#9

1685 Kata
Tangan Ben cukup erat mencengkeram pergelangan tanganku. Pandangan matanya begitu tajam seolah menusuk kedua bola mataku. Sejenak hanya ada kesunyian di antara kami berdua sebelum akhirnya suara yang kudengar mengubah rasa cemasku menjadi sebuah pertanyaan. “HAHAHAHAHAHA!" Ben tertawa terbahak-bahak. Aku terperanjat mengamatinya karena memberikan respons yang bertolak belakang dari apa yang kusangka sebelumnya. Ia bukannya marah atau mengancam atau menjauh dariku setelah ini. Orang ini sungguh di luar dugaan. “Kau...kenapa," aku agak ragu mengatakannya, "justru tertawa...dan tidak, uh, marah?" Ben menahan tawanya dengan menekan perutnya menggunakan kedua tangan. "Karena itu," ia tertawa lagi, "lucu sekali!" Lucu? Dia aneh sekali. Aku tidak merasa itu sebuah lelucon. Ya ampun. Dia dan aku baru saja dipermalukan dan mungkin saja menjadi bahan bulan-bulanan nantinya jika tersebar. Kenapa dia santai sekali? Pikiran-pikiran itu mendominasi dan tidak bisa terucapkan begitu saja. Sisa-sisa tawanya masih terlihat dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya ketika Ben berusaha mengatakan sesuatu padaku seolah baru saja membaca pikiranku. "Mungkin kau menganggapku aneh karena aku tertawa bukannya marah. Ini bukan pertama kalinya aku mengalaminya, Joana. Dulu seseorang pernah melakukan hal yang mirip," ia menarik nafas untuk mengatur tawanya agar benar-benar berhenti, "dan aku marah besar. Tapi setelah beberapa kali mengalaminya, aku lebih memilih untuk menganggapnya sebagai lelucon saja daripada harus marah dan merugikan diriku sendiri." Jalan pikirannya itu masuk akal. Dengan merasa marah atau kecewa, justru aku yang akan dirugikan. Mungkin salah satu cara untuk mengatasi kejadian memalukan tadi adalah menertawakannya. Bisa jadi ini berguna suatu kali nanti. “Sudahlah. Jangan dipikirkan. Aku tahu itu pasti bukan kau," Ben mengambil buku dan alat tulisnya lalu menarik pergelangan tanganku keluar dari kelas Biologi. Tanpa memberontak aku mengikuti dari sampingnya menuju loker kami. Menyadari tanganku masih belum dilepaskan, aku menyentuh lengannya dengan jari telunjuk tanganku yang lain. “Tanganku,” aku menunjuk dengan lirikan mata. “Ah, maaf, maaf,” Ben segera melepaskan genggamannya. Aku mengangguk pelan. “Oh ya. Aku rasa kau tidak melihat catatan tugas yang Bu Kendrick tuliskan sebelum keluar kelas tadi kan?" “Kurasa tidak. Kau tahu aku sibuk mengatasi rasa maluku, bukan?” Ben terkekeh. “Ya.” “Oke. Jadi tugas apa itu?” “Seperti yang Annie sebutkan tadi pagi. Kita diminta mengumpulkan contoh-contoh daun-daun perairan untuk kelas mendatang," Ben memberitahu. "Kau sudah ada rencana untuk mengambil dimana?" Kedua bola mataku berputar. "Aku tahu kau ingin menawarkan untuk pergi bersama kalian seperti rencana yang kalian utarakan padaku tadi pagi kan?" aku menebak dengan nada sedikit sarkastik. Ben tertawa kecil. "Kau ini cepat mengerti," sahutnya. “Dan ini artinya kau, atau kalian semua masih berusaha membujukku agar menjadi anggota The Friendship?" Ben menghela nafas panjang. “Joana Marshall McKartney," Ben menyebut nama lengkapku yang mana membuatku cukup terkejut. Nama tengahku tidak pernah tertulis dimana pun kecuali di dokumen penting dan legal. Saat ini tidak ada yang semacam itu di tanganku. Sudah pasti mataku saat ini terbelalak membesar karena begitu terkejutnya. “Kau heran kenapa aku tahu nama lengkapmu?" Dia ini pembaca pikiran atau apa? Ini kedua kalinya dia merespons sesuatu yang kupikirkan. “Itu tertulis di kartu jadwal siswamu," sahutnya santai. Aku segera menoleh pada sesuatu yang ditunjuk oleh Ben yang kubawa di tanganku dengan posisi terlentang di atas buku Biologiku. Kupikir disini hanya tertulis nama awal dan akhirku. Belum lagi tidak kusangka kartu sekecil ini bisa terlihat jelas olehnya. “Hei. Kau ini lebih baik belajar untuk tidak berpikir atau bereaksi negatif sebelum tahu yang sebenarnya. Jangan sampai kau merasa menyesal nantinya," nasihat Ben terdengar kejam bagiku. Dia menganggapku sebagai seorang negative-thinker. Atau aku memang begitu? (*seseorang dengan pikiran negatif) Kami sampai di loker masing-masing. Aku membuka milikku dan langsung menukar buku Biologi dari dalam tasku dengan buku pelajaran untuk kelas selanjutnya. "Ucapanmu sangat menusuk," tukasku. Ben menutup lokernya lalu menatapku, "Aku hanya menyatakan fakta," sambil bersandar pada lokernya. “Dan memberimu sedikit saran.” “Ya, ya," aku tidak mempedulikan ucapannya karena aku tidak sedang dalam mood yang tepat untuk mendengar ceramah. "Kau juga sedang istirahat, bukan? Ayo ke kantin. Aku sudah lapar." Ben hanya tertawa kecil sambil menggeleng-geleng mendengar ucapanku. Ia berjalan di sampingku dan kami menuju ke kantin bersama. Saat mengantri untuk mengambil makanan, aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tadi pagi menitipkan suratnya padaku. Senyuman manisnya seakan membunuhku secara diam-diam karena rencanaku sudah gagal total. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. “Sudah?" Georgiana berbisik padaku. Aku memaksakan sebuah senyuman padanya tanpa mengatakan apapun. Dia tidak boleh tahu aku sudah gagal. “Boleh kau sedikit bergeser? Aku ingin mendekati Ben." Belum sempat aku menyetujuinya, ia sudah memasuki ruang di antara aku dan Ben. Gadis ini benar-benar agresif. Sudah seharusnya ia menyerahkan surat itu sendiri kepada Ben daripada meminta pertolonganku. Dengan begitu aku bisa terhindarkan dari kesialan di kelas Biologi tadi. Masih dalam posisi mengantri, Georgiana menyapa Ben dan membuatnya menoleh pada gadis itu. “Oh, hai," dengan ramah Ben menyapanya balik. Georgiana tersenyum lebar. "Apa kabar? Kau mengingatku?" tanyanya berbasa-basi. Giliranku untuk memilih makanan tiba. Aku menghiraukan percakapan antara Georgiana dan Ben tapi mau tak mau aku masih bisa mendengarnya. Kini aku menjadi bosan. Setelah selesai mengambil makananku, aku segera menuju ke suatu meja di dekat pintu masuk. “Hei, Joana," menghiraukan ucapan Georgiana, Ben memanggil namaku dan aku menoleh padanya. "Mau kemana kau?" Aku menaikkan alisku mengisyaratkan aku tidak paham akan pertanyaannya. "Tentu saja aku ingin duduk dan makan," jawabku singkat. “Aku sudah katakan padamu kemarin, bukan? Kau harus mulai terbiasa untuk tidak sendirian. Mengerti?" Ben menarik pergelangan tanganku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menopang nampan berisi makanannya. “Hei, hei. Topang nampanmu dengan kedua tangan. Itu bisa saja jatuh karena kurang keseimbangan," aku menegurnya saat melihat nampannya agak miring. “Ben," Georgiana memanggil nama pemuda pujaannya itu ketika merasa diabaikan. Ben menoleh pada Georgiana lalu berkata, "Kita bicara lagi nanti, ya. Aku perlu menghabiskan makananku dulu dan berurusan dengan gadis yang satu ini." Georgiana tampak kecewa dengan ucapan Ben. Aku jadi tidak enak padanya jika begini, mengingat ia adalah saudara sepupuku. Aku masih punya hati meskipun sejujurnya aku tidak terlalu peduli pada keinginannya untuk mendekati Ben. Kumimikkan satu hal padanya, "Jangan menyerah," sebelum akhirnya terpaksa mengikuti Ben untuk duduk bersama The Friendship. Ketika aku datang mendekat, semua anggota The Friendship menyapaku. Karena masih sedikit kesal pada Ben, aku hanya tersenyum demi tetap bersikap sopan. “Joana, kau tidak perlu merasa sungkan untuk bergabung bersama dengan kami kapanpun," Hallie membuka percakapan di antara kami. “Benar sekali. Kita adalah teman. Ingat?" Richie menimpali. Aku memberikan senyuman pada mereka lalu menyantap makananku setelah memanjatkan doa singkat. “Aku sudah menawarinya bergabung bersama kita, teman-teman. Juga untuk tugas Biologi. Tapi sepertinya nona McCartney ini menolak," Ben mengungkit kembali maksud dari perkataannya di kelas tadi. Lirikan mataku langsung tertuju padanya. Bisa-bisanya Ben berkata seperti itu kepada yang lain. “Oh, kalian satu kelas Biologi?" Gloria menyimpulkan sambil menyedot jus jeruknya sampai habis. Ben mengangguk. Sambil menuangkan lada hitam di atas kentang gorengnya, ia menyenggol lenganku. "Iya, dan ada kejadian lucu tadi di kelas," ia menyinggung kejadian memalukan tadi. Secepat kilat aku menoleh padanya lalu melemparkan tatapan tajam. Awas saja jika ia sampai menceritakan kejadian itu pada mereka. Ucapan Ben membuat semua anggota The Friendship merasa penasaran sehingga mereka meminta untuk diceritakan mengenai hal itu. Ben berdehem lalu tersenyum. "Ah, aku tidak akan menceritakannya disini." Ia mengerti maksud dari tatapanku. "Toh kalian akan tahu dari cerita dari murid-murid yang lain." Aku tidak berpikir mengenai hal itu. Dia benar sekali. Ada belasan orang di kelas Biologi yang pastinya tidak akan diam setelah melihat kejadian tadi. “Ah, kau ini tidak seru tahu, Ben. Membuat kami penasaran saja," Charlie mengutarakan kekecewaannya. Belum selesai dengan makananku, aku buru-buru permisi untuk pergi ke toilet. Mungkin hanya Ben yang tahu bahwa ini adalah alasan untuk menghindari percakapan lebih lanjut mengenai kejadian memalukan tadi. Dalam situasi seperti ini aku jadi merasa tidak yakin bahwa aku sanggup menggunakan cara yang Ben lakukan untuk mengatasi rasa malu ini. Aku tidak tahu harus melakukan apa di toilet karena semua ini hanya alibi. Alhasil aku hanya berlambat-lambat mencuci tanganku di wastafel lalu mengeringkannya dengan tisu yang tersedia. Sebelum keluar dari toilet, kudengar dua orang di dalam kamar mandi berbisik-bisik di belakangku dan aku tahu bahwa akulah yang sedang mereka bicarakan. Aku berhenti di tempat dengan rasa geram. Rasanya emosiku sebentar lagi akan meledak. Tapi aku tidak boleh seperti itu. Kesalahan sedikit saja dapat membuat masalah dan aku harus menghindarinya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik kepada dua gadis yang memperbicangkan aku. "Apakah tadi menurutmu lucu?" tanyaku dengan senyuman tetapi justru tidak mendapatkan jawaban. Bisa jadi mereka merasa cemas jika aku marah atau bingung atas pertanyaanku. "Bukankah kelas Bu Kendrick terlalu tegang tadi? Itulah sebabnya di saat-saat terakhir kuberikan sentuhan humor agar kelas lebih hidup." Kedua gadis itu tertawa mendengar ucapanku dan salah satunya kemudian berkata, "Kau benar. Bosan sekali rasanya. Yah terlepas dari sengaja atau tidaknya kejadian tadi, kau sukses memberikan kami hiburan." Aku tersenyum. "Tentu saja. Senang rasanya membuat orang lain tertawa," sahutku. "Tapi lain kali aku tidak bisa begitu lagi. Bisa-bisa aku kena masalah. Iya kan?" Gadis lainnya menimpali, "Iya. Jangan sampai kena masalah. Kita harus berhati-hati dengan Bu Kendrick. Dia itu muda tetapi sangat garang." Dengan  perkataan itu kami bertiga tertawa. “Baiklah. Aku harus kembali untuk menyelesaikan makananku. Sampai bertemu lain kali ya," aku berpamitan pada mereka kemudian keluar dari toilet dengan wajah berseri. Rupanya berguna juga teori yang Ben berikan. Hadapi dengan santai dan semua berakhir dengan baik-baik saja. Aku kembali duduk di tempatku semula dan kemudian menyeruput minumanku. Tidak seorang pun tahu mengenai perbedaan dari aku sebelum pergi ke toilet dan sesudahnya. Atau aku mungkin salah. Ben harus masuk ke dalam pengecualian. Ia sudah beberapa kali memandangku sekilas sambil mempelajari ekspresi wajahku. Tidak jarang ia mengerutkan dahinya tanda ia bertanya-tanya akan apa yang barusan terjadi padaku. Namun ia tidak membahasnya di depan yang lain. Bel peringatan tanda selesainya periode ini berbunyi. Kami segera kembali dari kantin menuju ke loker untuk mengambil barang-barang kami dan masuk ke dalam kelas sesuai dengan jadwal yang ada. Tanpa merasa bingung lagi setelah baik-baik mempelajari letak setiap kelas pilihanku, aku menuju ke kelas selanjutnya. ~ADOMF
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN