Luna menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, melakukannya beberapa kali membuat Luna menjadi lebih tenang dan relax. Luna sering melakukannya dan sudah terbiasa jika bertemu dengan Roland, cinta pertamanya. Luna berjalan ke tempat tidurnya, dan naik ke tempat tidurnya. Tubuhnya terlentang di atas tempat tidur dan matanya mulai tertutup perlahan. Luna pun mulai tertidur. Sedangkan Reyhan yang berada di kamarnya, sebenarnya juga sedang merasakan hal yang sama dengan Luna. Jantungnya masih berdebar dengan cepat, wajahnya berseri-seri dan Reyhan masih senyum-senyum sendiri. Sudah lama sejak Reyhan merasakan hal seperti ini. Terakhir waktu dia awal masuk kuliah, pada cinta pertama dan Reyhan menganggap itu akan menjadi cinta terakhirnya sebelum merasakan hal yang sama pada Luna. Reyhan menyadari perasaannya pada Luna, pasalnya Reyhan orang yang sangat sulit untuk percaya pada orang lain apalagi jatuh cinta. Saat menyadari perasaannya, Reyhan gelisah semalaman tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling di atas tempat tidurnya yang yang empuk dan lembut.
Hari sudah berganti, waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 Reyhan masih belum juga memejamkan matanya. Akhirnya Reyhan beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Reyhan masuk ke kamar mandi lt. 2 dan berendam air hangat di bathub. Waktu menunjukkan pukul 05.03, Luna bangun dari tempat tidurnya dan meregangkan badannya. Luna keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar mandi.
Di koridor lantai 2.
"Aduh, pengen pipis." Luna yang berjalan di koridor lt.2.
Luna sampai di depan pintu kamar mandi lt.2.
~Hmm,,, Kayaknya dia(Reyhan) belum bangun deh, aku pakai kamar mandi yang ini aja deh. Lagi pula dia gak bakalan tahu.~ Dalam hati Luna sambil celingukan memastikan tidak ada Reyhan.
Luna membuka pintu kamar mandi dan masuk ke kamar mandi. Luna berjalan ke kanan, ke arah closet duduk. Luna membuka tutup closet, dan hendak membuka celananya. Belum membuka celananya dan posisi Luna masih menghadap closet, tiba-tiba Luna terdiam membeku karena mendengar suara samar-samar dari arah bathub yang tertutup tirai, yang berada di samping kirinya saat ini.
"Han,, duk,," Suara dari dalam bathub yang tertutup tirai.
Luna masih membeku dan bulu kuduknya berdiri. Luna perlahan menengok ke arah bathub dan terkejut ketika melihat kepala yang muncul dari ujung bathub di sertai tangan yang melambai pelan, ke arah Luna berdiri. Luna yang terkejut dan berteriak langsung terjatuh dalam posisi duduk karena kakinya langsung merasa lemas.
"Aaaaarrghh,,, Ha,,, Ha,,, Hantuuu!!" Luna yang menjerit dan terbata-bata.
Luna mengesot(berjalan menggunakan tangan dan bokongnya) ke arah pintu kamar mandi. Dan samar-samar, Luna mendengar kembali suara.
"Han,,, duk,, am,, bilin,, handuk" suara terngar lemah dan terbata-bata.
Luna yang takut sekaligus penasaran, memberanikan diri untuk menoleh kembali ke arah sumber suara. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Luna memperhatikan wajah dan tangan yang terlunglai di ujung bathub.
~Eh, tunggu! Kok kayak kenal?!~ Pikir Luna dalam hati, sambil memperhatikan wajah yang pucat dan terkulai di ujung bathub itu.
"Reyhan?!!!" Teriak Luna yang bingung dan rasa takutnya memudar.
~Sial,, bikin kaget aja.~ Dalam hati Luna yang masih dalam posisi duduk.
"Ambilin,,, Handuk,," pinta Reyhan dengan suara samar yang tersengal-sengal dan lemas.
Luna segera berdiri dan mengambil handuk yang tergantung di hanger samping wastafel dekat bathub. Dengan melangkah perlahan Luna memalingkan wajah dari Reyhan, dan menyodorkan handuk kepadanya. Reyhan meraih handuk dari Luna dan berdiri perlahan, sambil memegang ke tembok yang ada di samping kirinya. Reyhan yang lemas, memakai handuk kimono yang di berikan Luna tadi.
"Rey, Kamu enggak apa-apa??" Tanya Luna khawatir yang masih berbalik dari arah Reyhan.
"Bantu aku Lun,," Jawab Reyhan lemas karena berendam air hangat terlalu lama.
"Kamu udah pakai handuk kan?" Tanya Luna ragu.
"Udah." Jawab Reyhan.
Setelah mendengar ucapan Reyhan, Luna langsung berbalik dan membuka tirai. Luna melihat Reyhan yang terduduk di atas pinggiran bathub, langsung meraih tangan Reyhan dan membantu Reyhan berdiri dan melangkah keluar dari bathub. Tangan kanan Luna merangkul pinggang Reyhan dan lengan kiri Reyhan yang Luna letakkan di pundak kirinya. Dengan perlahan mereka melangkah keluar dari kamar mandi. Di koridor depan pintu kamar mandi sambil melangkah ke arah kamar Reyhan, Luna celingukan.
~Aku teriak-teriak apa kurang kenceng ya? Kok enggak ada yang denger.~ Dalam hati Luna.
Luna mengabaikannya dan terus melanjutkan langkahnya dengan Reyhan yang masih lemas menuju kamar Reyhan. Setelah sampai depan pintu kamar Reyhan, Luna membuka gagang pintu dengan tangan kirinya dan membawa Reyhan masuk ke dalam kamarnya berjalan ke arah tempat tidur Reyhan. Luna mendudukkan Reyhan yang masih lemas di tempat tidurnya dengan perlahan, dan melepaskan rangkulan tangan kanan juga kirinya ke Reyhan.
"Rey, kamu mau pakai baju dulu? Aku ambilin yah biar enggak masuk angin, pakai baju dulu." Luna berdiri tegak sambil celingukan mencari lemari Reyhan.
"Enggak usah, aku bisa sendiri." Jawab Reyhan yang masih lemas dan menunduk.
~Kok enggak ada lemari yah? Cuma laci kecil aja. Enggak mungkin baju nya muat di situ.~ Pikir Luna dalam hati sambil melihat ke laci kecil sekaligus meja kecil tempat lampu tidur Reyhan diletakkan, di samping tempat tidurnya.
Luna masih penasaran mencari lemari Reyhan, dan melihat pintu kayu berwarna krem cerah.
~Itu pintu apa ya? Kalau ada kamar mandi di dalam sini, kenapa dia pakai yang di luar sih?! Apa kamar mandinya rusak? Terus kalo rusak kenapa enggak panggil tukang, coba? Dasar, aneh!- Pikir Luna dengan mengerutkan keningnya.
Reyhan tersadar jika Luna masih berdiri di dekatnya, menengadah melihat Luna yang terdiam dan melihat ke arah pintu berwarna krem cerah itu.
"Ngapain?" Tanya Reyhan yang mulai membaringkan diri di tempat tidurnya sambil menarik selimut, dan masih mengenakan handuk kimono.
"Ah, enggak." Jawab Luna yang tersadar, sambil menggelengkan kepala.
"Maksud aku ngapain masih di sini. Cepet keluar!" kata Reyhan yang berbaring dan sudah menutup dirinya dengan selimut dengan sinis.
~Kamprett,, Bukannya bilang terima kasih udah di tolongin, malah ngusir!~ Dalam hati Luna sambil cemberut dan melihat Reyhan.
Reyhan menatap balik ke Luna dengan tatapan yang tajam.
"Iya,, Iya,, Aku keluar." Luna berbalik dan melangkah ke pintu.
Saat keluar dari kamar Reyhan, Luna berbalik sambil memegang pintu yang hendak di tutupnya.
"Oh iya, kalau butuh sesuatu,,, JANGAN PANGGIL AKU!!" kata Luna dengan kesal ke Reyhan, lalu menutup pintu kamar Reyhan.
Luna yang sedari tadi menahan buang air kecil, akhirnya kembali ke kamar mandi lt.2 dengan kesal. Setelah masuk ke kamar mandi dan duduk di closet, Luna yang sambil buang air kecil merasa heran.
~Oh iya! Tadi pas Reyhan hampir pingsan di bathub, kok aku bisa masuk ke sini ya? Dia lupa ngunci pintu?? Dasar ceroboh! Untung dia bugilnya(telanjang bulat) di bathub. Gimana kalo dia bugil nya di shower coba? Kan kelihatan! Huft,, untung mataku masih terselamatkan.~ Pikir Luna.