AKAR YANG TERLUKA

1349 Kata
Aveline tidak berlari menuju pintu depan, di mana ia bisa keluar meminta bantuan. Instingnya mengatakan bahwa halaman depan sudah menjadi zona pembantaian yang telah dipersiapkan Roman di sana. Ia memilih bergerak ke arah sebaliknya, menelusuri koridor lantai atas dengan ujung jari yang meraba dinding wallpaper sutra yang dingin. Serangan panik mencoba merayap naik, namun Aveline meredamnya dengan tarikan napas pendek yang menyakitkan. Ia mencapai sebuah pintu kecil di ujung lorong, tersembunyi di balik lemari pajangan besar yang biasanya hanya berisi alat pembersih dan sprei cadangan. Ini adalah ruang penyimpanan tua yang jarang disentuh, sebuah titik buta dalam denah rumah yang megah ini. Aveline masuk ke dalam, menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Ia duduk di atas lantai kayu yang berdebu, memeluk lututnya erat-erat. Ia gemetar hebat hingga giginya beradu. Ia bukan wanita yang siap bertarung, ia adalah tunas yang baru saja dipaksa pecah dari cangkang pelindungnya oleh badai. Ruangan itu pengap, berbau kayu tua dan kapur barus. Aveline menyalakan senter ponselnya, mengatur cahayanya ke tingkat paling redup. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari suara langkah kaki yang mungkin sedang mencarinya di luar sana. Cahaya senter itu menyapu tumpukan koper kulit tua milik Roman—barang-barang yang dibawa pria itu saat mereka pertama kali pindah ke sini. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kain penutup furnitur, sebuah kotak kayu kecil dengan gembok yang sudah berkarat menarik perhatiannya. Aveline merayap mendekat. Ia tidak butuh tenaga besar untuk mematahkan pengait kayu yang sudah lapuk itu. Di dalamnya tidak ada emas atau senjata. Hanya tumpukan kertas, kliping koran tua, dan sebuah album foto kecil dengan sampul kulit yang sudah mengelupas. Aveline membuka halaman pertama album itu. Tangannya yang berlumuran debu gemetar saat melihat foto-foto hitam putih yang kusam. Itu adalah foto-foto sebuah panti asuhan di pinggiran kota, tempat yang pernah disebutkan Roman sebagai awal dari segalanya. Ia melihat Roman remaja, berdiri kaku dengan seragam yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Matanya sudah memiliki kekosongan yang sama dengan Roman yang ia kenal sekarang—sebuah tatapan yang tidak memantulkan emosi apa pun. Ia membalik halaman berikutnya. Napas Aveline tertahan karena rasa terkejut. Foto itu diambil di sebuah taman bermain yang sangat ia kenali. Itu adalah taman di dekat rumah lamanya, tempat ia biasa bermain sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya. Di tengah foto, ada seorang anak kecil perempuan berusia lima tahun dengan rambut pirang yang dikuncir dua, sedang tertawa sambil memegang balon merah. Itu adalah dirinya sendiri. Namun yang membuatnya membeku adalah sosok yang berdiri di latar belakang, bersandar pada sebatang pohon besar. Seorang remaja laki-laki dengan seragam panti asuhan, menatap ke arah anak kecil itu dengan intensitas yang tidak wajar. Itu adalah Roman. Aveline membalik halaman demi halaman dengan cepat, hingga hampir merobek kertasnya. Di setiap foto masa kecilnya—saat ia berada di sekolah dasar, saat ia menangis di pemakaman orang tuanya, saat ia menerima medali pertama di sekolah menengah—selalu ada sosok Roman di sana. Terkadang hanya berupa bayangan di pantulan kaca jendela, terkadang sebagai orang asing yang duduk di bangku taman beberapa meter darinya. Roman tidak menemukannya tiga tahun lalu di sebuah simposium medis. Roman tidak secara kebetulan menjadi dokter yang menangani kasus traumanya. Aveline menyadari satu kenyataan yang menghancurkan: seluruh hidupnya, setiap kesedihan dan kegembiraannya, telah diamati oleh sepasang mata yang sama selama dua puluh tahun. Ia bukan jatuh cinta pada seorang pria, ia telah masuk ke dalam sebuah perangkap yang telah ditenun dengan kesabaran seorang laba-laba sejak ia masih balita. Ia menemukan sebuah catatan kecil yang terselip di balik foto terakhir. Tulisan tangan Roman yang rapi, tinta hitamnya masih terlihat tajam di atas kertas yang menguning. “Akar yang terluka akan tumbuh lebih indah jika arah pertumbuhannya diatur dengan tangan yang tepat. Kau adalah mahakaryaku. Aku akan menjagamu sampai kau cukup besar untuk kumiliki sepenuhnya.” Rasa jijik menghantam ulu hati Aveline. Ia menutup album itu dengan sentakan kasar. Ia merasa kotor. Seolah-olah setiap inci kulitnya telah diraba oleh tatapan Roman selama puluhan tahun tanpa seizinnya. Keberanian kecil yang tadi sempat muncul saat ia melumpuhkan Roman di ruang bawah tanah kini menguap, digantikan oleh rasa ngeri yang melumpuhkan. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Langkah itu pelan, terukur, dan memiliki irama yang sangat dikenal Aveline. Suara sepatu pantofel kulit yang beradu dengan lantai kayu. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu ruang penyimpanan. Keheningan kembali menyergap, namun kali ini lebih mengancam. Aveline mematikan senter ponselnya, kegelapan total kembali menyelimutinya. Ia bisa mendengar suara napasnya sendiri yang memburu di dalam ruangan yang sempit itu. “Ava,” sebuah suara memanggil dari balik pintu. “Aku tahu kau ada di dalam. Kau selalu suka tempat-tempat sempit saat kau merasa terpojok. Persis seperti saat kau bersembunyi di bawah meja panti asuhan dulu, ingat?” Aveline menyandarkan punggungnya pada tumpukan koper kayu, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. “Kau sudah melihat album itu, bukan?” suara Roman kembali terdengar. “Jangan takut, Ava. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah. Aku selalu ada di sana, di setiap bayangan fotomu, memastikan tidak ada tangan kasar yang menyentuh mahakaryaku.” Gagang pintu mulai bergerak. Suara gesekan logamnya terdengar sangat lambat. Kriet. Aveline meraba lantai di sekitarnya dengan panik. Jemarinya menyentuh sebuah gunting besar yang berkarat, entah dari mana, tapi cukup lama tertinggal di dalam kotak jahitan tua. Ia menggenggam gagang besi itu kuat-kuat. “Pintu ini tidak terkunci, Ava,” gumam Roman. “Aku yang merancangnya agar kau selalu bisa kutemukan. Kau tahu, aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pola persembunyianmu. Kau selalu memilih sudut kiri belakang. Selalu.” Pintu itu terbuka sedikit. Cahaya remang dari koridor masuk, membentuk garis panjang yang membelah kegelapan ruangan. Aveline bisa melihat ujung sepatu pantofel Roman yang mengilap, melangkah masuk ke atas lantai kayu yang berdebu. Roman tidak membawa senjata. Tangannya kosong, namun jemarinya yang panjang bergerak-gerak seolah sedang melakukan simulasi bedah di udara. “Keluarah, Sayang,” ucap Roman. Ia melangkah lebih dalam ke dalam ruangan. “Mereka pikir mereka bisa mengambilmu dariku hanya dengan senjata api. Mereka tidak mengerti bahwa kau sudah menjadi bagian dari sistem sarafku.” Aveline tetap bergeming di sudut gelap, di balik tumpukan kain seprai lama. Ia melihat bayangan Roman yang menjulang di dinding. Pria itu tampak sangat tenang, seolah gas air mata dan konfrontasi berdarah tadi hanyalah gangguan kecil dalam jadwal harian yang padat. Roman berhenti tepat di depan tumpukan koper tempat Aveline bersembunyi. Ia membungkuk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari celah kain. Matanya berkilat dalam kegelapan, memantulkan sedikit cahaya yang tersisa. “Aku bisa mencium aroma ketakutanmu, Ava. Baunya seperti bunga lili yang mulai layu,” bisik Roman. Tiba-tiba, Roman merenggut kain penutup itu dengan satu sentakan kasar. Aveline tersentak, refleks mengayunkan gunting berkarat itu ke arah d**a Roman. Namun, Roman jauh lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Aveline dengan cengkeraman yang sekeras catut besi, lalu memelintirnya hingga gunting itu terjatuh ke lantai dengan bunyi dentang yang nyaring. Roman menarik Aveline berdiri, menyudutkannya ke dinding kayu yang lapuk. Ia tidak mencekik, namun ia menekan kedua lengan Aveline ke dinding dengan berat tubuhnya yang dominan. “Kau belajar untuk melawan. Itu bagus. Tunas yang kuat butuh sedikit tekanan untuk tumbuh,” ucap Roman. Ia mengendus leher Aveline, menghirup aroma keringat dan debu dengan sangat dalam. “Tapi kau harus ingat, Ava. Akulah yang menanammu. Dan akulah yang berhak memutuskan kapan kau harus dipangkas.” Di kejauhan, dari arah gerbang depan, suara sirene polisi mulai terdengar mendekat. Cahaya biru dan merah mulai memantul di jendela-jendela lantai atas rumah. Roman menoleh ke arah jendela, lalu kembali menatap Aveline dengan senyum yang paling mengerikan yang pernah ia tunjukkan. Senyuman seorang pencipta yang siap menghancurkan ciptaannya daripada membiarkannya dimiliki orang lain. “Sepertinya waktu kita di rumah ini sudah habis, Sayang,” bisik Roman. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pemantik api perak yang apinya menyala kecil. “Jika aku tidak bisa membawamu ke masa depan yang kurencanakan, maka kita akan kembali ke api masa lalu bersama-sama.” Roman menjatuhkan pemantik itu ke atas tumpukan kain seprai tua yang kering dan berminyak di bawah kaki mereka. Api langsung berkobar, menjilat dinding kayu dalam hitungan detik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN