Selesai menerima panggilan video dari Mitha, Malini memilih untuk mandi. Meskipun tak banyak berkeringat, Malini merasa badannya lengket sekali setelah seharian beraktivitas di luar ruangan terpapar polusi dan juga sinar matahari. Apalagi rambut kesayangannya yang kini terasa berminyak, segera saja Malini mengusapkan banyak shampo dan memijat kulit kepalanya hingga berbusa. Sungguh terasa rileks dan nyaman.
Selepas mandi sore, Malini menyempatkan diri untuk memasak. Hanya masakan sederhana yang mendadak dirindukannya. Sambal tempe dengan nasi hangat mengepul dan sedikit siraman kecap manis di atasnya. Menu yang sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menyiapkannya, namun terasa sangat nikmat sekali di lidah.
Maka dia pun membuka kulkas, mengambil satu papan tempe berukuran kecil. Memotongnya menjadi beberapa bagian lalu melumurinya dengan bumbu. Sambil menunggu bumbu meresap, dia mengambil beberapa buah cabai dan bawang putih. Lalu membuat sambal mentah dan tidak lupa menambahkan sedikit terasi. Malini tidak lupa untuk sambil sesekali menengok tempe yang baru saja digorengnya. Tidak butuh waktu lama hingga tempe berubah menjadi kuning keemasan dan mengangkatnya dari minyak panas.
Selesai menggoreng tempe, Malini menambahkan sedikit minyak panas bekas menggoreng tempe tadi pada sambal yang sudah dibuatnya. Lalu meletakkan tempe di atasnya, kemudian tangannya dengan lincah bergerak mengulek tempe agar menjadi menjadi satu dengan sambal. Air liurnya mendadak encer, rasanya tidak sabar sekali untuk menyantapnya.
Setelah semuanya siap, dia meletakkan sepiring nasi hangat dan satu cobek sambal tempe di meja makan. Tidak lupa satu gelas air putih dingin. Kemudian Malini menyempatkan untuk membuat sebuah insta story dengan foto makanan di hadapannya. Dia tidak pernah malu untuk mengunggah menu sederhana yang dia santap. Memang terkadang dia dan teman-teman makan di restoran, tapi tidak jarang juga dia memasak dan makan malam seorang diri di unitnya, atau berdua. Dulu, saat masih bersama Danesh tentunya.
“Lin, aku suka banget ini tempe saos tiram buatan kamu. Enak banget. Kamu itu berhasil menaikkan derajat seorang tempe menjadi makanan seenak ini.” Puji Danesh suatu hari saat mereka makan malam di unit apartemen Malini.
Malini terkekeh geli mendengar pujian dari kekasihnya itu, “Kamu berlebihan banget sih. Segala bawa-bawa derajat. Ini cuma tempe, Sayang.”
Danesh mengunyah dengan cepat, pipinya terlihat menggembung, lalu dia menelan makanannya sebelum menjawab kata-kata Malini.
“Bener. Kamu tahu kan, selama ini tempe itu dianggap makanan biasa. Kadang bahkan dianggap sebagai makanan pelengkap. Pelengkap lalapan misalnya, pasti ada tempe goreng kan?”
Malini menangguk setuju.
“Tapi ini, aku makan nasi hangat pake tempe aja bikin nambah lagi. Tempenya naik kelas.” seru Danesh sambil menyendok lagi tempe di mangkuk karena di piringnya sendiri sudah habis.
“Udah udah. Makan yang banyak deh.”
“Oh jelas. Aku harus makan banyak, Lin. Karena dalam satu hari, aku banyak bakar kalori. Jadi kalo aku makannya dikit, badan aku nanti bisa kurus.”
Tiba-tiba tangan Malini terkepal erat. Matanya terpejam. Lalu dia beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sambil menatap bayangan wajahnya di cermin, Malini menggeleng. Berusaha menolak semua kenangan yang tiba-tiba saja melintas.
“Ya Tuhan, sampai kapan aku kayak gini? Tolong keluarkan dia dari pikiranku, Tuhan.” Ucap Malini sambil mengusap setitik air mata yang jatuh di pipinya.
—
Malam itu langit terlihat mendung. Angin pun berhembus cukup kencang, sehingga membuat Malini bergerak untuk menutup jendela kamarnya. Saat ini dia baru selesai mengedit sebuah video yang akan diunggah di i********:. Video beberapa waktu yang lalu, saat dia mengisi waktu luang dengan bernyanyi karena masih enggan untuk membalas ataupun merespon semua jenis komunikasi dari orang-orang terdekatnya.
Suara Malini yang lembut, diiringi denting piano dari jemari lentiknya, sungguh merupakan perpaduan yang sangat memanjakan telinga. Maka ketika video itu selesai diunggah, tidak perlu waktu lama instagramnya langsung ramai dengan like dan komentar.
Kesunyian ini
Lirihku bernyanyi
Lagu indah untukmu
Aku bernyanyi
Engkaulah cintaku
Cinta dalam hidupku
Bersama rembulan
Aku menangis
Mengenangmu
S’gala tentangmu
Kumemanggilmu
Dalam hati
Lirih
(Potongan lirik lagu Lirih by Ari Lasso)
Ponsel Malini kembali berdering. Panggilan dari Diaz.
“Halo, Di…” Sapa Malini dengan riang.
“Widih… Suaranya cerah bener Mamalini.” seru Diaz tak kalah riang.
“Hehee… Iya dong.”
“Gimana tadi kerjaannya? Beres? Lancar?” Tanya Diaz. Bukan sekedar berbasa basi. Diaz memang tipe sahabat yang begitu peduli.
“Lancar dong. Udah teken kontrak gue, Di. Seneng banget.”
“Oh ya? Wah… Selamat ya. Ditunggu traktirannya.” suara Diaz terdengar antusias.
“Beres. Nanti ya kita ajak Eca jalan-jalan ke mall.”
“Ngomong-ngomong, gue barusan lihat video lo di ig. Ya ampun Lin. Sumpah keren banget. Kenapa nggak jadi penyanyi aja sih lo?”
“Hahaha… Udah pernah kan dulu. Nyanyi di kafe. Sekarang aja yang gue nggak laku jadi penyanyi.” canda Malini.
“Bikin youtube aja, Lin. Banyakin cover lagu gitu. Pasti banyak yang suka.” saran Diaz.
“Enggak ah. Udah banyak channel youtube cover lagu. Suara gue eksklusif hanya bisa dinikmati para follower di i********: gue.”
“Iya deh iya.”
“Tadi Mitha telpon gue, Di.” Ucap Malini perlahan.
“Iya, gue juga tadi dikabarin sama dia. Acara ulang tahunnya kan? Lo dateng nggak?” Tanya Diaz penasaran.
“Nah itu gue juga bingung. Mau nggak dateng tapi kok nggak enak sama Mitha. Tapi kalo dateng, kayaknya lebih nggak enak di gue deh. Lo paham kan maksud gue gimana?”
“Iya… Iya… Gue paham kok.”
“Jadi menurut lo baiknya gimana, Di?” Malini meminta saran.
Diaz berdehem sejenak, “Ehm… Gue sih terserah lo aja. Karena yang paling tahu perasaan lo, ya diri lo sendiri. Kalo lo merasa, oke i’m fine. Ya nggak apa dateng aja. Toh kita kan rame-rame juga nanti. Tapi kalo lo ragu, ya nggak usah datang dulu deh. Pokoknya jangan sampai nanti justru bikin lo kembali down.”
Malini terdiam meresapi setiap kata-kata Diaz.
“Gue seneng banget liat lo sekarang udah kembali seperti biasa. Cerah, ceria. Gue nggak mau lo kembali ke beberapa waktu yang lalu. Gue kehilangan lo banget, Lin.”
“Aww… Gue jadi pengen nangis deh.” seru Lini terharu.
“Makanya, sekarang lo harus pikirkan apa yang baik buat lo dulu. Nggak perlu merasa nggak enak kalo emang ternyata lo belum siap kumpul sama kita kayak dulu. Gue yakin kok Mitha pasti ngerti.”
“Oke deh, nanti gue pikirkan lagi.”
“Eh, udah dulu ya. Eca bangun nyari mamanya. Bye Lini.”
“Thank you, Di.”
—
Tidak ada caption atau keterangan apapun dalam video berdurasi singkat sekitar dua menit itu. Namun, entah karena suaranya yang indah, atau karena penghayatannya yang bagus, banyak sekali yang menyukainya. Terlebih saat kata “lirih” dilantunkan perlahan oleh Malini. Mungkin yang mendengar pun mampu merasakan bagaimana pedihnya menjadi sosok yag berada dalam lirik lagu itu..
“Ya ampun Lini. Keren banget.”
“Blessed my ears. Suara kamu indah sekali.”
“I can relate. Semangat Malini.”
“Meskipun nggak kenal, sayang banget sama Lini. Kamu harus bahagia ya.”
“Baru tau, ternyata suara Lini enak banget.”
“Kak Lini… :(“
“YA AMPUN KAK, NANGIS DENGERNYA…”
“Kak, sering-sering cover lagu ya.”
“Lini yang nyanyi, kok gue yang nangis sih.”
“Mamalini… Keren banget.”
“Malini harus bahagia. Oke?”
“Malini for Indonesian Idol. Go… Go…”
“Please, kenapa suara Lini cakep banget sih…”
Sesaat kedua mata Malini memerah saat membaca berbagai komentar yang masuk. Ingin sekali dia membalas satu per satu. Mengucapkan terima kasihnya kepada mereka, para follower setianya di i********:. Namun jemarinya tidak sanggup. Bahkan untuk meneruskan membaca komentar yang lain pun Lini menyerah. Dia memilih untuk memejamkan mata, sambil memeluk guling di sampingnya. Mencoba untuk tidur.
“Semua akan baik-baik saja. Besok akan menjadi lebih baik dari hari ini.” suaranya berbisik dna hanya dapat didengar olehnya sendiri, namun memang begitulah salah satu caranya untuk menyemangati diri.
—