Luna tidak menyadari kalau Reyhan sudah memandangnya dengan tatapan dingin, sejak Luna memasuki ruang makan. Setelah beberapa saat kemudian, Luna penasaran dan melihat ke arah Reyhan kembali. Luna terkejut, karena Reyhan masih memandangnya dengan tatapan dingin. Mata Luna terbelalak dan mengedipkan matanya dua kali serta sedikit membuka mulutnya. Luna yang tidak tahan di perhatikan terus Reyhan seperti itu langsung berdiri, dan menyusul Mamanya ke dapur. Reyhan langsung memakan sarapannya setelah Luna pergi ke dapur. Papi tetap fokus pada sarapannya dan tidak memperhatikan Reyhan maupun Luna.
Dapur dan kamar mandi terletak di samping ruang makan, jadi kalau mau ke dapur harus melewati dulu ruang makan begitu pula dengan kamar mandi lantai bawah.
"Ma, udah belum?" Tanya Luna manja.
"Iya nih sudah. Tunggu, Mama cari dulu tas bekalnya." Mama menutup kotak bekal dan mencari tas bekal ke sekeliling dapur.
"Udah Ma enggak usah, masukin ke tas Luna aja cukup ko." Kata Luna sambil membuka tasnya dan menyodorkan ke Mamanya.
"Oh, ya sudah. Pakai keresek kalau gitu, takut tumpah." Mama langsung memasukan kotak bekal ke kantung keresek, dan memasukannya ke tas Luna.
"Sendoknya juga sudah di dalam ya, nak." Tambah Mama.
"Iya Ma,, makasih. Kalo gitu Luna berangkat dulu ya Ma, Bi." kata Luna sambil tersenyum ke Mamanya dan Bi Mari.
Luna di ikuti dengan Mamanya, kembali ke ruang makan. Mama duduk di kursi samping Papi, dan Luna pamit ke Papi.
"Om, Luna pergi dulu." Luna.
"Iya hati-hati. Oh iya Lun, enggak pergi bareng Reyhan lagi? Reyhan makannya cepet ko. Sebentar lagi beres." Tanya Papi.
~Iya langsung di telen, ga dikunyah dulu makanannya. Kelihatan dari mukanya,,, Sadis.~ Luna.
"Enggak usah Om, makasih." Luna senyum terpaksa, lalu mendelik ke Reyhan yang saat itu masih fokus dengan sarapannya.
Luna langsung cepat-cepat pergi.
Reyhan menahan tawa, namun tetap melihat ke piring. Sedangkan Papi dan Mama hanya saling melihat satu sama lain dan keduanya mengangkat bahu, dan juga melanjutkan sarapan mereka. Tak lama dari itu Reyhan menyelesaikan sarapannya, dan langsung berangkat ke kantor dengan mobil sport kesayangannya. Papi yang sudah menyelesaikan sarapannya, masih duduk di tempatnya untuk menemani Mama yang belum menghabiskan sarapannya. Papi membuka percakapan dengan Mama yang masih makan.
"Ma, hari ini Papi di undang temen Papi untuk main golf dan makan di rumahnya. Mama ikut, temenin Papi ya?" Tanya Papi.
"Oh gitu. Ya udah Pi, jam berapa perginya?" Mama balik bertanya.
"Jam 10.00 an. Kayaknya sampe sore atau maleman soalnya udah gitu lanjut ke rumahnya. Istrinya masak, mau menjamu kita." Lanjut Papi.
"Iya Pi, nanti Mama siap-siap sesudah sarapan." Mama mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
"Iya Ma, santai aja." Kata Papi sambil tersenyum.
Di kantor Luna, yang sudah memulai rapat divisi management marketing yaitu team A dan team B yang dipimpin oleh Pak Hardiana. Mereka membahas program baru tentang percampuran kedua team agar melakukan reset turun langsung ke lapangan dan membuat program baru untuk menarik perhatian konsumen. Pak Hardiana yang sudah menyiapkan 8 potongan kertas kecil yang bertuliskan "Team 1" dan "Team 2" yang digulung lalu di masukan ke dalam gelas, menyuruh anggota team A dan team B mengambil masing-masing 1 kertas untuk dibagi 2 kelompok. Setiap orang selain Pak Hardiana telah mengambil 1 kertas, dan Pak Hardiana menyuruh mereka membuka kertas yang digulung itu.
"Oke, sekarang kalian buka kertasnya. Dan duduk sesuai kelompoknya yang tercantum di kertas itu ya." Jelas Pak Hardiana.
Mereka membuka kertasnya.
"Untuk team 1 duduknya di sebelah kanan saya, dan untuk team 2 duduk di sebelah kiri saya. Ayo! Move(bergerak)!" Lanjut Pak Hardiana sambil menepuk tangan beberapa kali.
Mereka langsung pindah sesuai kelompok tadi. Roland dan Mona yang dari awal duduk di sebelah kanan Pa Hardiana langsung berdiri dan pindah ke sebelah kiri Pa Hardiana. Sedangkan Fanny dan Kevin yang sejak awal duduk di sebelah kiri Pak Hardiana berdiri dan pindah ke sebelah kanan Pak Hardiana. Roland duduk di samping Luna, di urutan ke dua dari arah Pak Hardiana. Mereka saling pandang beberapa saat, dan Roland tersenyum kepada Luna. Luna pun membalas senyum Roland dan menunduk tersipu malu. Sedangkan Mona yang cemberut dengan malas duduk di samping Roland, di urutan pertama dari arah Pak Hardiana. Luna dan Karin duduk di urutan ke 3 dan 4 dari arah Pak Hardiana. Karin yang terlihat kesal berbicara ke Pak Hardiana.
"Maaf Pak, bisa tukar team tidak Pak?" Karin dengan sopan berbicara ke Pak Hardiana, sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tangannya.
"Engga bisa Karin, itu sudah diputuskan dan tidak boleh dirubah. Engga cuma untuk Karin, tapi untuk semua juga ya." Kata Pak Hardiana yang menolak tawaran Karin.
"Huh! Dikira gue juga mau apa sekelompok sama dia! Ogaahh!!" Dengan suara pelan Mona menggerutu ke Karin.
Semua orang yang berada di ruangan itu masih bisa mendengar suara Mona, dan hanya saling memandang dengan yang lainnya. Mona dan Karin tidak akur karena pernah bertengkar hebat mengenai pembuatan laporan Karin yang dicuri Mona, namun karena Ayah Mona dekat dengan personalia DG yang diberi SP(surat peringatan) malah Karin. Dari sejak saat itu mereka tidak pernah akur, atau kadang perang dingin dan saling tidak mengacuhkan.
"Semuanya dengar! Pada dasarnya kita semua itu satu divisi(bagian). Bapak membuat kelompok seperti ini, agar semuanya bisa saling menyatu satu sama lain saling dekat. Bisa bekerja dengan baik dan profesional. Jadi mohon kerjasamanya semuanya. Oke??" Jelas Pak Hardiana dengan bijak.
"Iya siap, Pak!" Semua menjawab.
"Ok, ini berlaku untuk 3 hari kedepan(hari Senin) selama 1 bulan untuk program baru. Dan untuk meeting hari ini kita akhiri. Semuanya bisa kembali ke tempat masing-masing. Selamat siang, selamat beraktivitas kembali." Kata Pak Hardiana yang membereskan berkas-berkas nya, dan kembali ke ruangannya.
"Siang Pak." Jawab semuanya.
Semuanya berdiri membereskan berkas masing-masing dan kembali ke tempatnya masing-masing. Dan melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.
Sore harinya menjelang malam, setelah membereskan pekerjaannya rekan-rekan Luna bersiap untuk pulang.
Di ruangan team B.
"Capek banget bikin laporan bulanan, harus sudah beres hari ini. Soalnya senin harus sudah kirim laporan, kan sudah ngejalanin program baru. Huft!!" Fanny menghela nafas panjang.
"Gue udah enggak sanggup ah! Kayaknya besok harus ke kantor deh, buat lembur ngeberesin laporan ini." Sahut Karin sambil membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang.
"Iya aku juga, kayaknya lanjut besok aja deh. Kamu mau datang ke kantor jam berapa, Rin?" Tanya Kevin ke Karin.
"Kalo aku jam 9-an, jadi siang udah bisa pulang." Jawab Karin.
"Iya biar bisa malam mingguan kan, Rin? Cieee,,," Fanny menggoda Karin.
"Iya dong, tau aja Mba Fanny. Emangnya yang dipinggir gue ini, yang enggak pernah pacaran seumur hidupnya. Aduuh, kasian banget sih adek yang satu ini." Jawab Karin sambil mencolek-colek Luna yang dari tadi masih fokus ke komputer mengerjakan laporannya.
"Ih,, Mba jangan ganggu ah! Aku lagi ngebut bikin laporan nih. Pokoknya harus beres hari ini juga." Jawab Luna fokus yang masih sibuk mengetik.
"Udah Lun, lanjut besok aja bareng kita. Lagian di rumah juga kamu ngapain. Paling tidur kan?" Ajak Kevin yang mengambil tas nya dan berdiri di samping meja Luna.
"Engga mau ah, Ka Kevin. Besok pokoknya Luna pengen santai-santai. Jadi hari ini harus udah beres. Lagian ini juga sebentar lagi." Jawab Luna yang masih fokus mengetik.
"Kita udah pada beres siap-siap pulang nih, Lun. Enggak apa-apa, di tinggal?" Tanya Fanny yang sudah memegang tas nya mendekat ke arah Luna.
"Iya Mba, enggak apa-apa. Kalian duluan aja. Laporan Luna sebentar lagi beres kok." Luna melihat ke arah Fanny dan tersenyum.
"Ya udah kalo gitu, kita duluan ya Lun?" Kevin pamit ke Luna.
"Oke, Ka." Luna mengangguk dan masih fokus mengetik.
"Iya Mba duluan ya Luna, soalnya anak Mba udah nungguin." Fanny juga pamit.
"Oke Mba, titip salam ke Rena(anak Fanny satu-satunya) ya Mba." Luna menjawab Fanny dan masih fokus pada komputernya.
"Keras kepala banget sih, nih anak. Ya udah gue juga duluan ya 'Miss Jomblo'. Hahaa.." Ledek Karin.
"Ih bukan jomblo tau, Mba Karin! Tapi,," Belum selesai bicara Luna sudah di potong.
"Da-Rah, Su-Ci..!" potong Fanny, Kevin dan Karin yang sudah biasa mendengar pembelaan Luna jika di ejek belum pernah punya pasangan itu.
Dan semua tertawa bersama. Fanny, Kevin dan Karin berjalan meninggalkan ruangan kantor management marketing team B, sedangkan Luna masih sibuk mengerjakan laporannya. Setengah jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB. Luna akhirnya membereskan laporannya dan membereskan meja kerjanya untuk bersiap pulang ke rumah. Tapi di luar tiba-tiba hujan sangat deras. Luna tertahan dan tidak bisa pulang. Luna turun ke lobi, dan menunggu hujan reda.
Di rumah Reyhan. Reyhan sudah pulang kantor sejak pukul 18.28. Setelah mandi dan berganti pakaian kasual, Reyhan duduk di sofa ruang tamu sambil berkali-kali mengecek handphone nya. Bi Marinah yang sedang menyetrika pakaian, di ruang keluarga(bersebelahan dengan ruang tamu) menghampiri Reyhan yang baru duduk di ruang tamu.
Ruang tamu.
"Den Reyhan, Bapak sama Ibu pergi ke rumah temen Bapak. Kayaknya pulangnya maleman Den, kalo non Luna masih belum pulang Den." Bi Marinah.
"Oh." Jawab Reyhan datar dan masih melihat ke handphonenya yang tidak ada pesan atau pemberitahuan apa pun.
"Den Reyhan mau makan apa? Nanti Bibi siapin." Tanya Bi Marinah.
"Nanti aja." Masih dengan nada datar Reyhan menjawab Bi Mari, dan matanya tidak berhenti melihat ke layar handphonenya.
"Oh iya Den, kalo gitu Bibi lanjut nyetrika lagi ya Den? Kalo udah lapar, panggil Bibi aja ya Den." Kata Bi Marinah.
Reyhan hanya mengangguk. Bi Marinah kembali mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti. Dan Reyhan masih sibuk memperhatikan layar handphone nya, yang tidak ada pesan atau panggilan masuk. Sebenarnya Reyhan khawatir pada Luna yang masih belum pulang juga, apalagi di luar hujan deras. Reyhan mengecek handphonenya berkali-kali karena siapa tahu Luna memintanya untuk menjemputnya.
Reyhan membuka w******p dan ragu untuk mengirim pesan duluan ke Luna(karena gengsi).
"Apa dia masih meeting? Sampai jam segini meeting apaan? Atau dia enggak bisa pulang karena terjebak hujan ya?" Reyhan bergumam.
~Ah apaan sih gue?? Ko jadi kepikiran dia lagi? Ah bodo amat, mau dia kejebak hujan kek atau apalah. Bukan urusan gue!~ Dalam hati Reyhan sambil mengerutkan kening dan cemberut.
Reyhan langsung menyimpan handphonenya ke meja yang ada di depannya. Beberapa saat kemudian Reyhan yang tidak tahan merasa cemas dan gelisah. Perasaan Reyhan berkecamuk, dan langsung mengambil kembali handphonenya untuk mengirim pesan ke Luna.
Reyhan : 'Dimana?'
Reyhan masih melototi layar handphonenya, dan beberapa saat kemudian pesan di baca oleh Luna.
Luna : 'Di kantor lah! Ada apa?'
Reyhan : 'Ko belum pulang?'
Luna : 'Kejebak hujan. Kenapa emangnya, Mama yang nanyain? Bilangin aja aku kejebak hujan,, enggak bisa jalan ke halte bis, soalnya enggak bawa payung. Pesen taxi online juga enggak dapet-dapet dari tadi, kayaknya banyak yang pakai juga.'
Reyhan : 'Ya udah, tunggu.'
Luna : 'Dari tadi juga, emang lagi nunggu hujan reda.'
Reyhan : 'Bukan! Tunggu aku jemput ke situ.'
Pesan terakhir hanya di baca saja oleh Luna dan tidak di balas.
"Hah!! Enggak salah ketik kan dia??!" Luna.