NCL Group

1700 Kata
Ken benar-benar mengantarku ke rumah. Tidak sampai rumah, sih. Aku turun tepat di depan gerbang perumahan. Hal itu tentu saja menarik perhatian satpam yang tempo hari menawariku tumpangan untuk menuju rumah Kiara. Laki-laki awal empat puluhan itu memandang mobil Ken yang meluncur pergi. Mobil mewah yang terlihat mengkilap itu memang akan menimbulkan tanya karena menurunkan seorang gadis. Untung saja semua kacanya gelap, sehingga orang luar tak tahu siapa yang berada di dalam. “Teman saya yang sakit perut tempo hari, Pak.” Entah kenapa aku merasa perlu menjelaskan ini pada satpam tersebut. Laki-laki itu langsung menoleh padaku dan menyunggingkan senyum. “Oh. Nggak diantar sampai dalam, Mbak?” tanyanya dengan kerut di kening. Indonesia dan kekepoannya. Seolah semua hal memang harus dilaporkan pada orang lain. Mereka tidak mengenal yang namanya privasi. “Dia sedang buru-buru, Pak. Saya permisi.” Satpam itu mengangguk. Aku harus segera pergi sebelum mengatakan kebohongan lain. Semakin hari semakin lincah lidahku untuk merangkai kata-kata. Kebohongan yang sudah mendarah daging. Sangat menakutkan. Jalan menuju rumah Kak Saga lumayan ramai pada akhir pekan seperti ini. Banyak ibu-ibu komplek yang menunggui anaknya bermain. Beberapa kali aku harus melempar senyum dan mengangguk. Aku tidak pandai berbasa-basi, bertanya kabar, atau hal lainnya yang memungkinkan kami untuk berbincang. Lagipula aku hanya mengenal wajah mereka tanpa tahu nama. Seperti biasa, pintu rumah Kak Saga akan tertutup rapat. Tidak peduli ada orang atau tidak di dalamnya. Halaman cukup luas di samping carport hanya berisi rumput gajah mini tanpa tanaman lain layaknya halaman rumah tetangga. Kak Sarah tidak punya waktu untuk mempercantik halaman rumahnya dengan tanaman hias yang belakangan ini marak diburu oleh ibu-ibu. Harga tanaman itu menyaingi harga perhiasan. Sudah menjadi semacam prestise saat memiliki beberapa jenis yang disebut langka. Aku membuka pintu setelah menekan angka-angka pada smart door lock yang ternyata masih sama. Aku kira akan diubah oleh Kak Sarah. Beruntung aku tidak perlu menghubungi kakak iparku supaya bisa masuk rumah. Suasana rumah lengang. Sepertinya Kak Sarah tidak berada di rumah. Apa dia bekerja di akhir pekan seperti ini? Bisa jadi. Aku langsung menuju kamarku yang bentuknya masih sama seperti terakhir kali aku tinggalkan malam itu. Koper ukuran besar aku turunkan dari atas almari. Bajuku yang tidak seberapa banyak itu aku susun rapi layaknya spark joy yang dipopulerkan oleh Marie Kondo. Sehingga masih menyisakan space cukup lebar untuk barang lainnya. Seperti yang kubilang pada Ken, barangku tidak banyak. Bajuku modelnya hanya begitu saja. Sepatu pun aku hanya punya dua pasang. Buku-bukuku sudah lama pindah ke tempat sampah, karena aku tidak mau menyimpan sesuatu yang takkan digunakan lagi. Mengikuti gaya hidup Marie Kondo membuat hidupku lebih praktis. Memudahkanku saat memutuskan untuk pindah seperti ini. Semuanya sudah rapi saat Kak Sarah tiba-tiba muncul di ambang pintu. Aku memang tidak menutup pintu saat membereskan kamar. Kak Sarah memandang koper yang terbuka dan penuh isinya. Lalu, pandangannya beralih padaku yang sedang mengganti seprei. Rencananya aku akan mencuci seprei tersebut sebelum pergi. “Kak, bisa bicara sebentar.” Kak Sarah tidak berkata apa-apa. Sebenci itukah dia padaku? Dia berjalan meninggalkan pintu kamar. Aku segera mengikutinya yang ternyata duduk di ruang tengah, ditemani salah seorang adiknya yang menatapku sinis. Oke, Mara. Pamit dan pergi. Hanya itu yang perlu kamu lakukan. Aku duduk di sisi lain, karena sofa Kak Sarah menghadap bufet teve. “Kak, aku akan pindah. Aku sudah bilang sama Kak Saga.” Kak Sarah masih diam, tapi aku mendengar desisan dari adik kakak iparku tersebut. Dia terlihat siap menggigitku jika saja mungkin. Hubungan kami selama ini sebagai sesama adik ipar hanya sebatas saling tatap jika bertemu. Tak lebih dari itu. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Tidak pernah dikenalkan juga oleh kakakku. “Terima kasih untuk tumpangannya selama ini.” Aku rasa itu sudah cukup. Jika meminta uang sewa, aku akan mengatakannya pada Ayah. Ayah yang membawaku ke rumah ini, alih-alih tempat kos seperti yang dilakukan orang tua Davi. Ayah cukup mampu untuk membiayai hidupku seperti orang tua Davi. Alasan Ayah menitipkanku di sini lebih kepada supaya aku dekat dengan kakakku, atau ada yang mengawasi. Ayah salah tempat. Di antara dua orang itu tak ada yang benar-benar sadar akan kehadiranku selama ini. “Kamu sudah bertemu dengan kakakmu?” Suara Kak Sarah membuatku urung bangun dari kursi. Aku kembali duduk dan menghadap padanya yang kini memandangku. Tidak ada kemarahan di sana. Tatapan sengitnya malam itu sudah luntur. Dia hanya seorang wanita yang terlihat rapuh. “Ya, aku memasukkan lamaran ke perusahaan tempat Kak Saga bekerja.” Kak Sarah terlihat kaget. “Kerja?” Dia bergumam. Apa dikiranya aku belum lulus? Ah, ya, dia tidak sepeduli itu akan hidupku. “Aku sudah tamat kuliah jika Kak Sarah ingin tahu. Mungkin Ayah akan datang saat wisuda nanti. Apa pun masalah Kakak dengan Kak Saga, kalau ingin keluarga di Kalimantan tidak tahu, aku rasa Kakak tahu apa yang harus dilakukan.” Kalimat panjang pertama yang berhasil aku katakan pada kakak iparku. “Kamu akan pindah ke mana? Bagaimana kalau Ayah bertanya?” Ternyata dia masih menaruh hormat pada ayah mertuanya. Kupikir dia tidak pernah peduli selama ini. Aku menghela napas. Ingin rasanya aku berkata, itu urusanmu. Aku rasa Ayah takkan diam saja kalau sampai tahu aku dianggap tidak pernah ada oleh iparku ini. Namun, untuk apa? Bisa semakin runyam drama rumah tangga mereka. “Aku sudah tamat dan akan bekerja. Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Walau selama ini juga sama saja.” Wajah Kak Sarah memerah, adiknya juga langsung buang muka. Mereka pasti tahu apa maksudku. Kenapa? Tidak terima? “Kakakmu tidak mengatakan apa-apa?” Suara Kak Sarah terdengar putus asa. “Kakak tidak menghubunginya?” Bukankah dia yang mengusir kakakku? Seharusnya dia yang menghubungi suaminya jika memang butuh. Kak Sarah terlihat salah tingkah. Jelas hubungan mereka belum membaik. Walau Kak Sarah ingin Kak Saga pulang kembali, tapi dia masih menyimpan gengsi untuk mengakui itu. Mau sampai kapan hal ini terjadi? “Maaf, Kak. Aku tidak mau ikut campur urusan rumah tangga Kakak. Selama ini aku diam saja pun mendapatkan imbasnya. Kak Sarah selalu marah padaku setiap bertengkar dengan Kak Saga.” Rasanya lega bisa mengungkapkan semua ini. Iparku itu diam saja. Wajahnya sudah merah padam. “Aku harap kalian bisa menyelesaikan apa pun itu. Jangan sampai Ibu mendengar ini. Aku tidak akan diam saja kalau sampai Ibu kenapa-kenapa.” Aku menatap mata Kak Sarah secara langsung. Aku tidak peduli jika dia sampai mengeluarkan kata-kata kasar untuk mengusirku. Di luar dugaan. Kak Sarah memilih bungkam. Justru adiknya yang bereaksi. Namun, tangan Kak Sarah langsung menekan paha adiknya yang hendak beranjak tersebut. “Jika tidak ada yang ingin Kak Sarah sampaikan, aku pamit.” “Kamu tinggal di mana?” “Rumah Kiara.” Kak Sarah mengangguk. “Biarkan saja sepreinya, nanti Kakak yang bereskan. Maafkan Kakak, Mara.” Dia menunduk dan menyusut sudut mata. Aku yang hampir berdiri sekali lagi duduk. Tidak tega sebenarnya melihat kakak iparku seperti ini. Kak Sarah tidak pernah mengatakan apa-apa selama ini. Sesuatu yang bisa membuatku tersinggung. Dia cenderung memilih diam dan menghindar saat marah. Seperti malam itu. Hanya tatapannya saja yang mewakili apa yang dia rasakan padaku. Dia seperti hendak mengoyakku dengan matanya. “Mara juga minta maaf jika selama ini sudah menyusahkan Kak Sarah.” Ini sudah seperti lebaran. Kami saling bermaaf-maafan pada hari itu, lewat saluran telepon tentu saja. Karena kadang aku pulang ke Balikpapan sedangkan Kak Saga dapat jatah cutinya setelah lebaran. Dia akan pulang bulan berikutnya. Itu pun hanya sebentar. Untuk mengobati rasa kangen Ibu. “Kamu sama sekali tidak menyusahkan. Kakak saja yang sering membebanimu dengan kesalahan kakakmu.” Jadi, Kak Saga yang salah. Oke, perempuan memang selalu benar. “Benaran kakakmu tidak mengatakan apa-apa?” Tatapan Kak Sarah sudah sangat putus asa. Kenapa harus gengsi menghubungi suami sendiri, sih? Aku menggeleng. Mengatakan Kak Saga memberiku sejumlah uang bisa jadi masalah besar. Walau jarang-jarang juga kakakku melakukan itu. Kak Sarah manggut-manggut. Dia benar-benar sudah menyerah. Semudah itu? Ya, sama mudahnya seperti saat aku bilang putus pada Ronald, lalu menangis berhari-hari setelahnya. Kalau diingat-ingat, aku tidak yakin telah menangisi Ronald, aku sedang menangisi kebodohanku yang tidur dengan laki-laki asing, tapi aku menikmati itu. Damn it! * Ken sudah menungguku di depan gerbang. Dia tidak turun. Bagasi langsung terbuka saat aku telah berdiri di belakang mobilnya. Dengan mudah aku menyimpan koper pada area yang kosong dan memastikan kap mobil menutup kembali sebelum aku berjalan ke depan. Aku sudah mewanti-wanti Ken supaya tidak turun. Penampilannya bisa menimbulkan banyak spekulasi bagi orang-orang yang melihat. Meskipun dia hanya mengenakan kaus lengan pendek dan celana jeans, tetap saja, dia seperti seorang model yang hendak melakukan pemotretan. Aku tidak tahu, kenapa dia pantas mengenakan apa saja. Apalagi kalau tidak memakai apa-apa, eh. “Sudah semua?” Ken menoleh saat aku duduk di sampingnya. Aku hanya mengangguk sambil memasang seatbelt. Mobil melaju bersama kendaraan lain yang tidak terlalu padat. Jarak rumah kami memang tidak terlalu jauh. “Makan?” Ken menoleh lagi. Aku mengangguk. Perutku mendadak lapar setelah melakukan perbincangan cukup emosional dengan iparku tersebut. Dia sama sekali tidak mencegahku pergi. Sepertinya sudah lama menunggu momen ini. Yang ada di pikirkanya hanya Kak Saga. Ah, tentu saja. Kenapa aku harus cemburu? Kalau dia masih butuh suami, seharusnya tidak melakukan hal konyol semacam ini. “Kamu terlihat tidak baik-baik saja.” Aku menoleh pada Ken yang menatapku dalam. “Aku hanya sedang lapar.” Ken tersenyum. dia kembali fokus ke depan. “Belum ada kabar dari kakakmu?” “Mengenai?” “Pekerjaan.” Ah, ya, dia menawariku bekerja di perusahaan tempat dia bekerja selama ini. Perusahaan yang tidak memberi waktu karyawannya untuk libur. Eh, tapi hari ini Ken libur. Tumben. Minggu kemarin dia masuk Sabtu-Minggu. Apa kuota produksi yang dia ceritakan tempo hari sudah terpenuhi? “Belum. Mungkin aku harus mulai memasukkan lamaran ke perusahaan lain. Sayangnya ijazahku belum keluar.” “Kakakmu kerja di mana memangnya?” Aku tersenyum. Walaupun sering bikin istrinya menangis, Kak Saga bekerja di perusahaan besar dan menjadi seorang manager. Kariernya lumayan cepat, karena dia orang yang cukup cerdas. Terbukti dari riwayat pendidikannya yang jebolan PTN bergengsi di negeri ini. Sayangnya, hal tersebut tak selaras dengan kehidupan rumah tangganya. “NCL Group.” Ken langsung menoleh. Dia terlihat kaget. Pasti dia tidak mengira kalau aku pernah magang di perusahaan bergengsi tersebut. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN