Bara menoleh ke samping, memperhatikan tingkah aneh Sena yang sejak tadi mengalihkan perhatiannya. Wajahnya cemberut, nampak tidak menikmati santapan soto beserta koya yang melimpah di atasnya.
Bara bingung dibuatnya karena sudah berusaha menanyakan perihal apa yang sebelumnya terjadi dan apa yang sedang Sena rasakan saat ini. Sena hanya menoleh sekejap kemudian menggeleng seadanya disertai tekukan wajah yang tak kunjung hilang.
Asumsi-asumsi liar merasuki pikiran Bara tentang berbagai hal.
"Apa sotonya kurang anget sampe rasanya jadi gak terlalu enak?"
"Jangan-jangan, Sena marah karena sotonya dibungkus dan akhirnya makan di kos?"
"Apa Sena kesel karena terlalu lama nungguin gue selesai ngobrol?" Bara melirik Sena, berasumsi jika inilah penyebab temannya merajuk hingga makan tak berselera.
Untuk masalah ini, Bara sendiri pun tak bisa mengelak jika perutnya begitu lapar tadi. Namun, penjual hamster tadi begitu menikmati obrolan bersamanya yang sudah mengalir ke berbagai hal.
Bara lanjut berasumsi lain tentang koya soto milik Sena yang mungkin kurang banyak. "Apa koyanya kurang banyak? Eh, tapi kan punya Sena udah dikasi banyak banget sampe sotonya ketutupan koya." Bara menggeleng, sepertinya bukan masalah koya.
"Atau, bisa jadi sotonya beneran gak enak karena gak makan di sana langsung?" Bara bersorak riuh dalam benaknya, ia merasa yakin jika inilah penyebab utama mengapa Sena tiba-tiba membisu dan terlihat menyedihkan.
Dalam satu tarikan napas, Bara memberanikan diri untuk mengulang pembicaraan. "Sen," panggilnya seraya menyentuh lengan Sena dengan ujung telunjuk.
"Apa?" Sena menyahut dan menoleh tanpa minat. Tangannya masih mengaduk-aduk soto dalam mangkok hingga keadaannya sudah tidak enak dipandang.
"Sotonya dari tadi lo aduk terus sampe gue abis makan, lo gak enek apa liatnya? Itu udah gak enak diliat, apalagi dimakan," Bara menyentuh mangkok tersebut untuk memastikan jika itu benar-benar sudah tidak hangat lagi. "Tuh kan, bener. Ini udah dingin, udahlah gak usah dimakan."
Sena tetap diam, meskipun Bara sudah menegurnya. "Masa, ya, udah dingin?" tanyanya dengan tampang cuek.
Bara terlanjur gemas, ingin rasanya melempar kuah soto beserta seluruh isinya ke wajah Sena. "Pake nanya lagi, coba lo pegang sendiri mangkoknya. Masih panas atau kagak!"
"Nanti gue makan, ini koyanya belum keaduk semua." Sena mengalihkan tatapannya dari Bara, kembali fokus dengan dirinya sendiri sembari menopang dagu dengan tangan kiri. Ia benar-benar tidak bersemangat selepas kejadian tadi.
"Maaf, gue ngobrolnya kelamaan padahal lo udah laper. Suwer, Sen! Ini abang penjual hamsternya yang pengen ngobrol sama gue dan bingung cara nyudahinnya gimana."
"Iya, gapapa. Gue udah makan piscok dua bungkus sambil nungguin lo kencan sama abang hamsternya."
"Kencan?" Bara tertawa meskipun terdengar hambar, sengaja dirinya melakukan itu agar Sena terpancing dan ikut tertawa bersamanya. "Lucu banget lo, Sen! Iya, iya, gue kencan tadi sama abangnya," Bara lanjut tertawa.
Sena mendongak, Bara masih tertawa sambil berjalan ke wastafel untuk menaruh mangkok serta piring kotornya.
"Kok lo gak ketawa?"
"Ngapain ketawa? Emang gue harus ketawa? Kalo mau ketawa, ya udah sendiri aja. Gak usah ngajak-ngajak, Bar."
"Lo kenapa sih, Sen? Marah gara-gara gue kelamaan ngobrolnya tadi sama abang hamster? Atau lo marah karena sotonya gue minta bungkus?"
Sena enggan menjawab, perasaannya masih diselimuti kesedihan dan tak ingin mempermasalahkan tentang apa yang Bara pertanyakan meskipun tadi ia begitu dongkol karena menunggu lama.
"Sotonya beneran kerasa gak enak, ya? Wah kalo beneran, kayaknya rumor-rumor yang beredar itu valid deh."
"Rumor apaan?" Sena mulai terpancing.
"Katanya nih ya, gue juga gak tau. Sotonya itu ada aneh-aneh. Kayaknya beneran ada kolor ijo deh di dalem pancinya. Kalo makan di sana auto enak, coba kalo dibawa pulang, rasanya jadi berkurang. Intinya, gak seenak kalo kita makan langsung."
"Lo fitnah, Bar! Itu gak bener, rasanya gak rela kalo gue berhenti makan di sana cuma perkara kolor doang. Lo pikir aja, di mana lagi kita nemu makanan yang enak terus murah kalo gak di sana? Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti gue enek terus kepikiran dan gak mau lagi makan ini soto!" Sena berbicara panjang lebar, lalu menyeruput kuah sotonya yang sudah tidak hangat lagi.
"Akhirnya lo bawel lagi. Seneng gue dengernya karena dari tadi diem mulu kayak orang sakit. Aneh aja rasanya kalo gak denger lo banyak omong kayak kaset rusak.Ternyata pembahasan kolor di panci soto cukup menarik ya."
"Ah, diem lo, Bar. Gue lagi makan."
Sena menyantap sotonya dengan lahap hingga benar-benar tak bersisa. Perutnya terasa bergejolak tatkala Bara membahas persoalan seputar kolor dan panci soto tadi secara lantang. Bukannya semakin tak bernafsu, Sena justru makin semangat karena kesal soto seenak ini belum juga dilahapnya akibat terlalu terpaku pada kesedihan.
Bara menyodorokan segelas air dingin, Sena langsung meneguknya saat kunyahan terakhir di mulutnya tertelan. "Ah, nikmat. Makasi, Bar."
"Udah kenyang?"
"Udah, enak banget meskipun sotonya dingin." Senyuman Sena merekah sempurna, perutnya sudah tidak lapar dan ia mulai ceria kembali selepas berwajah muram sejak tadi siang.
"Mau cerita gak?" Bara memberi kode melalui sebuah lirikan.
Sena menghembuskan napas, teringat kembali kejadian siang hari yang membuatnya resah, malu, dan sedih. Buru-buru ia bangkit dan berlari menuju ranjang yang baru saja dirapikan oleh Bara. Sena bergelinjang selama beberapa saat sambil meracau tak jelas. Selimut serta sprei yang ditimpanya mulai tertarik dari sudut dan berantakan.
"Baru gue beresin udah berantakan. Kenapa sih? Cerita biar lega, jangan dipendem sendiri." Bara tergeleng-geleng.
"Mas Bara..., sini temenin aku," Sena memanggil dengan nada kemayu sambil melambaikan tangannya dikala Bara masih sibuk menyusun piring dan mangkuk ke rak tingkat.
"Kenapa? Gak usah genit-genit kayak gitu deh. Ngeri gue dengernya."
"Bar, gue sedih asli. Ini sesuatu yang paling menyakitkan banget buat gue. Entah kenapa, perasaan gue campur aduk. Sedih, kesel, malu pun gue rasain sekarang. Walaupun udah sedikit berkurang sih. Tapi, pas keinget itu hati gue nyeri."
"Kenapa, Sen? Lo coba cerita secara lebih jelas, gue gak akan nyela sampe lo selesai nyeritain semuanya." Bara menanggapi dengan serius karena dugaannya benar. Sena memang sedang tidak baik-baik saja.
"Tadi, pas lo ngobrol sama abang hamster gue ketemu sama orang yang gue suka. Namanya Sherina. Posisi gue saat itu lagi beruntung, gue bener-bener sedih, Bar. Asli."
Sena memejamkan mata, masih merangkai kata-kata yang tepat dalam otaknya. Ia begitu mendramatisir keadaan sampai membuat Bara terpaku menantapnya, menunggu jawaban yang masih mengambang.
"Gue sedih, malu, sampe gue bingung ngomongnya gimana. Sherina cantik, seperti biasa. Gue seneng bisa liat dia secara langsung setelah sekian lama."
Sena menghela napas, ucapannya kembali mengambang. Sementara Bara, masih sabar menantikan kelanjutan ceritanya.
"Gu...gue," Sena mendadak gagu. "Gue..., ketek gue basah dan bau, Bar! Sherina pun nyium, malu gue asli. Pengen ilang saat itu juga, pengen salto terus nyelem ke sungai sss sambil renang sama ikan piranha karena saking malunya," Sena lantas membenamkan wajahnya pada bantal. Gemetar karena ia teringat kembali kejadian tadi.
Bara melongo, bingung harus berkomentar seperti apa. Ia terlanjur kalut sekaligus terpaku pada kesedihan Sena yang nyatanya terlalu didramatisir.
"Gue kaget denger cerita lo tadi karena saking gak nyangkanya itu yang bikin lo sedih dan malu."
"Tapi ketek gue beneran basah dan bau gara-gara abis olahraga pagi sama lo. Belum lagi kita isi ke pasar hewan, di sana gerah dan wajar aja ketek gue makin basah. Gue gak pede, masa ketemu Sherina, tapi penampilan gue kayak gitu. Nyesel, andaikan dia ketemu gue di kampus."
"Emang penampilan lo rapi di kampus?"
"Ya, setidaknya lebih rapi dan gak ketek basah. Sherina aja sampe nyium kok baunya."
Bara tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan betapa mati kutunya Sena ketika berdiri di dekat Sherina. Apalagi ekspresi wajahnya, pasti begitu kaku dengan wajah pucat selayaknya menahan sesuatu.
"Muka lo tadi pasti kayak nahan boker, gak, sih? Duh, coba kalo gue ada di sana, pasti susah nahan ketawa."
Sena mendengus, Bara begitu puas mentertawainya. "Iya, kayaknya. Lebih pucet dari nahan boker mungkin. Siapa sih yang gak malu kalo ketek kita lagi basah terus bau dan tiba-tiba orang yang disuka malah dateng mendadak? Lo pun pasti malu, kan?"
"Jelas malu dan gak nyaman, tapi siapa yang ngira kalo Sherina bakalan ada di sana. Kalo pun lo tau, mungkin lo gak akan mau gue ajakin lari pagi."
"Kalo gue bisa ngajakin dia ketemuan, gue pasti bakalan ngajak dia ke tempat ngopi."
"Emang Sherina suka ngopi?"
"Gak tau, mungkin dia suka. Biasanya kan cewe-cewe suka nongkrong ke tempat ngopi."
"Alah, kalo ngopi buat nongkrong sih gue gak heran. Itu cuma buat gaya-gayaan aja."
"Bar, temenin gue. Mau, gak?"
"Temenin ke mana? Awes aja lo jawabnya bercanda, gue kunciin lo di kamar mandi."
"Temenin cukur rambut dong. Lo bisa gak hari ini? Mumpung hari Minggu, besok kan udah kuliah," rengeknya.
"Iya, bisa, tapi nanti sorean. Kalo sekarang gue mager."
"Baik banget sih, Mas Bara. Pengen memilikimu, Bar. Boleh?"
"Diem. Jangan. Ngomong. Oke?"
"Masa gitu aja marah. Kalo sering marah nanti gak disayang pacar."
"Pacar aja gue gak punya. Mau ngeles apa lagi lo?"
"Bar, emang lo bener-bener gak ada suka sama cewe satu pun?"
Lagi, Sena menariknya ke dalam pembicaraan seputar perasaan. Bara tidak marah atau kesal, ia hanya tidak siap menjawabnya karena sampai saat ini jawabannya belum berubah; tidak ada.
"Gak ada, tapi gak selamanya gak ada. Nanti bakalan ada kok. Cuma gue ngerasa ini belum saatnya.
"Kapan? Lo gak capek terus-terusan menyangkal? Lo itu mungkin pernah ada rasa suka dikit atau ada rasa tertarik cuma lebih seneng aja menghindari sebelum perasaan itu tumbuh."
"Gue merasa belum tepat aja waktunya. Gue takut sakit hati, Sen. Gue capek sakit-sakit mulu dari dulu," ungkap Bara diakhiri dengan tawa. Ia ingin mencairkan suasana, namun Sena enggan mengikutinya.
"Gak lucu, Bar. Kalo capek, ya, capek aja. Gapapa, normal tau. Itu terserah lo mau kapan mulainya, cuma gue harap lo gak nyesel. Kejar orang yang lo suka kalo lo udah ngerasa nyaman dan yakin, sebelum kena tikung sama Rossi."
"Kok jadi serius gini, sih? Makanya jangan bahas-bahas perasaan. Gue jadi kagok."
"Ngeles mulu lo, Bara!" Sena teralihkan dari getaran ponsel yang menunjukkan sebuah pesan masuk. Ia mengulirkan jari-jarinya dan membuka ruang obrolan paling atas.
"Bar," seru Sena.
"Apaan?" Bara memanggul bantal di bahunya. Matanya melirik ke arah ruang obrolan antara Sena dengan seseorang di seberang sana. "Siapa tuh?"
"Ini Samantha. Katanya kapan lo mau ngumpul tulisannya, udah lebih dari dua minggu. Bisa-bisanya lo lupa."
"Besok gue kumpulin. Tenang aja. Gue udah buat cuma masih malu takutnya gak bagus, makanya gue baca berulang kali."
"Bentar, kapan ya gue nelpon Samantha? Kok dia bilang gue sempet nelpon dia kemarin?"
Bara membuang muka, tak ingin dicurigai oleh Sena.
"Lah, kok dia nanya gue sakit apa kagak. Katanya suara gue rada beda kemarin. Aneh banget. Perasaan gue gak ada nelpon dia deh. Ada-ada aja Samantha," keluh Sena.
Bara masih terdiam, pura-pura sibuk menelusuri media sosialnya tanpa peduli dengan keluh kesah Sena.
"Bar, ini Samantha bilang dia jomlo, gak pernah pacaran juga. Kayaknya dia cocok deh sama lo." Sena girang, jarinya masih sibuk menekan huruf demi huruf untuk membalas pesan Samantha.
Bara melebarkan bola matanya, terperangah dengan apa yang Sena katakan. Begitu tiba-tiba hingga membuat jantungnya berdegup kala mendengar kalimat tadi.