. Keren-keren!" puji Gian. "Kepentok di mana lo, Sen? Belakangan ini lo menjelma jadi makhluk bijak, seneng gue jadinya." Bara datang tiba-tiba dan duduk di depan Sena sembari merampas buku zodiak yang berada di hadapannya. "Leo. Hm..., Leo menarik ya ternyata," kata Bara selepas membaca beberapa baris kalimat pada buku tersebut mengenai karakteristik leo. "Lo ke mana sih, Bar?!" gerutu Sena. "Tuh hp lo udah penuh batrenya. Balikin sini hp gue!" Bara menyerahkan ponsel Sena tanpa peduli pada omelannya. Matanya membaca naik turun rentetan kalimat yang tertulis rapi pada buku setebal dua ratus halaman tersebut. "Keren banget kata-kata lo, Sen. Gue tadi sempet kagum dan merasa itu salah satu omongan lo yang paling berbobot. Tapi kekaguman gue cuma sebentar, lo jangan kegeeran ya!" Sarah mengacungi kedua jempolnya dengan senyuman lebar. "Bacain lagi dong tentang leo, gue penasaran dan pengen tau secara mendalam personalitinya leo itu kayak gimana. Ya, ya, boleh, gak? "Maaf banget bukannya gue gak mau tapi free trialnya cuma berlaku untuk satu kali sesi konsultasi plus tanya jawab aja. Jadi kalo lo mau nanya lagi, lo harus bayar atau kalo lagi kagak ada duit bisa nunggu minggu depan ya. Jam terbang gue udah makin banyak, jadi gue harus membatasi konsultasi tentang perzodiakan." Evan bangun dari duduknya dan memotong ucapan Sarah. "Ya udah kalo gitu sekarang gantian gue yang konsultasi sama lo, Sen. Tolong bacain leo lagi dong, gue pengen denger tentang leo lebih dalem." "Dih, sejak kapan lo suka zodiak? Lo sama Gian orang yang paling anti kalo gue bahas-bahas tentang zodiak. Tadi aja kalian ngacangin gue!" "Sen, kata lo tadi konsultasi per orang cuma dapet sekali free trial. Jadi, gue minta tolong bacain dan jelasin tentang leo lagi ya. Itung-itung bantuin Sarah biar dia gak penasaran lagi sama leo," pinta Evan sembari menyodorkan selembar uang berwana biru. Sena tersenyum lebar, tangannya mengambil uang tersebut dengan senang hati lalu segera memasukan ke dalam saku celananya. "Nah gini dong, teman yang baik adalah teman yang mendukung karya temannya. Sarah, lo minggir ya kasi Kakak Evan duduk di sana," titahnya dengan tangan yang bergerak mengusir, sementara Sarah segera berpindah dengan malas. "Jadi, leo itu adalah salah satu zodiak yang suka ngejar atau bisa dibilang miriplah sama aries. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah leo akan ngejar kalo dia emang suka. Leo itu bakalan cuek kalo dia gak suka dan bakalan nge-treat very well kalo dia emang suka atau tertarik kayak yang gue bilang tadi," terang Sena sembari menoleh ke arah Evan. "Leo juga ekspresif. Kesan cuek atau judesnya kental banget. Pokoknya kalo dia gak suka itu kentara dan gak susah buat nebak perasaan leo itu gimana kecuali kalo lo itu gak pekaan atau emang niat banget buat ngejar si leo," lanjut Sena menerangkan. "Leo itu susah terbuka dan gak gampang percaya sama orang. Dia bakalan butuh waktu yang relatif lebih lama buat numbuhin kepercayaannya. Kalo leo udah kasi kepercayaannya buat lo itu artinya lo udah bikin dia nyaman. Jadi, jangan pernah dikecewain dia. Siapa sih yang suka dikecewain, ya gak?" Bara melirik Evan. Mukanya tertekuk setelah mendengar penjelasan Sena. Hal ini sebenernya sudah disadari Bara sejak awal. Seperti sedang terjadi sesuatu antara Evan dengan seseorang yang berzodiak leo. Begitu menurutnya. Entahlah, ini hanya asumsi belaka dan Bara sejujurnya tidak peduli. "Mungkin gak sih kalo leo itu...," Bara menggantung ucapannya. Ia mendadak mengeluarkan suara dan membuat teman-temannya memandang penasaran karena menunggu kelanjutan dari apa yang hendak diutarakan olehnya. "Mungkin gak sih kalo leo suka sama orang itu jadi bucin banget?" sambung Bara. "Mungkin. Menurut gue, leo itu picky banget, Bar, kalo soal kenyamanan jadi posibilitas leo bakalan jadi b***k cinta kalo udah suka sama orang itu besar sih. Tapi kalo gak suka, ya, bye-bye aja. Leo sesederhana itu pokoknya." Evan menyandarkan punggungnya ke badan kursi. Kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam. Mimik wajahnya tak berubah sejak awal Bara memperhatikannya dan bertanya secara langsung. Evan memang sedang ada sesuatu dengan seseorang yang berzodiak leo dan perasaannya tidak baik-baik saja. Penjelasan Sena membuat perasaannya tambah kalut dan kepercayaan dirinya terkikis. Selama ini Evan terlalu percaya diri dan menganggap dirinya akan selalu dipandang lebih baik dibandingkan orang lain. Mungkin kejadian yang dialaminya saat ini menjadi satu tamparan keras karena tidak semua orang tertarik dengan hal-hal yang general. Tidak semua orang tertarik dengan apa yang sedang dicapainya saat ini karena semua hal berkaitan dengan preferensi. "Kalo leo udah nunjukin sikap gak suka gimana? Harus mundur atau lanjut?" Evan coba bertanya dan berharap jawaban Sena mampu memperbaiki kepercayaan dirinya. "Tergantung lo maunya gimana. Kalo suka banget dan pengen dia jadi milik lo harus kerja keras karena di sini kasusnya itu si leo udah nunjukin tanda-tanda gak suka. Ini semua tergantung niat, tujuan, kepentingan, dan perspektif kita ya. Tiap orang mungkin bakalan beda. Kalo menurut gue, mungkin bisa lanjut tapi gak usah terlalu kecewa kalo nanti hasilnya gak sesuai ekspektasi karena sejak awal juga lo tau kalo dia udah menunjukkan rasa gak tertarik atau mungkin gak suka." "Bisa dibilang kemungkinan leo ngeubah perasaannya itu masih ada, kan?" tanya Sarah memastikan. "Iya masih ada kalo menurut gue. Karena gue orang yang percaya sama segala kemungkinan walaupun persentasenya kecil banget." "Emang seharusnya kita itu gak begitu percaya sama zodiak atau ramalan karena segalanya itu bergantung sama apa yang kita jalani," kata Evan berusaha membuat dirinya yakin. Dahi Bara berkerut setelah mendengar pernyataan Evan yang baginya terkesan memaksa dan egois. "Gue gak ada dan gak pernah nyuruh lo percaya sama zodiak dari awal. Kan gue cuma sekedar bahas-bahas aja buat jadi hiburan. Lo sendiri juga tadi yang minta dibacain." Sena membela diri, ia terpancing karena merasa tersudutkan oleh kata-kata Evan. "Gue gak ada nyalahin lo kan kita semua di sini saling berpendapat. Gue juga tadi nanya-nanya ke lo buat memastikan aja. Dari situ gue bisa menyimpulkan kalo kemungkinan dan harapan itu masih tetap ada walau bagaimanapun kondisinya. Dan jujur, gue setuju sama kata-kata lo." "Tapi kalo lo nanya ke Sena buat memastikan itu kayaknya kurang tepat deh. Gue ngerasa lo lebih ke mencoba buat menenangkan perasaan lo biar apa yang lo yakini itu gak runtuh. Lebih baik gak usah nanya ke Sena karena pada akhirnya itu cuma jadi penenang semu dan pengulur waktu buat lo yang gak siap menerima kenyataan. Siapa sih yang siap sakit hati? Gak ada. Semua orang gak siap sakit hati karena yang menyiapkan kita itu keadaan bukan kita sendiri," ungkap Bara. "Kan bener. Evan tuh lagi suka sama orang yang zodiaknya leo. Pasti si Yodya itu ya, Van?" Ucapan Gian membuat situasi semakin runyam. Evan kesal, namun ia bisa mengontrol perasaannya agar situasi tetap terkendali. Kata-kata Bara dan pertanyaan Gian membuat Evan diam membisu. Ia lagi-lagi tak menyangka jika kedua temannya kembali mengusiknya lewat berbagai kalimat mengandung realita yang enggan diakuinya. Evan tak berkomentar hingga situasi berubah sunyi dan sedikit canggung. Namun, situasi itu luntur seketika karena akhirnya kelas pagi dimulai. Keberuntungan kali ini berpihak kepada Evan. Bebannya sedikit terangkat karena telah terbebas dari pandangan menuntut yang menunggu jawabannya atas segala hal yang bersumber dari Bara dan juga Gian. Evan bersyukur dalam hati. Ia hanya berharap teman-temannya melupakan kejadian ini dan tak pernah bertanya ulang di kemudian hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN