Mengikuti saran Kia, akhirnya aku menemui Kak Saga. Aku memang harus bicara pada kakakku. Aku akan pamit pindah dari rumah sekaligus menanyakan perihal pekerjaan yang aku inginkan di perusahaan tempat dia mengabdi selama ini.
Kak Saga memintaku menunggu di kafe tidak jauh dari kantor. Aku tidak menyangka dia langsung membalas pesan chat yang kukirim dengan ragu-ragu. Kiara tersenyum senang mendapati kami berbalas pesan untuk beberapa saat. Dia mengantarku ke tempat ini sebelum kembali ke apartemennya yang katanya sudah laku dijual. Beberapa kali aku pernah nongkrong di tempat ini saat masih magang dulu. Bersama beberapa teman lain untuk menyusun laporan sebagai tugas dari kampus. Tempatnya asyik. Cocok bagi mereka yang hobi mengambil gambar lalu diposting ke media sosial. Hal yang sampai detik ini belum membuatku berminat untuk melakukannya.
Bagiku, menjadi sia-sia yang kulakukan selama ini. Bersembunyi dari orang-orang yang seolah mengawasiku. Memberi lampu sorot pada keberadaanku. Kalau tiba-tiba aku memosting semua kegiatan yang kulakukan, itu sama saja memberi mereka santapan besar. Mereka akan semakin memojokkanku dengan kata-kata yang tidak pantas untuk dibaca. Aku yang harus menjaga kewarasanku sendiri. Salah satunya dengan cara tidak memiliki akun media sosial.
Situasi kafe semakin ramai, karena ternyata waktunya jam pulang kantor bagi mereka yang tidak lembur hari ini. Lembur dan kuartal kedua langsung membuatku ingat pada perkataan Ken. Dia manusia paling sibuk yang takkan sempat mengunjungi kafe pada sore hari semacam ini. Pasti dia sedang bekerja keras sekarang. Tapi, apakah dia minum kopi? Di rumah Ken tidak ada mesin kopi, pun kopi instan yang bisa diseduh kapan saja.
“Sudah lama?” Kak Saga sudah duduk di depanku. Dia sibuk menggulung lengan bajunya. Dasinya sudah longgar. Wangi citrus menguar tak lama kemudian. Ini sudah waktunya pulang kantor, tapi kakakku masih seharum ini. Apa dia mandi parfum? Ngomomg-ngomong soal mandi, apa dia sudah pulang?
“Belum. Kakak sibuk, ya?” Aku tidak melihat dia membawa tas atau jas. Ah, ya, itu bisa saja di dalam mobil. Dia tidak perlu membawanya kemari.
“Lembur.” Dia memeriksa jam di pergelangan tangan. “Kakakmu baik?”
Dia belum pulang ternyata. “Aku tinggal bersama Kia selama Kakak pergi.”
Kak Saga terlihat kaget. Dia menghela napas berat. Dengan satu tangan dia menyugar rambut. Wajahnya terlihat letih. Pasti masalahnya belum selesai. Entah apa yang sudah dia perbuat hingga Kak Sarah semarah itu. Ini sudah satu minggu. Biasanya hanya butuh waktu dua hari dan semuanya beres. “Maafkan Kakak. Kamu jadi kena imbas.”
Aku mengangguk. “Bagaimana dengan lamaran Mara, Kak?” Aku sangat berharap ada kabar baik, sehingga tidak perlu mengirim CV ke tempat lain. Aku ingin sudah bekerja begitu Ayah datang kemari saat aku wisuda nanti. Dengan begitu Ayah tak punya alasan untuk membawaku pulang.
“Sedang dicarikan posisi yang pas. Kamu tidak mau istirahat dulu sampai wisuda? Main-main dulu saja, nanti kalau sudah kerja nggak ada waktu untuk main-main.” Kak Saga mengeluarkan dompet. Dia menarik beberapa lembar ratusan ribu dan diletakkan di meja. Aku tahu, itu biaya tutup mulut. Jangan sampai berita dia pergi dari rumah terdengar oleh Ibu. Sejak awal Kak Saga sudah mewanti-wantiku supaya aku tidak melaporkan apa pun yang terjadi di sini ke Kalimantan. Ibu hanya perlu mendengar kabar baik, anaknya baik-baik saja.
“Ayah bisa membawaku pulang saat wisuda nanti.” Aku mendengkus. Percakapan semacam ini tidak pernah kami lakukan sebelumnya. Sekarang aku merasa benar-benar memiliki seorang kakak.
Mengenai hubungan kami sebagai saudara, itu memang sedikit rumit. Jarak usia kami terpaut delapan tahun. Begitu tamat sekolah, Kak Saga langsung pindah ke Jakarta. Dia masuk ke PTN di ibukota. Aku ingat betul saat itu, walaupun masih SD, Ibu menangis, meminta Kak Saga untuk kuliah di Balikpapan saja. Sayangnya kakakku ini sangat keras kepala. Sejak saat itu Kak Saga tidak pernah kembali. Dia hanya berkunjung sesekali. Itu pun setelah Ibu menangis memintanya pulang atau ada kabar Ibu sakit. Selebihnya tidak pernah terpikir olehnya untuk mengunjungi tanah kelahiran. Sekarang aku pun akan melakukan hal yang sama.
“Kamu tidak ingin menjaga Ibu?” Tatapan Kak Saga berubah sendu. Bila bicara soal Ibu, kami berdua memang tidak bisa berbuat banyak selain menyesal karena tidak mungkin membawanya kemari. Andai Ibu tidak sekeras kepala itu untuk bertahan di rumahnya yang bagiku tak lebih dari neraka dunia, Ibu tidak harus menderita batin sehingga fisiknya semakin hari semakin lemah.
“Mara akan pindah. Boleh, kan, Kak?”
Kak Saga menghela napas. “Tinggal bersama Kiara?” Suaranya semakin pelan. Pasti masalah yang dia hadapi saat ini sangat berat. Lalu, tinggal di mana dia selama ini? Apa dia akan memberitahuku jika aku bertanya? Akan aneh. Selama ini jika dia pergi dari rumah aku tidak pernah bertanya soalnya. Kami pun jarang bertemu muka. Melakukan perbincangan semacam ini sudah menjadi kemajuan cukup pesat untuk hubungan kami yang lebih anyep dari air tawar. Kami hanya kakak dan adik, karena kebetulan memiliki ayah yang sama.
Kak Saga menghela napas lagi. Jika melihat rautnya sekarang, aku merasa kasihan, walau dia sering sekali bikin ulah.
Aku mengangguk. Padahal aku belum tahu akan tinggal di mana setelah ini. Tempat Davi tidak mungkin. Tempat itu langsung penuh saat angkatan kami lulus. Lokasinya sangat dekat dengan kampus, sehingga waiting list-nya cukup panjang. Lagipula Davi belum memiliki rencana apa-apa setamat kuliah. Keluarganya cukup kaya di Riau sana. Dia tidak harus bekerja untuk menghidupi diri. Lagipula, dia tidak punya masalah dengan keluarga. Tidak ada alasan untuknya merantau.
“Nanti pamit sama Kak Sarah kalau mau pindah.”
“Kakak belum pulang?”
Kak Saga meringis. Rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan sepatu. Sampai kapan dia akan seperti ini? Kadang pekerjaan di kantor memang tidak mewakili karakter seseorang. Sebagai seorang manager yang memimpin sebuah divisi, seharusnya dia mampu memimpin seorang istri. Bukan salah Kak Sarah juga, sih. Mendengar usiran yang terlontar dari mulut kakak iparku, jelas Kak Saga yang menyodorkan masalah.
“Kalau uangmu habis, segera hubungi Kakak.” Kak Saga memeriksa jam di pergelangan tangan. Mungkin waktu istirahatnya sudah selesai, atau pekerjaannya tak bisa menunggu lagi.
“Kakak susah dihubungi.”
“Kamu yang tidak mau menghubungi Kakak, Mara. Ponsel Kakak selalu aktif.” Tatapan Kak Saga terlihat murung. Aku tidak suka menjadi pihak yang bersalah dalam hal ini. Aku yang selama ini tidak punya keberanian untuk menghubunginya karena hubungan aneh yang kami miliki. “Hati-hati.” Kak Saga langsung beranjak. Dia pergi begitu saja dengan tergesa. Dia bahkan tidak memesan apa-apa untuk minum.
Aku memandang lembaran uang di meja. Uang ini bisa buat biaya kos dan makan sebulan. Sebelum kerja, aku harus menghemat. Semoga Kak Saga benar-benar mengusahakan supaya aku cepat kerja.
*
Mencari kos-kosan ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Apalagi untuk area sekitar perkantoran seperti ini. Rata-rata sudah penuh. Jika pun ada berarti dua kemungkinan, tempatnya cukup parah dengan harga murah, atau bagus sekalian, dengan harga selangit. Memangnya berapa gajiku saat bekerja nanti, kalau harus merogoh kocek sedalam itu hanya untuk tempat tinggal?
Pantas saja sikap keluarga Kak Sarah agak gimana gitu bila bertemu denganku. Pasalnya aku menumpang dengan gratis selama empat tahun ini. Sedangkan adik Kak Sarah yang berjumlah tiga orang itu harus puas tinggal dalam satu kamar. Mereka bukan orang berada. Setahuku, selama ini Kak Sarah masih membantu orang tuanya perihal ekonomi.
Itu mengapa kakak iparku terbilang cukup peritungan. Kakakku bisa terkena omelan panjang saat membeli barang yang menurutnya tak berguna dengan harga jutaan rupiah. Pertengkaran-pertengkaran yang seringnya kudengar selalu membahas soal yang sama. Mungkin nasib pernikahan kakakku takkan seperti ini jika enam tahun lalu dia mau menikahi anak teman Ayah. Putri pemilik kebun kelapa sawit itu kurasa takkan serewel Kak Sarah.
Sedangkan untuk Kak Saga sendiri, dia dilarang Ibu untuk mengirimkan uang. Ibu takut putranya kekurangan di perantauan. Keluarga kami memang tidak memiliki masalah dengan ekonomi. Ayahku cukup mapan dengan banyak kebun dan beberapa pekerja yang dia miliki. Kebun karet yang lumayan luas, juga usaha ternak yang pengelolaannya diserahkan kepada orang lain.
Masalahnya bukan itu. Dalam keluarga kami, bukan uang yang membuat kami bercerai berai dan jauh satu sama lain. Tidak semua permasalahan rumah tangga itu mengenai ekonomi, bukan? Banyak faktor lain yang seharusnya orang lain tidak perlu tahu. Sayangnya dalam kasus keluargaku, hal tersebut seolah menjadi konsumsi umum. Sehingga orang-orang itu bisa bebas berkomentar.
“Kamu melamun di pinggir jalan.”
Aku mendongak. Ken berdiri di depanku dengan setelan lengkap seperti pagi tadi. Dia terkekeh dan ikut duduk di bangku panjang yang sedang kududuki. Ternyata aku sendirian di sini. Orang-orang yang tadi menunggu angkutan umum di sini sudah tidak ada.
“Masih kerja?” Aku yakin dia belum pulang. Selama aku tinggal di rumahnya, dia paling cepat sampai rumah itu pukul sepuluh. Sedangkan sekarang ... aku membuka layar ponsel, ternyata sudah jam sembilan lewat. Lama juga aku keliling mencari tempat tinggal.
“Mau pulang. Kamu tahu tidak, kamu tuh tidak kenal takut. Sendirian di pinggir jalan pada jam segini.” Ken memiringkan wajahnya hingga menghadap padaku. Kedua tangannya tersimpan di saku celana. Sepatunya masih terlihat mengkilat dan tidak cocok berada di halte dengan aroma sedikit busuk dari tempat sampah yang dikerubungi lalat. Ternyata dia pandai mengomel juga.
“Kantormu sekitaran sini?”
Ken berdecak. “Untung saja aku memutuskan lewat jalan ini tadi.” Dia masih melanjutkan omelan. “Kenapa dengan Kiara?”
Aku sedang menghindari pertanyaan itu. Aku benaran tunawisma sekarang.
“Dia tidak jadi pulang?” Ken bertanya lagi saat aku memilih bungkam.
Aku menggeleng. “Aku sedang mencari kos-kosan di sini. Sulit. Padahal lokasinya cukup strategis. Aku bisa berjalan kaki ke kantor.” Aku memandang gedung-gedung tinggi di seberang jalan. Tepatnya di belakang pemukiman padat tempat aku duduk sekarang. Padahal belum tentu juga aku akan bekerja di salah satu gedung itu. Meskipun demikian, lokasi ini cukup dekat dengan jalan utama yang dilewati trans Jakarta. Untuk transprotasi aku tidak harus menggunakan taksi. Itu cukup hemat buatku yang masih berstatus gelandangan.
“Sudah bekerja?” Ken tidak mengomel lagi. Binar matanya menghangat.
Aku menggeleng lagi. “Kakakku sedang mengusahakannya.”
Ken mengangguk. “Dengan kata lain kamu belum punya tempat tinggal dan pekerjaan, kan?”
***