Kamu Sangat Beruntung

1406 Kata
Pada akhirnya aku kembali ke tempat ini. Kamar cukup luas dengan fasilitas lengkap serta kamar mandi di dalam. Kalau aku harus mengeluarkan uang untuk tinggal di sini, seperti harga yang mereka patok pada kamar kos-kosan, aku rasa uangku takkan tersisa sama sekali. Lalu, sekarang aku mendapatkannya dengan gratis. Setelah bekerja nanti, aku pastikan akan langsung pindah. Kalau bisa sebelum Ayah sampai ke Jakarta. Ayah bisa membunuhku kalau tahu aku tinggal di rumah orang asing. Kamar ini memiliki jendela besar tanpa balkon. Pemandangan langit menjadi fokus utama saat aku membuka tirai yang sampai ke lantai. Mungkin untuk alasan keamanan, makanya tidak ada balkon di sini. Mengingat lokasinya yang berada di puncak sebuah gedung. d******i warna yang digunakan untuk dekorasi masih sama seperti di lantai bawah. Warna monokrom yang terkesan dingin dan maskulin, sama seperti pemiliknya. Setidaknya itu kesan pertama yang kutangkap dari seorang Keanu sebelum aku mengenalnya lebih lanjut. Sebuah bed ukuran queen dengan ranjang model tamtami menjadi point of center saat masuk kamar. Setiap sisi ranjang terdapat laci untuk menyimpan baju atau peralatan lain. Pada dinding yang membelakangi kamar mandi terdapat almari cukup besar beserta meja rias. Hanya sebuah kaca persegi yang ditempel pada dinding dengan meja konsol tanpa kursi sebenarnya. Belum bisa disebut meja rias. Namun, bagiku itu sudah cukup. Sedangkan sisi lain, yang bersisihan dengan pintu masuk, terdapat meja kerja dengan kursi yang dilengkapi lampu baca. Meskipun tidak digunakan, Ken mengisi ruangan ini seolah berpenghuni. Aku meraih ponsel di atas nakas. Masih pukul tiga lebih lima belas menit. Seperti biasa, aku terbangun dan kehilangan selera untuk kembali tidur. Semua kantukku lenyap seketika. Menguap layaknya sekawanan air yang terpapar sinar matahari. Mataku langsung terang, dan beradaptasi dengan gelap yang mendominasi kamar. Dulu, aku menggunakan waktu seperti ini untuk belajar. Karena aku tidak berani membuat kegaduhan di rumah kakakku dengan berkreasi di dapur. Sekarang, aku hanya bisa melamun sambil memikirkan langkah apa yang harus kuambil setelah ini? Bagaimana kalau aku tidak diterima bekerja di tempat Kak Saga? Menjadi karyawan dengan magang itu dua hal yang berbeda. Karena tidak mungkin kembali tidur, aku memilih untuk mandi air hangat dan turun ke bawah. Membuat sarapan memang masih terlalu kepagian, aku bisa melakukan pekerjaan lain seperti membersihkan rumah misalnya, atau membaca koleksi buku Ken yang berada di ruang tengah. Ruangan dengan televisi yang hampir tidak pernah menyala itu memiliki dua rak cukup besar yang berisi banyak buku. Aku hanya melihatnya sekilas. Koleksi buku Ken kebanyakan tentang dunia bisnis. “Mau masak?” Aku yang sedang berdiri di depan rak buku langsung berjengkit. Ken sudah berdiri di belakangku. Aku tidak mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia seperti hantu yang tau-tau muncul tanpa tanda apa-apa. Apa mungkin karena aku yang terlalu fokus membaca deretan judul buku dan belum memutuskan untuk mengambil salah satunya? “Mau pergi?” Ken mengenakan sepatu olahraga dan memegang handuk kecil. Ini baru pukul empat pagi. Apakah dia akan lari sepagi ini? Pasti masih sangat sepi. Walaupun Jakarta tidak pernah mati, tapi ini jamnya maling dan rampok pulang beroperasi. Terlalu berbahaya, nggak, sih? “Di bawah ada tempat untuk gym, kamu boleh ikut jika mau.” Aku berkedip. Olahraga, ya? Kenapa aku langsung membenci ide tersebut. Aku tidak pernah olahraga, kecuali terpaksa karena memang harus mengikuti itu di sekolah. Selebihnya tidak pernah. Mungkin karena aku tidak memiliki kelebihan berat badan yang sering dikeluhkan oleh cewek lain. “Dengan olahraga kamu akan semakin lincah.” Ken berbisik dan mengedipkan satu matanya. Dia terkekeh saat aku hanya diam. Aku belum mencerna apa yang dia maksud sampai dia keluar dari rumah. Lincah? Sial. Apa yang dia pikirkan dengan kata lincah? Kenapa pikiranku langsung tertuju ke sana? Aku yang duduk di atas kedua pahanya. Double s**t! Aku memandang kaki jenjangku yang tidak terbalut apa-apa. Aku hanya mengenakan kemeja Ken. Kemarin aku sudah mengirim semua baju yang kupakai, bajuku dan baju Ken, ke tempat laundry. Kemeja ini kutemukan di belakang. Belum disetrika. *** Ken kembali saat aku telah selesai membuat segelas smoothies. Rambutnya sedikit basah, dengan handuk menggantung di kedua bahu. Penampilannya yang seperti ini membuat otakku kembali traveling. Oh, God, Samara. Bukan Ken yang berbahaya di sini, tapi isi kepalamu sendiri.  Dia terkekeh sambil memandangku dari atas sampai bawah. Aku sudah mengenakan celana jeans yang telah aku pakai semalam. Dengan atasan kemeja yang sama. Kaus dan sweaterku langsung masuk mesin cuci begitu aku mandi. Rencananya pagi ini aku akan ke rumah dan mengambil beberapa baju lagi. Sekalian pamit pada Kak Sarah. Semoga dia tidak lembur. “Mau pergi?” Ken meraih gelas dan mengisi air dingin dari dispenser. Dia duduk di bangku bar tepat di depan kitchen island tempatku berdiri sekarang. Kami berhadapan. “Membereskan semua barangku.” Kami sudah membahasnya semalam. Aku akan pindah kemari sampai aku mampu untuk pindah. Atau sampai aku menemukan tempat yang harganya pas di kantong serta sesuai dengan kebutuhkanku. “Perlu bantuan?” “Memangnya kamu nggak kerja?” Aku mulai menyesap isi gelas yang dominan dengan warna hijau. Potongan nanas, kale, apel, dan seledri bercampur di sana, ditambah beberapa sendok yogurt dan perasan lemon. Sebenarnya aku ingin membuat nasi goreng, sayangnya kami tidak punya nasi. Aku tidak masak semalam. Kami makan malam dengan menu pinggir jalan yang dibawa ke rumah. “Aku bisa mengantarmu.” “Lalu mereka akan bertanya macam-macam.” Aku menyimpan gelas yang baru berkurang seperempat isinya itu ke meja. Tidak bisa kubayangkan apa yang akan Kak Sarah pikirkan saat aku pulang diantar mercy dengan pengemudi yang usianya sebelas dua belas dengan Kak Saga. Tahun ini Kak Saga akan merayakan ulang tahunnya yang ke-30. Menurutku Ken berada di akhir dua puluhan. Bisa dua lapan atau dua sembilan. “Apa yang akan kamu katakan pada mereka?” Ken menatapku dalam. Binar matanya yang terkadang jenaka itu terlihat serius. Dia menggenggam gelas dengan kedua tangan. Otot-otot lengannya terlihat tegang. Berada di dalam rengkuhannya memang menyenangkan. Fiks, Mara. Kamu tidak pantas menjalani hidup jomlo. Otakmu selalu ke mana-mana. “Aku sudah bilang sama Kak Saga. Dia tidak keberatan. Kalau Kak Sarah, aku bahkan tidak tahu apa dia akan peduli. Baginya, aku tidak pernah ada.” Aku mengedikkan bahu. Mengenai kakak iparku, aku sudah lama menyerah. Ken mengangguk. Kalau tidak akan tinggal di sini, aku takkan membahas perihal keluargaku padanya. Lagipula yang kutahu tentang dia hanya sebatas bernama Keanu dan meminta dipanggil Ken. Itu saja. “Yakin tidak butuh bantuan?” “Barangku tidak banyak. Palingan hanya satu koper.” Koper yang kubawa dari Kalimantan itu cukup besar untuk menampung semuanya. Sehingga kamar itu akan bersih. Kak Sarah bisa menggunakkannya untuk orang lain. Salah satu adiknya bisa tinggal di sana saat aku pergi. Kening Ken berkerut. Matanya yang tidak terlalu lebar itu semakin sipit dan hampir membentuk satu garis. Sejak pertama melihatnya, aku menebak-nebak, dalam tubuhnya mengalir darah apa saja. Dia pasti memiliki ras campuran antara Asia Timur dan Eropa. “Memangnya kamu berharap apa? Aku punya koleksi sepatu berhak tinggi? Atau deretan tas branded? Aku takkan jadi gelandangan kalau punya semua itu.” Ken mengibaskan lengannya. “Hanya heran. Ternyata masih ada perempuan yang tidak butuh itu.” “Bukan karena tidak butuh, nggak ada uangnya untuk beli.” Aku menyesap isi gelasku kembali. “Mau belanja? Tidak usah diambil bajumu kalau memang tidak seberapa.” Aku tersedak. Leherku sakit. Ken menyodorkan gelas yang masih ada isinya tersebut. Aku langsung menenggaknya dengan rakus. Besok lagi aku akan membuat tekstur smoothies yang lebih lembut. “Kamu tahu, yang kamu lakukan itu sudah seperti punya piaraan. Dan itu aku. Bukan soal barangku yang sedikit, setidaknya aku harus menghargai tuan rumah, datang baik-baik, pergi juga harus baik-baik.” Aku mengusap leher. Di mana-mana tersedak itu tidak enak. Untung saja bukan makanan pedas. Begini saja mataku sudah berair. Aku segera menyusut sudut mata setelah menyimpan gelas kosong ke zink. Ken terpana, dia sampai mangap. “Kamu mau memangnya jadi piaraan?” “Aku pindah saja kalau begitu.” Ken tertawa. “Slow. Aku menawarimu belanja bukan karena menganggapmu piaraan. Kamu butuh baju buat kerja, kan? Sekalian. Kamu kasih masukan saat aku memilih setelan. Upahnya, kamu aku belanjain. Cukup adil, kan?” Aku membungkuk sehingga wajahku sejajar di depan wajah Ken yang masih tersenyum. “Aku seperti memiliki seorang sugar daddy.” Suaraku cukup lirih, dan terdengar dramatis di pagi yang belum terlalu terang ini. Ken justru memajukan wajahnya. Jarak kami hanya tinggal sepuluh senti kira-kira. Senyumnya semakin lebar. “Sugar daddy yang tampan dan masih muda. Kamu sangat beruntung.” *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN