Tiba di apartemen—Saba sudah disambut Rei yang menunggunya di lobi. Pemuda itu dengan tampang kusut menghampiri Saba yang justru memperlihatkan ekspresi sebaliknya. “Dari mana aja sih lo? Gue udah nunggu 2 jam! Mana gue teleponin nggak diangkat!” “Kenapa nggak masuk?” Rei mengikuti langkah Saba memasuki lift. Ekspresi kusutnya masih setia bersarang di wajah tampan pemuda itu. “Kenapa lo bilang? Lo yang ganti password apartemen gue kan?!” Saba terdiam sesaat, namun setelahnya balasan yang pemuda itu keluarkan hanya membuat Rei merasa di bully oleh sepupunya sendiri, terlebih Saba selalu melakukannya tanpa ekspresi, tanpa menunjukan penyesalannya sedikitpun. “Ah, gue lupa nggak ngasih tahu lo.” Kalau boleh, rasanya Rei ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding lift. Diulangi, kepa

