"Uhuk,, uhuk,," Luna tersedak dan menyimpan handphonenya di atas meja.
"Minum, minum Lun." Kata Karin yang duduk berhadapan dengan Luna.
Fanny yang duduk di samping Luna, menyodorkan gelas ke Luna.
Setelah minum dan menaruh gelasnya. Luna kembali mengangkat handphonenya dan membolak-balikkan beberapa kali handphonenya, untuk meyakinkan handphone itu benar miliknya.
"Kenapa sih, Lun?" Tanya Kevin.
"Iya, bener punya aku ko." Luna mengerutkan kening.
"Apaan sih, Lun? Lu salah minum obat ya?" Tanya Karin bingung.
"Ga tau tuh si Luna, malah ngomong sendiri." Kevin yang masih kebingungan.
"Bukan Ka, Mba. Lihat deh. Ini beneran handphone aku, tapi wallpapernya ko jadi foto si Reyhan sih?!" Luna menjawab dengan kesal dan menunjukan layar handphone pada rekan-rekannya.
"Mana coba lihat? Hahaa." Sahut Fanny tertawa setelah melihatnya.
"Ah paling juga kamu di isengin. Hahaa." Kevin tertawa.
"Makannya punya handphone tuh pake password, biar ga di isengin orang. Hahaa" Karin ikut tertawa.
"Ih sebel, ko malah pada ngetawain sih?" Luna cemberut.
"Iya, iya. Sorry." Fanny yang masih menahan tawa.
"Makannya, aktifin passwordnya." Kevin.
"Iya,, sekarang mau di aktifin pake fingerprint. Biar engga lupa password lagi." Luna langsung mengotak-atik handphonenya untuk memasang password.
"Dia kan pelupa. Pernah beberapa kali bolak-balik counter handphone, cuma buat reset password." Jelas Fanny pada Kevin yang baru bergabung 3 bulan di team B.
"Ooh." Kevin mengangguk.
Setelah memasang password handphonenya, Luna membuka pesan yang belum sempat dibukanya tadi. Ternyata pesan itu dari Reyhan. Reyhan sudah menyimpan nomernya dan menamainya 'Reyhan Ganteng' di handphone milik Luna, pada saat di lobi tadi.
Reyhan : "Gimana?"
Luna : "Apanya?"
Reyhan : "Wallpapernya?"
Luna : "Gila,, kurang kerjaan dasar! "
Reyhan : "Ekslusif itu"
Luna : "Bodo amat! "
Reyhan: "..."
Luna hanya membaca pesan terakhir dan tidak dibalas.
~Dasar sinting!!~ Luna cemberut, dan melanjutkan makan.
Reyhan sedang makan dengan Raya, di restoran dekat kantornya dan dekat kantor DG juga. Reyhan tertawa setelah mengirim pesan ke Luna.
"Kenapa sih Bro? Lo dari tadi, ketawa terus? Apaan sih yang lucu?" Tanya Raya penasaran, karena fenomena Reyhan tertawa itu sangat jarang di jumpai bahkan dengan sahabatnya sendiri.
"Haha, engga Bro. Cuma lagi ngisengin orang aja." Jawab Reyhan yang masih tertawa.
"Hah?! Lu ngisengin orang?! Enggak salah denger kan gue Bro??" Tanya Raya karena tidak percaya sahabatnya yang tidak pernah memperdulikan orang lain, bisa bercanda sampai tertawa seperti itu.
"Iya, si Luna. Bodoh banget, itu orang." Jawab Reyhan tersenyum lebar dan mengangkat gelas jus nya untuk diminum.
Raya terheran-heran, dia mengangkat sebelah alisnya dan menatap penuh arti ke Reyhan. Reyhan yang tersadar kalau sahabatnya memandang seperti itu, lalu meletakan gelas jus tadi ke meja.
"Udah ah, jangan mikir yang aneh-aneh deh." Reyhan berhenti tertawa dan memasang wajah cool nya kembali.
"Iya, iya. Lanjutin yuk, makannya. Bentar lagi, bukannya lu ada meeting." Raya melanjutkan makan kembali, begitu pula dengan Reyhan.
"Iya udah ini, gue harus langsung jalan ke lokasi." Reyhan
"Hmm,, Emang meetingnya dimana?" Tanya Raya.
"Hotel GAL(Grand Amartha Luxury)." Reyhan.
"Hotel si Daniel?" Lanjut Raya.
"Ya. Perusahaan gue juga kerjasama, sama hotel punya si Daniel yang ini." Reyhan.
"Ya lu pemegang saham terbesar kan, di hotel si Daniel yang ini? Soalnya Daniel pernah cerita ke gue." Raya.
"Ya gitu deh. Dia pengen lepas dari pengaruh Om Frans(Ayah Daniel). Terus mendirikan perusahaannya sendiri. Ya baru hotel GAL doang sih, tapi cabangnya udah dimana-mana. Engga rugi gue investasi ke dia, walaupun orangnya agak gesrek(gila) kayak gitu." Jelas Reyhan sambil tersenyum mengingat kelakuan temannya.
"Hahaa, bener-bener." Raya mengangguk dan ikut tersenyum.
Mereka melanjutkan perbincangan dan makan siangnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Luna bangun dari tempat tidurnya dan bersiap untuk mandi. Luna membawa handuk, baju ganti untuk pergi ke kantor serta pakaian dalam dan perlengkapan mandi. Luna yang masih dalam kondisi mengantuk, berjalan keluar kamar. Luna berjalan sampai depan pintu kamar mandi lt.2 dan membuka pintunya. Luna masuk ke dalam kamar mandi. Luna menutup pintu dan menguncinya. Setelah membuka semua pakaiannya, Luna membasuh wajahnya dan tersadar kalau dia pakai kamar mandi Reyhan.
Kamar mandi lt.2.
"Waduh lupa gue, kenapa masuk ke sini ya?" Luna sambil menepuk jidatnya.
"Ya udah lah lanjutin aja, tanggung. Paling marah-marah doang, engga bakalan sampe dibunuh." Pikir Luna.
Luna pun akhirnya meneruskan mandi. Setelah selesai mandi Luna mengenakan pakaian dalam dan mengambil baju untuk bekerja yang tadi di gantungnya. Saat Luna mengambilnya, baju itu terjatuh di lantai kamar mandi yang basah.
"Aduh,, Pake jatuh segala sih?? Basah lagi!" Luna kesal sambil mengambil baju basah yang terjatuh.
Luna yang sudah mengenakan pakaian dalam pun akhirnya memakai handuk saja dan keluar kamar mandi setelah membereskan barang-barangnya. Luna membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar kamar mandi. Luna terkejut, karena sudah ada seseorang yang berdiri di depannya dengan mata terbelalak tanpa mengeluarkan suara. Siapa lagi kalau bukan Reyhan.
"Ya ampunn!! Aduh kaget!" Tersentak dan mengelus-elus dadanya.
"Hah!!" Luna lebih terkejut lagi dan melihat tubuhnya yang berbalut handuk.
Luna yang tersadar mengenakan handuk saja, langsung berlari sekencang-kencangnya sambil membawa barang-barang ke kamarnya. Luna langsung menutup pintu kamarnya tanpa memperdulikan Reyhan, yang di kiranya sedang marah kepadanya.
Reyhan yang sebenarnya juga terkaget mengedipkan matanya beberapa kali, dan geleng-geleng kepala melihat Luna. Lalu Reyhan masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi. Reyhan berdiri di depan cermin wastafel.
Di dalam kamar mandi.
~Cewek gila,,, Dia kira gue bukan cowok, apa?! Bisa-bisanya cuma handukan doang!~ Dalam hati Reyhan sambil membayangkan kejadian tadi.
"Aarrgghh,,, Tunggu, tunggu! Apa sih yang gue pikirin?! Hhhh,,, Kayaknya gue deh, yang udah gila." Reyhan sambil menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Reyhan melanjutkan mandinya. Setelah selesai, Reyhan pergi ke kamarnya dan berganti pakaian serta merapikan rambutnya dengan gel. Tak perlu berdandan lama seperti Luna, Reyhan sudah beres dan keluar kamar menuju ruang makan. Saat sampai di ruang makan, Reyhan hanya melihat Mama yang juga ikut membantu Bi Marinah menyiapkan untuk sarapan. Bi Yani cuti bekerja selama satu minggu, untuk pulang kampung. Reyhan langsung duduk di kursi yang biasa ia tempati saat makan.
"Papi(kemana)?" Tanya Reyhan datar.
"Tadi sih, lagi mandi di kamar. Mungkin sebentar lagi datang." Jawab Mama sambil memberikan Reyhan sarapannya.
Ayah Reyhan tiba-tiba datang ke ruang makan, dan langsung duduk berdekatan dengan Reyhan.
"Panjang umur." Kata Mama sambil tersenyum ke Papi.
Reyhan hanya memandang sekilas dan melihat sarapannya kembali.
"Aamiin,,, Lagi pada ngomongin Papi ya?" Sahut Papi sambil tersenyum.
Reyhan tidak menjawab pertanyaan Papi dan terdiam tanpa ekspresi. Sedangkan Mama, hanya tersenyum dan memberikan Papi sarapan. Tak lama kemudian Luna turun dari tangga dan berada di ruang tamu, lalu mendekat ke ruang makan yang tidak ada pintunya.
"Ma, Om. Luna pamit mau berangkat ke kantor sekarang." Luna setengah berteriak, berjalan mendekati Mama yang berada di ruang makan.
"Loh Lun, enggak sarapan dulu? Ntar masuk angin loh." Kata Papi khawatir.
"Enggak Om, Luna pagi ini mau ada meeting jadi buru-buru." Jawab Luna yang sudah sampai ruang makan.
"Ya sudah Lun, di bekal saja ya. Nanti makannya di kantor. Tunggu sebentar." Mama yang langsung berjalan menuju dapur, yang letaknya samping ruang makan.
"Enggak usah Ma." Luna masih berdiri di dekat meja makan.
"Tunggu sebentar Lun, engga lama ko." Sahut Mama sambil memasukan makanan ke kotak bekal.
"Duduk dulu aja Lun, sini." Kata Papi sambil sarapan dan menunjuk ke kursi.
Luna mendekat, dan langsung duduk. Papi duduk di kursi utama, Reyhan duduk di sebelah kanan Papi seperti biasa dan tempat duduk Mama berada di sebelah kiri Papi yang berhadapan dengan tempat duduk Reyhan. Sedangkan Luna duduk di kursi samping Mamanya. Luna tidak sengaja melihat ke arah Reyhan, dan langsung memalingkan pandangannya ke arah lain karena Reyhan yang belum menyentuh sarapannya saat itu sedang memandangnya pula.
~Kenapa sih, Reyhan ngeliatin gue kayak gitu?! Bikin risih aja.~ Luna.