Masih ada satu bulan lagi sebelum waktunya masuk sekolah. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan untuk mengisi waktu luang menjemukan ini. Disini tidak ada sesuatu yang menarik. Satu-satunya waktu aku menghibur diri hanyalah dua jam ketika mengobrol dengan keempat sahabatku. Beberapa hari ini aku hanya berbaring di ranjang dan mengeksplorasi rumah ini sampai hafal di luar kepala. Ah, bosannya aku sekarang.
“Bill lagi ngapain ya?” aku teringat pada adikku saat sedang menelusuri f*******:, memeriksa foto-foto terbaru yang Lisa unggah.
Didasari rasa penasaran dan jemu, aku beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar Bill yang ada tepat di sebelah kamarku. Dengan tiga kali ketukan, aku langsung membuka pintu tanpa menunggunya menjawab.
“Ah! Joana! Kenapa nggak tunggu aku ngomong ‘iya’ dulu sih?” Bill bertelanjang d**a sambil memegangi sebuah kaos dengan ekspresi terkejut.
Kedua alisku naik karena heran. “Kenapa? Bukannya udah biasa ya ketuk pintu langsung buka tanpa tunggu disahut?” ucapku.
Dengan kaos yang kini sudah dipakainya, Bill menuju ke meja belajarnya dan duduk. Disana terdapat sebuah laptop miliknya yang menyala, menunjukkan situs f*******:. “Ya kan aku bilang aku udah besar. Jadi kamu jangan asal masuk lagi lain kali. Kalau aku lagi nggak pakai pakaian gimana?” ujarnya dengan nada cukup serius. Ini adalah yang pertama kalinya bagiku.
Aku menyandarkan tubuhku pada kursi tempat Bill duduk lalu mengacak rambutnya. “Ciye yang udah gede. Sekarang butuh privasi,” candaku. “Bilang aja kalo kamu tuh mau beda sekolah sama aku supaya kamu yang dapat privasi, bukannya aku.”
Bill menoleh padaku lalu menjulurkan lidahnya. “Iya, iya. Emang. Habisnya sebelum kita pindah tuh temen-temen ngeledekin aku, tahu nggak Jo?” Ia menyandarkan kepalanya pada tangannya yang bertumpu pada meja.
Dahiku berkerut heran kenapa aku baru mendengar tentang hal ini. “Bentar deh. Kok kamu baru bilang sekarang?” Aku duduk di atas ranjang Bill yang ada tepat di sebelah mejanya sambil menyelidik dengan tatapan. “Biasanya juga ada apa-apa langsung cerita. Jangan bilang kamu di-bully?”
Dengan helaan nafas panjang Bill berkata, “Mereka bilang kalau aku anak yang cengeng. Tukang ngadu sama kakaknya. Terus temen-temen aku semuanya yang ada di Bali kasi julukan ‘Cry Baby’ cuman gara-gara dibela terus sama Bryan.” Kini aku tahu kisah di balik rasa bahagianya meninggalkan Bali. (*Anak cengeng)
“Eh, bentar-bentar. Kamu bilang Bryan bela kamu? Kok aku baru tahu juga?” Ini adalah hal yang aneh bagiku karena ada banyak hal yang tidak kuketahui dari Bill. “Kenapa disembunyiin?”
Bill menggaruk-garuk kepalanya dan menggigit bibir bawahnya. Ia tampak seperti salah bicara. “Gini, Jo. Pokoknya kamu nggak boleh singgung topik ini sama Bryan ya. Janji dulu baru aku ceritain.” Melihatku mengangguk, ia lanjut berbicara. “Bryan itu nggak sengaja pernah lihat aku diledekin sama temen-temen. Dia terus belain aku. Ternyata kejadian itu nggak sekali, tapi sampai tiga kali. Nah persahabatan kalian berlima kan dikenal banget tuh di sekolah, makanya aku dituduh ngadu sama kamu, terus kamu ngadu sama pacar supaya dia belain aku.”
“Pacar?”
“Ya kan kamu tahu semua orang kirain kamu sama Bryan pacaran.”
Itu adalah sesuatu yang kuharapkan, tetapi ia cukup lamban dalam menyatakan perasaannya kepadaku sebagai laki-laki. Tentu saja ini tidak dapat kuungkapkan pada Bill.
“Makanya disini aku mau jadi mandiri. Kita beda sekolah,” Bill menyimpulkan alasannya. “Lagipula aku juga beneran mau sekolah seni visual.”
Aku mengangguk-angguk. “Aku sih nggak masalah, Bill. Asal kamu terus seneng aja disini. Nyaman sama situasi sekitarmu, bikin banyak temen, and all.” (*dan lain-lain)
Bill tersenyum tetapi sorot matanya menampakkan kesedihan. “Maaf ya. Kamu jadi harus kehilangan mereka,” ujarnya. “Kamu pasti sedih banget kan, Jo?”
“Iya sih,” sahutku. “Tapi sekarang yang paling penting itu keluarga. Karena kalau tetep Bali dan kita jadi krisis keuangan kan jadinya nggak bahagia juga.” Betapa ucapanku ini berkebalikan dengan apa yang hatiku harapkan.
“Kamu nggak harus tutupin kekecewaanmu, Jo,” Bill memandangku dengan penuh perhatian, benar-benar sifat tipikalnya jika sudah berkaitan denganku. Mungkin karena sejak bayi aku sudah menunjukkan rasa sayangku padanya hingga ia hampir-hampir tidak bisa lepas dariku.
Aku menunjukkan jemari tangan kananku yang membentuk kata ‘OK’ padanya. “Aku bakalan cerita juga deh sama kamu, Bill kalo butuh temen bicara,” ucapku. “Yah, kaya gini. Sepi juga nggak ada yang menarik.”
Bill tertawa. “Aku sih seru-seru aja. Soalnya udah lama punya beberapa sahabat pena dari banyak negara. Dari MySpace terus pindah ke f*******:, gara-gara situs baru kali ya,” ucapnya terkekeh. “Kamu nggak mau coba?”
Aku menggeleng dengan senyuman. “Aku pakai f*******: doang sih. Demi komunikasi sama mereka berempat. Tapi sebenernya aku lebih berharap untuk bisa ketemu langsung kalau sahabatan,” kuutarakan pendapatku.
“Oh, gitu.”
“Eh iya, Bill. Beberapa hari ini kan Papa Mama jadi lebih sibuk dari sebelumnya, terus Mike sama Brigida jadi sering tengokin kita. Menurut kamu, kita ngerepotin nggak sih? Apa mending kita bilang sama Papa Mama supaya kita urus diri sendiri aja ya? Yah, dipenuhin isi lemari es-nya gitu dan kita bisa bikin makanan sendiri,” aku membuka sebuah diskusi baru mengingat setiap pagi dan malam kedua pasangan suami istri itu ada di rumah kami.
Bill mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak yakin sih. Karena gini,” ia menarik kursinya mendekat padaku. “Kamu lihat rumah ini? Gede banget kan? Fasilitas juga lengkap, ya kan? Tahu nggak kenapa kita bisa tinggal disini?”
Aku menggeleng. Itu memang merupakan sebuah pertanyaan yang sejak awal ada di pikiranku.
“Aku nggak sengaja denger Papa sama Mama ngobrol kemarin malam. Mereka bilang rumah ini dikasi khusus untuk Papa karena menjabat sebagai CEO di perusahaan itu. Artinya, ini tuh cuman rumah dinas. Kalau Papa nggak jadi CEO lagi, kita harus pindah.”
Mendengar ucapannya aku menjadi tertawa geli. “Kamu tuh masih empat belas tahun tapi omongannya kaya udah dewasa. Berasa ngerti gitu sama yang kamu omongin,” candaku.
“Ih, gitu banget. Aku beneran ngerti, Jo,” tukas Bill.
“Oke, oke,” aku mengerti bahwa aku harus berhenti tertawa. Jika kuteruskan, ia bisa jadi mengamuk. “Tapi apa hubungannya sama penuhin lemari es, terus juga Brigida sama Mike?”
Bill menjentikkan jemarinya hingga berbunyi. “Beli makanan beku itu boros, Joana. Aku atau kamu tuh nggak ada yang bisa masak,” penekanannya terdengar kuat saat menyebutkanku, hingga terdengar seperti sedikit menyindirku sebagai perempuan yang tidak bisa memasak.
Kupasang ekspresi datar atas sindirannya itu.
“Nah, kalau tentang Brigida sama Mike ya karena mereka nggak punya anak. Padahal umur mereka nggak jauh dari Papa Mama. Itulah alasannya mereka suka ngurusin kita, karena berasa ngurusin anak sendiri,” Bill menyimpulkan sehingga kini semuanya masuk akal bagiku.
“Ih, pinter banget ya kamu, Bill?” aku memujinya dalam candaan, lalu tertawa.
Bill memasang pose jemari berbentuk huruf L di dagunya dengan gerakan alis naik turun. “Jelas, Billy Captain McCartney.”
“Adiknya siapa dulu dong? Joana Marshall McCartney,” tak mau kalah, aku turut memasang pose yang sama dan menyebutkan nama lengkap hingga kami berdua tertawa bersama.
Suasana ini membuatku cukup terhibur. Mungkin aku harus lebih sering mengobrol dengan Bill selama beradaptasi di tempat ini.
“Anak-anak!”
Baik aku dan Bill langsung terkesiap senang mendengar suara Mama. Pasalnya hari ini mereka pulang lebih cepat dari hari-hari sebelumnya padahal ini masih pukul lima sore. Kami berdua langsung berlarian keluar dari kamar Bill dan menuruni tangga. Kami mendapati Papa dan Mama di ruang makan dengan satu kotak pizza dan beberapa gelas minuman dari kedai kopi yang sudah ada di atas meja.
“Pizza!” Bill berseru senang lalu membuka kotak pizza besar itu. “Enaknya! Aku makan ya, Pa, Ma.”
Papa dan Mama tertawa melihat Bill.
“Kok Papa sama Mama pulang lebih cepet hari ini?” tanyaku menyelidik. Raut wajah kedua orang tuaku tampak bahagia. “Bawa banyak makanan sama minuman juga. Ada berita bagus ya?”
Papa dan Mama saling berpandangan sambil tersenyum. Sudah pasti ada sesuatu yang baik terjadi. Mereka seolah berkomunikasi dalam diam tentang siapa yang akan menyampaikan berita baik ini.
“Ayo kita duduk dulu,” Papa mengusulkan dan kami semua bertindak sesuai ucapannya. “Jadi hari ini, Papa sama Mama itu dapet proyek besar dan bagus di daerah California.”
“Hah? Jauh banget dari sini,” sahutku cepat mengomentari daerah yang aku tahu ada di daerah pantai barat itu.
Mama justru tertawa. “Tadinya Mama juga kaya kamu. Kaget,” ucapnya. “Memang kamu anak Mama.”
Aku pun ikut tertawa meskipun belum tahu maksudnya apa.
“Tadi tuh Mama juga kira California yang itu, tapi ini ternyata California yang Pennsylvania juga. Jadi cuma sejam dari sini kalau naik mobil,” jelas Mama.
Aku mengangguk-angguk. “Terus, terus? Gimana?” aku ingin tahu kelanjutannya.
“Yah karena ini proyek besar pertama sejak Papa jadi CEO, makanya Papa sama Mama mau rayain ini kecil-kecilan dulu sama kalian,” kata Papa. “Kalau sudah selesai proyeknya dan berhasil, kita rayain lebih lagi ya.”
Aku dan Bill saling berpandangan lalu bersorak senang. Kami mengucapkan selamat untuk Papa dan Mama secara bergantian lalu memeluk mereka.
“Oh ya, Pa, Ma. Aku jadi inget. Tentang Mike sama Brigida, apa nggak masalah kalau mereka selalu bantuin kita? Maksudku bantu nggak papa sih, tapi kalau setiap hari apa nggak ngerepotin?” kuangkat topik yang sebelumnya sudah ingin kubicarakan tetapi belum sempat kulakukan karena kesibukan Papa dan Mama.
Mama menoleh pada Papa sembari mengangguk setuju. “Joana bener loh, Pa. Kita mungkin perlu kasi apa gitu sebagai tanda terima kasih?” usul Mama. “Tapi jangan langsung uang gitu. Nanti takutnya justru menyinggung.”
Papa menggaruk-garuk kepalanya. “Gimana ya? Papa tuh udah ngomong sama Mike. Tapi dia sama Brigida itu lucu. Nggak mau dikasi apa-apa dan katanya mau ngerawat kalian secara cuma-cuma. Anggapannya kaya ngerawat anak sendiri,” jelas Papa.
“Tuh kan, apa kubilang,” Bill menyahut cepat sambil menoleh padaku.
“Jadi, anak-anak… Bersikap baik ya sama Mike dan Brigida. Semisal Papa sama Mama lagi nggak ada di rumah atau sibuk banget, mereka bisa nemenin. Istilahnya sebagai pengganti Papa Mama gitu lah,” Papa memberi wejangan. “Hormati dan hargai mereka.”
Aku memberikan gestur hormat ala tentara pada Papa, diikuti oleh Bill. “Siap, komandan!” kami berdua berkata bersamaan.
“Bagus, Marshall dan Captain!” Papa menyebut nama tengah kami, lalu kami berempat tertawa bersama.
“Udah, udah. Ini pizza-nya dimakan. Joana juga. Dari tadi ngomong terus belum makan sama sekali,” Mama menyela. Ia memberikan sepotong pizza padaku yang langsung kuambil dari tangannya.
~ ADOMF