Itik Buruk Rupa

1592 Kata
Almari besar yang memenuhi dinding hingga ke langit-langit kamar masih menyisakan banyak space walau aku sudah memasukkan semua barangku di sana. Tentu saja, barangku hanya sedikit. Apalagi saat aku memuntuskan untuk menatanya ala Kon Marie, lipatan-lipatan kecil pada laci-laci yang tersedia membuat banyak ambalan serta tempat untuk menggantung baju benar-benar kosong. Ken menyandarkan punggungnya pada bingkai pintu sambil terus mengawasi apa yang kulakukan. Dari tempatku berdiri, dia sudah seperti seorang model. Kedua tangannya tersimpan di saku celana. Salah satu kakinya ditekuk, sehingga membentuk kemiringan sekian derajat. Sesekali keningnya berkerut saat aku menoleh padanya. “Hanya itu?” Entah pertanyaan ini sudah dia ulangi berapa kali. Ken berjalan mendekat padaku saat semua isi koper telah berpindah tempat. Dia menyimpan koper tersebut ke ambalan almari yang lebih tinggi. Jika aku yang melakukannya akan butuh bantuan kursi. Ken memandangku lagi. “Ini sudah lebih dari cukup.” Ken memandang isi almari yang masih terbuka tersebut. “Kamu tidak punya gaun?” Aku menggeleng. Aku tidak butuh gaun, untuk apa? “Malam itu?” Aku langsung menutup pintu di depanku. Kenapa Ken harus mengingat malam itu. Gaun merah agak terbuka yang kukenakan itu milik Kiara. Kiara yang punya ide mendandaniku karena aku terlihat menyedihkan. Mau bagaimana lagi, pulang dari tempat Ronald yang kulakukan hanya menangis. “Punya Kia.” Ken mengangguk, dia tidak begitu kaget. “Baju untuk wisuda? Untuk bekerja? Tas? Sepatu? Kamu tidak punya semua.” Dia sangat mengenal kebutuhan perempuan. Tentu saja. Pasti pengalamannya dengan perempuan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya sangat mahir di atas ranjang. Kenapa dengan otakmu, Mara? Kenapa kamu begitu mudah menyebutnya mahir? Aku menggeleng pelan, saat bayangan Ronald tiba-tiba memenuhi kepalaku. Mengenai apa yang sudah kami lakukan selama ini. Hanya sekali dengan Ken dan aku membandingkan mereka berdua. Gila. Aku benaran sudah gila. “Kita belanja sekarang.” Mata Ken menyipit sebelum menarik lenganku yang terpaku untuk beberapa saat. “Sekarang?” Aku segera mengerem kaki sehingga Ken berhenti. “Ya, kamu butuh semua yang kusebutkan tadi.” “Aku belum keterima kerja. Pemborosan kalau harus membeli semua itu. Lagipula NCL akan memberiku seragam. Aku tidak butuh baju. Aku sudah punya sepatu.” Aku memandang sepasang sepatuku yang tergeletak di bawah meja. Sepasang yang lain berada di rak dekat pintu masuk rumah, karena aku memakainya tadi. “Seragam?” “Ya, seragam kerja.” “Memang kamu kerja di bagian apa?” Kening Ken berkerut. “Gudang.” Ken melotot. Dia memandangku dari atas sampai bawah. “Produksi? Dengan tubuh semungil ini?” Aku melepaskan lengan Ken. “Enak saja mungil. Kamu saja yang terlalu tinggi. Aku punya semua yang dibutuhkann untuk bekerja, itu juga kalau keterima, jadi lupakan soal belanja.” Siapa yang nggak suka belanja? Hanya saja untuk apa membeli sesuatu yang takkan aku gunakan nanti. Uangku tidak seberapa untuk dihambur-hamburkan begitu saja. Menggunakan uang Ken itu sama saja menambah daftar utangku padanya. Maaf, aku tidak mau menimbun banyak utang padanya. Yang dia berikan selama ini sudah lebih dari cukup. “Kebaya untuk wisuda, kamu sudah punya?” Suara Ken melunak. Belum. Rencananya, kami berempat akan membeli kebaya yang sama. Aku, Kiara, Eka, dan Davi memiliki postur tubuh hampir sama, dengan warna kulit yang bisa dibilang senada. Tone warnanya tidak terlalu njomplang. Perbedaan tinggi kami sekitaran satu senti dua senti saja. Untuk itu kami sudah menentukan warna apa yang akan kami beli nanti, sebelum membawanya ke tukang jahit. Jangan harap kami akan hunting baju ke butik, kami belum menghasilkan uang sebanyak itu hingga bisa memasang tarif mahal untuk busana. Lagipula kebaya tersebut akan tertutupi oleh toga. Tidak terlalu terlihat. “Temani aku belanja kalau begitu.” Ken meraih lenganku lagi. Sepertinya dia tidak suka dibantah. *** Kami sudah memutari area mal bagian atas. Tempat store baju-baju dengan brand luar negeri yang membuatku tidak ingin melihat harganya. Aku memilih duduk sambil menunggu Ken yang beberapa kali masuk ruang ganti untuk menjajal kemeja atau setelan yang dia inginkan. Semuanya bagus. Harga memang berbanding lurus dengan kualitas suatu produk. Bukan itu saja, semua baju kalau melekat di tubuh Ken memang terlihat bagus. Walau hanya kaus oblong polos tanpa aksen apa-apa. Setidaknya ada lima toko yang kami kunjungi hingga tangan Ken penuh dengan paper bag. Kami turun dan memutuskan makan di salah satu gerai cepat saji yang lumayan ramai. Ini akhir pekan. Bertepatan dengan Sabtu malam. Waktunya anak muda keluar dari kandang. Mereka akan menghabiskan malam panjang ini bersama pasangan. Jalan-jalan salah satunya. Tidak heran kalau hampir semua gerai makan hanya menyisakan sedikit tempat duduk. Malam baru saja dimulai. “Kapan kamu wisuda?” Ken menggulung spageti dengan garpu sebelum memasukkan ke mulut. Sepasang matanya lurus padaku. Sama sekali tidak peduli dengan banyak mata yang mengawasinya. Ken yang memakai baju santai saja sudah cukup untuk mengundang perhatian, apalagi ditambah dengan beberapa tas belanjaan yang dia simpan di meja. Tidak tanggung-tanggung, merk dagang pada tas-tas itu cukup membuat orang lain paham, berapa rupiah yang telah Ken keluarkan. Tidak hanya cakep, dia juga berkantung tebal. Persepsi itu tentu saja sudah mampir di benak mereka. Siapa yang tidak ingin mendekat padanya? Aku seperti itik buruk rupa sekarang. Pantas saja Ken memaksaku mencoba beberapa baju tadi. Dia bilang itu sebagai hadiah karena aku membantunya memilih. Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya bilang bagus. Karena memang semua baju yang dia coba itu bagus di badannya. “Dua bulan lagi. Aku harap sudah bekerja saat itu.” Aku mencomot spicy chicken wing dengan tangan. Merepotkan kalau harus menggunakan garpu. Ken terkekeh melihat jemariku yang mulai belepotan saus. “Kenapa? Sudah tidak punya uang?” Aku menelan suwiran ayam pelan-pelan. Untung saja pertanyaan Ken tidak membuatku tersedak. “Ayahku pasti kemari, lalu aku mau bilang apa tentang ....” Aku menoleh kanan-kiri, Ken melakukan hal yang sama. Aku rasa dia bingung, melihat apa yang kulakukan. Suaraku semakin pelan. Entah kenapa tempat seramai ini rasanya sangat hening. “Tempat tinggalku. Dia bisa membunuhku, tau.” Ken tersenyum. Dia mengangguk-angguk. “Kok aku merasa berdosa sekali sekarang.” “Soal?” Aku menggigit tulang lunak pada sayap atas yang dagingnya lebih tebal. “Meniduri anak orang.” Ken berbisik. Dia memajukan wajahnya sedikit. Aku terbatuk. Ken terkekeh. Dia langsung mengangsurkan botol air mineral yang sudah dia buka. Dengan tangannya dia menyodorkan moncong botol ke bibirku. Mengingat dua tanganku yang celemotan, hal tersebut menjadi wajar. Namun, apa yang dia katakan barusan membuat batukku semakin menjadi. Ken beranjak dari tempat duduknya. Dia mengusap punggunggu perlahan. Apa yang dia lakukan tentu saja menjadi magnet yang menarik semua mata untuk menoleh. Beberapa orang bahkan tidak ragu mengukir senyum. Andai mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak semanis yang terlihat, wahai pemirsa. “Sudah?” Aku mengangguk. Ken kembali ke kursinya lagi. Dia masih mengulum senyum sambil menatapku. “Kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal itu, kan?” Ken mengangguk. “Sorry, reflek aja tadi.” Dia masih tersenyum. “Tidak lucu.” Ken terkekeh. Kali ini lebih keras. Baginya hal tersebut memang menyenangkan mungkin, meledekku mengenai apa yang terjadi malam itu. “Jadi, urutannya, dapat pekerjaan, lalu pindah sebelum wisuda?” Ken manggut-manggut. “Aku tetap akan mencari tempat sebelum kerja juga.” Alis mata Ken naik. “Kenapa begitu?” “Tidak mungkin juga aku tinggal di tempatmu terus. Akses ke tempat tinggalmu lumayan sulit. Aku harus naik taksi. Itu pemborosan.” “Aku bisa memberimu tumpangan.” Aku mengembuskan napas. “Apa yang akan orang lain pikirkan saat aku turun dari mobil mewahmu itu?” “Berhenti memikirkan pendapat orang lain.” Iya, kamu, enak bilang begitu. Kamu tidak rugi apa-apa. Bagaimana dengan nasibku ke depannya? Apa Ken tidak tahu bahwa mulut manusia itu senjata penghancur mental paling dahsyat? Aku tidak mau menghadapi hari-hari menakutkan seperti itu lagi. Aku tidak mungkin bisa baik-baik saja kalau harus mengulanginya sekarang. “Padahal aku ingin menghadiri acara wisudamu.” Ken mengembuskan napas dan menggulung spagetinya kembali. Kali ini lebih besar. “Lalu, aku harus bilang apa pada orang tuaku?” “Teman.” Aku terkekeh. “Tidak ada seorang teman yang menghadiri wisuda temannya, jika mereka tidak cukup akrab.” “Apa kita belum cukup akrab?” Kepala Ken meneleng. Aku mendengkus. Otakku langsung kembali ke malam itu. Kenapa ukurannya harus malam itu, sih? “Ngomong-ngomong, kamar Kiara itu nomor 1705, bukan? Gedung dua, kan?” Ken melirik layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Mungkin ada pesan masuk. Dia tidak menghentikan kegiatannya untuk makan. Benda pipih 6,5 inci itu kembali padam. Tergeletak begitu saja di meja. Laki-laki memang cenderung mengabaikan ponselnya jika dia tidak begitu butuh. Aku tidak ingat pernah menyebutkan nomor kamar Kia. Apa sudah, ya? Apa saat aku meminta Ken mengantarku ke sana malam itu? Saat hari pertama aku memasuki rumahnya. Apa aku memang menyebutkan nomor kamarnya? “Kenapa?” “Iya apa nggak?” Aku mengangguk. Ken justru mengembuskan napas lelah. “Dia sudah pindah dari sana?” Aku mengangguk. Kalau Kia masih di sana, aku takkan jadi gelandangan dan kembali ke rumah Ken. Kia pasti menampungku untuk sementara sampai aku mendapatkan tempat tinggal. “Coba lihat portal berita online. Sepertinya Kiara dapat masalah.” Ken berkata santai. Seolah hal tersebut tidak membuatku gugup. Masalah apa? Kenapa Kiara harus masuk ke laman berita online? Ada apa dengannya? Aku memandang kedua tangan. Ken menyodorkan ponselnya ke depanku. Memutar posisi sehingga aku bisa membaca apa yang tertera di sana. Berita itu cukup membuatku terpaku. Judulnya yang menggunakan huruf kapital tersebut membuat jantungku melorot hingga ke perut. Pintu kamar Kia dan beberapa orang di sana menjadi gambar yang cukup menjelaskan apa yang terjadi. Kia, kenapa kamu senekat ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN