Sebuah kafe dengan nama yang menarik, Rise n' Shine tampak di seberang jalan. Rupanya inilah kafe yang dimaksud milik keluarga Josh. Mengikuti Ben dari belakang, aku berjalan melalui barisan-barisan meja yang tidak terlalu panjang, lalu masuk ke sebuah ruangan yang lebih kecil di dalam kafe itu. Di depan pintunya tergantung tulisan 'VIP Only'.
Tampak hanya ada anggota The Friendship yang ada di dalam. Mereka jelas sudah memesan karena di atas meja sudah penuh dengan makanan dan minuman. Aku duduk di sebuah tempat kosong yang disediakan untukku, bersebelahan dengan Ben. Kulepaskan tas slempangku dan kusampirkan di sandaran kursiku.
“Kenapa kalian lama sekali?" tanya Gloria yang duduk di depanku.
Aku tidak langsung menjawab mengingat kejadian dengan Reggie tadi. Sekilas kulirik Ben yang hanya tersenyum dan menjawab dengan tenang, "Ada urusan mendadak di jalan tadi."
Ben tidak berbohong. Dia hanya tidak ingin menjawab. Ajaibnya, tak seorangpun dari mereka bertanya lebih lanjut seolah tahu ada sesuatu yang Ben tidak ingin ceritakan. Bisa jadi karena mereka sudah bertahun-tahun bersahabat.
“Kalian pesan apa? Ini menunya," Josh menyodori aku dan Ben buku menu.
Kubuka buku itu dan melihat menu yang ada di sana. Melihat gambar-gambar makanan ini membuatku ingin memesan semuanya. Semua tampak lezat di pemandanganku. Rasa laparku sekarang muncul.
Seorang pramusaji datang dengan sigapnya ketika aku mengangkat tangan kiriku setengah tiang.
“Hei, kenapa pergelangan tanganmu berdarah?" Richie menunjuk goresan kecil di pergelangan tanganku sehingga aku cepat-cepat menurunkannya lagi.
Aku menyeringai dan berkata, "Entahlah. Ini pasti hanya saus. Lihat ini ada bekas di meja," aku mengoles-oleskan jariku di atas meja cukup bersih itu. Pada saat yang sama aku diam-diam menghapus darah dari goresan kecil yang entah bagaimana ada di sana. Tak ingin perhatian teralih padaku, segera kusebutkan pesananku pada pramusaji itu.
“Aku pesan satu yang ini dan minumannya ini," Ben menunjuk-nunjuk saja tanpa menyebutkan namanya pada gilirannya memesan.
Setelah mencatat pesanan kami, pramusaji itu pergi.
Kuletakkan kedua tanganku di atas pangkuanku sambil kupijit-pijit pelan pergelangan tanganku yang agaknya sedikit memar. Setelah dipikir-pikir, ini pasti karena cengkeraman tangan Reggie. Kalau tidak salah ia memakai sebuah cincin, dan mungkin tanpa sengaja melukai pergelangan tanganku saat menariknya.
“Sebelum kalian datang kami membahas ten--"
“AW!" aku mengaduh karena tanganku yang tergores itu disentuh dengan sengaja oleh Ben sampai ucapan Gloria terputus.
“Oh," Ben berpaling padaku dengan tatapan datar, "ternyata saus berbahaya hingga bisa melukai. Harusnya kau hati-hati jangan sampai menyentuhnya."
Aku menggigit bibir bawahku, tidak tahu harus merespon apa. Agaknya Ben tahu aku sedang berbohong.
“Glo, kau selalu bawa cairan antiseptik itu, bukan?" ucap Ben pada Gloria yang kemudian mengangguk. "Tolong berikan padaku."
Gloria membuka tasnya untuk mengambil sesuatu berbentuk botol kecil dan memberikannya pada Ben sesuai yang diminta.
Menerima barang yang dimintanya, Ben beranjak dari tempat duduknya lalu berkata, "Ayo ikut denganku. Lukamu harus dibersihkan."
Seolah dihipnotis, aku mengikuti apa yang Ben ucapkan padaku. Aku berjalan di sampingnya dan berhenti di sebuah wastafel dekat situ.
“Ulurkan pergelangan tanganmu yang terluka," instruksi Ben kemudian kulakukan. Ia membuka keran air dan mengarahkanku untuk membasuh bagian pergelangan tanganku yang tergores dengan sabun. Setelah menutup air keran, ia menuangkan sedikit antiseptik di luka kecil tersebut. "Oleskan pada lukamu agar tidak terinfeksi."
Semua hal yang dimintanya aku lakukan. "Ada lagi?" tanyaku.
“Ada."
“Oke. Apa? Sebutkan saja. Aku akan lakukan," entah bagaimana aku jadi kesal padanya tiba-tiba hingga nadaku terdengar sarkastik.
Ben tampak terkejut dengan ucapanku tapi ia tidak bereaksi atasnya. Ia hanya menghela nafas lalu berkata, "Jangan pernah berbohong."
Ucapannya itu sama sekali tidak terduga. Singkat tetapi menusuk tajam ke dalam hatiku. Emosiku yang belum lama reda kini bangkit kembali dicampur rasa gengsi karena tidak bisa membantahnya. Aku berpaling dari padanya lalu kembali ke tempat dudukku. Tanpa pikir panjang aku mengambil tasku. "Maaf, aku sepertinya harus pulang lebih dulu. Aku akan tetap membayar pesananku tadi," ucapku sambil merogoh sejumlah uang dari dalam tasku yang kemudian kuletakkan di atas meja.
“Tapi kenapa? Ada apa?" celetuk Hallie mewakili yang lain mengutarakan kebingungan akan keputusanku yang mendadak.
Tidak mungkin aku mengatakan apa yang terjadi barusan antara aku dan Ben. Aku hanya berkata, "Ada yang harus segera kukerjakan di rumah. Sampai jumpa lagi besok." Tanpa menunggu balasan mereka, aku berbalik dan berjalan pergi melewati Ben yang rupanya sudah berdiri di belakangku.
“Joana," Ben memanggilku tapi aku mengabaikkannya.
Aku berjalan keluar dari ruangan lalu kafe itu dan menyusuri jalanan.
“Joana!" Ben menyusulku.
Kupercepat langkahku karena tidak ingin berurusan dengan pemuda yang telah membuatku kesal itu. Bukan hanya karena aku jadi terlibat dengan masa lalunya dengan Reggie dan Georgiana, tetapi juga sikap sok pedulinya padaku.
“Joana, berhenti," Ben muncul di depanku dan membuatku berhenti berjalan.
“KENAPA KAU MEMBERIKU MASALAH?” Aku tahu tidak seharusnya aku membentak, tetapi aku sudah tidak tahan lagi hingga meluapkan kekesalanku tanpa peduli jika orang yang lalu lalang di sekitar mendengarnya. Aku hanya ingin mengungkapkannya. Tanpa seijinku, tetesan air mata jatuh membanjiri pipiku. Cepat-cepat aku menghapusnya lalu melangkah untuk meninggalkan Ben.
Namun Ben menahan bahuku dan berdiri di hadapanku. "Hei. Selama ini kau menyimpannya sendiri, tapi sekarang kau tidak perlu lagi. Akan lebih ringan jika kau membagikannya kepada seseorang," katanya.
Aku menundukkan kepalaku, tak ingin memandang Ben. "Kau bukan siapa-siapa. Aku tidak bisa mempercayaimu," tanpa takut melukai aku mengatakannya begitu saja.
“Benar. Maka biarkan aku mengenalmu karena aku ingin menolongmu."
“Jangan bertindak sok pahlawan."
“Aku tidak hadir untuk menjadi seorang pahlawan, tetapi sahabat bagimu."
“Aku sudah memiliki empat sahabat di tempat lain yang terpaksa harus kutinggalkan karena situasi tidak mendukung!" mengatakannya membuatku lebih lagi menangis.
Ben menarikku ke suatu sudut dan aku mengikutinya begitu saja. Kami duduk di sebuah kursi besi panjang di depan sebuah toko yang tidak beroperasi.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa emosiku mudah sekali tersulut dan kini aku menangis di hadapan Ben, yang notabene masih berstatus orang asing bagiku? Mungkin saja aku terbawa perasaan kecewa setelah diabaikan oleh Bryan sejak kemarin. Padahal yang paling membuatku bertahan di sini adalah harapan bahwa aku akan bertemu dengannya lagi.
"Ada kalanya kita memang tidak bisa memilih kehidupan kita sendiri. Tetapi selalu ada pilihan untuk meresponi setiap kejadian dalam kehidupan kita," Ben memecah kesunyian yang mungkin sudah tercipta selama beberapa lama.
Tidak ada kata-kata untuk menanggapi ucapan Ben. Kuputuskan untuk menutup mulutku dan mendengarkannya saja.
“Suatu keputusan yang sangat berat ketika ada seorang kakak yang terpaksa mengikuti keputusan orang tuanya untuk menandatangani pernyataan bahwa alat bantu kedokteran harus dicabut dari tubuh adik perempuannya. Secara medis, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi setelah dia koma selama tiga bulan."
Aku masih menyimak setiap ucapan Ben dengan kepala masih tertunduk.
“Dia sangat dekat dengan kakaknya itu dan tidak pernah disangka mereka akan berpisah untuk selamanya."
Aku tahu itu pasti sakit. Merasa kehilangan adalah hal yang paling buruk. Aku sangat mengerti. Tapi pertanyaannya, kenapa Ben justru membuat hatiku semakin sedih dengan kisah yang menyedihkan? Aku berpaling padanya hendak menanyakan hal ini, namun kuurungkan niatku ketika dia kembali angkat suara.
"Cecille Rose O'Donnell."
'Siapa? O'Donnell?' Mataku terbelalak mendengar namanya. Tubuhku pun turut menegang, bereaksi atas kisah yang tak terduga ini.
“Ya. Itu adikku."
Rasanya nafasku seperti tercekat di d**a dan tidak bisa keluar.
“Saat itu aku marah pada Tuhan kenapa Dia harus mengambil adikku. Dari semua anggota keluargaku, akulah yang paling tidak bisa menerima kenyataan. Aku hidup tanpa rasa peduli dengan segala sesuatu di sekelilingku sejak saat itu."
Aku melihatnya. Ada genangan air di mata Ben walau ia tidak memandangku. Kejadian itu pasti sangat menyakitinya.
“Bertahun-tahun lamanya aku marah, sampai akhirnya aku menemukan sebuah surat di kamar adikku yang menuliskan bahwa ia ingin pulang dan tidak tahan dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Di saat itulah aku baru sadar bahwa kepergiannya adalah hal yang terbaik baginya."
Setetes air mata akhirnya membasahi pipi Ben, tapi cepat-cepat ia menghapusnya.
Aku masih tercengang dan tidak bisa bicara. Apa yang Ben alami justru terasa lebih menyakitkan dari apa yang aku alami sekarang.
Ben kemudian menoleh padaku. "Maaf jika aku membuatmu merasa tambah bersedih," segores senyuman muncul di wajahnya. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Aku pernah mengalaminya dan melaluinya. Jadi, aku yakin kau juga akan melalui semuanya ini dengan baik."
Sungguh tidak ada kata yang bisa kuucapkan lagi. Pemuda yang duduk di sebelaku ini sukses membuatku mengubah keinginanku untuk meneriakinya menjadi rasa iba dan malu akan diri sendiri. Perpisahanku dengan keempat sahabatku bukanlah apa-apa dibandingkan dengannya yang tak dapat bertemu dengan adiknya lagi.
“Kau harus semangat, Joana. Aku dan teman-temanku akan mendukungmu," Ben menepuk sebelah bahuku lalu berdiri. "Kau jadi ingin pulang? Kita bahkan belum saling bertukar dedaunan yang kita kumpulkan."
Aku menghela nafas panjang, lalu berdiri menyebelahinya. Membuang semua emosi dan rasa gengsiku, dengan tulus kuucapkan padanya, “Terima kasih.”
Ben tersenyum diiringi sebuah anggukan. “Bagaimana pergelangan tanganmu? Seharusnya ditutup dengan plester agar tidak tergores apapun lagi,” katanya.
Kuangkat sedikit pergelangan tanganku yang membiru dengan goresan yang sudah tertutup dengan darah kering. “Ah, konflikmu dengan Reggie memang benar-benar membuat masalah. s**l sekali aku harus terseret ke dalamnya,” tukasku.
Seringai bodoh tampak di wajah Ben. “Maafkan aku,” katanya. “Sebenarnya konflik itu sudah lama terjadi. Sikap acuhku yang dulu di masa kehilangan adikku tanpa sengaja pernah menyakiti Georgiana dan Reggie, teman-teman masa kecilku. Tapi aku sudah minta maaf pada mereka.”
“Lalu? Kenapa Reggie bersikap seolah-olah konflik itu masih terus berlangsung sampai saat ini?” tanyaku.
Ben menggaruk belakang kepalanya. “Ini resiko menjadi orang tampan,” ia mencoba menciptakan suasana humor.
“Dasar kau,” kutinju pelan lengannya sambil terkekeh.
“Reggie sudah lama menyukai Georgiana.”
“Tapi Georgiana menyukaimu,” sahutku yang tahu benar mengenai fakta ini.
Ben mengangguk. “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana dengan Georgiana karena sudah pernah kukatakan padanya bahwa aku tidak tertarik untuk berhubungan selama masa sekolah,” ia meniup poninya. “Tapi dia bersikeras ingin mendapatkan perhatianku dengan segala cara. Termasuk salah satunya melibatkanmu dalam hal surat cinta itu.”
“Oh? Apakah artinya kau sudah tahu sebelum Reggie menyebutkannya tadi? Karena itulah kau tertawa santai di kelas waktu itu?” aku menyimpulkan.
“Ya. Dan Reggie yang rela melakukan apapun demi Georgiana pun berusaha membujukku agar menyambut perasaannya. Yang kebetulan terjadi tadi adalah salah satu dari banyak usahanya,” dengan penjelasan Ben yang panjang dan lebar ini, aku kini mengerti duduk perkara yang sebenarnya. "Padahal sebenarnya Reggie adalah orang yang baik."
Decakan heran kuperdengarkan. “Sungguh. Aku tidak bisa percaya hal ini ada di dunia nyata. Kau tahu? Ini layak diadaptasi menjadi sebuah film, Ben,” aku bertepuk tangan sarkastik, tetapi bukan untuk menyindirnya.
Ben menggelak tawa. “Miris sekali, bukan?” ia menoleh padaku dengan tatapan serius. “Aku berjanji tidak akan membiarkanmu terkena masalah karena hal yang terjadi di antara aku, Reggie dan Georgiana. Dan kau tidak perlu bertemu Georgiana besok, karena aku yang akan melakukannya.”
Aku memicingkan mata padanya. “Kau yakin? Karena aku tidak merasa keberatan bicara dengannya. Lagipula Georgiana itu saudara sepupuku,” ucapku. “Dan aku memang melakukan kesalahan dengan surat cintanya untukmu.”
Kedua bibir Ben spontan ditarik masuk ke dalam mulutnya, menandakan bahwa ia sedang menahan tawa.
“Hei, jangan berani menertawaiku lagi,” aku mengancamnya.
Namun Ben justru berlari jauh-jauh dariku kembali menuju kafe dan tertawa terbahak-bahak.
“Ben!” aku pun mengejarnya.
~ ADOMF