"Sen, menurut lo gue harus pilih yang mana?"
"Gue gak tau tipe lo kayak gimana. Emang yang lo suka kayak apa?"
"Hm, yang gue suka ya?" Bara menggerakkan bola matanya ke atas. Dirinya sendiri pun bingung dengan apa yang ia sukai. "Gue juga bingung, Sen. Menurut lo sebagai temen gue dari jaman maba, gue sukanya yang kayak apa?"
"Manusia aneh. Masa kesukaan sendiri aja gak tau dan malah nanya orang lain? Lo sendiri pun bingung apalagi gue. Jangan aneh-aneh deh, Bar. Cukup gue aja yang aneh."
"Akhirnya lo mengakui keanehan diri sendiri. Eh, tapi serius, dari sudut pandang lo, gue sukanya yang kayak apa? Plis, bilang aja dari sudut pandang lo secara apa adanya."
"Ini gue jujur ya dan lo kayaknya bakal lebih terbantu karena bisa langsung konfirmasi sendiri itu sesuai atau engga sama kesukaan lo."
"Iya bener, makanya gue nanya soalnya gue tau kalo temen gue ini cerdas," puji Bara dengan senyum tulus yang membuat Sena berdecih.
"Kalo menurut gue, lo itu gak begitu mentingin fisik karena yang utama menurut lo itu chemistry dan kenyamanan. Betul gak, Bar?"
"Betul. Terus apa lagi?"
"Yang kedua, lo itu sukanya sama yang gak banyak tingkah karena kalo ketemu sama orang cerewet terus gak bisa diem gue rasa lo bakalan lebih cepet bosen. Bener atau gak?"
"Ada benernya juga sih. Lanjut, Sen!"
"Yang ketiga, lo sukanya yang kecil-kecil, kan?" Sena menyeringai dan mencoba menggoda Bara.
"Kecil yang gue suka itu tergantung sama konteksnya. Maksud lo apa nih? Jangan ngomong aneh-aneh ya, Sen. Gue peringatin lo baik-baik soalnya lagi banyak orang di deket kita."
"Badannya, Bar. Biar gampang lo peluk-peluk kalo lagi gemes. Lo emang tadi mikirnya apa? Pasti lo ngiranya gue bakalan ngomong aneh, ya? Huh..., mikir negatif mulu!"
"Abisnya lo ngomong ambigu banget, kan jadi mancing gue buat mikir negatif. Muka lo juga tadi m***m pas ngomong tentang itu." Bara tersenyum gemas, ingin sekali mendorong Sena ke akuarium besar yang terletak di sebelah kanan mereka.
"Yang keempat, lo sukanya yang jenis kelaminnya cewe. Masa iya jomlo kayak Bara milihnya yang cowo sih. Nanti yang ada malah aneh lagi," Sena berujar disusul dengan tawa renyahnya.
Bara sudah mengira jika pada akhirnya Sena akan kembali tak serius. Entah itu sekedar mengajak bercanda atau mengusilinya dengan berbagai lawakan garing.
"Yang lo omongin terakhir itu salah, Sen. Gue justru mau milih yang cowo karena di sini gue mau beli hamster buat dipelihara bukan beli pacar. Kalo beli yang cewe kayaknya ribet deh," kata Bara seraya memandangi salah satu hamster yang menjadi favoritnya saat ini.
"Ribet kenapa? Melihara hamster gak seribet melihara kucing."
"Ya ribet aja, nanti kalo kita berantem gue mulu yang salah. Kan cowo selalu salah."
"Oh gitu ya, boleh juga tuh lawakan lo meskipun garing tapi gue apresiasi dengan tetep ketawa." Sena tertawa setelahnya dengan suara lumayan keras hingga membuat beberapa orang menoleh.
Bara sudah tidak malu jika tiba-tiba dirinya menjadi pusat perhatian saat tengah pergi bersama Sena karena masih ada berbagai pengalaman yang lebih memalukan dari ini. Salah satunya adalah saat Sena berniat untuk mentraktir Bara dan mereka pergi ke sebuah minimarket. Sayangnya, Sena lupa membawa uang dan membuat Bara harus tertahan di sana sebagai jaminan karena transaksi tidak bisa dibatalkan.
"Menurut lo gue pilih yang mana, Sen?" Bara menarik pelan lengan Sena agar bisa membantunya memilih hamster mana yang harus ia pelihara. "Warna putih atau yang cokelat itu?"
"Kalo menurut gue, harusnya lo pilih yang cokelat deh karena dia manis." Sena menunjuk kandang hamster berwarna biru yang terletak tepat di depan Bara.
"Manis? Maksudnya gimana?"
"Cokelat rasanya manis, kan?" kelakar Sena.
Bara menarik napas, emosinya tersulut. "Ah, bangor pisan sia! Serius yang mana? Makin lama lo bantu gue pilih, makin lama kita pergi makan. Buruan!"
"Yang cokelat sih menurut gue karena keliatan lebih sehat juga. Badannya lebih gede terus gak terlalu diem kayak yang putih."
"Lo merhatiin dari tadi?"
"Iya, gue mah orangnya perhatian gak kayak lo diem-diem aja."
Bara memegang dagu. Matanya menyoroti dua ekor hamster yang berada di kandang berbeda. Kepalanya mengangguk-angguk dan telah memutuskan pilihannya.
"Bang, hamster yang cokelat ini umurnya berapa?" tanyanya pada penjual.
"Ini umurnya baru dua bulan. Mau beli yang cokelat? Namanya Doni," ujar penjual hamster yang tampilannya lumayan nyentrik.
Sena mengernyit saat mendengarnya. Matanya sesaat melirik ke arah name tag yang bertuliskan nama penjual hamster tersebut. "Namanya bagus bener ngalahin nama abang," celetuk Sena.
"Nama itu pemberian orang tua, jadi harus kita hormati. Apalah arti sebuah nama kalo tidak diimbangi dengan akal, pikiran, dan tindakan yang baik." Ucapan penjual hamster berkaos ungu tersebut sukses membungkam Sena yang kini lebih memilih untuk pura-pura melihat koleksi hamster lainnya.
"Huh, rasain lo, makanya jangan suka iseng. Maafin temen gue ya, Bang," sungut Bara tak enak.
Sena menulikan pendengarannya dan masih memalingkan pandangannya pada sederet koleksi hamster yang jumlahnya berkisar puluhan ekor. Langkah demi langkah ia ambil sambil menelusuri rak-rak besar yang diisi oleh kandang berwarna-warni.
Sena hanya sekedar lewat saja dan sesekali menoleh tanpa minat. Ia memang tidak terlalu tertarik pada hewan, berbeda dengan kakak perempuannya yang gemar memelihara berbagai ras kucing di rumah mereka.
Sena berhenti melangkah dan berbalik, matanya memperhatikan Bara yang masih betah mengobrol dengan penjual hamster sambil sesekali memperhatikan Doni—hamster cokelat yang telah dibelinya.
"Betah banget manusia itu ngobrol sama abang hamster. Padahal kan gue udah laper banget abis olahraga," keluhnya.
"Permisi, kak. Kita dari divisi dana dan usaha mau nawarin kakak makanan ringan pengganjal perut yang pastinya menyehatkan karena dibuat dari bahan-bahan pilihan yang pastinya fresh, higienis, dan dijamin bikin nagih! Ini ada risol, bakso goreng, pisang cokelat alias piscok. Atau kalo kakak pengen makanan yang bikin kenyang sampai nanti sore, kakak bisa beli nih paket ayam geprek sama kerupuk cuma 15 ribu aja. Auto kenyang karena nasinya banyak cocok buat kakak yang abis olahraga. Gimana kak, mau beli yang mana nih jadinya?"
Sena tertegun dengan kedatangan tiga orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki yang kini tengah mengerubunginya di dekat rak yang berisi kandang anjing.
"Hah?! Lo ngomong apa sih barusan? Sumpah gue gak bohong, lo ngomong cepet banget sampe muncrat."
"Ini kak kita lagi nawarin makanan dalam rangka penggalian dana buat menyelenggarakan acara kampus. Dari gayanya saya liat kayaknya kakak anak kampus jingga, bener, kan?"
"Emang gimana gaya anak kampus jingga?"
"Alim dan rapi kak. Kakak pasti anak kampus jingga, betul?"
Sena merasa tersindir. Semua orang juga tahu jika penampilannya tidak rapi. "Emang kenapa kalo gue dari kampus jingga?"
"Harus beli dong untuk membantu serta mendukung acara kampus kita biar dananya semakin cepat terkumpul. Kalo kakak beli, itu tandanya kakak udah berpartisipasi dalam kelancaran acara kita. Itung-itung menebar kebaikan kak, saling membantu sesama."
"Oh kalo gue beli, artinya gue menebar kebaikan, kan? Intinya gitu, kan?" tanya Sena memastikan kepada anak laki-laki itu.
"Iya, kak, betul. Kalo kakak beli itu tandanya kakak menebar kebaikan dan bakalan menambah pahala."
"Mau deh satu, gue laper." Sena mengambil sebungkus pisang cokelat, kemudian langsung membukanya.
"Ini kak," anak laki-laki itu menyodorkan pisang cokelat lainnya kepada Sena.
"Kan gue udah ngambil, kok lo ngasi lagi? Bonus nih?" tanya Sena sambil mengunyah.
"Kakak kan abis olahraga terus tadi bilang laper juga, kan? Biar gak laper lagi, pisang cokelatnya tambah aja lagi satu. Kita ikhlas kok ngasi kakak."
"Kalo lo ngasi gratis gak masalah, kalo nyuruh bayar gue malah gak ridho. Lo jatuhnya bukan jualan, tapi malakin gue," Sena kesal, namun tetap mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari kantong celana.
"Kakak mau beli empat?"
"Kagak! Gue beli dua. Udah untung gue mau beli satu lagi. Jangan ngadi-ngadi deh, gue lagi baik hati makanya gue beli. Jangan memanfaatkan kebaikan hati gue!"
"Yah, maaf, kak. Kan tadi saya nanya biar jelas," sahut anak laki-laki itu seraya tersenyum. "Ini kak kembaliannya, terima kasih banyak udah bantu kita. Semoga kakak dapat pahala banyak dan semoga kita bisa ketemu lagi ya di sini, di kampus, atau di tempat lainnya. Permisi, kak."
"Ya, sama-sama. Semoga dagangan kalian laku," kata Sena sekenanya.
Sena kesal sekaligus beruntung karena rasa laparnya bisa diatasi walaupun hanya dengan 2 bungkus pisang cokelat. Dengan terburu-buru, ia langsung membuka pisang cokelatnya yang kedua dan melahap secara rakus. Perutnya begitu lapar dan dari sini ia bisa melihat jika Bara masih betah mengobrol dengan penjual hamster itu.
Sena kemudian berjongkok di samping kandang anjing yang bertuliskan Bichon Frise. Ia bosan menunggu Bara dan tak sabar menyantap sepiring nasi dan soto hangat dengan taburan koya yang melimpah. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Sena pun memutuskan untuk mendatangi temannya itu.
"Sena?" panggil seorang perempuan di ujung sana yang membuat langkahnya terhenti.
Sena melongo, benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya di situasi seperti ini. Kepercayaan diri Sena langsung turun drastis tatkala menyadari penampilannya yang cenderung berantakan selepas lari pagi bersama Bara. Badannya berkeringat, rambut gondrongnya pun lepek, ketiak basah karena kegerahan, serta wajah berminyak nan kusam.
Selama ini Sena selalu menginginkan terjadinya pertemuan tiba-tiba antara dirinya dengan seseorang yang disukainya tersebut. Namun, ia juga tidak berharap dipertemukan pada saat penampilannya begini.
Sena merasa kurang beruntung. Apakah ini semua akibat ia sering mencurangi Tuhan karena tidak pernah sembahyang? Entahlah. Sena hanya berharap jika aroma tubuhnya tidak tercium.
"Ternyata beneran lo, ya, Sen." Senyum Sherina merekah, senang karena bertemu salah satu temannya semasa SMP dulu. "Gimana kabar lo? Udah lama gak ketemu."
Sena tersenyum kikuk. Kedua tangannya ia rapatkan ke badan seperti tengah berbaris. "Ba...Baik. Gue kabarnya baik. Lo kabarnya gimana, Shen?"
"Gue juga baik kok. Lo sekarang lanjut di mana?" Sherina bertanya sambil mendekat.
Melihat hal itu, Sena merasa posisinya terancam. Badannya semakin kaku dan ia menahan napas. Jantungnya berpacu cepat, begitu takut jika Sherina mencium aroma tidak sedap yang berasal dari tubuhnya.
"Gue se...sekarang lanjut di kampus yang sama kayak lo, Shen." Sena menunduk, memperhatikan ke arah lipatan ketiaknya. Ia sangat merasa tidak nyaman berada di situasi seperti sekarang.
"Oh, ya? Lo pernah lihat gue di kampus?" Sherina bertanya antusias. Badannya bergerak lagi sedikit maju ke depan. Sena semakin mati kutu.
"Mati gue," batinnya dalam hati. Sena menelan ludah, jantungnya semakin berpacu kencang, ia kemudia memanggil Sherina pelan. "Shen?"
"Iya?"
"Lo ngerasa ada nyiumin bau apa gitu?" Sena menyoal pertanyaan sensitif.
"Hm, gak ada nyium bau apa-apa sih. Kenapa emangnya? Lo nyium bau gak enak?"
"Lo beneran gak ada nyium bau apa-apa? Di sekitar sini?"
Sherina mengangguk. Dan saat itu juga, Sena merasa jika ia harus mengadakan syukuran untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Tuhan karena telah menolongnya.
Senyum Sena mengembang sempurna, namun sesaat kemudian Sherina melanjutkan kata-kata yang mampu membuatnya ingin menghilang saja dari bumi ini.
"Bau keringet sih yang gue cium. Bau yang lain gak ada," sambung Sherina.