Sambil santai selonjoran dan memakai bantal Belva dan Arini melanjutkan pembicaraan ke arah pekerjaan
"Va, gimana jadi admin asyik apa tidak?" tanya Arini
"Lumayan tapi keteteran karena gue juga harus nulis komik online" ucap Belva yang termangu memikirkan pekerjaan
"Itu semua karena double job, nggak bisa pilih salah satu" ucap Arini yang sibuk membolak-balik bantal
"Gue lakuin demi nambah penghasilan, biar bisa beli apapun yang gue mau. Dan soal admin gue cuma bantuin teman, dia lagi butuh bantuan" ucap Belva menjelaskan dengan santai dan meminum coklat
"Ohh gitu" ucap Arini yang memahami sifat Belva. Belva terbiasa mandiri dan suka menolong meski begitu ia jarang meminta bantuan meski kesulitan.
"Iya Lo sendiri gimana kerja di koperasi?" tanya Belva
"Hmm, gimana ya. Gue mau resign aja bos galak, udah gitu lihat cara orang nagih kasian" ucap Arini
Pekerjaan di koperasi tidak semudah yang Arini bayangkan apalagi jika itu koperasi simpan pinjam. Membuat laporan harus cermat, tepat waktu. Hal itu masih bisa ditoleransi tapi kalau bos udah galak marah-marah membuat tertekan. Padahal untuk bekerja dengan baik butuh situasi yang kondusif, tenang. Hal itu membuatnya kesulitan untuk mengerjakan tugas secara tepat dan cepat. Ditambah lagi tugas yang tidak sesuai dengan bidang, harus ikut terlibat dalam penagihan membuatnya merinding. Disatu sisi kasian orang yang ditagih, disisi lain kalau tugas gagal terancam dimarahi dan tak segan potong gaji.
"Lo kan tugasnya di kantor" ucap Belva
"Iya tapi kadang-kadang disuruh ikut kalau orang yang ditagih cewek. Tambah ribet lagi berhadapan dengan emak-emak maunya enak sendiri" ucap Arini yang menghela nafas kasar
Bagi orang awam lebih mudah melakukan utang daripada membayarnya. Dengan maraknya promo membuat orang berlomba-lomba untuk berhutang. Padahal semuanya udah diatur nggak mungkin sebuah badan pinjaman mau rugi. Jaminan itulah yang biasanya diincar agar mendapatkan untung berlipat. Namun semua memiliki resiko yang tinggi. Banyak orang berhutang hanya untuk gengsi gaya hidup mewah padahal gaji pas-pasan. Badan pinjaman akan mendapatkan keuntungan jika mereka tak berhasil membayar dengan mengambil aset yang menjadi jaminan. Semuanya berusaha untuk untung tapi salah satu yang dirugikan adalah karyawan penagih. Mereka dipandang jahat karena harus mendapatkan uang cicilan utang, padahal mereka sendiri terancam dipotong gaji bahkan dipecat kalau tak sesuai ekspektasi.
"Terus Lo resign mau kerja dimana?" tanya Belva
"Nggak tau juga, tapi gue udah berusaha melamar kerja di Wedding Organizer milik sepupu gue, mudah-mudahan diterima" ucap Arini berharap
Sebelum melakukan pengunduran diri dari pekerjaan maka perlu mempersiapkan rencana. Seperti melamar kerja ke perusahaan lain atau justru memulai bisnis.
"Aamiin" ucap Belva mengamini rencana baik sahabatnya
"Nanti kalau diterima, gue bantuin nego harga kalau sewa jasa WO" ucap Arini yang percaya diri
"Idiih pikiran Lo jauh amat, gue aja jomblo" ucap Belva
"Siapa tau, secara kemarin-kemarin Lo dilamar" ucap Arini santai sambil membayangkan keuntungan yang diperoleh jika sahabatnya sewa WO apalagi calon tajir. Tak terasa tersenyum.
"Kenapa Lo senyam-senyum sendiri, bayangin apa Lo" ucap Belva
"Bayangin uang jatuh dari langit, pasti enak nggak usah kerja" ucap Arini santai menyembunyikan niatnya
"Ngayal aja Lo, mending kita pergi cari makan siang, lapar" ucap Belva
"Ok" ucap Arini
Arini dan Belva pergi mengendarai motor scoopy menelusuri jalan mencari warung, namun banyak warung yang tutup. Pilihan untuk makan siang jadi sedikit hingga sampai pada warung bakso yang terletak hanya 200 m dari minimarket. Meski ada rasa cemas Belva mengikuti Arini untuk makan di warung itu.
"Kenapa mukamu ditekuk sih, kelaparan" ucap Arini yang melihat ekspresi tak wajar dari sahabatnya
"Bukan itu" ucap Belva
"Terus?" ucap Arini yang menerka-nerka apa yang sebenarnya dialami sahabatnya
"Ini warung dekat minimarket, aku jadi ingat kejadian tempo lalu" ucap Belva yang masih mengingat lamaran orang tak dia kenal
"Memangnya lamaran ya di minimarket itu" ucap Arini yang menunjuk ke minimarket yang warna cat didominasi merah dan putih
"Iya, masih terlintas di benakku" ucap Belva sendu
"Sudahlah nggak usah dipikirin mungkin aja cowok kemarin lagi main drama, fokus aja pada sekarang, aku benar-benar lapar" ucap Arini yang memang sejak dari tadi kelaparan
"Ok" ucap Belva
"Kamu duduk disini dulu, biar aku pesankan sekalian minumnya teh anget kan" ucap Arini
"Iya" ucap Belva yang duduk sambil menopang dagu
Arini pergi untuk memesan bakso dan minuman sekalian mengambil kerupuk. Setelah beberapa menit pegawai warung membawa bakso dan teh pesanan mereka. Belva makan dengan nikmat begitu pula Arini yang menyantap bakso dengan kerupuk.
Sementara itu Aprelio yang tak sengaja melihat Belva di warung bakso menghentikan mobilnya, Jovin di kursi co-pilot ikut bingung kenapa berhenti mendadak
"Bro, kenapa berhenti disini" ucap Jovin yang melihat sekeliling
"Gue lapar" ucap Aprelio santai
"Disini nggak ada resto atau kafe bro yang ada warung bakso" ucap Jovin
"Gue lagi pengen makan di warung sekalian kita bahas Freya" ucap Aprelio
"Tumben banget biasanya juga males, ogah-ogahan kalau diajak. Jangan-jangan ketuluran Ibra ya" ucap Jovin yang melihat keanehan Aprelio
"Nggak, jadi Lo ikut apa nggak nih makan di warung bakso yang sederhana" ucap Aprelio
"Bolehlah asal gratis" ucap Jovin
"Seorang Jovin yang hartanya banyak, Apa masih suka gratisan?" ucap Aprelio yang menyindir
"Masih lah" ucap Jovin santai yang terbiasa dengan sindiran bahkan fitnah aja bisa mental sama dia
"Ok kita turun dan makan" ucap Aprelio
"Siip" ucap Jovin yang antusias. Sebagai Foodies Jovin suka dengan berbagai macam makanan. Dengan lingkungan keluarga kaya tak jarang dirinya ditegur oleh ibunya soal makan. Namun Jovin tak peduli karena baginya makanan yang paling penting enak dan halal.
Setelah itu Aprelio dan Jovin turun dari mobil Toyota, kali ini penampilan Aprelio sederhana menggunakan kaos polo warna biru dan celana selutut begitu pula Jovin memakai topi baseball Kaos adidas dan celana Levi's. Keduanya duduk tak jauh dari tempat duduk Belva, Aprelio dapat memandang Belva dengan jelas hatinya terasa hangat "Hmm cewek itu benar-benar menarik, aku harus mendapat dirinya" gumamnya sambil memfoto Belva secara candid. Setelah itu Aprelio berjalan ke belakang untuk memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan Aprelio berbicara serius dengan Jovin
"Bro, apa yang Lo ingin tau dari Freya?" ucap Jovin
"Semuanya, termasuk alasan putus dari gue, apa benar karena bosan?" tanya Aprelio yang ragu
"Ohh itu. Jadi gini Freya itu nama aslinya Tiara Alfreya Malde. Anak bungsu keluarga Malde usia 27 tahun. Menempuh studi S2 di London University, tunangan Jeon Dewa Laksmana, CEO Laks Group" ucap Jovin menerangkan
"Jadi alasan dia pacaran sama gue" ucap Aprelio yang tak percaya kalau wanita yang cintai mengkhianati dirinya
"Semua karena Freya ingin membantu Jeon. Itu semua bukti kecurangan Freya yang membuat Lo kalah tander beberapa kali" ucap Jovin sambil memberikan flashdisk berisikan bukti kejahatan Freya
"Makasih, tapi kenapa kamu memberikan sekarang, nggak dari dulu aja" gerutu Aprelio
"Sorry gue dan lainnya curiga dari lama, tapi untuk mengumpulkan bukti sangat sulit. Mereka sangat lihai menyembunyikan semua itu dari kita" ucap Jovin yang merasa bersalah
"Berarti selama ini Freya menipu gue, dan bahkan nggak pernah tulus mencintai gue" ucap Aprelio yang sedih
"Sepertinya begitu, lebih baik sekarang fokus untuk makan. Tuh pramusaki mau kesini" ucap Jovin melihat pramusaji yang berjalan ke arah mereka
"Iya" ucap Aprelio yang murung
"Satu hal lagi, jangan biarkan masa lalumu mengganggu masa depanmu" ucap Jovin bijak
"Ok" ucap Aprelio
Tak lama pramusaji datang membawakan 2 mangkok bakso jumbo, air jeruk hangat, dan es teh manis. Jovin melahap makanan dengan nikmat. Sementara itu Aprelio makan perlahan dan menatap ke arah Belva yang sedang tertawa. Rasa sedihnya berkurang perlahan menjadi hangat. "Rasanya aku ingin menculikmu gadis manis, meski aku belum mengenalmu, tapi tawamu mampu mengatasi kegundahan hatiku" ucap Aprelio dalam hati.