04. Cowok Nyebelin!

856 Kata
"Hei Lun, di tanya malah ngelamun." Kevin menepuk punggung Luna. "Eh, iya. Tadi aku kesini di anterin sodara tiri aku, Ka Kevin. Mungkin iya, ketinggalan di mobilnya. Aku nggak punya nomernya, aku mau telepon ke Mama dulu." Jelas Luna sambil menekan tombol telepon yang ada di meja kerjanya. Saat telepon tersambung dengan handphone Ibunya. "Halo Ma? Maaf Ma, bisa minta nomer teleponnya Reyhan engga Ma? Kayanya handphone Luna ketinggalan di mobilnya pas dianter tadi." Pinta Luna. "Mama juga engga punya nomernya. Tunggu, Mama tanya Papi dulu, ya." Mama. Mama langsung berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang keluarga tempat Papi menonton TV, dan menjelaskan maksudnya. Setelah mendapat nomer telepon Reyhan dari Papi, Mama langsung menyebutkan nomer teleponnya ke Luna via telepon tadi. "Iya Ma, makasih ya Ma. Maaf ngerepotin terus." Luna. "Iya engga apa-apa Luna sayang, coba kamu hubungi dulu saja ya." Mama. "Ya udah Ma, Luna tutup dulu ya teleponnya?" Luna. "Iya sayang." Mama. Setelah menutup teleponnya. Luna langsung menelepon nomer Reyhan. Dan terhubung. "Halo, Reyhan??" Tanya Luna ragu. "Siapa?" Jawab Reyhan yang sudah di lobi kantor DG dengan Raya, sambil berjalan menuju ke luar kantor untuk makan siang. "Ini gue, Luna. Rey tadi ada handphone gue ketinggalan di mobil lo, engga??" Tanya Luna panik. "Ada(sama gue)." Jawab Reyhan datar. "Ya Tuhan,, makasih Ya Tuhan,,, Oh oke deh, kalo gitu gue ke kantor lo sekarang ya?" Luna merasa lega dan menginginkan ponselnya segera kembali. "Gue lagi engga di kantor." Jawab Reyhan dengan nada datar. -Omaigatt,, cobaan apa lagi ini Tuhaan..- rengek Luna dalam hati. "Ya udah deh, sekarang lo ada dimana? Gue samperin deh." Tanya Luna dengan cemas, karena takut posisi Reyhan sedang jauh. "Di lobi kantor DG." Jawab Reyhan masih dengan nada datar. "Seriuss?!!! Kantor gue kerja? Enggak bohong kan?!!" Tanya Luna terkejut. Semua teman Luna yang hendak istirahat ke kantin langsung melirik ke arah Luna, kebingungan sekaligus penasaran. "Liat aja sendiri." Jawab Reyhan dengan nada datar. "Ok,, Ok,, Gue otw sekarang juga." Jawab Luna terburu-buru dan langsung menutup teleponnya. "Kalian duluan aja ke kantin, nanti aku nyusul." Luna berbicara ke rekan-rekannya yang sudah menunggunya. Luna langsung berlari ke arah lift dan menuju lobi. Rekan-rekan Luna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Luna, dan mereka pun pergi ke kantin untuk makan siang. Dilobi DG. Setelah Reyhan menutup telepon. "Siapa Rey?(Yang tadi telepon)" Tanya Raya penasaran karena di percakapan telepon tadi menyebutkan lobi DG. "Oh,, Luna." jelas Reyhan. "Oh, lo mau ngasihin handphone ya?" Tanya Raya. "Yup. Oh iya, lo duluan ke lokasi deh, gue langsung nyusul seudah ngasihin nih handphone." Reyhan.  "Ya udah, gue pesenin duluan ya?" Raya. "Oke." Reyhan mengangguk pelan dan mengangkat kedua alisnya menandakan setuju. Setelah Raya keluar kantor(menuju restoran), Reyhan duduk disalah satu sofa yang ada di lobi. Kondisi saat itu belum terlalu ramai karena masih 5 menit lagi sampai jam istirahat, jadi hanya ada beberapa karyawan yang berlalu lalang di lobi. Reyhan masih menjadi pusat perhatian para resepsionis dan orang-orang yang berlalu lalang di lobi. Namun karena sudah biasa jadi pusat perhatian, Reyhan tetap tenang sambil main handphone(milik Luna) yang baru di aktifkan nya. Tak lama kemudian, Luna sampai di lobi dan langsung mencari Reyhan. Setelah mendapati Reyhan yang sedang duduk di sofa lobi. Luna langsung berjalan cepat setengah berlari ke arahnya. "Wah,,, Beneran engga bohong." Luna yang masih terengah-engah tersenyum senang dan langsung duduk di samping Reyhan. Reyhan langsung menatap Luna. "Nih." Dengan nada datar Reyhan memberikan handphone Luna. "Hehe,, thank you." Luna mengambil handphone sambil tersenyum lebar dengan wajah polosnya. Reyhan langsung tersipu dan memalingkan wajahnya. ~Sial,,, Ngapain coba, ekspresinya kaya gitu?~ dalam hati Reyhan. "Oh iya. Lo seorang REYHAN datang sendiri ke sini, bukan cuma mau ngasihin handphone gue aja kan?" Dengan mata menyelidik dan mendekat ke wajah Reyhan. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang dekat dalam beberapa detik. "Gila lo ya!!" Reyhan terkejut karena pertanyaan Luna, dan wajah Luna yang tiba-tiba mendekatinya. Reyhan langsung berdiri, karena tidak tahan dengan posisi mereka yang membuat Reyhan tidak nyaman. ~Sial, ko gue deg-degan.~ Dalam hati Reyhan. "Gue kesini mau ketemu sama sahabat gue Raya,, bukan karena lo! Jadi ga usah ke-PD-an(percaya diri)!!" Nada Reyhan mulai meninggi dan cemberut. "Ya ampun. Iya, gue tau. Lagian cuma bercanda doang. Ga usah marah, kali." Kata Luna sambil berdiri. Reyhan berbalik dan langsung berjalan menuju pintu keluar kantor. "Hei,, Karena lu udah baik ngembaliin handphone gue, jadi gue terselamatkan(karena harus menghubungi klien). Jadi kejadian yang tadi pagi bakalan gue lupain(gak jadi balas dendam)." Luna setengah teriak. Reyhan dengan wajah ekspresi dingin  mengabaikannya dan tetap berjalan tegap menuju pintu keluar, sebenarnya Reyhan mendengarkan perkataan Luna. "Woii,,, Gue lagi ngomong!" Luna setengah teriak karena tidak di pedulikan Reyhan . ~Dasar cowok nyebelin!~ Gerutu Luna dalam hati. Luna baru tersadar kalau dirinya sekarang di perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dan para resepsionis, yang sejak tadi membicarakannya. Karena tidak mengerti Luna yang polos berjalan kebingungan meninggalkan lobi menuju kantin kantor, menyusul rekan-rekannya yang sudah menunggunya. Sampai kantin, Luna bergabung dengan rekan-rekannya setelah mengambil makanannya. Sambil makan, Luna menceritakan semua kejadian tadi ke rekan-rekannya. Luna mengecek handphonenya karena ada pesan yang masuk. Luna yang sedang menelan makanannya, tiba-tiba tersedak setelah melihat layar handphonenya.  "Uhuk,, Uhuk,," Luna tersedak sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN