#10

2216 Kata
Brigida menjemputku dan Bill dari sekolah tapi tidak mampir lebih dulu setelah menurunkan kami di depan gerbang rumah. Ia memiliki suatu urusan di rumahnya. Karena tidak ada hal apapun yang harus kulakukan, aku bergegas masuk ke kamarku. Kuambil ponselku yang sejak dua jam pelajaran terakhir belum kuaktifkan. Baterainya hampir habis akibat lupa kuisi ulang semalam. Sembari mengisi ulang, aku mengaktifkan ponselnya. Beberapa pesan baru dari Lisa, Maggie dan Donnie masuk. Sayangnya tidak ada pesan dari Bryan. Ini semakin membuatku bertanya-tanya apa yang terjadi pada pemuda itu. Mungkin aku harus bertanya padanya langsung. Setelah membalas pesan ketiga sahabatku itu, aku menulis pesan untuk Bryan. Beberapa kali aku harus menghapus dan menulis ulang pesanku hanya untuk memintanya memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bahasa yang kupakai bisa jadi mempengaruhinya untuk membalas atau tidaknya pesanku. Yah, aku harap dia membalas segera karena aku sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk ini. Kubiarkan ponselku tergeletak di atas meja belajar sementara aku mandi karena sudah merasa gerah. Sekitar tiga puluh menit kuhabiskan di dalam kamar mandi. Air segar betul-betul berfungsi menghilangkan kepenatan, baik akan tugas-tugas sekolah, kejadian memalukan tadi, juga sikap diam Bryan yang saat ini masih mendominasi pikiranku. Keluar dari kamar mandi, suara pesan masuk terdengar dari ponselku. Cepat-cepat aku berlari ke arah meja belajar dan duduk disana sambil membaca pesan itu. Kupikir Bryan pasti tidak tahan untuk mendiamkanku sampai ia membalasku pada dini hari. Sayangnya ini tidak seperti pemikiranku. Pesan ini bukan dari Bryan. Rasanya kecewa sekali ketika yang kudapat hanyalah sebuah pesan dari nomor tak dikenal. ‘Kau mungkin akan berpikir ulang untuk ikut bersama dengan kami mencari contoh dedaunan perairan. Bukankah lebih baik mencari bersama-sama dengan orang yang sudah mengenal tempat ini daripada melakukannya sendirian? Kami baru saja selesai dari kegiatan ekstra dan akan pergi ke danau terdekat. Kalau kau mau ikut, kami bisa menjemputmu sekarang. Ben.' “Luar biasa. Dia gigih sekali membujukku," aku berdecak tidak percaya. Sejenak kuambil waktu untuk berpikir. Memang benar kata Ben. Jika aku harus mencarinya sendirian, aku pasti mengalami kesulitan. Aku harus mencari letak perairan terdekat dan meminta tolong Brigida atau Mike untuk mengantar. Itu pasti merepotkan. Itulah sebabnya aku membalas pesan Ben dengan singkat bahwa aku setuju. Setelah itu aku berganti baju dengan cepat serta mengambil tas slempang yang kuisi dengan dompet dan ponsel. Sejenak aku mampir ke kamar Bill untuk memberitahunya mengenai aktivitasku, lalu menuruni tangga. Nada notifikasi pesan masuk terdengar. Lagi-lagi itu dari Ben yang mengatakan bahwa mereka sudah ada di depan gerbang rumahku. Heran aku jadinya karena jarak antara pesannya yang lalu dengan saat ini hanya lima menit. Mungkin mobil mereka memiliki kecepatan khusus atau mereka memiliki pintu ajaib seperti milik Doraemon. Aku keluar dari rumah dan mendapati pintu mobil sebelah kanan langsung dibukakan untukku. Ini sungguh menggelikan. Rupa-rupanya mereka menunjukkan perjuangan terbaik untuk mendapatkan hatiku. Setelah menyapa singkat, kami meluncur ke tujuan kami. Dari mereka kuketahui bahwa namanya adalah Danau Elizabeth. Tempat ini ramai pada akhir minggu. Namun karena ini masih tengah minggu, tidak banyak orang yang mengunjungi. Dalam waktu lima belas menit kami sampai dan mobil di parkirkan di jalan bernama North Avenue karena lebih dekat dengan danau. Kami berjalan sedikit bersama-sama untuk sampai di sebuah danau kecil dengan sebuah jembatan yang menghiasinya. Gloria membagikan kepada kami masing-masing sebuah plastik untuk menyimpan dedaunan, yang mana tidak terpikirkan olehku sama sekali. “Ah, terima kasih,” kuterima plastik itu dari tangan Gloria. “Lalu dari mana kita mulai? Dan apa yang harus kita cari? Adakah persyaratan khusus?” “Untuk ukuran gadis yang tadinya menolak bantuan, kau ini banyak bertanya ya,” dari arah belakang Ben menyindirku. Aku melipat kedua tangan di depan d**a. “Ya, tuan yang baik hati. Kau punya usulan yang baik agar ini cepat selesai?” aku balik menyindirnya. Ben berdiri di sebelahku lalu memanggil semua anggota The Friendship untuk berkumpul. “Agar tugas ini cepat selesai,” ia mencondongkan kepalanya ke arahku sedikit dengan memberikan penekanan pada ucapannya, “masing-masing dari kita mengumpulkan dua buah untuk setiap jenis daun yang kita kumpulkan. Karena Bu Kendrick meminta tiga jenis minimal, usahakan untuk mendapat lima jenis agar bisa saling berbagi dengan yang tidak bisa mendapatkan cukup dedaunan. Bagaimana?” Semuanya menyetujui usulannya, begitu pula aku. Serentak kami berpencar di sekeliling danau dan mengambil dedanunan yang ada disana sesuai dengan perkataan Ben. Awalnya kupikir akan mudah tetapi ternyata perlu kerja keras karena pada satu sisi hanya bisa ditemukan satu atau paling banyak dua jenis dedaunan. Aku harus berpindah-pindah untuk mendapatkan jenis-jenis lainnya. “Ah, kenapa hanya dua jenis saja yang kutemukan?” aku hampir-hampir merasa frustasi. Sepuluh menit terlewat dan masih belum ada kemajuan. “Joana,” Annie mendatangiku dengan plastik penuh. “Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?” Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. “Kau yakin? Sudah lima jenis kau temukan?” tanyaku memastikan. Annie mengangguk-angguk. “Aku pikir begitu,” jawabnya. “Bagaimana bisa? Aku saja hanya mendapatkan dua jenis di sisi ini,” kutunjukkan plastik di tanganku yang hanya berisi 4 helai daun. “Kupikir itu cukup. Nanti yang lain akan melengkapi apa yang kau perlu. Kurasa mereka juga mendapatkan sebanyak yang kudapatkan,” Annie menyarankan dengan santai. “Tapi jika nanti ternyata kurang, itu justru akan lebih merepotkan,” aku memikirkan kemungkinan yang terburuk. Gadis bermata biru ini meletakkan tangannya di bahuku. “Percayalah padaku. Yang kita dapatkan pasti lebih dari cukup. Jadi ayo kita tunggu yang lain dengan duduk di atas jembatan itu," tanpa persetujuanku, ia menarik pergelangan tanganku. Mau tak mau aku berjalan mengikutinya. Kami duduk bersebelahan mengamati yang lainnya masih mencari dedaunan. “Hei, kupikir mereka masih--” “Kehadiranmu membuat sesuatu yang berarti,” Annie memotong ucapanku. Aku menoleh padanya. “Apa maksudnya?” tanyaku penasaran. Nada ucapannya terdengar serius. “Mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi kami yang sudah lama bersahabat dapat melihat perubahan besar,” Annie melanjutkan pada penjelasan yang semakin membuatku tidak mengerti. “Annie, apa yang kau bic--” “Tolong berjanjilah bahwa kau tidak membuatnya patah hati.” “Patah hati? Siapa?” Kerutan di dahiku pasti sudah berlipat-lipat. “Ah! Pasti kau sudah mendengar tentang kejadian memalukan tadi di kelas Biologiku ya? Tolong jangan salah sangka karena surat itu bukan--” “Kalian disini? Memangnya sudah mengumpulkan banyak?” Kemunculan Ben membuat Annie menggenggam tanganku, seolah memintaku untuk berhenti bicara. “Ah, ya. Aku sudah mendapatkan cukup. Tapi Joana hanya menemukan dua dan kurasa ia sedikit lelah, jadi kuajak dia untuk beristirahat disini,” gadis ini membuat alibi. Entah kenapa dia melakukannya. “Kau kenapa? Kau baik-baik saja?” Ben tampak khawatir seketika. Kuselipkan rambutku yang tertiup angin menutupi wajah di belakang daun telinga. “Uh, ya. Jangan khawatir,” ucapku sedikit ragu. Annie bangkit dari posisi duduknya tiba-tiba. “Kupikir yang lainnya sudah selesai,” katanya. Baik aku dan Ben melihat ke sekeliling dan mendapati yang lainnya sedang datang mendekat ke arah kami. Beberapa berkata bahwa mereka mendapatkan cukup banyak jenis, sementara Gloria mendapatkan sedikit sama sepertiku. “Bagaimana jika kita membagi hasil yang kita dapatkan sambil makan sesuatu di kafe keluarga Josh? Ini sudah pukul lima,” Charlie mengusulkan. Ia mengelus-elus perutnya yang rata itu. “Aku lapar.” “Kau memang selalu lapar, Charlie,” tukas Halie yang berdiri di depannya. “Tapi heran sekali kau tidak pernah gemuk.” Richie dan Josh berdehem bersamaan, entah apa maksudnya. “Itu ide yang bagus. Kita bisa bersantai juga. Bagaimana menurut kalian?” Ben sudah seperti seorang moderator dalam sebuah rapat pengambilan keputusan saja. Kami semua menyetujui usulannya. Restoran keluarga Josh ada di seberang tempat mobil kami diparkirkan. Kami berjalan bergerombol rapi kesana dan aku berada di barisan paling belakang. Saat kuperhatikan, kami tampak seperti kawanan bebek yang berjalan menuju ke kandang. Ini menggelikan sehingga aku tertawa diam-diam. Ya ampun, imajinasiku sudah kemana-mana. “Kenapa kau tertawa sendiri?” bisik Ben dari sebelahku. Kusentuh telingaku karena merasa geli akibat nafasnya. “Kau ini, mengejutkanku saja,” kataku cukup keras sehingga membuat yang lain berpaling pada kami. “Itu gara-gara kau tertawa sendiri. Aneh, bukan?” Ben menyampaikan apa yang ia ketahui tentangku kepada yang lain. Aku terkekeh. “Karena kita seperti kawanan bebek. Berjalan rapi menuju ke suatu tempat,” kuungkapkan juga akhirnya pemikiranku ini hanya karena Ben. Sepertinya aku menjadi lebih santai sekarang menghadapi situasi seperti ini sehingga berakhir tidak dipermalukan. Yang lain pun memperhatikan bagaimana bentuk formasi kami dan menyetujuinya sambil tertawa juga. “Apa kataku?” kupasang pose jemari membentuk huruf ‘L’ di dagu. Dalam sepersekian detik, sebuah ide terbersit di pikiranku. Situasi seperti ini bagus jika diabadikan dengan foto. Kubuka tas slempangku untuk mengambil ponsel. “Oh? Ponselku.” Aku menjadi panik saat tak dapat menemukan ponselku di dalam tas. “Mungkin terjatuh di pinggiran danau saat kau mencari dedaunan?” Gloria menyampaikan sebuah spekulasi. Aku mengangguk. “Mungkin saja. Kalian silakan duluan saja, aku akan menyusul,” ucapku lalu berpaling dari mereka. Cepat-cepat aku berlari ke arah mana aku mencari dedaunan tadi. Ponselku tidak boleh hilang. Saat ini, itulah akses tercepat untukku berkomunikasi dengan keempat sahabatku di Bali tanpa harus menghidupkan komputer. Sialnya, aku juga tidak mencatat nomor ponsel mereka masing-masing di buku atau lainnya. Kehilangan ponsel ini sama saja kehilangan komunikasi dengan mereka. Akan kucari sampai dapat, selama apapun aku harus mencari. Ketika sedang berjongkok menelusuri setiap sisi yang kulewati sebelumnya, nada dering ponselku terdengar. Aku berpaling ke arah di dekat jembatan dan menemukan seorang pemuda berdiri dengan ponselku di tangannya. Cepat-cepat aku beranjak dari tempatku dan berlari padanya. “Maaf, itu ponselku,” ucapku padanya. “Oh? Benarkah? Untung saja aku menemukannya,” pemuda itu menyodorkan ponsel itu padaku. Namun saat aku hendak mengambilnya, ia justru menariknya kembali. Saat itulah aku tersadar bahwa ia sedang mempermainkan aku. “Tolong, kembalikan ponselku. Jika kau butuh uang, aku akan memberikannya,” pintaku sedikit putus asa tetapi berusaha tampak tegar. Tampak sebuah seringai bodoh di wajahnya. “Kau pikir aku preman sampai aku meminta uang darimu, ha?” nada suaranya terdengar seperti tersinggung. Ia kini tampak menakutkan, terlebih dengan postur tubuhnya yang kekar dan lebih tinggi dariku. “Kembalikan ponselnya,” Ben muncul dari sisi kananku. Pemuda itu melipat tangannya di depan d**a. “Oh? Sang ksatria datang untuk menolong sang putri,” sindirnya sarkastik. Aku sungguh tak mengerti siapa orang ini dan apa masalahnya denganku atau Ben. Saat ini aku benar-benar ingin mendorongnya masuk ke danau. Ah, tentu saja aku harus mengambil ponselku lebih dulu sebelum melakukannya. “Hei, berikan ponsel itu padanya,” Ben sekali lagi meminta, kali ini dengan nada yang lebih tegas. “Benjamin O’Donnell.” Uh-oh. Mereka saling mengenal dan kupikir mereka pernah memiliki konflik satu sama lain sebelumnya. Ini bukan yang aku inginkan sama sekali. Aku tidak boleh terlibat dengan masalah apapun di sini. “Bagaimana bisa kau bersikap seperti pahlawan di depan gadis ini sementara kau benar-benar menghiraukan gadis lainnya yang memperhatikanmu sejak lama?” ‘Ya Tuhan, tolong. Jangan sampai ada perkelahian’, aku berharap dalam doa. Kuberanikan diri untuk berdehem. “Maaf. Aku hanya ingin ponselku kembali. Jika kalian masih ada urusan, silakan selesaikan dengan baik-baik,” ucapku. “Hei anak pindahan,” pemuda itu menyebut statusku di sekolah dan itu mengejutkan. Dari mana dia tahu tentang aku? “Kalau kau mau ponselmu, beritahu orang yang ada di sebelahmu sekarang untuk tidak mengabaikan Georgiana.” Mataku terbelalak seketika. “Georgiana katamu?” Aku langsung menoleh pada Ben. "Apa maksud orang ini, Ben?" Ben menggeleng. "Bukan apa-apa. Reggie hanya melebih-lebihkannya," ucapnya menyebut nama pemuda itu. "Joana tidak ada hubungannya dengan yang terjadi di antara kita dulu, Reggie. Jangan libatkan dia." 'Ya, jangan libatkan aku.' Rasanya aku ingin meneriakkan perkataan itu. "Salah. Dia berhubungan denganmu. Artinya kini ia ada hubungannya," Reggie memprovokasi. "Kejadian di kelas Biologi kalian, aku sudah mendengarnya. Dan kau, anak pindahan, tega sekali menyabotase rencana Georgiana saat ingin menyatakan perasaannya pada orang s****n ini. Jelas-jelas kau tahu dia adalah sepupumu." Aku sontak menggeleng dan membantah perkataannya, “Kejadiannya tidak seperti itu. Kau hanya salah menilai.” “Salah menilai? Lalu kenapa Georgiana datang padaku dan menangis hebat karena hal ini?” Reggie menatapku tajam tak percaya akan perkataanku. Jelas ia menuduhku melakukan perbuatan itu dengan sengaja. Dengan gerakan tangan yang cepat Ben menyambar tangan Reggie dan merebut ponselku dari tangannya. Tanpa banyak bicara ia menarik pergelangan tanganku untuk pergi meninggalkan Reggie. “Ah!” aku mengerang seketika saat pergelangan tanganku yang lainnya dicengkeram oleh Reggie. “Apa-apaan ini?” Posisiku sudah seperti ada di film-film romansa saja. Hanya saja bedanya ini tidak romantis tetapi justru menegangkan  dan menyebalkan pada saat yang sama. “Kau tidak boleh lari begitu saja, dasar pengecut!” Reggie membentak dengan suara lantang. Aku meronta hingga tanganku terlepas dari genggaman kedua pemuda yang sedang bertikai ini. “Dengarkan aku baik-baik,” ucapku membuat mereka berpaling padaku. “Besok aku akan bertemu dengan Georgiana dan meluruskan semuanya. Dan sebagai informasi untukmu, Reggie, aku dan Ben adalah teman. Kami baru saja kenal dan tidak mungkin sama sekali kami berhubungan seperti tuduhanmu itu. Menyebalkan!” Kurebut ponselku dari tangan Ben dan berjalan pergi menjauh. Emosiku naik sampai ke ubun-ubun. Rasanya kepala ini sudah mendidih dan harus dituangkan sebelum menghancurkan diriku sendiri. Sore ini benar-benar kacau sekarang karena hal yang tidak ada hubungannya denganku itu. Mungkin mereka bisa mendapatkan piala Oscar atas adegan pertikaian yang sukses mengacak-acak perasaanku. ~ ADOMF
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN