Sepanjang malam sampai hari berganti aku masih memikirkan apa yang menjadi alasan Bryan bersikap aneh kemarin. Dia tidak pernah menyebalkan seperti itu sebelumnya. Selama ini ia selalu ceria dan santai dalam menghadapi sesuatu. Bahkan ia adalah tipikal pembangkit suasana. Mungkinkah jarak dapat mengubah hubungan? Entahlah. Sebaiknya aku tetap berpikir positif.
Aku sudah siap berangkat sekolah bersama dengan Bill. Namun kali ini Brigida yang menyetir mobil karena Mike sedang bekerja. Saat hendak menyusul untuk masuk ke mobil, kulihat sebuah mobil SUV warna abu-abu terparkir di depan pintu gerbang rumahku. Aku bertanya pada Brigida apakah ada tamu, tetapi ia menjawab tidak tahu apapun.
Dengan seksama kuamati mobil itu untuk beberapa waktu. Seseorang keluar dari dalam mobil. Itu adalah seorang gadis berambut panjang dan ia melambai-lambai padaku.
"Joana, ini Annie!" serunya.
Pikiranku langsung tertuju pada salah satu anggota The Friendship. "Brigida, tunggu sebentar ya. Aku akan kesana menemuinya," pintaku.
Dengan langkah cepat aku berjalan menuju ke depan gerbang. "Hai, Annie," sapaku saat sampai di depannya. "Kenapa kau--"
“Hai, Joana," Gloria tampak dari dalam mobil ketika jendelanya dibuka. Semakin lebar dibuka bukan hanya Gloria tetapi seluruh anggota The Friendship terlihat.
Apa yang mereka sedang lakukan? Mungkinkah mereka masih berusaha untuk membujukku agar menjadi bagian dari kelompok mereka? "Hai semua," aku berusaha tetap bersikap ramah. "Kenapa kalian datang ke rumahku?"
"Hari ini kami berencana untuk pergi bersama ke tempat kesukaan kami setelah pulang sekolah untuk mengerjakan tugas Biologi. Kau bisa ikut bersama dengan kami nanti. Aku yakin Bu Kendrick akan memintamu untuk mengerjakan tugas yang sama hari ini," Annie menjelaskan perihal kedatangan mereka.
Mobil Brigida datang mendekat dan berhenti sekitar satu meter di belakangku. Sekilas aku menoleh padanya tetapi kemudian kembali kepada Annie dan The Friendship.
“Berangkat bersama kami saja hari ini. Richie sudah memiliki ijin mengendarai mobil jadi semua akan aman," ucapan Gloria jelas menunjukkan bahwa ia dan yang lainnya sedang berusaha membujukku menjadi bagian dari mereka.
Oh. Ini memang rencana mereka. Aku tersenyum dan menolak mereka dengan sopan. "Mungkin lain kali, teman-teman. Hari ini aku berangkat dengan mereka,” aku merujuk pada Brigida dan Bill. “Walau bagaimanapun juga, terima kasih banyak sudah menawariku."
Tampak kekecewaan di raut wajah Annie. "Baiklah. Kita bertemu di sekolah nanti ya," dengan ucapannya itu, ia masuk kembali ke dalam mobil. Mereka meninggalkan aku setelah kami saling melambai.
Kuhela nafas dalam-dalam dan mengembuskannya. Aku lega bisa menolak dengan sopan, meskipun timbul rasa sedikit bersalah karenanya. Setelah itu aku berbalik dan masuk ke dalam mobil lalu duduk di jok tengah seperti biasanya. Dari awal Bill lebih suka untuk duduk di depan sehingga aku harus mengalah padanya.
Sesampainya di sekolah, aku menuju ke loker untuk meletakkan semua barangku kecuali tas berisi pakaian olahraga karena setelah itu aku pergi ke ruang ganti wanita untuk berganti baju. Pelajaran olahraga di pagi hari sangat baik karena tidak akan terbakar matahari di musim panas seperti ini.
Bersama dengan murid-murid yang tidak kukenal, aku berjalan menuju ke lapangan. Kami berbaris sesuai dengan jenis kelamin. Laki-laki ada di sebelah kanan dan perempuan ada di sebelah kiri. Pak Warren, guru olahraga kami memberikan instruksi atas permainan bola kasti yang menjadi materi praktek hari itu lalu membagi kami ke dalam dua tim.
Tim yang aku dapatkan terdiri dari lima perempuan dan delapan orang laki-laki. Salah seorang siswa yang menjadi ketua tim mengambil undian bersama dengan ketua tim lainnya. Kami mendapatkan giliran pertama untuk main sementara kelompok yang lainnya berjaga. Sesuai instruksi ketua tim, kami diminta untuk menentukan giliran memukul sesuai dengan posisi kami duduk.
Sembari menunggu giliran, seorang gadis yang duduk di sebelahku menyapa. "Hai. Kau.. Joana kan?" tanyanya.
Aku menoleh padanya dan memberikan senyuman beserta anggukan. "Hai," balasku sedikit ragu memikirkan tentang dari mana ia tahu namaku meskipun kami belum berkenalan.
“Aku Georgiana," ia mengulurkan tangannya yang kujabat segera. "Apakah kau tahu bahwa kita bersaudara?"
Aku menaikkan alisku. "Oh ya? Aku tidak tahu. Kau saudaraku sepupuku?" aku mengkonfirmasi. “Dari pihak Papaku?”
Georgiana mengangguk. "Mamaku adalah saudara perempuan Paman Carl," ia memberitahu.
“Jadi Bibi Sarah adalah Mamamu?” aku menyimpulkan.
“Benar. Mamaku memberitahu kemarin. Katanya Paman Carl kesini dengan keluarganya dan anak pertamanya bersekolah disini. Lalu dengan foto yang dikirimkan Paman Carl kepada Mamaku, kucari informasi mengenaimu. Rupanya kau Joana, anggota baru The Friendship,” akhirnya Georgiana selesai berbicara. Ucapannya yang singkat itu terasa panjang karena ia berbicara dengan lambat.
Aku mengangguk-angguk. "Jadi begitu ya," ucapku sebagai satu-satunya respon yang dapat kutemukan.
Senyuman menghiasi wajah manis Georgiana. "Aku senang aku bisa bertemu denganmu disini. Mamaku pernah menceritakanmu padaku sampai aku merasa penasaran," katanya lagi, melanjutkan perbincangan agar tidak terputus.
Kali ini aku merasa ingin tahu. "Oh ya? Cerita apa itu?" tanyaku.
“Kau adalah seseorang yang menarik. Sangat berprestasi di sekolah, terutama dalam bidang musik. Keahlianmu bermain piano sangat memukau sejak kecil," dengan lancarnya ia menceritakan hal-hal tentang diriku seolah ia sudah sangat sering mendengarnya.
Aku cukup terperanjat dibuatnya. "Sepertinya kau tahu lebih banyak dari yang aku tahu sendiri mengenai diriku," aku menanggapi. “Tapi, sebenarnya aku merasa mulai bermain piano dengan baik sejak SMA.”
Georgiana terkekeh. "Kau terlalu merendah."
PRIIIIIT!!! PRIIIIIT!!!
Peluit dibunyikan dua kali tanda kelompok kami harus berganti peran sebagai penjaga, padahal aku belum sempat memukul. Bersama dengan Georgiana aku masuk ke area lapangan dan memposisikan diri di daerah yang aku yakin tidak akan terlalu banyak menerima bola sesuai saran Georgiana.
Permainan dimulai. Pemain dari kelompok yang lain itu mulai memukul. Satu orang, dua orang, tiga orang memukul, tidak ada bola yang datang ke arah kami. Tampaknya Georgiana memang sudah berpengalaman untuk menghindari tugas. Aku bersama orang yang tidak tepat karena aku hari ini merasa ingin berolahraga. Yah, mungkin aku bisa melakukannya lagi nanti karena tidak sopan jika mengabaikan saudara sepupuku sendiri.
“Joana," seru Georgiana di tengah-tengah permainan.
Aku menoleh pada saudara sepupuku itu.
“Aku ingin meminta tolong satu hal kecil padamu. Aku harap tidak akan masalah."
Sejenak menebak-nebak apa yang akan diminta, aku kemudian merespon, "Selama aku bisa, tidak masalah."
Georgiana berdiri sedikit lebih dekat padaku. "Karena kau anggota The Friendship, aku ingin memberikan sesuatu kepada salah seorang anggotanya," ia menyebutkan tujuannya. “Aku menyukai Ben.”
Bagaimana aku harus menjawabnya? Jelas aku sedang menghindari untuk terlibat terlalu banyak dengan The Friendship. Kini justru saudara sepupuku sendiri muncul dan memintaku melakukan sesuatu yang berhubungan dengan salah satu anggotanya.
“Bolehkah kau menolongku untuk menyampaikan sebuah pesan padanya?"
“Ah, tidak," aku segera menolaknya. "Aku tidak mau menjadi penyampai pesan bahwa kau menyukainya. Sebagai sesama gadis, aku menyarankan agar kau bertemu dengan Ben dan mengatakannya secara langsung."
Georgiana menggeleng. "Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kau menolongku memasukkan sebuah surat ke dalam tasnya," ia meluruskan maksudnya. "Kumohon. Ya?" Ekspresi memohonnya itu sungguh membuat orang merasa iba jika dilihat.
Mungkin untuk pertama -- dan yang terakhir -- aku akan menolongnya. "Satu kali saja ya? Aku tidak ingin sampai ada kesalahpahaman apapun," ucapku dengan berat hati.
Georgiana mengagguk-angguk senang. "AAAH! TERIMA KASIH!" ia berseru sehingga semua yang ada di lapangan berpaling padanya. "Maaf, maaf. Lanjutkan permainan saja!" Semua orang lalu tidak menghiraukannya lagi.
Setelah yang satu ini aku harus berusaha untuk menghindarinya kalau-kalau ia meminta pertolongonanku lagi dalam hal pengejaran cintanya pada Ben. Akan sangat menyusahkan saja nantinya.
Seusai pelajaran olahraga, Georgiana menempel padaku terus seolah agar aku tidak melarikan diri. Mungkin ia merasakan keengganananku. Dia sungguh cerdik. Setelah berganti baju, ia menyerahkan suratnya padaku dan sekali lagi meminta tolong untuk melakukan permintaannya.
Di depan loker aku berdiri sambil membuka kunci tanpa menyadari seseorang yang menjadi ‘target’-ku sudah ada di sampingku.
“Joana,” panggilnya.
"Oh, Ben. Kelas apa setelah ini?" tanyaku berbasa-basi sambil mengambil buku Biologi dan menutupnya kembali.
Ben menunjuk pada buku yang kubawa.
“Oh!" Sungguh tepat sekali waktunya. Aku tidak perlu lagi mencari strategi apapun. Duduk di dekatnya dan diam-diam menyelipkan surat Georgiana pasti akan berhasil. Tugasku bisa terselesaikan lebih cepat.
“Duduk saja di dekatku. Aku bisa membantumu di kelas nanti," Ben menawarkan.
Aku mengangguk antusias.
Kami segera masuk ke kelas Biologi sehingga sebelum bel berbunyi, aku dan Ben sudah sampai. Aku mengikutinya berjalan dan ia berhenti di meja yang berada dekat dengan meja guru.
“Di depan guru?" tanyaku heran. Kebanyakan murid tidak suka duduk disini. Biasanya ini menjadi tempat hukuman bagi orang yang terakhir datang ke kelas.
Ben mengangkat kedua bahunya sambil berkata, "Kenapa? Akan lebih mudah jika ingin bertanya pada guru dan lebih dekat menyerahkan tugas dari sini. Tidak perlu berjalan, bukan?"
Alasannya memang masuk akal tetapi tetap saja ini merupakan sesuatu yang tidak biasa. Aku harap guru Biologi bukan tipe guru ganas yang akan menghukum siapapun yang tidak menaati aturan atau sekadar bicara sedikit keras di kelas. Namun karena tidak ada pilihan, mau tidak mau aku mengikutinya. Kupilih bangku yang ada di belakangnya agar memudahkanku memasukkan surat titipan ini ke dalam tasnya.
Bu Kendrick masuk ke dalam kelas ketika bel masuk berbunyi dan melenyapkan suara bising di dalam kelas. Semuanya memperhatikan apa yang dikatakan oleh guru Biologi yang penampilannya menarik. Ia tampak masih berada di pertengahan tiga puluh tahunannya dan sangat modis. Sama sekali bukan tipikal guru senior yang menakutkan.
Setengah jam lebih terlewati dan Bu Kendrick masih menjelaskan materi sejak pertama ia masuk. Aku heran bagaimana ia bisa bertahan bicara tanpa henti selama itu. Sambil memperhatikan ucapannya, aku masih berusaha mencari kesempatan untuk melancarkan aksi.
Bu Kendrick sedang menggambarkan beberapa macam bentuk bakteri di papan tulis. Kurasa ada kesempatan yang bagus bagiku untuk bergerak. Kuambil surat Georgiana yang sudah kusiapkan di bawah bukuku dan perlahan mendekatkannya ke tas Ben yang sudah terbuka. Mataku berulang kali melihat ke arah Bu Kendrick dan ke arah tas Ben secara bergantian agar tidak ketahuan.
Sayangnya punggung Ben tiba-tiba menempel pada kursi hingga menekan tasnya. Tidak ada celah lagi yang cukup untukku menyelipkan surat itu. Akhirnya dengan terpaksa kugunakan tangan kananku untuk membantu. Kubuka tas Ben perlahan-lahan untuk mendapatkan sedikit celah demi tidak ketahuan olehnya.
“Murid pindahan, Nona McCartney."
Kudengar namaku dipanggil. Dengan cepat kusembunyikan surat itu di bawah buku Biologiku kembali. Semua murid langsung menatap ke arahku.
Aku menelan ludah. "Ya, Bu Kendrick," aku merespons.
“Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya tanpa berbasa basi.
Kutelan ludahku dengan gugup, tidak tahu apa yang aku harus perbuat atau katakan saat ini. Aku tertangkap basah sedang tidak memperhatikan Bu Kendrick.
“Bawa kemari sesuatu yang kau simpan di balik bukumu."
Oh tidak. Ya Tuhan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
“Nona McCartney. Kau dengar apa yang kukatakan," Bu Kendrick terdengar sangat serius sehingga membuatku mau tak mau mengambil surat itu dan membawanya kepada guru yang kini jadi menakutkan itu. "Jangan beranjak dari tempat ini. Baca isinya."
Mataku terbelalak mendengar permintaannya. "Tapi, Bu--"
“Bacakan."
Jantungku berdebar-debar. Aku merasa ada di dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan sekarang. Seperti istilah 'sudah jatuh tertimpa tangga', itulah yang terjadi padaku. Dengan berat hati aku membuka surat itu dan membacanya.
“Ben," kata pertama yang k****a membuat semua orang berpaling pada Ben, sementara aku tidak berani memandangnya. Aku jadi enggan membaca lebih lanjut karena isinya bisa jadi lebih membuatku bertambah malu.
“Ayo selesaikan," Bu Kendrick tambah menekanku.
“Sejak pertama kali aku memandangmu, kurasakan getaran di dalam hatiku." Apa ini? Kata-katanya sungguh..ugh. "Ada sesuatu yang kurasakan ketika melihat senyumanmu. Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi padaku. Mm, semakin lama aku memandangmu ketika aku berpapasan denganmu, semakin aku tahu aku jatuh cinta padamu. Mungkin kau tidak tahu siapa aku saat ini. Suatu kali, aku akan menunjukkan diriku padamu. Dari seseorang yang sangat mencintaimu." Ini benar-benar hari kiamat untukku.
Seluruh murid tertawa mendengar isi surat yang kubacakan itu. Tidak sedikit yang mengutarakan dugaan bahwa aku memiliki rasa terhadap Ben sehingga menulis surat itu padanya diam-diam. Sampai saat ini, aku tidak mampu untuk menatap teman baruku itu akibat surat ini.
“Lain kali jangan menulis surat, nona McCartney. Sebagai orang dewasa, biarkan aku memberimu satu saran. Bertemulah dengannya secara langsung dan utarakan perasaanmu," Bu Kendrick menambah rasa maluku sehingga aku merasa frustasi. "Silakan duduk kembali."
Dengan perasaan campur aduk, aku berjalan menuju ke tempat dudukku sambil meremas surat yang ada di tanganku itu. Sebaik mungkin aku menghindari kontak mata dengan Ben. Aku sungguh merasa malu. Kuhabiskan sepuluh menit terakhir dengan buku menutupi di wajahku.
Saat bel tanda pelajaran telah berakhir berbunyi aku langsung menyapu buku Biologi serta semua alat tulisku ke dalam tas tanpa merapikannya. Cepat-cepat aku beranjak dari tempat dudukku demi menghindari Ben.
“Joana," Ben terlalu cepat meraih pergelangan tanganku.
“Itu bukan suratku," sahutku cepat untuk mengklarifikasi. "Tolong jangan salah sangka."
Ben menarikku dan membuatku berpaling padanya. Pandangan matanya jatuh ke dalam mataku dan membuatku berdebar kencang.
“Aku sudah katakan padamu. Tolong jangan salah sangka." Sekali lagi aku mengatakan hal yang sama. Sungguh aku tidak mau sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya dia marah karena sudah mempermalukan diri di depan umum dengan melibatkannya.
~ADOMF