09. Terpeleset

834 Kata
Reyhan akhirnya mengambil satu cungkil nasi goreng yang di balut telur dadar tadi dengan sendok dan melahapnya. Reyhan mengunyahnya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. ~Hmm,,, Enak,,, Enak banget.~ Dalam hati Reyhan sambil menyuap kembali. Luna yang kembali dari dapur dengan membawa 2 gelas air putih melihat ekspresi Reyhan yang tersenyum, dan Luna pun ikut tersenyum lega. ~Hmm,,, Kayaknya dia suka sama nasi goreng buatan aku. Makannya aja sambil senyum-senyum kayak gitu.~ Dalam hati Luna. Luna menaruh satu gelas di depan Reyhan yang sedang makan, dan satu lagi di letakkan di depannya sambil duduk. Luna melanjutkan makan. Setelah Luna dan Reyhan menghabiskan makannya, Luna membersihkan kembali dan mencuci piring serta peralatan masak yang dipakainya tadi. Reyhan sempat menawarkan bantuan kepada Luna, namun Luna menolak dan bersikukuh untuk menyelesaikannya sendiri. Reyhan pun pergi ke kamar mandi di lt.2 dan menggosok gigi, setelah selesai Reyhan kembali ke ruang tamu. Saat Luna masih mencuci piring, telepon rumah berbunyi. Reyhan yang sedang duduk santai di ruang tamu menjawab teleponnya yang berada di meja kecil pinggir kursi yang ia duduki. "Halo?" Tanya Reyhan. "Halo, Reyhan? Ini Papi." Papi yang langsung mengetahui suara anaknya itu. "Iya, kenapa?" Tanya Reyhan. "Ini Rey,,, Papi mau ngasih tau, kalau Papi sama Mama enggak bisa pulang hari ini. Kita bakalan nginep di rumahnya Om Frans temen Papi." Kata Papi. "Iya." Jawab Reyhan datar. "Luna udah pulang kan?" Tanya Papi. "Udah." Jawab Reyhan. "Syukur kalo gitu. Ya udah tolong bilang ke Luna ya, Rey. Oh iya Bi Marinah sama satpam yang jaga juga tolong di kasih tau, biar enggak nunggu dan mengunci semua pintu. Soalnya handphone Papi sama Mama lowbatt dari tadi sore, kita enggak bawa charger juga." Jelas Papi. "Iya." Jawab Reyhan. "Iya apa?" Goda Papi karena Reyhan hanya menjawab singkat-singkat terus sejak tadi. "Iya nanti di bilangin ke SETIAP ORANG yang ada di rumah ini. Udah puas Pi?" Reyhan dengan nada agak kesal. "Hahaaa,, Iya, iya. Gitu dong." Papi tertawa. Reyhan hanya menghela nafas panjang. "Ya udah, Papi tutup dulu teleponnya ya." Papi. "Iya." Jawab Reyhan kembali datar. Setelah telepon di tutup, Reyhan langsung menelepon ke pos satpam di depan rumahnya dan memberitahukan pesan ayahnya tadi ke satpam yang bertugas. Setelah memberi tahu satpam, Reyhan berjalan ke ruang keluarga dan mendapati Bi Marinah yang sedang beres-beres merapikan setrikaan karena baru menyelesaikan tugasnya. Reyhan pun memberitahukan pesan Ayahnya, dan Bi Marinah langsung mengerti. Setelah selesai mencuci piring, Luna pergi ke kamar mandi di samping dapur untuk menggosok gigi dan bersiap untuk tidur. Reyhan yang kembali ke ruang tamu, melihat Luna sedang menaiki tangga. Reyhan memanggil Luna dan mendekat ke arahnya. Luna menoleh dan berhenti melangkah lalu berbalik ke arah Reyhan. "Lun,,, Papi sama Mama enggak akan pulang hari ini. Mereka nginep di rumah temen Papi. Pulangnya besok." Jelas Reyhan. "Oh, ya udah." Luna mengangguk. Luna langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga, namun karena pijakannya tidak benar menyebabkan Luna terpeleset ke depan.  "Aargh...!" Teriak Luna. Badan Luna condong ke depan dan tangan kirinya sempat meraih pegangan tangga, namun tidak cukup kuat untuk menopang dirinya. Reyhan yang sigap segera meraih Luna. Tangan kiri Reyhan merangkul pinggang Luna dan tangan kanan Reyhan memegang tangan kanan Luna yang hampir menyentuh tangga, dan membantu Luna untuk kembali berdiri tegap. "Ceroboh!" Kata Reyhan yang menatap Luna dengan mengernyitkan dahinya dan melepas tangan kirinya yang merangkul Luna. Luna yang kaget dengan mata terbelalak dan mulut terbuka hanya memandangi wajah Reyhan yang terlihat cemas, tangan kanannya masih menggenggam tangan kanan Reyhan. Jarak mereka begitu dekat hanya beberapa senti saja. Sesaat Luna terbawa suasana dan terpesona pada Reyhan yang terlihat mempesona baginya saat itu. Reyhan tersadar kalau Luna terpesona padanya, itu membuat Reyhan senang tapi Reyhan menyembunyikan perasaannya. "Iya, emang ganteng. Jangan dilihatin terus, dan ini tangan mau sampai kapan baru bisa di lepas." Bisik Reyhan yang mendekat ke telinga Luna. Luna yang semakin kaget langsung melepas tangannya yang menggenggam kuat tangan Reyhan, dan semakin terpojok ke pegangan tangga. Detak jantung Luna pun semakin cepat seolah Reyhan bisa mendengarnya. Pipi Luna menjadi merah merona dan raut wajah yang gugup terlihat jelas di wajah Luna yang putih bersih itu. Beberapa saat kemudian Luna masih memandang Reyhan yang masih memandangnya pula, lalu Reyhan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum kepada Luna. Luna yang sudah tidak tahan lagi segera melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan mempercepat langkahnya kali ini dengan hati-hati. Reyhan melangkah pelan mengikuti Luna. Luna tiba di kamar lebih dulu, Luna membuka pintu kamarnya. Luna langsung masuk dan langsung menutup kembali pintu kamarnya dengan segera. Di ikuti Reyhan yang melewati kamar Luna dan berjalan maju ke arah pintu kamarnya yang berada diujung koridor. Di dalam kamar Luna bersandar di pintu yang sudah di tutupnya sambil menyentuh d**a kirinya dengan tangan kanan, dia merasakan jantungnya masih berdegup kencang. Matanya masih terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka. ~Gila ganteng banget! muka putih, bersih, alis tebal, mata tajam, hidung mancung sama bibirnya yang sexy bikin aku hampir hilang kesadaran! Ya ampuunn,,, Sadar Luna, sadaarr dia tuh siapa!~ Dalam hati Luna sambil menggelengkan kepala dan menampar-nampar kecil kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN