Api mulai mengepung ruang penyimpanan yang sempit, menjilat tumpukan kertas foto lama, lalu merayap naik ke dinding kayu ruang penyimpanan yang sudah kering dimakan usia.
Dalam hitungan detik, oksigen di dalam ruangan sempit itu menipis, digantikan oleh asap hitam pekat yang menyengat paru-paru. Aveline terbatuk hebat, dadanya terasa seperti dihimpit bongkahan beton. Ia mencoba menarik tangannya, namun Roman justru mempererat pelukannya.
Roman tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyelamatkan diri. Ia justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aveline, menghirup aroma rambut istrinya di tengah bau gosong yang menyengat. Tangannya yang kuat mengunci pinggang Aveline, memaksa wanita itu tetap berdiri di titik pusat kobaran api yang mulai melahap langit-langit.
“Rasakan panasnya, Ava,” bisik Roman. “Ini adalah pemurnian. Kita akan menjadi abu yang menyatu, tidak ada lagi masa lalu yang cacat. Hanya ada kita.”
Aveline merasa pandangannya mulai mengabur. Rasa panas yang luar biasa menyengat kulit wajahnya. Ia melihat album foto masa kecilnya sudah menjadi gundukan bara merah di lantai. Seluruh hidupnya sedang terbakar di depan matanya sendiri. Ia mencoba berteriak, namun hanya asap yang masuk ke tenggorokannya, memicu rasa lemas yang luar biasa.
Aveline terjatuh, menyeret Roman ikut berlutut di atas lantai yang mulai panas. Roman tidak melepaskannya. Pria itu justru memeluknya dari belakang, mengunci gerakan Aveline dengan berat tubuhnya. Aveline menatap ke arah pintu yang kini sudah tertutup api. Ia menyadari bahwa mereka benar-benar akan mati di sini, di dalam ruangan yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan sprei dan alat pembersih.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah dinding luar, bukan dari pintu koridor.
Dinding kayu itu jebol dengan satu hantaman presisi. Sebuah granat kejut dilemparkan masuk, meledak dengan cahaya putih yang membutakan dan gelombang suara yang melumpuhkan saraf pendengaran selama beberapa detik. Roman tersentak, cengkeramannya melonggar akibat guncangan suara tersebut.
Di tengah kepulan asap dan api yang membumbung, sebuah sosok muncul dari lubang dinding yang baru saja tercipta. Sosok itu mengenakan pakaian taktis hitam lengkap dengan rompi antipeluru dan helm full-face yang gelap. Ia bergerak dengan kecepatan yang sangat kontras dengan situasi yang kacau.
Sosok itu melompati bara api di lantai dengan satu gerakan tangkas. Ia langsung menerjang Roman yang sedang mencoba meraih kembali pistolnya di lantai. Terjadi pergulatan fisik yang brutal di atas lantai yang membara. Roman mengayunkan pisau bedah yang ia ambil dari saku celananya, namun sosok misterius itu menangkap pergelangan tangan Roman dan memelintirnya dengan teknik bela diri militer yang dingin.
Suara tulang yang bergeser terdengar di tengah deru api. Roman menjerit kesakitan saat pisau bedahnya jatuh ke dalam kobaran api. Sosok itu tidak berhenti. Ia menghantamkan lututnya ke ulu hati Roman, membuat pria itu terkapar di sudut ruangan yang belum terjamah api sepenuhnya.
Dia berbalik ke arah Aveline. Tanpa kata, ia meraih tubuh lemas Aveline dan mengangkatnya ke dalam gendongan yang kokoh. Aveline bisa mencium aroma tembakau yang kuat bercampur dengan bau bahan kimia dari pakaian taktis itu. Ia ingin bicara, dan bertanya, namun kesadarannya berada di ambang batas.
Sosok tersebut melirik ke arah Roman sejenak, yang sedang merangkak, mencoba mengejar mereka dengan tangan yang patah. Pria misterius itu tidak menembak. Ia tahu polisi sudah berada di lantai bawah. Meninggalkan Roman untuk membusuk di tangan hukum atau terbakar di dalam rumahnya sendiri adalah hukuman yang lebih tepat bagi seorang pria yang sangat memuja kesempurnaan.
Ia melompat keluar melalui lubang dinding, menuruni tali taktis yang sudah ia pasang sebelumnya di balkon luar. Ia meluncur turun dengan Aveline dalam dekapannya, tepat saat atap ruang penyimpanan itu runtuh dan memicu ledakan kecil dari tabung gas yang tersimpan di dekat unit pendingin udara di bawahnya.
Kakinya menyentuh tanah di area belakang rumah yang gelap, jauh dari jangkauan lampu sorot polisi yang sedang fokus mendobrak pintu depan.
Ia menurunkan Aveline di balik sebuah batu besar yang terlindung dari pandangan barikade polisi. Lalu berlutut di depannya, memastikan wanita itu masih bernapas. Ia membuka kaca helmnya sedikit, memperlihatkan mata gelapnya yang dipenuhi obsesi yang kini bercampur dengan rasa lega yang tidak terucapkan.
Aveline terbatuk-batuk, mengeluarkan sisa asap dari paru-parunya. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang kosong. “Kenapa... kau selalu ada?”
Penguntit itu tidak menjawab. Ia mendengar suara langkah kaki banyak orang dari arah halaman samping. Sirene polisi terdengar semakin nyaring, dan ia bisa melihat kilatan lampu senter yang mulai menyisir area tersebut.
Bagi seorang pria dengan profil seperti dirinya, ia tidak bisa membiarkan dirinya ditemukan di tempat kejadian perkara dengan bukti kekerasan di tangannya. Hukum adalah musuh yang selalu ia hindari dengan presisi.
Ia merogoh saku taktisnya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit kecil dan sebuah flashdisk hitam. Ia menekankan benda itu ke tangan Aveline yang masih gemetar.
“Gunakan ini jika kau ingin tahu kebenaran yang sebenarnya tentang Roman dan orang tuamu. Semua bukti ada di sana,” bisik Killian terburu-buru.
Ia berdiri tegak, kembali mengunci kaca helm hitamnya, siap menghilang sebelum detektif kepolisian mencapai koordinat mereka.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini semua?” teriak Aveline dengan sisa tenaganya.
Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya diam mematung selama beberapa detik, menatap Aveline dengan intensitas yang melampaui sekadar perlindungan. Obsesi itu masih ada di sana, terbungkus rapi dalam setelan taktis yang kini berjelaga.
Ia mengarahkan telunjuknya ke arah barikade polisi yang berjarak sekitar lima puluh meter dari posisi mereka. Di antara kerumunan petugas berseragam dan pancaran lampu strobo yang menyilaukan, berdiri seorang pria paruh baya dengan mantel parit berwarna krem. Pria itu tidak sibuk dengan radio atau memberi instruksi evakuasi.
Pria itu adalah Detective Silas Vane.
Pria berhelm itu mundur satu langkah, lalu berlari menghilang ke dalam bayangan pohon, meninggalkan Aveline sendirian di bawah sorotan lampu senter Silas yang mulai menyapu permukaan batu tempatnya bersandar.