Seminggu ini Ken benar-benar mengurungku. Dia sama sekali tidak mengizinkanku keluar rumah. Alasannya cukup masuk akal, berita di luar masih teramat ramai. Bisa dibilang wartawan dalam mode siaga satu untuk bisa menemukan penghuni kamar 1705 yang sangat terkenal itu. Untung saja pihak apartemen memilih tutup mulut. Mereka sangat menjaga privasi pemilik unit. Selain demi alasan keamanan, tentu saja berita yang santer merebak akan membuat citra apartemen menjadi jelek. Walau mungkin tak semua orang peduli akan hal itu. Pagi tadi Kak Saga menelponku. Dia bertanya apakah aku sudah menerima email dari perusahaan? Besok pagi aku diharapkan hadir untuk wawancara kerja. Mereka membutuhkan beberapa personil untuk mengisi tempat kosong yang tersedia. Menurut Kak Saga, aku bisa bergabung dalam depar

