Satu minggu berlalu sejak kehebohan itu terjadi, kini Malini sudah merasa lebih baik. Entah karena dia mengurangi intensitasnya bermain ponsel dan membuka sosial media. Atau karena dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain piano dan bernyanyi. Sehingga pikirannya tidak terfokus pada seorang Danesh saja.
Ada beberapa rekaman video yang akan dia bagikan nanti. Beberapa orang bilang, jika sedang patah hati, kita akan lebih menjiwai lagu yang sedang dinyanyikan. Entah. Bagi Malini, hal itu tergantung dari masing-masing orang. Karena memang ada beberapa penyanyi yang berhasil membawakan lagu sedih hingga pendengarnya turut merasa tersayat hatinya seolah-olah dia yang merasakan sakitnya. Dan mungkin kini itulah yang terjadi pada Malini. Setiap lagu yang dinyanyikan olehnya terasa sampai dengan sempurna di telinga pendengarnya, termasuk dengan rasa sakit yang dirasakan olehnya.
Tidak terasa, jadwal pekerjaannya kini mulai padat kembali. Beberapa waktu yang lalu Malini sempat menolak atau menunda beberapa pekerjaan yang masuk seperti endorsement dan photoshoot. Malini sadar dia belum sepandai itu untuk menyembunyikan emosi dan suasana hatinya. Maka dia lebih memilih untuk beristirahat sejenak, daripada harus memaksakan diri mengambil pekerjaan saat suasana hatinya sedang terpuruk. Dia tidak ingin memberikan hasil yang tidak maksimal nantinya.
Pagi ini, selepas berolahraga sejenak di pusat kebugaran yang merupakan salah satu fasilitas yang ada di apartemen yang dia tempati, Malini bersiap-siap untuk pergi. Rencananya, siang ini dia akan bertemu dengan seseorang untuk membicarakan kerja sama yang akan mereka lakukan. Namun sebelumnya, Malini berniat untuk berkunjung ke rumah sahabatnya, Diaz. Sejak seminggu lalu, Malini tidak menghubungi Diaz, atau sahabatnya yang lain. Dan tentu saja mereka menjadi khawatir akan keadaan Malini.
"Halo, Mama Eca… Apa kabar?" sapa Malini saat Diaz menjawab panggilan teleponnya.
"Baik, Mamalini. Kapan kesini? Eca kangen." Jawab Diaz dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil. Hingga membuat Reisa yang berasa di dekatnya menoleh bingung melihat tingkah laku sang mama.
"Ini Mamalini mau kesana. Tungguin yah. Eca mau dibawain apa?"
"Rujak yang di perempatan dekat komplek rumah gue, Lin." Sahut Diaz seketika. Hilang sudah suara anak kecil yang tadi dibuatnya.
"Yee… Gue nanya Eca juga. Malah lu yang pesan." Sahut Malini sambil tertawa. Tangannya bergerak mengambil tas lalu berjalan keluar dari unit apartemennya.
"Gak papa, gue mewakili Eca. Hehe… Hati-hati di jalan ya, Lin."
Malini mengangguk, seolah Diaz bisa melihatnya. Padahal mereka berbicara bukan melalui sambungan video call.
"Bye, Di…"
Di seberang sana, Diaz tersenyum lega sesaat setelah sambungan telepon berakhir. Lega karena suara Malini terdengar ceria. Lega karena Malini mungkin saat ini sudah lebih baik daripada beberapa waktu yang lalu. Diaz khawatir sekali dengan keadaan Malini, bukan hanya karena Malini hidup sebatang kara tidak memiliki keluarga sehingga mungkin tidak ada lagi tempat bagi Malini untuk berbagi keluh kesah selain pada sahabat - sahabatnya. Selain itu dia juga khawatir jika Malini terlalu lama berlarut - larut dalam kesedihannya dan membuat kondisi kesehatannya menurun.
—
Perjalanan menuju ke rumah sahabatnya itu tidak memakan waktu terlalu lama. Taksi yang ditumpangi Malini tiba sekitar tiga puluh menit kemudian. Lengkap dengan membawa tiga porsi rujak pesanan Diaz yang Malini beli di dekat perempatan seperti yang dikatakan Diaz tadi. Rujak yang dimaksud oleh Diaz memang ramai sekali pembelinya. Selain karena buah yang digunakan beraneka ragam dan juga segar, sambal cocolan untuk rujaknya juga juara. Tidak heran jika pembeli sampai harus antri.
Dan saat tiba di depan pagar, security membukakan pintu pagar untuknya.
"Siang, Non. Apa kabar?"
"Baik, Pak."
"Lama nggak main kesini. Sibuk ya?"
Malini tersenyum singkat, "Iya nih, pak. Kerjaan lumayan banyak. Jadi baru sempat mampir kesini." Jawab Malini sambil berjalan menuju pintu dimana sudah ada Diaz yang sedang menggendong Reisa.
"Hai sayangnya Mamalini… Kangeeen." Malini sedikit berteriak sambil mempercepat langkah kakinya. Kedua tangannya terentang bersiap memeluk Diaz dan Reisa.
"Mamalini…" sahut Reisa tak kalah nyaring. Gadis kecil itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Mmuach…" pipi gembil Reisa mendapatkan kecupan singkat dari Malini. Reisa tertawa, lalu kepalanya menoleh ke arah belakang Malini, lalu ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu. Tentu saja hal itu membuat Reisa dan Malini bingung.
“Eca cari apa sayang?” tanya Malini, “Di, dia nggak lihat yang macem - macem kan? Kali aja Eca bisa lihat apa yang nggak bisa kita lihat.”
Diaz menepuk lengan Malini, “Sembarangan. Ini siang hari, gak ada hantu.”
"Nanesh…?" Ucap Reisa dengan wajah bingung. Rupanya dia mencari keberadaan Danesh. Karena biasanya Malini selalu datang bersama Danesh.
“Uhukk…” Malini terbatuk saat mendengar Reisa menyebutkan nama Danesh sambil menatapnya bingung.
Diaz pun memasang raut wajah bersalah dan meminta maaf, karena dia sendiri tidak menyangka anaknya akan menanyakan keberadaan Danesh.
"Nanesh lagi sibuk, Sayang. Mamalini sendirian aja." Diaz menjawab pertanyaan putrinya dengan lembut.
Namun sayangnya, Reisa menggeleng. Lalu mulai bergerak gelisah dalam gendongan mamanya.
"Eca sayang, nanti Nanesh kesini. Ketemu Eca. Kalau sudah nggak sibuk. Ya?" Bujuk Diaz lagi namun Reisa masih saja menolak dan menunjukkan tanda-tanda akan menangis.
"Sini, Eca gendong sama Mamalini ya. Kita main sama-sama. Mau?"
Maka langsung saja Reisa berpindah ke dalam dekapan Malini. Anak itu tidak tahu, betapa sesak rasa di d**a Malini. Air mata pun susah payah ditahannya agar tidak meluncur deras. Yang mampu Malini lakukan hanya menarik nafas dan menghembuskan ya perlahan. Begitu terus berulang kali.
"Lin, maaf ya, soal Eca tadi." Diaz meminta maaf pada Malini.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah, sedangkan Reisa sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Mereka berdua sedang menikmati rujak yang dibawa oleh Malini tadi.
Malini tersenyum sambil menggeleng, “Ngapain minta maaf sih? Lo kayak sama siapa aja deh. Ini gue loh. Bukan orang lain.”
“Ya tetap aja gue nggak enak. Kondisinya kan lagi begini.”
“Nggak apa kok, Di. Anak kecil mana ngerti kalo orang dewasa nggak selamanya bisa sama-sama terus. Yang udah nikah aja bisa cerai. Apalagi gue yang baru tunangan.”
Diaz terdiam menatap wajah Malini yang seperti sedang mengeluarkan sedikit beban yang dirasakannya.
“Lo mau cerita?” tanya Diaz sambil mengusap lengan Malini dengan lembut.
Malini hanya mengangkat kedua bahunya sambil menghela nafas panjang.
“Kalian pasti udah tahu kan kalo gue sama Danesh udah lama bubar?”
Diaz terlihat memejamkan mata untuk mengingat, “Entah. Kita nggak tahu pasti sih, kapan. Soalnya kalian berdua kompak banget diemnya. Udah putus aja masih kompak.” cibir Diaz.
Mau tidak mau Malini tertawa mendengarnya.
Diaz lalu melanjutkan, “Kapan emangnya? Dua bulan? Atau tiga bulan yang lalu? Kayaknya sejak itu kalian nggak pernah sama-sama lagi. Iya nggak?”
Malini mengangguk, “Iya. Sekitar dua bulan lebih lah.” Jawab Malini sambil tersenyum, “Tapi hebohnya baru sekarang.”
“Kita sebenarnya penasaran, Lin. Tapi kan lo tahu sendiri kita semua menghargai privasi masing-masing. Jadi ya kita nggak kejar lo sama Danesh buat minta penjelasan. KIta yakin kalo ntar kalian bakal cerita dengan sendirinya.”
“Ada sih, Rafi waktu itu sering banget telpon gue. Nanyain kabar, padahal gue tau dia mau kepo.” ujar Malini sambil mengunyah sepotong mangga muda. Wajahnya sampai berkerut karena tidak tahan dengan rasa asam dari mangga muda yang dimakannya.
“Dia mah, kepo nya melebihi ibu-ibu. Udah gue bilangin juga. Tahan… Tahan… Nanti juga Lini bakal cerita sendiri kok.”
“Tapi kalian tahu, sejak kapan Danesh punya cewek baru?” Tanya Malini penasaran.
“Nggak tahu juga sih pastinya kapan. Cuma memang ada sih waktu itu sekali dia bawa ceweknya kesini.” Jawab Diaz ragu-ragu.
“Udah lama berarti ya?”
Buru-buru Diaz menggeleng, “Nggak kok, Lin. Baru-baru ini aja. Ada kali sekitar dua minggu yang lalu.”
Malini mengangguk pelan.
“Jadi, lo mau cerita, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Diaz sambil membelai rambut Malini yang kini mengambil posisi merebahkan diri di pangkuannya.
Malini terpejam sejenak. Dalam hati dia masih menimbang-nimbang apakah akan menceritakan semuanya atau tidak. Bukan dia tidak percaya pada sahabatnya, hanya saja, menceritakan kembali hal itu membuatnya mengulang rasa sakit yang sama. Dan juga rasa pedih yang sama. Tapi, memendam semuanya seorang diri pun rasanya berat. Memang akhir-akhir ini dia seolah sudah lupa dan bangkit menjadi sosok yang lebih kuat. Namun tetap saja, setiap kali malam datang atau setiap gelap berganti terang, Malini masih selalu teringat dan menyadari satu hal. Melupakan adalah hal yang mustahil bisa dia lakukan untuk saat ini.
—