"Lin… Lini…" Panggil Diaz sambil terus memencet bel di depan unit apartemen Malini. Diaz menaikkan suaranya karena pintu tak kunjung dibuka. Sebelumnya tadi saat masih di rumah, dia sempat merasa ingin pingsan karena panik saat dia mendengar suara Malini yang sedang muntah di telepon. Rupanya Malini belum sempat mematikan sambungan teleponnya. Maka saat itu juga Diaz pergi ke unit apartemen sahabatnya, setelah menitipkan Reisa pada pengasuhnya, Mba Mimi. Terjebak macet selama lebih dari satu jam membuat Diaz mengumpat berkali - kali. Dia khawatir. Sangat khawatir dengan keadaan Malini. Terlebih setelah itu Malini tidak mengangkat panggilan teleponnya lagi. Diaz tidak tahu bahwa Malini saat itu sudah terlelap tidur. "Malini… Buka pintunya… Please…" suara Diaz terdengar putus asa. Jika da

