07. Hujan

1267 Kata
Reyhan langsung mengambil kunci mobil, dan membuka pintu masuk rumah. Mendengar suara pintu terbuka, Bi Marinah yang sedang menyetrika langsung mendekat ke sumber suara dan mendapati Reyhan yang sedang mencari-cari sesuatu melirik kanan kiri. "Den, Bibi kira siapa. Den Reyhan lagi cari apa?" Tanya Bi Marinah, sambil mendekat ke arah Reyhan. "Payung." Sahut Reyhan sambil mencari-cari. "Oh, ini Den." Bi Marinah memberikan payung yang berada di pinggir rak sepatu dan di berikan ke Reyhan. Reyhan mengambil payung tersebut. "Den, maaf. Emangnya mau ke mana hujan-hujan gini, Den? Kalau mau beli sesuatu sini sama Bibi aja Den?" Tanya Bi Marinah. "Jemput Luna." Jawab Reyhan dengan dingin. "Oh, ya udah Den. Hati-hati." Bi Marinah. Reyhan hanya mengangguk dan keluar menuju garasi dan masuk ke mobilnya. Reyhan mengendarai mobilnya menuju kantor DG, tempat Luna bekerja. Setelah Reyhan pergi, Bi Marinah menutup kembali pintu rumah dan masuk ke ruang keluarga untuk melanjutkan pekerjaanya. Di lobi DG. Luna masih menatap layar handphonenya. "Hah,,! Enggak salah ketik kan dia??" Luna keheranan melihat pesan dari Reyhan dan berbicara sendiri. ~Kesambet(kerasukan) setan apa, ini orang?~ Pikir Luna dalam hati sambil mengernyitkan kening. Setelah menunggu setengah jam lebih, akhirnya Reyhan sampai di kantor DG dan memarkirkan mobilnya di parkiran depan kantor. Sedangkan hujan tak kunjung reda dan masih deras. Reyhan yang memakai payung, keluar dari mobil sambil membawa handphone dan kunci mobilnya. Reyhan berjalan ke arah lobi, dan sampai di depan pintu keluar masuk lobi Reyhan berhenti. Reyhan yang masih memegang payung yang sudah ditutupnya, mengirim pesan ke Luna. Reyhan : "Aku di depan pintu masuk." Luna yang masih duduk di sofa lobi, membuka dan membaca pesan yang masuk ke ponselnya dari Reyhan. "Dia beneran datang?? Serius??" Luna berbicara sendiri dan masih menatap layar handphonenya. Luna berdiri dari dari tempat duduknya dan keluar gedung. Luna melirik ke kanan dan ke kiri, mencari Reyhan. Di luar gedung hanya ada segelintir orang(karyawan) yang sama-sama menunggu hujan reda, dan juga satpam yang mondar-mandir keluar masuk gedung sambil sesekali berbincang dengan karyawan yang ada di situ. Luna yang masih celingukan akhirnya matanya berhenti di satu titik. Luna melihat seorang pria tinggi tegap yang menenteng payung, dan satu-satunya orang yang mengenakan kaus panjang berwarna abu terang dan celana jeans panjang serta sandal(bergaya kasual) sedangkan yang lain memakai kemeja dan blazer(kecuali satpam yang pakai seragam satpam), yang berdiri menghadap ke jalan raya(membelakangi gedung DG). Luna mendekati pria itu, lalu menepuk halus bahunya yang lebar dan kuat. Dan pria itu langsung berbalik ke arah seseorang yang menepuknya. "Aku kira kamu berbohong." Luna yang terlihat lega dan tersenyum lebar ke Reyhan. "Hmm,," Reyhan yang dari luar terlihat cool pun memberikan Luna payung, dan mulai berjalan ke arah mobil yang diparkirnya tadi di samping gedung. Langkah Reyhan yang cepat dan lebar(karena kakinya yang panjang), membuat Luna setengah berlari menyusulnya. "Reyhan!! Tunggu dong!!" Teriak Luna yang tergesa-gesa sambil membuka payung. Reyhan yang tidak menghiraukan teriakan Luna, terus berjalan menerobos hujan. Luna yang menyusulnya, akhirnya menangkap lengan Reyhan. Luna menarik Reyhan untuk mendekatkan ke diri Luna yang berlindung dari hujan, di bawah payung. Luna yang lebih pendek dari Reyhan mengangkat payungnya lebih tinggi agar Reyhan bisa mendekat, dan Reyhan sedikit menunduk. "Ke sini, jangan jauh-jauh. Tuh kan basah! Nanti kalo sakit gimana?!" Kata Luna yang sedikit cemas dan membersihkan cipratan air hujan di baju Reyhan walaupun tidak berpengaruh, karena sudah merembes ke baju Reyhan. Reyhan dengan rambut setengah basah akibat air hujan, terkejut karena tindakan Luna dan jarak mereka yang begitu dekat(hanya beberapa senti saja). Reyhan terdiam membeku sambil melihat ke Luna, dan wajahnya langsung memerah karena malu. Luna lalu melihat ke wajah Reyhan dan sedikit panik. Air hujan yang membasahi rambut Reyhan, menetes ke wajah Luna yang menengadah ke wajah Reyhan. "Ya ampun Rey, kamu demam kayaknya!" Luna cemas dan memegang lembut kening Reyhan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggandeng tas dan memegangi payung. Reyhan yang makin terkejut dengan tindakan Luna, matanya langsung terbelalak melihat Luna. Kali ini Reyhan tidak diam saja. Reyhan langsung memegang dan menurunkan tangan Luna yang menempel di keningnya dengan tangan kiri, dan melepaskan genggamannya. Reyhan juga merebut payung yang di pegang Luna dengan tangan kanannya. "Aku enggak apa-apa! Jangan pegang-pegang!!" Reyhan memperingatkan Luna dengan nada yang tinggi, sebenarnya karena salah tingkah untuk menyembunyikan rasa malunya. Luna hanya terdiam dan masih memandang Reyhan sedikit cemas. "Payungnya juga biar aku yang pegang. Soalnya payungnya kena kepala aku terus dari tadi, kalo kamu yang pegang." Nada Reyhan kembali normal. Luna hanya terdiam menyetujuinya. Luna yang tidak begitu tinggi dibanding Reyhan, akan kesulitan memegang payung karena harus mengangkatnya lebih tinggi. Tangan Luna akan pegal kalau terus dalam posisi seperti itu. Reyhan yang sebenarnya perhatian pada Luna, tidak ingin Luna menyadari perhatiannya kepada Luna. Mereka berjalan kembali ke arah mobil yang Reyhan parkir. Setelah sampai, Reyhan yang masih memayungi Luna membukakan pintu mobil untuk Luna. Setelah Luna masuk ke mobil dan menutup pintunya, Reyhan berjalan kembali menuju pintu mobil satunya dan masuk ke mobil. Luna mengambil handuk kecil yang selalu ia bawa di dalam tas nya, dan memberikan ke Reyhan yang duduk di kursi pengemudi di sampingnya itu. Di dalam mobil Reyhan. "Nih, pakai ini Rey." Luna menyodorkan handuk kecil ke Reyhan. Reyhan tidak menjawab dan hanya melihat handuk yang di sodorkan Luna. "Bersih ko. Belum aku pake, sumpah!" Luna meyakinkan Reyhan. Padahal Reyhan tidak ada maksud menyinggung Luna, Reyhan belum mengambilnya karena mau menyimpan payung yang basah terlebih dahulu. Reyhan langsung mengambil handuk kecil yang masih disodorkan Luna tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dan mengeringkan rambutnya dengan handuk tadi. "Rey, kamu yakin engga apa-apa?" Tanya Luna yang masih cemas. Reyhan hanya mengangguk dan mengembalikan handuk tadi ke Luna. Luna mengambil handuknya, melipatnya kembali dan memasukkan ke dalam tas. Reyhan menjalankan mobilnya.  "Rey, lain kali enggak usah jemput aku. Walau pun Mama yang minta." Luna menundukkan kepalanya dan merasa bersalah pada Reyhan. Reyhan yang kaget mendengar perkataan Luna, hanya terdiam sambil menyetir. Luna menganggap Reyhan menjemputnya karena permintaan Ibunya. ~Apa dia pikir aku ngejemput dia karna permintaan Mamanya? Padahal Mamanya aja enggak tau, kalau dia masih belum pulang. Tapi Bagus deh, biar dia enggak kePDan.~ Dalam hati Reyhan sambil sesekali melirik ke arah Luna yang menunduk. ~Eh,,, Ko dia masih nunduk terus sih? Enggak mungkin dia merasa bersalah karena aku jemput dia, atau aku yang kehujanan kan?~ Pikir Reyhan yang masih melirik-lirik Luna sesekalil. Luna masih menunduk dan masih merasa bersalah. ~Aduh gimana ini? Kayaknya Reyhan marah deh. Pertanyaan aku aja, enggak dia jawab-jawab. Terus kalo dia sakit, gimana?~ Dalam hati Luna. Luna yang masih menunduk mengernyitkan kening dan menggigit setengah bibir bawahnya. Luna meremas-remas tasnya karena gugup dan merasa bersalah. Reyhan ragu mau berbicara dan masih melirik-lirik Luna. ~Apa dia demam dan merasa pusing, makannya enggak ngejawab pertanyaan aku?~ Luna yang semakin cemas langsung mengangkat kepalanya tiba-tiba dan melihat Reyhan untuk memastikan kondisi Reyhan. Dan mereka saling bertemu pandang. Reyhan seketika memalingkan pandangannya ke jalan, dan tiba-tiba berbicara. "A,, Aku, eng,, enggak apa-apa ko." Jelas Reyhan yang memandang terus ke depan, dengan terbata-bata karena terkejut mereka sempat memandang tadi. "O, Oh iya. Syukur kalo kamu enggak apa-apa." Jawab Luna yang keheranan karena sikap Reyhan, dan Luna tersenyum canggung. Setelah itu mereka hanya terdiam sampai rumah. Luna masuk ke dalam rumah lebih dulu, dan Reyhan menyusul setelah memarkirkan mobil di garasi rumah. Luna membuka pintu rumah yang tidak di kunci, dan membuka sepatunya lalu di simpan di rak sepatu samping pintu. Reyhan yang sudah memakirkan mobilnya menyusul Luna yang masih berdiri di dekat rak sepatu, Reyhan menyimpan sandalnya. "Rey, kamu cepetan ganti baju. Oh iya, sebelum itu mandi dulu keramas biar enggak sakit. Soalnya tadi kehujanan." Kata Luna yang masih mengkhawatirkan Reyhan. "Iya." Jawab Reyhan dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN