#7

2247 Kata
Di sepanjang sisa hari itu aku masih terus memikirkan mengenai perjanjian The Friendship dalam hal menjadikanku sebagai anggota mereka. Mereka memang baik, tapi aku tidak mengenal mereka. Mungkin belum. Namun jika harus bergabung dengan mereka, menjadi bagian dari persahabatan mereka, rasanya seolah aku terlalu cepat melupakan sahabat-sahabatku di Bali. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti dengan The Friendship, tapi aku masih belum siap saat ini. Seusai jam sekolah tidak ada aktivitas apapun untuk dilakukan. Satu-satunya kegiatan ekstra yang kuambil adalah klub band dan jadwalnya bukan hari ini. Akan lebih baik jika aku langsung pulang saja. Mike pasti juga sudah menunggu di halaman parkir sekolah. Ponselku bergetar di dalam saku celana tepat saat aku melangkah keluar dari gedung sekolah. Mama menelepon. "Hai, Ma," ucapku saat mengangkat panggilannya. “Gimana sekolahmu, sayang? Ini udah selesai kan? Masih di sekolah atau udah di rumah?" Mama memberikan pertanyaan bertubi-tubi. “Iya, udah selesai kok, Ma. Sejauh ini baik-baik aja. Mama gimana di kerjaan sama Papa?" "Oh, disini lancar. Semua baik. Nanti kita ketemu, terus cerita-cerita ya." “Oke deh, Ma,” sahutku. “Sampai nanti lagi." "Sampai nanti, Ma," dengan itu panggilan terputus. Kumasukkan ponselku kembali ke dalam saku lalu melanjutkan perjalananku menuju halaman parkir sekolah. Kupikir aku akan segera menemukan mobil Ford hitam milik Mike di sana. Namun sejauh mataku memandang, dia memang belum ada disini. Kurasa aku harus menunggu sebentar lagi. Mungkin ia sedang menjemput Bill. Tak jauh dari situ ada sebuah bangku yang terletak di bawah pohon rindang. Aku berjalan kesana lalu duduk dan menunggu. Selalu ada cara bagiku untuk mengisi waktu. Seperti biasa, kupasang earphone di telinga untuk menikmati lagu-lagu kesukaanku sambil membaca sebuah novel yang kubawa dari Indonesia. Pandanganku ke arah novel terhalang oleh sebuah telapak tangan yang diayun-ayunkan di depan wajahku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik telapak tangan itu. "Oh, hai... uh, aku lupa siapa namamu." Kuhentikan lagu yang sedang dimainkan saat itu lalu melepas earphone. Gadis berambut pirang itu tersenyum. "Gloria. Gloria Walker. Kau harus ingat-ingat namaku, oke?" Tanpa merasa keberatan ia kembali memperkenalkan namanya. Aku tertawa kecil lalu mengangguk-angguk ringan. “Siapa yang sedang kau tunggu? Papamu? Atau Mamamu?" tanyanya ingin tahu. “Bukan. Aku menunggu hm, bagaimana aku harus menyebutnya? Katakanlah dia waliku." "Ah," raut Gloria tampak berubah. “Maaf. Aku tidak seharusnya menyinggung hal ini." Dalam sepersekian detik aku menyadari bahwa ia salah menangkap ucapanku. “Bukan. Orang tuaku masih ada bersamaku. Tetapi saat ini mereka bekerja dan waliku ini pernah bekerja untuk orang tuaku. Dan kini mereka menjadi orang yang membantu mengurus aku dan adikku,” kuluruskan pemikirannya. Gloria mengangguk-angguk. Sejenak keheningan tercipta di antara kami. Rasanya cukup canggung. Mungkin ini saatnya aku mulai bicara untuk memecah keheningan. "Dan kau, apa kau juga menunggu untuk dijemput?" tanyaku. Ia berpaling padaku dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Oh, tidak. Aku sedang menunggu Ben," ia memberitahu. "Oh, apa kalian berdua adalah pasangan kekasih?" aku menebak. Sontak Gloria tertawa keras. "Apa?" ia masih lanjut tertawa sampai terbahak-bahak. Aku menjadi bingung sekarang. Aku hanya bertanya apakah ia dan Ben berpacaran tetapi ia justru tertawa membabi buta tiba-tiba seperti itu. Aku yakin bahwa aku tidak sedang melucu barusan. Apakah aku sedang berada di sisi dunia yang berbeda dari duniaku yang sebelumnya? Apakah ini masih di bumi? Ya ampun, pikiranku serasa sudah tidak waras. Gloria menyentuh lenganku sambil mengatur tawanya yang masih tersisa lalu berkata padaku, "Kami tidak berpacaran. Kami memang dekat, tapi hanya sebatas sahabat." Jawabannya bukanlah suatu alasan yang cocok untuk menjadi dasar kenapa ia tertawa terbahak-bahak barusan. “Entahlah. Ben itu tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Maksudku dalam artian antara laki-laki dan perempuan," ia melanjutkan. Aku terkejut seketika dan menyimpulkan, "Jadi dia penyuka sesama jenis?" Gloria balik terkejut atas kesimpulanku lalu segera membantah, "BUKAN." Ia menggeleng-geleng. "Bukan seperti itu. Hanya saja dia cukup, hm, bagaimana cara menjelaskannya? Dia memiliki satu komitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan gadis manapun jika ia tidak merasa kalau itu 'orangnya'." Ia membentuk tanda petik imajinasi di udara dengan jari-jari kedua tangannya. Hmmm, menarik. Aku masih menyimak, menunggu kalau Gloria akan mengatakan sesuatu lagi. “Itulah kenapa aku dan yang lainnya merasa cukup terkejut ketika kami tahu bahwa Ben dan kau saling kenal, seperti sudah lama kenal. Kalian tampak akrab." Aku berpikir-pikir dari sisi mana Gloria bisa menyimpulkan bahwa aku dan Ben akrab. Sejauh yang kuingat, aku dan Ben tidak terlalu banyak mengobrol bahkan saat jam makan siang tadi. Apakah sebesar itu komitmen Ben untuk tidak dekat dengan gadis manapun? “Itu Ben," tunjuk Gloria ke arah pemuda berambut coklat cepak yang sedang datang mendekat dengan sebuah kotak di tangannya. Sampai di depan kami Ben bertanya padaku, "Kau menunggu Mike?" “Ya," ucapku sambil mengangguk pelan. Sudah sebulan lamanya kami tidak bertemu dan dia masih ingat nama Mike? Wow, itu hebat. Gloria mengambil kotak yang dibawa oleh Ben. "Apa ini yang kau bawa?" tanyanya. Ia membuka tutup kotak itu dan melihat ke dalamnya. "Ini… barang-barang lama kita bertujuh saat kita masih kelas sembilan, bukan? Dimana kau menemukannya?" Ia mendongak pada Ben dengan mata berbinar. Ben tertawa kecil. "Di loker Joana," jawabnya dengan mengalihkan pandangan padaku. "Maaf aku menggunakan lokermu untuk menyimpan barang-barang ini. Sekarang lokermu sudah terpasang dengan baik. Aku sudah memeriksanya. Mulai besok kau bisa memakainya." Aku tersenyum. "Iya, terima kasih dan tidak masalah. Sebelumnya loker itu juga bukan milikku," sahutku santai. Teringat pada ucapan Gloria sebelumnya, aku menoleh padanya. "Ben sudah datang. Katamu kau menunggunya. Kalian tidak pulang sekarang?" “Dan meninggalkanmu menunggu sendirian disini? Aku rasa lebih baik aku menunggu sampai kau dijemput," Gloria memberi jawabnya. Entah bagaimana ucapan Gloria menyentuh suatu sisi di lubuk hatiku. Aku merasa cukup tersentuh. Mungkin ia mulai menunjukkan kepeduliannya padaku, sesuai dengan perjanjian The Friendship bahwa mereka akan menganggapku sebagai teman mereka meskipun aku tidak menjadi bagian dari mereka. “Oh, kau tidak perlu begitu. Bukan masalah bagiku menunggu sendirian. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan hal itu selama disini," aku berusaha meyakinkan mereka. Ben langsung menyanggah ucapanku, "Kalau begitu, mulai saat ini kau akan terbiasa untuk tidak sendirian lagi. Kami berdua dan anggota The Friendship lainnya akan sering berada di sekitarmu." Aku menyipitkan mataku memandang ke arahnya. "Kau tidak sedang berusaha membujukku untuk menjadi bagian dari The Friendship kan?" aku setengah bercanda. Ben dan Gloria tertawa. “Hei, seburuk itu kah kami di matamu?" canda Ben. Dengan sedikit tertawa aku menjawab, "Tidak. Tidak. Maaf, aku hanya bercanda. Aku yakin kalian tidak seperti itu." Ponselku bergetar lagi di dalam saku lalu segera kuambil. Bukan sebuah panggilan melainkan pesan singkat dari Mike. Aku diminta untuk menunggu sedikit lebih lama karena Bill perlu membeli sesuatu di pusat kota. “Kenapa raut wajahmu berubah seperti itu?" Gloria melihat sesuatu yang tidak kusadari. “Berubah?" “Kau tampak...kesal? Kecewa? Lelah? Atau apalah itu," Gloria menebak-nebak. Aku menggigit bibir bawahku, sedikit ragu untuk memberitahu yang sebenarnya. Ini hal yang wajar karena aku baru saja mengenal mereka. "Mike akan tiba sedikit lebih lama karena harus mengantar adikku membeli sesuatu lebih dulu di pusat kota," akhirnya kuputuskan untuk mengatakannya saja. Ini juga bukan sesuatu yang rahasia. “Ah, andai saja aku sudah mendapatkan SIM mobil. Aku pasti akan mengantarmu pulang. Sayangnya aku selalu pulang dengan bus," kata Gloria. “Tapi aku dan Ben bisa menemanimu sampai dijemput. Setelah itu kami baru menyelesaikan urusan kami.” Aku menggeleng. "Tidak masalah. Tenang saja. Pulanglah lebih dulu. Aku baik-baik saja. Sudah kukatakan tadi, bukan?" Aku masih berusaha meyakinkan mereka. Tidak nyaman rasanya jika membebani pikiran mereka sekarang. ♪ For good times and bad times, I'll be on your side forever more...♪ Sebuah nada dering yang indah terdengar dan rupanya berasal ponsel Gloria. Tanpa beranjak dari tempatnya ia menjawab panggilan itu. "Maaf ya," ucapnya padaku setelah panggilan berakhir. "Mamaku meminta agar aku pulang sekarang. Ada hal yang harus kuselesaikan di rumah." "Kau pulang saja. Aku akan menemani Joana disini," Ben menyahut. Ia mengambil kotak yang sedari tadi masih dipangku oleh Gloria. Gadis itu beranjak dari tempatnya lalu memasang tas slempangnya ke posisi yang benar. "Maaf juga, Ben, aku tidak jadi membantumu mengerjakan tugas musik," ucapnya. “Aku mengerti," kata Ben penuh pengertian. "Pulanglah. Dan hati-hati. Tidak perlu mengebut." Gloria tertawa kecil. "Kau pikir aku yang akan menyetir bus?" Perkataannya membuat aku dan Ben ikut tertawa. “Baiklah, kutinggalkan kalian berdua disini. Sampai bertemu lagi besok.” Ia melambai pada kami. "Hati-hati di jalan," ucapku dan Ben tak sengaja secara bersamaan dan membuat kami geli. Ben mengambil posisi Gloria dengan duduk di sampingku. Ia tidak langsung mengajakku bicara. Dilepasnya topi yang tadi dipakainya dan juga diletakkannya tas punggungnya di bawah dekat kakinya. Sekali lagi ponselku bergetar. Aku berharap ini Mike yang mengatakan bahwa ia tidak jadi mengantar Bill lalu sedang dalam perjalanan menjemputku kemari. Namun rupanya bukan. Ini justru sebuah panggilan dari… Bryan? Bukankah ini terlalu pagi di Bali? Cepat-cepat aku menjawab panggilan itu. "Hei!!!" suara keempat orang sahabatku terdengar begitu keras hingga spontan kujauhkan sedikit ponselku dari telinga. Mereka pasti sedang menggunakan mode handsfree. "Kangen banget sama kamu! Besok libur tujuh belas Agustusan jadi kita bisa begadang untuk telepon kamu. Oh ya, ini hari pertamamu masuk sekolah kan? Kamu harus foto terus masukin ke f*******: ya. Mau lihat kondisi di sana." Secara bergantian mereka berbicara sampai aku kesulitan membedakan siapa yang sedang bicara. Aku sudah sangat senang meskipun hanya mendengar suara mereka. Rasanya semangatku kembali lagi. Mereka memang sumber kebahagiaanku. Namun aku teringat bahwa aku sedang tidak sendirian. Ben sudah kuabaikan untuk beberapa waktu lamanya. Kujauhkan ponselku sedikit dan berkata pada Ben, "Maafkan aku. Teman-temanku di Indonesia sedang menelepon." Ben menggeleng. "Jangan sungkan. Silakan saja. Aku juga sambil mengerjakan tugas kelas musik," ia meyakinkanku. Aku tersenyum padanya dengan ucapan terima kasih lalu mendekatkan kembali  ponsel ke telingaku. “Lagi sama siapa kamu? Suaranya kaya cowok kalau nggak salah denger," tanya Lisa. “Oh,iya. Temen baru disini." “Udah ada temen? Wah keren," giliran Maggie yang berkomentar. “Padahal dulu Joana pendiam banget sebelum ketemu kita, ya kan?" Donnie menambahi. Aku tertawa kecil. "Iya, iya. Kan kalian yang berhasil bikin aku berubah. Makasih loh." Mereka betul-betul suka menyindirku. Tapi aku tidak merasa ada masalah dengan itu. Aku justru senang ketika mereka melakukannya. Rasanya mereka sangat memperhatikan aku. “Foto sama temenmu juga dong nanti," Lisa dan Maggie dengan kompak meminta hal yang sama. “Ah, kalian ini memang selalu mau tahu aja," Donnie mengomentari. “Ya. Nanti habis telepon sama kalian ya,” aku menuruti permintaan mereka. “Ngomong bentar dong sama dia. Nyalain handsfree-mu,” sekali lagi gadis kembar ini meminta. “Siapa tahu nanti bisa kenal lebih dalam terus jadi pasangan hidup. Ya kan?” Lalu keduanya tertawa. Aku berdecak heran. Mereka ini memang benar-benar menyukai bule. “Bentar aku ngomong dulu sama dia,” ucapku. Aku menyentuh lengan Ben sambil menyebut namanya. Bisa kudengar Maggie dan Lisa kegirangan mendengar nama Ben saja. “Apa kau mau berbicara sebentar dengan teman-temanku? Mereka penasaran denganmu.” Ben pun mengangguk. Setelah kupasang mode handsfree ia menyapa, “Hai, semua. Aku Ben, teman Joana.” Yang menyahut dengan riang jelas Maggie dan Lisa. Mereka memperkenalkan diri masing-masing serta Doni dan Bryan. “Apa kau teman sekelas Joana?” tanya Maggie. “Sistem disini tidak seperti di Indonesia,” aku menyela memberitahu. “Tapi mungkin akan ada pelajaran dimana kita sekelas ya, Ben?” Aku menoleh padanya. Ben mengangguk. “Ya, mungkin besok. Hari ini kita tidak ada kelas yang sama,” ucapnya. “Bagaimana Joana menurut pandanganmu?” Kini ganti Lisa yang bertanya. Ben tersenyum lalu menatapku. “Hm, dia… menarik. Pertama kali bertemu dengannya aku tahu dia seseorang yang baik,” ucapnya. Aku terkekeh. “Terima kasih,” sahutku. “Kok dari suaranya kayanya ganteng ya, Jo?” Lisa berkomentar dalam Bahasa Indonesia. “Apa yang dia ucapkan?” tanya Ben karena tidak mengerti. Bagaimana aku harus menjelaskannya? Akan sangat lucu jika menerjemahkan maksud yang sesungguhnya. “Katanya kau tampan hanya dari suaramu saja,” akhirnya kuputuskan untuk mengatakan yang sebenarnya saja. Lagipula itu bukan komentar dariku. “Ah, terima kasih,” sahut Ben. “Oke. Pulsaku udah habis banyak. Kita selesain dulu ya sekarang. Nanti ngobrol lagi,” suara yang kutunggu-tunggu untuk terdengar justru muncul di saat terakhir dan untuk memutus panggilan. Bryan membuatku cukup kecewa jadinya. “Yah, nggak asik,” ketiga sahabatku yang lain berkomentar. "Sampai nanti lagi, Joana dan Ben. Daah." Lisa, Maggie dan Donnie seperti berlomba-lomba untuk mengucapkannya sebelum Bryan akhirnya mengakhiri panggilan, bahkan saat aku belum membalas ucapan teman-temanku. Aku menurunkan ponsel dan menggenggamnya di atas paha dengan perasaan kecewa. Ada apa hingga Bryan bertindak seperti itu? Apa karena ia kesal aku sudah memiliki teman baru disini sehingga ia merasa seperti dikhianati? Yah, ini hanya spekulasiku saja. Jika berpikir seperti itu, artinya Bryan kekanak-kanakan. Tapi sejauh yang kukenal, ia bukan orang yang seperti itu. “Mereka menyenangkan ya." Ben membuka pembicaraan kembali setelah keheningan tercipta di antara kami. “Ah, iya," aku tersenyum. “Terima kasih juga karena kau mau bicara dengan teman-temanku. Maaf jika itu mengganggumu.” Ben menggeleng. "Jangan kuatir, Joana. Aku justru senang bisa mengobrol dengan teman-temanmu," katanya. Din din! Mobil Ford hitam milik Mike datang mendekat, maka aku beranjak dari bangku. “Lebih baik kau ikut denganku pulang daripada naik bus. Katakanlah aku membalas hutang budi padamu," aku menawarkan kebaikan yang sama yang pernah ia berikan padaku sebelumnya. Ben menggeleng. "Tidak, Joana. Terima kasih. Aku masih perlu mengerjakan beberapa hal setelah ini di luar sekolah," katanya. “Oh, begitu ya. Baiklah. Terima kasih banyak sudah menemaniku. Sampai jumpa besok, Ben," aku melambai padanya. “Sampai jumpa." ~ ADOMF
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN