Bab 1
"Aku pulang, Sayang."
Bibir ini terukir untuk membentuk senyuman, saat memasuki rumah. Aku begitu merindukan Risma, karena telah seminggu tidak bertemu dengan dia. Aku merindukan segala tentang dia merindukan senyumannya, yang selalu membuat aku jatuh cinta dengan dia.
"Kamu di mana, Sayang?" Rumah ini memang terlihat sepi.
Ada yang berbeda dengan biasanya saat aku memasuki rumah. Karena biasanya Risma selalu menyambutku dengan semuanya manisnya itu, tapi sekarang malah tidak ada.
Aku juga tidak tahu ke mana dia? Karena selama seminggu tidak bertemu dengan dia, kita berdua memang jarang berkomunikasi. Lebih tepatnya Risma yang kurang bisa dihubungi, aku sendiri tidak tahu kenapa.
Aku mulai memasuki rumah, mencari di mana keberadaan Risma. Tiba-tiba indera penciuman ini bekerja, dan mencium sesuatu dari arah dapur. Senyum ini kembali terbit, sepertinya Risma ada di dapur. Ya, walaupun ada sedikit aneh, biasanya kalau tengah memasak pun Risma akan tetap menyambut kepulanganku. Namun, tidak apa-apa, mungkin Risma sibuk tidak tahu kalau aku pulang.
Aku pun langsung melangkahkan kaki ke dapur, dan langsung memeluk Risma dengan erat sesampainya di dapur. "Mas merindukan kamu, Sayang." Kita memang seminggu tidak bertemu, karena aku liburan bersama keluarga. "Kamu apa kabar, hem?" Aku masih tetap memeluknya dengan erat, aku begitu merindukan dia. Aroma tubuhnya yang selalu menjadi candu untukku.
Namun, ada yang aneh sedari tadi. Risma diam saja saat aku peluk, tidak seperti biasanya yang selalu membalas. Dia juga diam saja, saat aku bicara. Seharusnya Risma bahagia, saat aku mengatakan rindu dengan dia.
"Kamu kenapa, hem?" Aku mencoba menatap Risma, yang memang sedikit ada berbeda dari biasanya. "Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanyaku sekali lagi.
"Aku tidak apa-apa!" Risma malah melepas pelukanku, dan membuat aku merasakan kehilangan.
Aku sejenak terdiam seraya menatap Risma, yang hanya fokus pada kegiatan memasaknya. Risma sama sekali seakan tidak memperdulikan, kehadiran aku di sini. Apa yang terjadi dengan dia? Kenapa seakan-akan marah seperti ini?
"Sayang," panggilku.
Namun, tidak ada jawabannya. Risma mengabaikannya, lagi-lagi seakan tidak perduli dengan kehadiran aku di sini.
"Risma," panggilku lagi.
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku sendiri bingung dengan dia, kenapa sikapnya berubah seperti ini.
Apakah Risma marah dengan aku? Karena aku liburan tanpa mengajak dia, dan malah memilih bersama keluarga besarku.
Namun, masa seperti itu saja marah sih? Aku tidak mengajak Risma karena mempunyai alasan, tidak semata-mata tidak mengajaknya.
Ya, alasannya karena Risma tidak pernah akur dengan keluarga besarku terutama Ibu. Kalau Risma bertemu dengan mereka semua terutama Ibu, pastilah akan terjadi keributan. Maka dari itu, aku tidak mengajarkan dia saat liburan bersama.
Selain itu, aku mengajak liburan keluarga besar pun ada alasannya. Karena sebagai ucapan permintaan maaf, karena perkataan Risma saat itu ke mereka sangat tidak baik. Aku tidak mau, keluarga yang selama ini sangat aku sayangi membenciku hanya gara-gara Risma. Maka dari itu, aku mengajak mereka semua liburan sebagai permintaan maaf.
Namun, mereka tidak ingin Risma ikut. Jadi, mengiyakan saja demi kesejahteraan bersama. Seharusnya Risma mengerti itu, tidak perlu marah-marah. Karena dia yang salah, tidak pernah bersikap baik dengan keluarga besarku.
"Kamu kenapa sih sebenarnya, Sayang?" Aku kembali memeluk Risma, aku berharap diamnya dia ini bukan karena masalah liburan itu.
"Aku tidak apa-apa!" Lagi-lagi Risma melepaskan pelukanku. Heh, kalau tidak apa-apa kenapa dia diam saja seperti ini? Seperti tidak menganggap aku ada.
"Jangan bohong, Risma. Sebenarnya kamu kenapa?" tanyaku lagi. Aku masih sabar menghadapi dia.
"Aku tidak apa-apa, Mas Dimas. Lebih baik sekarang kamu makan, kamu pasti capek, kan? Habis liburan." Terdengar sedikit aneh, saat Risma mengucap kata 'liburan'
Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya perasaan aku saja, mana mungkin Risma marah hanya gara-gara masalah itu.
Sabar, Dimas. Mungkin mood Risma masih tidak baik, nanti juga akan membaik sendiri.
***
Malam harinya. Aku berharap agar mood Risma sudah membaik, dan semoga saja mau bicara denganku. Aku pun mengambil sesuatu, yang pasti akan membuat dia suka dan bahagia.
Walaupun Risma tidak ikut dalam liburan itu, aku tidak lupa untuk membelikan dia oleh-oleh. Aku masih sangat menyayangi Risma, walaupun dia tidak akur dengan keluargaku.
Aku mendekati Risma, yang tengah duduk di tepi ranjang. Kali ini aku kembali memeluknya, dan Risma pun kali ini hanya diam saja. "Mas ada oleh-oleh untuk kamu, Sayang," ujarku seraya mengecup pipinya sekilas. "Kamu pasti suka dengan oleh-oleh ini." Aku memberikan paper bag itu kepada Risma.
"Terima kasih." Hanya itu yang Risma ucapkan. Tidak ada binar bahagia sama sekali, saat aku memberikan oleh-oleh itu. Ini semua benar-benar luar dugaanku. Karena biasanya kalau Risma diberi hadiah, dia selalu tersenyum dan langsung memelukku dengan erat. Sangat jauh berbeda dengan sekarang ini, jangan membalas pelukanku senyum pun dia tidak.
"Kamu kenapa sih sebenarnya?" tanyaku seraya melepaskan pelukan terhadapnya. Kesabaranku sudah mulai habis, aku tidak suka melihat Risma hanya diam seperti ini.
"Aku tidak apa-apa." Lagi-lagi hanya itu yang bisa dia jawab.
"Kalau tidak apa-apa, tidak mungkin kamu diam saja. Kalau ada masalah itu cerita, jangan diam saja seperti ini. Kalau kamu diam, Mas mana tau kamu kenapa."
Kali ini Risma mulai menatapku. "Kamu pikir aja sendiri, Mas."
Aku mengerutkan kening. Pikir apa? Kesalahan apa yang aku lakukan dengan dia? Apa iya, gara-gara liburan itu?
"Mas salah apa sih sama kamu? Sedari tadi siang, saat Mas pulang kamu hanya diam. Mas merasa seperti tidak dianggap oleh kamu, Risma." Karena sikap Risma yang berubah diam seperti ini, membuat aku juga bingung harus melakukan apa.
Lagi-lagi aku bertanya apa salahku?
Risma terdengar menghela napasnya. "Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Apakah kamu menganggap aku sebagai istri?"
Aku langsung mengangguk. "Tentu saja!"
Risma malah memalingkan wajahnya. "Kalau kamu menganggap aku sebagai istri, kamu tidak mungkin meninggalkan aku liburan. Kamu tidak mungkin menyalahkan aku, atas segala perbuatan yang sama sekali tidak aku perbuat. Kamu tidak mungkin menyalahkan aku, dan lebih membela keluarga kamu."
Kali ini aku yang terdiam, setelah mendengar yang dikatakan oleh Risma.
Jadi, benar, kalau Risma diam karena liburan itu? Dia marah dengan aku, karena beranggapan tidak menganggap dia ada.
Tapi, kan, kata keluargaku semua itu salah Risma. Namun, kata Risma dia tidak salah apa-apa. Jadi, siapa yang benar sebenarnya di sini?
Bersambung.