Bab 2

1008 Kata
Ternyata Risma diam seperti ini membuat aku tidak tenang. Diamnya Risma seperti menghancurkan semuanya, membuat aku gundah karena sikapnya yang berubah. Risma yang biasanya selalu manis, kini berubah diam. Baru kali ini juga, Risma mengabaikan aku. Padahal aku sangat merindukannya, karena sudah lama tidak bertemu. Ingin sekali aku memeluknya seperti biasa, tetapi tidak bisa. Wajah Risma masih terlihat sangat marah, karena dia beranggapan akulah yang tidak menghargai dia sebagai seorang istri. Di sini aku masih belum tahu, sebenarnya siapa yang salah. Aku memang saat itu tidak minta penjelasan apa pun dengan Risma, dan langsung menyalahkan dia. Ya, wajar saja dia marah karena aku bersikap seperti itu. Namun, jangan sampai diam seperti ini juga. Aku tetap masih suaminya, yang harus dihargai. Pagi ini aku terbangun dari tidur, dengan perasaan yang entah aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin karena memang masih kepikiran tentang Risma, dan sikap Risma pun masih saja belum berubah. Tadi malam saat sebelum tidur, aku mencoba bicara lagi dengan Risma. Aku mengaku salah, karena telah meninggalkan dia liburan. Namun, Risma malah mengabaikannya. Dia malah berkata, dengan kata-kata yang sangat tidak enak untuk didengar. Apalagi untuk seorang menantu, terhadap mertuanya. "Sebaiknya kamu tidak perlu minta maaf, Mas. Kalau kamu, masih saja membela keluarga kamu terutama ibu kamu." "Kita selesaikan secara baik-baik, ya. Jangan seperti ini, Risma." Aku mulai membujuk, berharap amarahnya Risma berhenti. "Aku selalu salah di mata kamu, Mas. Keluarga kamu yang selalu benar, bela saja mereka. Sampai kamu tahu semua kebenarannya, barulah kamu akan menyesal. Karena keluarga kamu, tidak sebaik apa yang kamu kira!" Risma malah meninggalkan aku tidur lebih dahulu, tanpa memperdulikan aku yang sebenarnya merindukan dia. Ah, kalau mengingat itu semua rasanya terasa berat. Apalagi aku tidak tahu, siapa yang sebenarnya benar. Aku masih tidak mudah percaya yang dikatakan Risma, karena menurutku keluargaku adalah orang-orang baik. Tidak mungkin mereka tega menyalahkan Risma, yang notabenenya adalah istriku. Mereka tidak mungkin marah dengan Risma, kalau tidak ada penyebabnya. Ya, bisa dikatakan untuk saat ini. Aku percaya dengan keluargaku, dibandingkan dengan yang dikatakan Risma. Namun, aku juga tidak mau membuat Risma semakin marah, dan diamnya menjadi-jadi. Sepertinya memang aku harus mencari cara, agar membuat semuanya akur. Setelah membersihkan diri dan berpenampilan rapi, aku keluar dari kamar. Sebelum berangkat ke kantor, aku harus lebih dulu bicara dengan Risma. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut, yang akan tidak baik nantinya. Untuk saat ini, aku tidak perduli siapa yang benar siapa yang salah. Aku hanya mau Risma kembali seperti dulu, tidak diam seperti ini. Aku ingin membuat Risma akur dengan keluarga besarku, agar tidak terjadi lagi masalah seperti ini. "Sayang," sapaku seraya mencium pipinya. Lagi-lagi aku merindukan dia, apalagi tadi malam Risma hanya diam. Membuat aku gagal, untuk melepas rindu dengan dia. Risma tengah berada di meja makan. Ya, walaupun dia marah dan diam saja. Namun, Risma tetap saja masih menyiapkan makanan untukku. Setelah menyapa Risma, aku pun duduk. Lagi-lagi walaupun masih terlihat diam, Risma tetap melayani aku seperti sebelumnya. Aku hanya bisa menatap Risma dengan ikut-ikutan diam, bingung saja melihat dia terus-menerus diam seperti ini. "Mau sampai kapan kamu diam seperti ini?" Aku membuka suara, dan sukses membuat Risma menoleh. "Mas minta maaf, kalau sudah membuat kamu marah seperti ini." Risma terdengar menghela napasnya. "Silakan dimakan, Mas." Dia malah menyuruh aku untuk makan, dan sama sekali seperti enggan untuk menanggapi ucapanku. "Mas ingin bicara dengan kamu, Sayang. Jangan seperti ini, ya. Mas tidak bisa kalau kamu diam seperti ini, rasanya ada yang tidak enak." Aku meraih tangan Risma, agar dia duduk di sampingku. "Mas minta maaf, ya." Aku berharap kali ini Risma mau bicara denganku. "Kamu tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf." "Sayang-----" "Lebih baik kamu lekas makan, Mas. Nanti terlambat berangkat kerja. Aku tidak apa-apa, dan kamu tidak perlu minta maaf." Aku mengembuskan napas kasar. Masih saja seperti itu, sikapnya masih terlihat seperti orang marah. Ingin sekali rasanya aku menyelesaikan semuanya, tapi aku juga teringat akan pergi bekerja. Sudahlah. Mungkin pagi ini aku masih belum baikan dengan Risma, tapi nanti aku akan berusaha lagi. Untuk membuat dia kembali bicara, seperti dulu lagi. *** "Hello, Bu." "Iya, Dimas. Ada apa?" "Nanti malam aku dan Risma ke rumah, ya. Sekalian kita makan malam bersama." "Untuk apa kamu mengajak Risma? Kamu tahu sendiri, kan. Bagaimana istri kamu itu, dia itu tidak suka dengan Ibu. Dia selalu jahat dengan Ibu." "Bu, ayolah jangan seperti ini. Risma itu istri aku, Bu. Kalian sama-sama aku sayangi, tidak baik kalau seperti ini." Aku menghela napas. Niatnya menelepon Ibu, untuk mengajak makan malam. Aku ingin membuat mereka berbaikan, akur sebagaimana mertua dan menantu. "Istri kamu yang seharusnya minta maaf dengan Ibu, dia yang harusnya punya sopan santun. Jangan terus melawan, dan menentang apa yang Ibu katakan." "Iya, Bu. Makanya dari itu, aku ingin mengajak kalian berdua makan malam. Siapa tahu saja setelah ini, Ibu dan Risma bisa akrab." "Dari awal Ibu tidak suka kalian berdua menikah." "Jangan seperti itu, Bu. Semuanya sudah terjadi, dan Ibu harus menerima Risma sebagai istri aku. Nanti malam kita makan malam, ya, Bu. Aku pastikan Ibu tidak akan marah dengan Risma." "Ya, asalkan istri kamu tidak macam-macam. Risma juga harus minta maaf dengan Ibu, atas kesalahan dia ke Ibu." "Iya, Bu. Aku akan pastikan kalau Risma akan minta maaf." "Ya sudah. Ajak saja nanti dia makan malam di rumah. Buat dia minta maaf dengan Ibu, kalau dia tidak mau minta maaf tidak usah lagi bertemu dengan Ibu." "Iya, Bu." Aku menurut saja. Ya, walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa sebenarnya kesalahan Risma dengan Ibu. Namun, tidak ada salahnya untuk minta maaf. Tidak apa-apa mengalah, apalagi mengalah dengan Ibu. Setelah teleponnya terputus aku tersenyum bahagia. Aku akan membuat Risma dan Ibu akur, dengan acara makan malam ini. Ibu telah setuju, dan sekarang tinggal memberitahu semuanya ke Risma. Aku berharap dia juga setuju, dengan rencana makan malam ini. Aku benar-benar ingin membuat Ibu dan Risma akur. Ya, walaupun syaratnya dari Ibu tadi Risma harus minta maaf. Namun, aku yakin pasti bisa membuat Risma minta maaf dengan Ibu. Karena walau bagaimanapun, Ibu itu adalah orang tuaku. Risma pun wajib patuh dengannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN