Part 8. Belum Siap

1577 Kata
“Lin… Bangun…” Bisik Diaz pada Malini yang masih memejamkan matanya. Belum sempat gadis itu bercerita, nyatanya Malini justru tertidur. Diaz sendiri memakluminya. Mungkin Malini telalu lelah, atau mungkin gadis itu kuaitas tidurnya menurun drastis akhir - akhir ini. Jadi ketika mendapatkan posisi yang lumayan nyaman, dia langsung jatuh tertidur. Diaz membiarkan saja Malini tidur untuk beberapa menit. Mungkin sahabatnya ini masih perlu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang pasti sedang kurang baik. Diaz tahu Malini ada janji temu siang ini. Tadi Malini sempat mengatakan bahwa dia ada janji bertemu dengan seseorang terkait pekerjaan yang akan diambilnya. Maka ketika waktu sudah beranjak cukup lama, Diaz berinisiatif untuk membangunkan Malini agar dia tidak terlambat nanti. "Lin, udah mau jam dua belas nih. Lo ada janji jam berapa? Nanti telat." Ulang Diaz sambil sedikit menaikkan volume suaranya. Dia sendiri takut akan membangunkan Reisa yang masih tidur di dekatnya. "Ehm…" Malini bangun dan menggeliat. Matanya terbuka sedikit, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengenali tempat yang terasa asing baginya ini. Lalu setelah sadar sepenuhnya, dia lalu bangun. “Lama ya gue tidur, Di? Gila enak banget tidur di rumah lo.” seru Malini sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. "Bukan rumah gue yang enak. Lo nya aja yang kecapekan kali. Capek badan, capek hati juga. Bangun gih, cuci muka sana. Biar hilang ngantuknya." Perintah Diaz sambil bangkit dan berjalan menuju dapur. Mengambilkan satu botol air mineral untuk Malini. Malini pun mengusap kedua matanya pelan, lalu beranjak menuju kamar mandi. Dia mencuci wajahnya, mengeringkan dengan tisu lalu kembali mengaplikasikan make up tipis yang membuat wajah cantiknya kembali segar. Setelah itu dia mengambil air mineral yang disodorkan oleh Diaz, lalu meminumnya dengan rakus. Sepertinya selama tertidur tadi dia bermimpi sedang berolahraga atau apa, yang pasti saat bangun tenggorokannya terasa sangat kering. “Ah… Segarnya… Makasih, Di… Haus banget gue.” Diaz terkekeh geli, “Iyalah. Lo tidur sambil mangap jadi pas bangun mulut lo kering.” Malini terbelalak kaget. Benar kah? “Serius, Di? Nggak ngiler kan?” Diaz lalu melanjutkan, “Untung aja gak gue masukin insta story. Coba aja kalo gue video-in terus gue upload, pasti penggemar lo pada kabur. Hahahha…” “Sialan lo, Di. Gue tidur tetap cantik keles.” “Kata siapa? Lo tidur kan nggak sadar. Gue yang lihat.” Ucap Diaz tetap tidak mau mengalah. Dia senang sekali membuat Malini terlihat kesal. Bagi Diaz ini adalah hiburan tersendiri. “Ah udah ah. Gue pergi dulu ya, kerja dulu cari cuan.” “Kerja terooos… Kalo orang ya, kerja… kerja… kerja… trus kaya. Kalo kita? Kerja kerja kerja trus tipes.” Seru Diaz sambil tertawa. Mau tidak mau Malini kembali tertawa mendengar ocehan dari sahabatnya itu. “Gue akan terus kerja, sampe uang gue banyak. Sampe yang mahal terasa murah. Sampe gue bisa belanja apapun yang gue mau tanpa liat harganya berapa.” Kata Malini lugas. “Chakep. Gue suka semangat lo.” — Jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore. Malini melangkah perlahan, menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai tujuh belas, dimana unitnya berada. Tangan kirinya mendekap erat sebuah map berisi dokumen perjanjian kerja sama yang baru saja ditanda tanganinya. Wajahnya terlihat cerah. Selain karena pertemuannya tadi berjalan lancar, tentu saja wajahnya cerah karena nominal bayaran cukup besar yang akan masuk ke rekeningnya nanti. Sambil menunggu, Malini menundukkan wajahnya dan menatap sepasang kakinya yang indah. Kali ini dia menggunakan flat shoes berwarna hitam dengan aksen logam berbentuk V berwarna gold yang membuat kakinya terlihat cerah dan anggun sekali. “Mulai sekarang, gue harus lebih ekstra kasih perawatan di area kaki. Apalagi betis. Nggak boleh sampai membesar. Ntar foto gue jelek.” Gumam Malini pada dirinya sendiri. Ya, kontrak kerja sama yang diambilnya tadi adalah kerja sama dengan salah satu brand sepatu lokal yang sedang naik daun. Selain karena harganya yang murah dengan kualitas yang bagus, perusahaan ini terus berinovasi dalam menghadirkan model-model sepatu terkini yang disukai anak muda. Tidak jarang mereka berkolaborasi dengan produk lain, menciptakan design yang unik dan limited edition. Penjualan mereka di beberapa market place untuk barang-barang kolaborasi yang diproduksi terbatas, pasti akan sold out hanya dalam hitungan menit setelah resmi launching. Jadi wajar saja jika Malini begitu antusias dengan pekerjaan yang baru saja diambilnya. Baru saja lift berdenting menandakan bahwa dia sudah tiba di lantai yang dituju, ponselnya berdering. Panggilan video dari salah satu sahabatnya, Mitha. Sebelum menerima panggilan itu, Malini sedikit merapikan rambutnya. Sebuah kebiasaan yang tidak akan bisa dia hilangkan. Entah kenapa. Mungkin karena rambut adalah salah satu bagian terfavorit dari tubuhnya, sehingga Malini selalu ingin terlihat on point, terutama pada bagian rambutnya yang berkilau itu. "Ya, Mit? Ada apa?" “Apa kabar, Lin? Lama nggak ketemu kita nih.” Sapa Mitha di ujung sana. Memang, sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Sejak… Entahlah mungkin terakhir bertemu saat dia masih bersama Danesh. “Baik, Mit. Lo sendiri gimana? Sehat? Kerjaan lancar? Uang banyak?” canda Malini. Mau tak mau Mitha tergelak mendengarnya, “Hahaha… Bisa aja sih lo. Tapi bagus sih, ucapan adalah doa, kan? Uang gue banyak, badan gue sehat dan kerjaan gue lancar. Aamiin.” “Iya dong. Doa - doa itu akan kembali pada yang mendoakan. Jadi ya gue harus doain sobat gue yang baik - baik lah.” “Eciyee… Ada angin apa nih gue kayak dapat siramah rohani?” Tangan Malini terulur untuk membuka pintu unit apartemennya, sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya. Kemudian dia melangkah masuk dan tidak lupa mengunci kembali pintu unitnya. Dia meletakkan sepatu di rak yang berada tak jauh dari pintu masuk. Lalu beranjak duduk di ruang tamu kecilnya. “Loh, kok balik lo yang nanya. Harusnya gue dong. Ini ada kabar apa, sore-sore nelpon gue?” Ucap Malini sambil menatap piano kesayangannya. Tiba-tiba dia teringat ada beberapa video yang belum sempat dia upload di sosial media miliknya. “Ehm… Jadi gini. Lusa kan gue ulang tahun. Nah kebetulan kita lama nggak ngumpul kan? Jadi ya gue pikir, nggak ada salahnya gunakan momen ulang tahun gue buat kita kumpul-kumpul. Kayak dulu lagi. Gue kangen banget sama kalian tahu nggak sih.” Malini menarik nafas, “Well… Happy birthday, Mitha sayang.” “Belom, Lin. Ulang tahun gue lusa. Lo harus datang ya. Kalo nggak, ntar gue yang bingung mau jawab apa kalo ditanya bokap nyokap gue.” “Kenapa emangnya?” “Jangan pura-pura bego deh. Lo kan tahu sendiri, lo itu anak kesayangan mereka. Mungkin kalo bisa diadopsi, kita udah sodaraan kali di kartu keluarga.” jawab Mitha dengan nada yang terdengar kesal. “Hahaha… Untungnya enggak ya? Soalnya kalo kita sodaraan, ntar lo dianggap anak tiri. Karena gua yang lebih disayang.” “Nah itu dia masalahnya. Untung aja kita nggak sodaraan Jadi gimana? Oke aja kan? Jangan lupa datang ya? Gue mau nelpon yang lain dulu. Gak ada tamu lain, cuma geng kita aja kok.” “Gue usahain ya. Tapi nggak janji. Lo tau sendiri kan sekarang kondisinya lagi kayak gimana?” “Yaaahhh… Kok gitu sih, Lin?” suara Mitha terdengar kecewa. “Mit, nanti pasti ada Danesh di sana. Dan gue yakin dia pasti bawa cewek barunya. Gue sih nggak masalah ketemu mereka. Tapi gue takut nanti yang heboh justru para netijen yang terhomat dan selalu benar. Entah apa yang akan mereka keluarkan melalui jari - jari tajam mereka nanti.” Mitha terdiam. Apa yang dikatakan Malini memang benar. Meskipun bukan selebriti, semua sahabat - sahabatnya memiliki pengikut yang banyak di i********:. Pasti akan ada foto atau video yang mereka unggah nanti. Dan tentu saja hal itu akan mengundang banyak pertanyaan maupun rasa ingin tahu dari mereka. “Tutup aja kolom komentar.” celetuk Mitha memberi solusi. “Iya, komentar bisa ditutup. Tapi, DM gue ntar penuh dengan berbagai pertanyaan. Ogah gue.” “Yah, Lin. Dateng dong. Lo kan anak kesayangan bokap nyokap gue. Mereka juga kangen sama lo.” Sepertinya senjata Mitha kali ini mampu membuat Malini terusik. Karena setelahnya, Malini tidak menjawab. Dia hanya diam seolah sedang berpikir. Maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Mitha. “Oke kalo gitu, gue tunggu di rumah besok lusa. Sampe ketemu, Lini. Muach.” Klik. Panggilan itu dimatikan secara sepihak oleh Mitha. Malini pun terdiam. Banyak hal yang begitu saja berputar di kepalanya saat ini. Terutama tentang undangan dari Mitha tadi. Sebenarnya Malini sendiri juga merindukan sosok sahabat - sahabatnya. Terlebih kedua orang tua Mitha yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Namun berbagai pertimbangan membuat Malini merasa enggan untuk datang. Seperti yang dikatakannya pada Mitha tadi, dia takut jika nanti akan membuat heboh seperti kehebohan yang terjadi beberapa waktu lalu, saat Danesh memperlihatkan foto bersama kekasih barunya. Saat itu, notifikasi instagramnya penuh dengan berbagai komentar dari pengikutnya. Sebenarnya, selain karena hal itu, dalam hati kecilnya, Malini masih belum siap bertemu dengan Danesh. Ada rasa takut, malu dan berbagai hal kurang nyaman lainnya. Malu karena mungkin saat bertemu nanti, bayangan saat mereka bersama akan kembali tergambar di pikiran masing - masing. Malini malu dan menyesal sekali karena sudah berhubungan terlampau jauh dengan Danesh. Kadang dirinya sendiri bertanya, apakah nanti masih ada lelaki baik-baik yang mau menerima dirinya apa adanya. Namun kadang ada pula bagian dari dirinya yang bersikeras mengatakan untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan seseorang. Pikirannya seolah menolak dan mengatakan bahwa hubungan percintaan tidak indah seperti yang ditampilkan orang-orang. Karena jika sudah jatuh cinta, kita harus siap untuk terluka. Dan saat ini, Malini belum siap untuk terluka. Lagi. —
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN