Pekerjaan baru Papa dan Mama berjalan dengan sangat baik. Kami bersyukur karena taraf hidup kami menjadi stabil kembali dan bahkan naik. Aku tidak bisa lagi mengelak kenyataan yang memang baik di sini. Yah meskipun aku jauh dari orang-orang kesayanganku, setidaknya aku masih punya orang tua yang peduli padaku, adik yang menjadi teman dalam kesepianku, serta dua orang lainnya yang menjadi wali untukku dan Bill selama Papa Mama tidak di rumah.
Sebulan sudah berlalu dan kini saatnya aku dan Bill harus masuk sekolah kembali demi melanjutkan tingkat akhir SMA. Dengan bantuan Mike dan Brigida, kami berdua diantarkan ke sekolah kami masing-masing. Mike menjadi wali untuk Bill dan Brigida menjadi waliku.
Bersama dengan Brigida, aku berjalan menuju ke bagian kesiswaan. Meskipun segala urusan administrasi sudah diselesaikan, aku tetap harus melaporkan kedatanganku kepada bagian yang berwenang. Disambut dengan baik serta diberi penjelasan mengenai beberapa hal, akhirnya Brigida pulang setelah aku diserahkan kepada wali kelasku untuk diantar menuju ke kelas homeroom*. (Kelas dimana semua murid berkumpul di tempat yang sama dengan guru yang sama sebelum menyebar ke kelas masing-masing sesuai jadwal yang didapatkan.)
Sampai di sebuah kelas, Pak Benedict, sang wali kelas menyuruhku untuk berdiri menunggu sebentar di luar. Ia mengatakan sesuatu kepada murid-muridnya untuk beberapa lama sampai akhirnya aku dipanggil masuk.
Semua mata tertuju padaku ketika aku melangkah masuk ke dalam kelas itu. Jelas aku bisa merasakannya meskipun aku tidak memandang mereka secara langsung.
"Silakan perkenalkan dirimu," Pak Benedict memberikan instruksi.
Aku mengangguk lalu menatap ke depan, tepatnya pada tembok. "Halo, aku Joana McCartney dari Indonesia," aku memperkenalkan diri dengan singkat.
"Bali?" Seseorang di yang duduk di bagian belakang berkomentar dengan suara lantang.
Entah siapa itu, aku langsung menjawab, "Benar. Bali ada di Indonesia. Aku tinggal di Bali."
Beberapa orang tampak familiar dengan Bali sehingga mereka saling berbisik satu sama lain. Aku rasa memang cukup normal untuk orang dari luar Indonesia mengetahui reputasi Bali sebagai destinasi wisata yang indah.
"Baiklah. Joana kau boleh duduk sebentar di salah satu bangku yang kosong karena masih ada pengumuman yang perlu saya sampaikan," Pak Benedict mempersilakanku.
Mataku pun menelusuri seluruh ruangan itu untuk menemukan bangku yang kosong. Tak jauh dari posisi anak perempuan yang sebelumnya menyebutkan 'Bali' itu terdapat sebuah tempat untukku duduk. Saat aku duduk, Pak Benedict memberikan arahan mengenai semester baru dan kegiatan-kegiatan yang tidak boleh dilewatkan.
Lima menit kemudian para murid bubar dan saatnya memasuki pelajaran pertama. Kulihat kartu jadwal siswa yang tadi Pak Benedict berikan untukku dan aku segera menuju ke kelas tersebut.
Bahasa Inggris Literasi dan Komposisi adalah pelajaran pertamaku dan ini merupakan pelajaran wajib untuk memenuhi syarat kelulusan. Aku siswa internasional disini dan aku perlu mengambil empat kredit sekaligus demi mengejar ketertinggalan. Namun bagiku ini bukan suatu masalah besar karena aku suka bahasa dan menulis adalah keahlianku.
Aku cukup menikmati pelajaran Bahasa Inggris ini, kuharap pelajaran berikutnya juga baik. Tapi aku harus mencari lokerku lebih dulu. Buku Literasi ini cukup tebal dan akan melelahkan untuk membawanya kesana kemari. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum lanjut ke pelajaran selanjutnya.
Lokerku bernomor 2705 menurut kunci yang diberikan oleh bagian kesiswaan tadi beserta denahnya. Jika tidak salah baca denah, letaknya tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Mungkin aku harus berjalan sedikit lebih lagi.
Sayangnya semakin aku berjalan, semakin aku merasa bingung. Aku tidak punya banyak waktu. Jalan tercepat adalah bertanya kepada salah seorang murid disini.
Di dekat tempatku berdiri, ada seorang anak perempuan berambut merah pendek yang tergerai. Aku menghampirinya dan bertanya, "Maaf, kau bisa beritahukan aku dimana letak loker 2705?"
Ekspresi gadis itu dan seorang temannya yang di dekatnya setelah aku bertanya membuatku bingung. Mungkinkah aku salah bicara? Kenapa mereka tampak terkejut?
"Kau yakin lokermu nomor 2705?" gadis berambut merah itu mengkonfirmasi kembali.
Aku mengerutkan dahi untuk mencerna apa maksud di balik konfirmasinya itu. "Iya," sahutku. "Bisa tolong cepat tunjukkan tempatnya dimana? Aku tidak ingin sampai terlambat masuk ke kelasku yang selanjutnya."
Gadis itu menoleh kepada temannya dan saling berpandangan. "Berjalanlah di lorong ini, lalu belok ke sebelah kanan. Disitu nomor 2701 dan seterusnya," ia mengarahkan.
Aku mengangguk. "Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu." Tanpa menunda-nunda lagi aku berjalan kesana sambil melihat jadwal kelasku yang selanjutnya, Matematika. Setelah meletakkan tasku di loker aku masih harus mencari lokasi kelas Matematikaku juga.
Di ujung lorong aku berbelok ke kanan sesuai arahan. Kulihat nomor-nomor yang tertera disana. Nomor 2705 pasti tidak jauh dari tempatku berdiri. Mataku menelusurinya tetapi tidak kutemukan nomor itu. Dari nomor 2704, langsung melompat ke nomor 2706 sementara di tengah-tengahnya terdapat sebuah celah yang menurutku tadinya adalah sebuah loker dengan nomor 2705.
Apa ini? Kenapa loker yang seharusnya menjadi milikku tidak ada di tempatnya? Hanya dinding saja yang terlihat. Aku bertanya-tanya dalam hati.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling mencari siapapun yang berada di dekatku. Ada seorang pemuda berambut pirang disana dan aku menghampirinya. Aku bertanya padanya mengenai keberadaan lokerku.
"APA? 2705?" pemuda itu sedikit berteriak dan membuatku terheran-heran.
Ada apa dengan lokerku? Apakah lokerku adalah loker terkutuk sehingga tidak dapat dilihat atau hilang secara misterius? Kenapa sepertinya setiap orang yang kutanyai mengenai loker ini tampak keheranan?
Bukannya menjawab pertanyaanku, pemuda itu berlari pergi begitu saja meninggalkan aku dengan keadaan termangu-mangu karena melihat fenomena aneh yang baru saja terjadi.
Aku hampir putus asa tetapi kemudian mengingat ucapan pak Benedict sebelumnya bahwa aku bisa datang padanya jika membutuhkan bantuan. Saat ini aku tentu membutuhkan bantuannya untuk memberitahu aku mengenai lokerku.
Aku berbalik hendak melangkah pergi menuju ruang kepala sekolah ketika sekumpulan murid serta pemuda berambut pirang tadi muncul di depanku. Mereka mendekat dan aku melihat seseorang yang tampak familiar.
"Ben?" Aku mengingat tetanggaku itu.
"Oh, hei. Joana?" Ben tersenyum melihatku.
"H-hai. Kau sekolah disini ya?" Aku sungguh tidak percaya dia bersekolah di tempat yang sama denganku.
Murid-murid yang ada di sekelilingnya kemudian bertanya kenapa kami saling mengenal dan Ben menceritakan kejadian sehari sebelumnya dengan singkat.
"Jadi, kau pemilik loker nomor 2705?" Ben memastikan.
Aku mengangguk. "Iya. Dan lucu sekali karena loker itu tidak ada di tempatnya. Coba katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," pintaku.
Ben dan teman-temannya tertawa karena ucapanku atau mungkin karena hal yang lainnya. Yang pasti mereka tampak senang sekali. Mungkinkah aku sedang dipermainkan?
"Maaf soal lokermu. Memang loker itu sengaja kami simpan untuk seseorang," Ben menjelaskan.
Dia sedang bicara apa? Loker sebesar itu disimpan? Yang benar saja. Kejadian macam ini tidak pernah terjadi di belahan dunia manapun aku rasa.
"Sejak kelas 9, atau sejak kami masuk ke sekolah ini, kami menemukan satu sama lain dan membentuk sebuah persahabatan yang kami namakan dengan 'The Friendship'." (*Persahabatan)
"Apa? Nama persahabatan kalian adalah The Friendship?" aku menyahut cepat dan sedikit tertawa karena itu nama yang aneh sekali. Tetapi karena takut menyinggung perasaan aku buru-buru menahan tawaku.
Ben mengangguk. "Iya. Memang kami sengaja menamakannya seperti itu dengan berbagai macam alasan yang tidak bisa diceritakan sekarang."
Aku menyetujuinya. Beberapa menit lagi aku harus masuk ke kelas selanjutnya.
"Loker itu khusus untuk satu orang lagi di dalam kelompok kami demi melengkapi jumlah kami. Ada tujuh orang di kelompok kami, tapi suatu hari kami berandai-andai untuk memiliki satu orang anggota lagi. Karena loker kami bersebelahan sejak kelas 9, nomor 2701-2708 dengan satu loker nomor 2705 tidak terisi, salah satu dari kami mengusulkan rencana yang sangat aneh yaitu untuk menyimpan loker ini."
Hm, ini lebih terdengar tidak masuk akal sekarang. "Tunggu. Aku heran. Apakah kepala sekolah tidak marah akan hal ini?" tanyaku.
Ben menggeleng. Teman-temannya yang lain juga melakukannya sambil tersenyum dan berpandangan satu sama lain seperti memberi kode tertentu yang tidak aku pahami maksudnya.
"Kepala sekolah adalah kakek dari salah satu kami," Ben memberitahu.
"Ah," aku mengangguk-angguk mengerti alasannya sekarang, meskipun ini tetap tidak masuk akal bagiku. Namun sudah saatnya masuk kelas selanjutnya. Aku tidak mau terkena masalah di hari pertamaku sekolah. "Uh, kupikir tidak mungkin aku mendapatkan lokerku sekarang. Dua menit lagi aku harus masuk kelas."
Ben menggeleng. "Maaf. Memasang loker pasti memakan waktu beberapa lama," ucapnya.
"Dia bisa menitipkan barangnya padaku. Nomorku tepat di sebelahnya," salah seorang gadis yang memakai snapback menawarkan. (*sejenis topi)
"Itu ide yang bagus," tanpa berpikir panjang aku menerima tawaran itu.
Gadis itu membukakan lokernya lalu aku meletakkan tasku dan mengambil buku yang kuperlukan di pelajaran Matematika saja. Aku beruntung karena ternyata gadis yang namanya Hallie itu juga memiliki kelas yang sama denganku. Setelah itu aku bergegas bersamanya masuk ke kelas Matematika.
Jelas aku memilih untuk duduk di sebelah Hallie di kelas Matematika karena saat ini dialah satu-satunya yang aku kenal. Dia cukup membantuku memahami beberapa hal yang kurasa sedikit berbeda dari kurikulum di Indonesia. Dalam hal ini aku lagi-lagi beruntung sehingga aku tidak perlu pusing akan perbedaan yang ada.
Empat puluh lima menit cukup untuk pelajaran Matematika sehingga tidak terlalu membosankan untuk bergumul dengan angka. Mungkin bagi orang dengan otak eksak, Matematika adalah hal yang menyenangkan. Namun bukan begitu bagi orang dengan otak seni seperti aku. Bagiku hal yang menyenangkan adalah bahasa dan musik.
Seusai kelas Matematika, Hallie mengajakku untuk makan siang bersamanya dan juga kelompoknya yang bernama The Friendship itu. Berjalan di sampingnya, kami menuju ke kantin yang letaknya di bagian selatan sekolah yang dekat dengan lapangan olahraga. Sambil berjalan, aku menghafalkan tempat-tempat yang kulewati.
Saat memasuki kantin aku melihat beberapa anggota The Friendship sudah duduk di suatu tempat di sudut kantin. Itu adalah tempat mereka dan tidak ada seorang pun yang menempatinya meskipun mereka tidak pernah melarang seorang pun duduk disana. Tempat itu seolah-olah memang sudah ditentukan bagi mereka. Begitulah yang diceritakan oleh Halley.
Aku dan Halley mengantri untuk mengambil makanan dan minuman. Salah satu menu hari ini sangat lezat. Bukan sesuatu yang mewah tapi ini kesukaanku. Pizza. Setelah mengambil bagian masing-masing, kami menuju ke tempat 'milik' The Friendship.
Disitu belum ada Ben. Hanya ada anggota The Friendship yang belum kukenal. Aku bukan orang yang banyak bicara sehingga aku tidak berniat untuk memulai perkenalan terlebih dulu.
"Halo, Joana," seorang gadis berambut pirang panjanglah yang pada akhirnya memulai sesi perkenalan. "Aku Gloria."
Aku tersenyum padanya. "Hai," sapaku.
Gloria kemudian memperkenalkan teman-temannya yang lain. Seorang pemuda dengan model rambut sedikit Mohawk bernama Richie, pemuda lainnya berambut coklat bergaya tipikal pemuda kebanyakan bernama Josh, dan seorang gadis lainnya yang model rambutnya mirip dengan Hallie bernama Annie. "Ada satu lagi yang sedang bersama dengan Ben, namanya Charlie."
"Oh, itu mereka," Hallie menunjuk kepada dua orang pemuda yang sedang berjalan mendekat dengan nampan berisi makanan dan minuman di tangan mereka.
Aku sedikit bergeser ke kanan karena Hallie memberikan ruang untuk Ben dan Charlie yang baru datang.
"Jadi, bagaimana sekolah hari ini, Joana?" Ben bertanya sesaat setelah dia duduk di tempatnya.
Aku sedikit membungkukkan badanku ke arah meja untuk melihat Ben yang duduk di paling pojok karena terhalang oleh badan Hallie dan Charlie. "Oh, semua baik-baik saja. Terima kasih."
"Bagaimana menurutmu sekolah ini?" Josh giliran bertanya, membuka percakapan denganku untuk pertama kalinya.
Setelah menyeruput minumanku aku menjawabnya, "Bagus. Aku rasa aku akan menyukai tempat ini."
Setidaknya itulah yang aku harapkan. Aku tidak ingin ada masalah apapun dan bisa menjalani satu tahun tersisa ini sebelum lulus sekolah. Jadi tidak akan kulakukan hal-hal lain yang tidak penting.
"Kau tinggal dimana, Jo?" Annie mengajukan pertanyaan lainnya.
Kini aku mulai merasa seperti diinterogasi. Setiap orang menanyaiku banyak sekali hal. Yah, tapi itu normal bagi satu-satunya orang yang baru disini.
"Kau harus menebaknya!" Ben tiba-tiba menyahut dengan nada riang.
Semua perhatian kami pun tertuju padanya. Keenam anggota The Friendship yang lain pun saling berdiskusi satu sama lain mengenai ucapan Ben sampai akhirnya mereka menemukan jawaban dari teka-teki ini.
"Sebelah rumahmu, Ben? Bailey nomor 207?" Hallie menoleh dari Ben kemudian padaku meminta kepastian.
Masih dengan pizza yang ada di mulutku, aku tersenyum simpul lalu mengangguk.
"Wah, sudah lama aku ingin tahu isi rumah itu. Begitu elegannya rumah itu tapi selama bertahun-tahun tidak seorang pun yang menempati. Dan ternyata kaulah yang menjadi pemilik rumah itu pada akhirnya. Anggota The Friendship yang baru!" Gloria menyatakan rasa senangnya yang sepertinya sedang meluap-luap itu.
Tunggu. "Apa? Anggota The Friendship yang baru? Apa maksudmu? Bagaimana bisa?" aku kebingungan mengenai semua hal ini.
Mendengar ucapanku, mereka semua akhirnya mengalihkan pandangan kepada Ben seolah menginginkannya untuk mengatakan sesuatu. Karena itu, Ben mengambil kursinya lalu berpindah duduk di dekatku.
"Ingat kejadian mengenai lokermu tadi?"
Aku mengangguk.
"Itu adalah perjanjian yang kami miliki. Kami ingin orang yang secara tidak sengaja dipilihkan loker 2705 oleh bagian kesiswaan menjadi anggota The Friendship. Tidak peduli siapa orangnya, kami akan menjadikan dia sahabat kami. Dan secara kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, kau adalah orang itu," Ben memberikan penjelasan yang cukup mendetail.
Namun penjelasan Ben membuatku berpikir dalam. Aku baru saja kehilangan sahabat-sahabatku di Bali. Bagaimana bisa sekarang aku bergabung dalam suatu kelompok lainnya dan bersahabat dengan mereka? Ini sama saja menggores kembali luka yang kudapat dengan pindah kemari. Aku tidak yakin ini mungkin.
Karena aku tak berkomentar apapun, Ben kembali angkat suara, "Tapi jika kau keberatan, jangan ragu untuk berkata 'tidak' untuk bergabung dengan kami. Walaupun kau tidak menjadi anggota The Friendship kami akan tetap menjadi temanmu."
Masih tidak tahu apa yang harus kukatakan, aku hanya menyimpan suaraku dan mengedikkan bahu.
~ ADOMF