Doni dan Samantha

1609 Kata
Samantha mengeluh. Dirinya tidak bisa berkonsentrasi sejak tadi. Pikiran serta raganya tidak sinkron dan itu semua terjadi karena Evan. Sejak seminggu belakangan, laki-laki yang dikenal sebagai primadona bagi kaum mahasiswi di kampusnya itu, gencar menerornya dengan mengirim berbagai pesan. Dirinya sangat menyesal memberikan nomor ponselnya kepada Evan. Lebih parahnya lagi, Evan tidak malu untuk menelepon Samantha apabila pesannya tidak dibalas dalam kurun waktu yang lama. Sungguh menyebalkan dan tidak sopan. Samantha menyerah lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kepalanya pening dan keadaan hatinya sedang tidak baik. Apakah dirinya harus melakukan cara ekstrim agar Evan berhenti mengusiknya? Samantha lantas mengambil ponsel. Membuka aplikasi pesan online dan memilih kontak Evan. Ia berniat untuk memblokirnya. Samantha menghela napas, namun tak berselang lama, ia mengurungkan niatnya dan kembali menekan tombol buka blokir. "Duh, kok rasanya gak enak ya." "Kok aku malah gak enak sih? Kan cuma blokir doang. Eh, tapi, kalo blokir bukannya ketahuan ya? Kan pesannya jadi gak terkirim alias centang satu." "Tapi..., kalo gak diblokir dia nge-chat terus. Ih, nyebelin!" Samantha menjatuhkan badan ke atas ranjang. Ia tengah menimang-nimang keinginannya. "Kalo ketahuan ngeblok, Evan tersinggung deh kayaknya. Duh, tapi, kalo gak diblokir dia bakalan ganggu terus. Gimana dong?!" Samantha mengeluh berulang kali. Perasaan terusik yang tadi dialaminya, kini berubah menjadi perasaan tak tega. Ia sangat khawatir jika sikapnya akan membuat Evan tersinggung dan sedih. Selain itu, jika Samantha benar-benar memblokir kontak Evan, bukan perkara mudah baginya untuk menghindari laki-laki itu karena sudah bisa dipastikan jika hal tersebut sangat mudah disadarinya. Rasanya mustahil jika Evan tidak akan menghampirinya karena mereka masih berada dalam kampus yang sama dan Evan pun mengetahui lokasi tempat tinggalnya. Samantha hanya tidak siap memberikan alasan yang dapat diterima oleh Evan karena ia begitu memikirkan perasaan orang lain. Samantha ingin menghibur diri agar perasaan serta suasana hatinya dapat kembali seperti semula. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk pergi keluar mencari jajanan di tempat yang biasa disinggahinya. Celana training hitam bergaris putih, kaos hitam, dan sandal jepit adalah pakaian ternyaman bagi Samantha. Tak lupa juga ia membawa drawstring bag berwarna dasar hitam dan memasukkan ponsel serta beberapa lembar uang kertas. Segalanya telah siap dan kini ia tengah menunggu kedatangan ojek online di luar pagar. "Mbak Samantha, ya?" "Iya, betul. Ke pasar malem simpang taman ya." "Mau pergi jajan, ya, Mbak?" Samantha hanya mengangguk. Ia sedang tidak mood untuk basa-basi. Sepanjang perjalanan ia hanya menatap tak minat pada situasi kota yang tak pernah sepi. Lampu-lampu jalan mulai hidup karena waktu nyaris menunjukkan pukul enam petang. Tidak sedikit penjaja makanan yang memanfaatkan bahu jalan untuk berjualan meskipun sebenarnya itu dilarang. Dari kejauhan, arah pandangnya menatap pada lampu lalu lintas yang kini berwarna hijau. Kendaraan lain pun berlomba-lomba untuk bisa melewati persimpangan dengan cepat agar tidak terjebak lampu merah. Kebanyakan orang memang malas menunggu hal itu karena terasa membuang waktu, begitu pula Samantha. Tetapi anehnya, Samantha justru meminta pengendara ojek online yang ditumpanginya itu untuk berkendara lebih pelan. Alasannya tiada lain karena ia mengaku tengah mengutamakan keselamatannya. Saat sedang menunggu lampu hijau kembali menyala, seketika ia menangkap sosok yang belakangan ini kerap menghantui pikirannya. Namun, ada hal lain yang menarik perhatian Samantha. Ia lantas melirik pada sisa waktu yang terpampang pada tiang lalu lintas. Masih ada 15 detik sebelum lampu berubah menjadi warna hijau. Tanpa pikir panjang, Samantha langsung melepas kuncian pada tali helm lalu memberikannya kepada sang pemilik. "Pak, saya berhenti di sini aja. Biar gak kena pelanggaran dari aplikasinya, bapak ke simpang taman aja sendiri. Saya bayar cashless ya sesuai order. Makasih banyak dan hati-hati di jalan, Pak. Maaf saya labil!" Samantha berucap cepat, lalu dengan sigap menyeberangi jalanan yang penuh dengan kendaraan roda dua dan empat. Tingkah lakunya menarik perhatian pengguna jalan lain, tak terkecuali seseorang yang tadi dilihat Samantha. Badannya setengah membungkuk dengan napas memburu. Berlari di tengah jalanan yang ramai dengan kendaraan membuat adrenalinnya meningkat. Samantha tidak malu, ia justru senang melakukan hal tersebut walaupun dapat membahayakan dirinya. Sebotol minuman dingin disodorkan oleh seseorang tepat di wajahnya. Samantha mendongak sekilas, kemudian mengambilnya. "Makasih," ungkapnya seraya mengusap bibirnya yang basah. "Ngapain lo lari-lari di jalan? Hal penting apa yang bikin lo ngelakuin hal itu?" selidiknya. Samantha tahu jelas hal apa yang mendorongnya melakukan tindakan tersebut. Namun, ia enggan untuk mengutarakannya secara gamblang. "Aku pengen aja tadi turun mendadak. Soalnya dompetku ketinggalan makanya langsung buru-buru turun." "Logikanya kalo dompet lo ketinggalan, bisa tuh ngomong sama abang ojolnya buat nganter balik dulu ke kosan buat ngambil dompet terus nanti tinggal lo tambah aja ongkosnya. Daripada lo berhenti di sini terus pulangnya jalan. Alasan lo gak logis menurut gue." "Ya emang kenapa kalo gak logis? Aku cuma pengen jalan-jalan aja kok makanya minta turun di sini." Samantha kembali mengelak, namun matanya tak henti menatap seekor hamster cokelat yang berada di dalam sebuah kandang. "Lah, bukannya lo gak punya dompet, ya, Sam?" tembak Bara dengan sebuah pertanyaan yang membuat Samantha kehilangan nyali untuk berbohong lagi. Samantha tidak menjawab, ia hanya menatap Bara sekejap dan langsung menjatuhkan tatapan kagum pada seekor hamster lucu berkalung hitam. "Lucu banget sih. Hai, nama kamu siapa?" Samantha tersenyum gemas. Ingin sekali mengeluarkan Doni dari kandang lalu menggendongnya. "Mau ngapain?" tanya Bara posesif. Gerak-gerik Samantha begitu mudah ia baca. "Kenapa sih? Gak boleh emangnya?" "Boleh, tapi jangan di sini. Nanti si Doni lepas terus kabur lari-lari di jalanan kayak lo. Kan bahaya." Bara menarik tangan Samantha, mengajaknya menyeberangi jalan untuk menuju ke simpang taman yang berjarak 200 meter dari tempat mereka bertemu. Perjalanan terasa lebih menyenangkan karena Samantha sejak tadi tak berhenti menanyakan segala hal tentang Doni kepada Bara. Mulai dari pertanyaan klasik seputar alasannya memberikan nama Doni yang menurut Samantha, sama sekali tidak cocok diberikan kepada hamster menggemaskan itu. Samantha pun secara lantang menyuruh Bara mengganti namanya, tetapi Bara menolak mentah-mentah. "Kok gak mau, Bar? Brownie bagus tau, banyak orang yang ngasi nama binatang peliharaan mereka Brownie." "Pertama, Brownie itu nama pasaran. Kedua, Brownie itu banyak make. Jadi, kesimpulannya adalah gue gak mau nama hamster gue pasaran." "Tapi nama Doni pasaran kok. Banyak orang yang namanya Doni," protes Samantha tak mau kalah. "Gak ada hamster yang namanya Doni kecuali hamster gue. Jadi gak pasaran karena hamster itu binatang bukan manusia." Samantha memutar bola mata, terlanjur malas berdebat dengan Bara karena hasilnya pasti tidak sesuai kehendaknya. Walau bagaimanapun, itu adalah hamster milik Bara dan Samantha harus menghormati pilihan nama yang diberikan oleh Bara. "Kenapa kamu kasi nama Doni?" "Karena abang penjualnya yang ngasi dia nama Doni. Gue gak mau ngubah namanya karena gue menganggap abangnya sebagai orang tuanya Doni dan posisi gue itu sebagai orang tua angkat yang adopsi dia. Intinya, gue menghormati nama pilihan dari abangnya. Dan gue juga males ngubah atau cari nama baru, bikin pusing aja." "Alasannya ribet banget. Bilang aja kalo intinya kamu itu males buat nyari nama baru." Bara tergelak mendengar ucapan Samantha apalagi mimik wajahnya terlihat masam. "Pinter, Sam. Gue males dan ngasi nama itu ribet. Apalah arti sebuah nama yang penting gue sayang sama Doni." "Terus nanti kalo ngasi nama anak gimana? Males juga?" Samantha iseng bertanya. "Hm," Bara menggaruk pelipisnya. "Kalo urusan ngasi nama anak gue gak males karena udah gue siapin dari sekarang." "Oh, ya? Namanya siapa?" "Kalo cowo Dino, kalo cewe Dina," ucap Bara percaya diri. Samantha mendengus. "Gak kreatif sama sekali ya. Pasti kedua nama itu terinspirasi dari namanya si Doni," cibirnya. "Urusan nama anak itu masih jauh. Karena nama pasangan sendiri aja gue gak tau." "Cari secepatnya, Bar. Kalo lagi suka sama orang, ya, kejarlah. Jangan sampai orang itu malah sama orang lain." Bara melirik Samantha. Merasa tertantang dengan ungkapannya. "Kalo lo gimana, Sam? Suka dikejar? "Suka dikejar dan suka mengejar. Kalo aku suka sama orang dan tertarik buat tau dia lebih lanjut, kenapa engga?" "Berarti lo gak masalah ngejar duluan? Kan biasanya cewe minta dikejar-kejar alias suka gengsian kalo suka duluan sama cowo." "Jangan menggeneralisasi. Gak semua cewe kayak gitu, Bar. Lagian nih ya, kalo cewe mau ngejar duluan, itu tandanya mereka sadar kalo kesetaraan dalam hal suka sama lawan jenis itu nyata. Biar gak terus-terusan cowo yang ngejar." "Tumben banget gue nemu cewe yang kayak gini. Pemikirannya beda," kata Bara takjub. Ia salut dengan pemikiran yang Samantha miliki. "Sebenarnya, banyak kok cewe yang kayak gitu, tapi mungkin masih mikir-mikir buat mengejar. Misalnya, dia gak percaya diri sama dirinya sendiri. Entah itu dari segi fisik, kemampuan yang dia punya mungkin, atau faktor lainnya. Makanya lebih banyak yang milih buat memendam daripada mengejar. Dan jarang banget ada yang sampai menyatakan perasaan duluan." "Ada hal yang bikin lo gak percaya diri?" "Hm," Samantha menimang-nimang respon yang akan dia ucapkan. "Ada dong, manusia pasti punya rasa ketidakpercayaan diri walaupun kadar setiap orang beda-beda." "Tapi apa lo yakin ketidakpercayaan diri lo itu bisa bikin lo jadi diri sendiri dan merasa yakin buat ngejar orang yang lo suka?" "Yakin kok. Mengejar orang yang kita suka adalah salah satu bentuk kebahagiaan." Samantha menjawab tegas, namun diakhir kalimat suaranya sedikit bergetar. "Gue harap, gue bisa seyakin lo, Sam, buat ngejar orang yang gue suka," Bara menatap ke depan, kedua sudut bibirnya terangkat. "Semoga aja bisa, aku yakin kamu bisa. Jangan pernah ragu karena kamu itu layak buat mengejar kebahagiaan dan gak ada salahnya buat memperjuangkan orang yang kamu suka," Samantha berucap penuh semangat, ia senang jika Bara bisa melakukan itu suatu hari nanti. "Ngomong-ngomong siapa orang yang kamu suka, Bar?" Bara mengabaikan pertanyaan Samantha sejenak karena ia lebih tertarik untuk mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera. "Sam, sini!" Bara memanggil untuk mengajak berswafoto. "Lo pegang Doni, oke?" Bara mulai menghitung mundur lalu menekan tombol putih untuk membidik gambar. Samantha tersenyum lebar sambil memegang Doni dengan kedua tangannya. "Nanti gue kasi liat foto orang yang gue suka. Tunggu, ya, Sam! Lo orang pertama yang bakal tau."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN