Keesokan harinya, Malini terbangun dengan kondisi yang sedikit kurang baik. Saat membuka mata, kepalanya terasa berat sekali. Namun masih bisa dia paksakan untuk bangun dan beranjak ke kamar mandi meskipun matanya terpejam dan dia berjalan dengan meraba - raba di dinding. Saat melihat bayangan wajahnya di depan cermin, Malini meringis. Terdapat lingkaran kantung mata yang sedikit membengkak dan garis hitam tipis di bagian bawah matanya.
Malini memang termasuk tipe yang sensitif. Jika dia tidur terlalu malam, atau jam tidurnya kurang maka akan muncul lingkaran hitam tipis di bawah kedua matanya. Begitu juga jika selepas menangis. Meskipun tidak menangis terlalu lama, maka bagian bawah matanya akan membengkak membentuk kantung mata. Karena itu, meskipun kepalanya masih terasa berat, Malini bergerak menuju ke meja rias untuk mencari masker yang bisa mengatasi permasalahan kantung matanya itu.
“Untung hari ini nggak ada jadwal. Jadi bisa santai tidur lagi.” Ucap Malini sambil menempelkan sepasang masker di bawah kedua matanya.
“Ahh… Segarnya…” Kedua matanya memejam sembari menikmati sensasi dingin saat masker menyentuh kulitnya.
“Coba aja nggak lagi pusing gini, mending gue keluar jalan-jalan. Atau main sama Eca. Hhh…” Keluhnya pada diri sendiri.
Malini lalu berbalik menuju ke tempat tidurnya. Memilih untuk kembali bergelung di bawah selimutnya yang hangat. Sembari membuka ponsel dan berjalan-jalan di dunia maya. Melihat berbagai macam referensi mengenai foto produk yang nanti akan dia kerjakan. Hingga perlahan, rasa kantuk kembali menyerang dan dia terlelap. Mungkin waktu tidurnya sejak tadi malam masih kurang atau cuaca mendung yang juga mendukung sebagian orang untuk bermalas-malasan.
Satu hal yang Malini lupakan pagi itu sebelum kembali tertidur pulas, yaitu sarapan. Dia melewatkan sarapannya karena rasa lapar tidak dia rasakan sama sekali. Dia hanya merasakan kepalanya yang pusing karena terlalu lelah menangis, mungkin saja.
—
Suara dering ponsel membuat Malini tersadar dari keseriusannya membaca sebuah buku. Malini terbangun hampir menjelang tengah hari. Itu pun karena rasa lapar yang membuat perutnya meronta minta diisi makanan. Jika tidak, mungkin saat ini dia masih bergelung nyaman di dalam selimutnya. Maka setelah bangun, Malini langsung menuju ke kamar mandi. Memaksakan diri untuk mandi agar rasa kantuk itu segera pergi. Setelah itu, dia memesan makanan dan membaca buku sambil menunggu pesanannya datang.
Perlu waktu sekitar setengah jam baginya untuk menunggu makanan pesanannya datang. Dia bahkan sudah melahap beberapa bab dari buku yang dia baca.
“Ya, halo?” Sapa Malini.
“Selamat siang, dengan Kak Malini ya?” Sapa seseorang dengan ramah.
“Iya betul.”
“Saya mengantar orderan Kakak, ini posisi saya sudah di lobby.”
“Oh, iya. Sebentar saya turun ya. Terima kasih, Pak.” Seru Malini dengan cepat, lalu menyambar cardigan yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Malini mengenakan cardigan sepanjang paha itu untuk menutupi tubuh cantiknya yang hanya mengenakan tanktop tipis, pakaian paling nyaman untuk dikenakan jika dia bersantai sendirian seperti saat ini.
Sambil menunggu lift bergerak turun, Malini mengikat rambutnya dengan asal. Namun bagaimanapun rambut itu terlihat berantakan, tetap saja tidak bisa menutupi aura cantik dari wajahnya. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan dirinya pun sampai menoleh karena melihat Malini yang begitu cantik dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ketika sampai di lobby dan melihat seseorang dengan mengenakan jaket berwarna hijau khas rider ojek online, Malini bergegas menghampirinya.
“Permisi, Pak…”
“Kak Malini?” tanya pria tua itu untuk memastikan bahwa orang yang dia maksud adalah benar. Terkadang jika sedang tidak teliti dan terburu - buru tidak mengecek lagi nama penerima nya, ada beberapa orang yang tetap menerima meskipun sebenarnya pesanan itu bukan untuknya. Maka hal itu mengundang komplain dari pemesan yang sesungguhnya.
Malini mengangguk dan tersenyum.
“Ini pesanannya ya kak.” Ujar pria itu sambil menyerahkan dua kantong plastik berlogo rumah makan padang.
Malini mengambil salah satunya dan berkata, “Satunya buat bapak ya, buat makan siang.”
Sejenak pria itu terdiam, lalu tersadar dan mengucapkan banyak terima kasih.
“Terima kasih banyak ya, Kak. Ini makanannya saya bawa pulang buat makan sama - sama di rumah nanti. Semoga kakak sehat selalu, tambah lancar rezekinya.” Ucap pria itu dengan tulus.
Pria itu terus mengucap syukur di dalam hatinya. Selama bekerja sebagai driver ojek online, memang terkadang ada beberapa pelanggan yang sebaik Malini. Memesan lebih, untuk diberikan padanya. Meskipun tidak jarang juga dia mendapatkan order dari pemesan yang tidak sabar, suka marah atau tidak segan meminta ganti jika yang dipesan tidak sesuai dengan keinginannya.
“Iya, sama-sama. Makasih ya pak.” Jawab Malini sambil berlalu menuju lift untuk kembali ke unitnya.
Di dalam pikirannya sudah terbayang betapa lezatnya menyantap nasi padang dengan lauk rendang, dilengkapi sambal ijo dan juga potongan nangka muda dengan kuah bersantan yang nikmat. Ah, suara perutnya sudah bergejolak hebat, meminta Malini dengan tidak sabar untuk memindahkan makanan itu untuk mengisi lambungnya.
“Lama banget ini lift naiknya. Udah lapar banget juga.” gerutu Malini tanpa sadar. Membuat beberapa orang yang ada di dalam lift menatap padanya dengan heran.
Merasa dipandangi orang di sekelilingnya, Malini lalu memasang wajah tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan. Antara ingin bersikap sopan, dan juga ingin segera keluar karena malu.
Begitu tiba di unitnya, Malini bergegas menuju ke dapur. Meletakkan makanannya di piring, lalu duduk dengan manis di meja makan. Namun belum sempat dia menyuapkan makanan ke mulutnya, ponselnya berbunyi.
Alarm pengingat.
“Astaga, gue lupa upload promosi.” Tanpa sadar Malini menepuk dahinya sendiri. Acara makannya tertunda sejenak, karena jemarinya sibuk mengedit video yang sudah dia ambil beberapa hari yang lalu. Sebuah video promosi produk perawatan rambut.
“Untung gue udah ambil videonya duluan. Tinggal di edit.” Gumam Malini sambil meneguk air putih di gelasnya.
Beberapa menit kemudian, video selesai diedit dan diunggah. Barulah Malini bisa makan dengan tenang. Menikmati menu nasi padanya dengan begitu lahap. Mengabaikan rasa pusing yang kembali datang karena terlalu lambat makan.
Selesai makan siang, rasa pusing itu bukannya menghilang, justru semakin kuat membuat kepalanya berdenyut nyeri. Bahkan kali ini ditambah dengan rasa sebah dan mual di perutnya. Padahal ketika makan tadi, semua makanan bisa dilahapnya dengan nikmat. Kenapa sekarang perutnya seperti menolak dan ingin mengeluarkan semua makanan itu?
“Di… Gue pusing.” Ucap Malini dengan suara lemah. Dia memejamkan matanya, karena jika tidak maka rasa pusing itu semakin menjadi.
Malini akhirnya menelepon Diaz karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menghilangkan rasa nyeri di kepalanya itu. Dia sudah minum obat sakit kepala, dan mencoba untuk tidur agar rasa sakitnya berkurang. Namun tidak berhasil, karena dalam kondisi sakit kepala seperti ini, dia sama sekali tidak bisa tertidur.
“Lo kenapa, Lin? Sakit?” Tanya Diaz. Terdengar sekali nada khawatir dalam suara lembutnya.
“Kepala gue rasanya mau pecah. Sama ini perut lagi nggak beres. Mual banget pengen muntah.”
“Astaga… Lo ada makan apa, Lin? Nggak keracunan kan?”
“Enggak kok. Gue tadi makan nasi padang. Enak banget pake rendang. Nggak ada yang aneh.” Jawab Malini sambil mengingat kembali menu makan siangnya.
“Lo minum sirup masuk angin dulu deh. Mungkin lo masuk angin. Udara kan lagi dingin soalnya.” saran Diaz yang membuat Malini kemudian mengangguk setuju dan mencari obat yang dimaksud oleh Daiz tadi di laci meja riasnya..
“Gue mau tidur, Di. Tapi nggak bisa. Ini kepala rasanya senut-senut mulu.”
“Ke dokter ya? Tar gue jemput. Atau lo mau gue telponin dokter langganan gue? Biar dia kesana?”
“Gue coba tidur dulu ya, Di. Udah minum obat kok tadi. Kalo ntar udah mendingan, nggak perlu ke dokter. Atau nanti kalo gue nggak tahan banget sakitnya, gue telpon lo lagi.”
“Oke, istirahat yang cukup ya, Lin. Sehat… Sehat… Sehat…” pesan Diaz memberi semangat.
“Makasih, Di.”
Belum selesai Malini mengusap layar ponsel untuk mematikan telponnya, rasa mual itu muncul kembali dan kali ini tidak tertahankan.
“Huekkk…”
Malini mencondongkan tubuhnya ke samping, untuk menghindari muntahannya mengotori tempat tidur. Maka, lantai kamarnya yang menjadi korban. Berkali-kali dia muntah hingga perutnya terasa kosong. Semua yang dia makan, keluar tak bersisa. Menyisakan rasa pahit dan asam di rongga mulutnya. Bagian perut, tenggorokan dan juga mulutnya kini terasa tidak nyaman hingga membuat air matanya mengalir perlahan. Sedih rasanya jika sedang sakit seperti ini, dan menyadari bahwa kita hidup hanya seorang diri. Tidak ada keluarga yang perhatian pada kita. Beruntung Malini masih memiliki sahabat - sahabat yang sudah seperti keluarganya sendiri.
Dia terisak - isak perlahan. Selain karena merasa pusing, mulut dan perutnya tidak enak. Juga karena sedih harus jatuh sakit seperti ini. Belum lagi dia memikirkan bagaimana membersihkan muntahannya di lantai sementara untuk bangun saja dia merasa payah. Namun karena dia tidak ingin beristirahat dalam keadaan kamarnya yang kotor, maka dia paksakan dirinya untuk bangun. Mengambil sekotak tisu dan tempat sampah di pojok kamar. Tangannya bergerak merayap untuk berpegangan di dinding kamar.
Kemudian bergerak perlahan membersihkan lantai kamarnya dengan tisu, membuangnya ke tempat sampah. Satu box tisu habis hanya untuk mengelap muntahnya. Dia lalu mengelap bekas muntahnya yang sudah bersih dengan tisu basah agar tidak lengket. Biarlah sementara seperti itu, pikirnya. Jika nanti sudah sehat dia akan mengepel dan membersihkannya lagi.
Setelah itu Malini berbaring, menyelimuti tubuhnya dengan bedcover tebal. Matanya terpejam, namun tidak juga bisa tertidur. Rasa tidak nyaman yang masih tersisa di rongga mulut dan bagian perutnya membuatnya sulit terlelap. Dia lalu duduk sebentar dan mengambil gelas yang berisi air mineral di nakas samping tempat tidurnya. Meskipun sudah minum, rasa pahit dan asam itu masih tersisa. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana, selain kembali berbaring. Tangannya menggenggam botol minyak kayu putih, sambil sesekali menghirup aromanya.
Malini kemudian berhasil tertidur setelah menyapukan banyak sekali minyak kayu putih di bagian perut, d**a dan belakang lehernya. Membuat tempat tidur dan selimutnya beraroma minyak kayu putih yang begitu kuat.
—