Berkali-kali pun aku berusaha menghubungi Kia, jawaban di seberang tidak berubah. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Seperti kaset yang diulang berulang, tapi aku tak jemu untuk terus mencoba. Kia raib. Dia sudah mengingatkanku akan susah dihubungi. Hanya saja hal semacam ini tidak pernah mampir di benakku. Sebenarnya kami ini benaran teman, bukan, sih? Kenapa aku tidak tahu apa-apa mengenai hidupnya? Kami sudah berteman semenjak hari pertama kuliah, itu sudah empat tahunan berarti. Kenapa aku tidak sepeduli itu pada temanku? Aku merasa tak pantas menyebut diri sebagai seorang teman untuk Kiara. “Dia bukan anak kecil. Dia tahu konsekuensi dari keputusannya.” Ken mengusap puncak kepalaku. Sejak tadi aku melesakkan diri di sudut sofa. Ken duduk di sampingku untuk menemani. Kalau begin

