Kiara bilang pesawatnya akan tiba pukul setengah satu. Paling tidak dia akan keluar dari bandara antara pukul satu sampai setengah dua setelah menunggu bagasi. Kalau jalanan tidak macet, dia akan sampai di apartemen sekitar pukul setengah tiga. Itu kalau dia tidak makan siang terlebih dahulu. Untuk itu aku sengaja menunggunya di basement supaya dia langsung menemukanku saat hendak naik ke unitnya nanti. Kalau nekat menunggu di lobi, dapat dipastikan Kia takkan tahu aku sedang menunggunya. Dia meninggalkan mobilnya di bandara selama seminggu penuh. Kemungkinan besar, dia akan kembali dengan kendaraan tersebut.
Sama sepertiku, Kia tidak suka membahas keluarganya. Dia justru lebih tertutup akan hal itu. Hidupnya selama ini selalu ceria dan tanpa beban. Dia tidak pernah menemui masalah berarti kecuali soal nilai mata kuliah. Selebihnya, dia menjalani hidup dengan bahagia.
Sebagai temannya, kami menghargai privasi yang Kia jaga. Tak seorang pun dari kami menyinggung tentang kota tempat dia berasal. Saat libur semester, dia bisa berada di mana saja. Bali menjadi tempat yang paling sering dia kunjungi setelah Singapura. Beberapa kali dia bilang pulang ke Bandung, bahkan pernah bilang sedang berada di Cirebon. Entahlah. Yang penting dia teman yang baik dan menyenangkan. Vibesnya yang selalu ceria cepat menular pada kami yang seringnya dilanda masalah.
Tidak butuh waktu lama sampai aku melihat mobil Kia memasuki area basement dan memilih tempat parkir. Citi car merah itu melaju mulus hingga berhenti di area yang cukup lengang. Tidak banyak kendaraan terparkir pada sore hari semacam ini. Apalagi tower dua, gedung tempat kamar Kia berada, hanya terdiri dari kamar-kamar tipe studio yang banyak dihuni mahasiswa. Setahuku, sedikit dari mereka yang memiliki kendaraan pribadi. Kebanyakan hanya penyewa tahunan. Bukan pemilik unit seperti Kiara. Aku mengenal beberapa di antaranya.
Tas ransel yang sejak tadi menemaniku di samping pintu lift segera aku tarik. Aku akan membantu Kia mengeluarkan barang bawaan. Gadis itu pasti sudah memindahkan isi butik ke dalam kopernya. Dia sangat suka belanja dan selalu mengeluh tidak punya baju.
Langkah lebarku yang hampir mendekati mobil Kiara mulai melambat. Gadis itu tidak sendirian. Dia masih berbincang dengan seseorang yang duduk di belakang kemudi. Kia menunduk. Seandainya dia menatap ke depan, dia pasti menemukanku yang mundur beberapa langkah hingga tubuhku terhalang mobil lain. Aku berdiri seperti paparasi yang sedang mencari berita terhangat. Yang kulakukan adalah mengintip apa yang dilakukan temanku sekarang. Konyol sekali.
Apa Kia memiliki kekasih? Selama ini dia tidak pernah dekat dengan cowok mana pun. Walau sikapnya ramah dan mudah bergaul, dia seperti menjaga jarak. Hanya Budi dan Ronald yang masuk dalam lingkup pertemanan terbatas yang Kia ciptakan. Benar, selama ini Kia tidak pernah dekat dengan teman cowok. Bahkan pada pacar Eka dan Davi pun dia tidak terlalu akrab.
Suara pintu mobil ditutup membuatku kembali siaga. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil melihat pemandangan ini. Padahal, apa yang aneh dengan seorang perempuan dan laki-laki berbincang dalam mobil? Kia bukan anak kecil. Tidak mungkin dia sedang diculik.
Kia berdiri di samping mobilnya. Laki-laki yang kutaksir berusia empat puluhan itu mengeluarkan isi bagasi. Ada dua koper besar dan satu tas tangan. Benar, kan? Gadis itu telah memindahkan isi butik ke dalam tasnya. Padahal dia hanya pergi seminggu.
Aku meringis melihat ransel yang menggantung pada sebelah bahuku. Sama-sama seminggu, tapi yang kubuhkan hanya ransel kecil yang tidak penuh.
Laki-laki itu memegang satu koper, sedangkan Kia memegang yang lain. Dia memeluk pinggang Kia sambil berjalan ke ... mari. Aku tidak mungkin diam saja seolah tidak melihat apa-apa. Pergi dari sisi mobil juga akan ketahuan. Kia semakin dekat dan dia mengerutkan kening saat melihatku yang berdiri kikuk. Aku belum pantas disebut paparazi.
“Lo benaran di sini?” Kia memandangku dari atas sampai bawah. Apa dia menyadari baju yang kukenakan itu sama seperti saat terakhir kali kami bertemu?
“Gue datang di saat yang nggak tepat kayaknya.” Aku meringis. Sumpah, situasi ini membingungkan. Aku ingin segera pergi, tapi ke mana? Aku tidak bisa kembali ke unit Ken karena tidak membawa kartu yang Ken tinggalkan untukku.
Kia menoleh pada laki-laki yang ... wajahnya familiar. Aku pernah melihat dia di mana, ya? Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Siapa dia? Ayah Kia? Tidak mungkin. Terlalu muda untuk menjadi seorang ayah. Paman? Apa semesra itu hubungan paman dan kemenakan? Entahlah, aku tidak punya paman.
“Lo kabur dari rumah?” Kia memandangku lagi.
Kepalaku mengangguk tanpa bisa dicegah.
Kia memandang laki-laki itu lagi. Mereka berbicara tanpa kata-kata. Seperti sedang bersenandika dengan jiwa. Tapi, yang kulihat keduanya paham dengan bahasa mata tersebut.
“Kalian bicara dulu.” Laki-laki itu melepaskan rangkulan tangannya. Dia menarik serta koper yang Kia pegang. Lalu, langkahnya mantap menuju pintu lift yang sepuluh menit lebih aku tunggui. Sampai laki-laki itu menghilang di dalam lift, kami belum bersuara.
Kia menarik napas berat. Dia menggaruk rambut sebahunya yang hari ini memiliki warna berbeda. Lebih terang dari yang terakhir kali aku lihat.
“Masuk mobil deh.” Kia masih menggaruk kepalanya saat mendekati mobil. Perasaanku mengatakan, sesuatu terjadi, dan itu berbuntut dengan kabar buruk yang sebentar lagi akan kudengar. Seberapa parah? Itu tergantung seberapa percaya Kia mau membaginya denganku.
Selama di dalam mobil yang kami lakukan hanya diam. Aku benci harus menebak-nebak apa yang terjadi. Memaksa Kia buka mulut juga bukan keahlianku. Aku bukan Eka yang pandai merangkai kata-kata pancingan supaya seseorang menjadi nyaman untuk bercerita. Aku juga bukan Davi yang tahu benar caranya menghibur. Pun bukan Kia, tentu saja. Kia yang ceria dan membawa energi positif. Aku adalah aku. Manusia yang sering terjebak dalam pikiranku sendiri. Terlalu banyak berpikir dan mengkhawatirkan sesuatu. Itu menjadi pemicu stres pertama yang seharusnya kuhindari.
Mobil telah meninggalkan apartemen dan bergabung dengan mobil lain pada ruas jalan yang tidak begitu padat. Kia membelokkan mobilnya ke gerai makan cepat saji dengan halaman parkir lumayan luas. Ya, kami perlu bicara. Bicara itu berteman karib dengan makan. Butuh energi lebih untuk mengutarakan sesuatu, bukan? Apalagi yang bersifat rahasia.
“Lo kabur dari kapan?” Pertanyaan pertama setelah kami duduk berhadapan di pojokan yang sepi. Pada jam segini memang jarang orang makan. Bukan waktunya makan siang, pun belum memasuki jam makan malam. Lagipula ini bukan week day.
“Minggu lalu.”
Kia langsung melotot. “Waktu lo pulang dari rumah gue itu?” Dia meneliti bajuku lagi. Benar, kan, dia menyadarinya?
Aku mengangguk. Tanganku meraih segelas cola di meja. Walau aku sudah makan siang tadi, tetap saja aku butuh tenaga untuk menceritakan ini. Aku butuh tumpangan di rumahnya sampai waktu yang belum jelas. Tidak mungkin aku bertingkah seolah akan menginap semalam.
“Kali ini soal apa?” Kia bersedekap. Dia sudah bosan mendengar drama rumah tangga kakakku. Kia memang menjadi tujuan utama saat aku pergi dari rumah. Dia akan mendengar kisah di balik kepergianku tentu saja. Meskipun aku tidak menceritakan secara detail, setidaknya aku harus menjabarkan alasan kenapa aku sampai mengetuk pintu rumahnya alih-alih menuju rumah Ronald.
Aku mengedikkan bahu.
Kia menghela napas. “Lo tinggal di mana selama ini? Hotel?”
Mana mungkin aku punya uang untuk menginap selama seminggu penuh. Lantas aku harus bilang apa?
“Oke. Gue nggak akan bertanya soal itu. Yang harus lo tahu, gue akan pindah. Rumah gue sudah laku.”
Cola yang baru saja lewat tenggorokan membuatku tersedak. Kia bangun dari duduknya. Dia mengusap punggungku perlahan.
“Hari ini gue mau beres-beres.” Kia kembali duduk setelah batukku reda.
Kepalaku yang awalnya baik-baik saja langsung berdenyut nyeri. “Ke mana? Boleh, kan, gue tahu ke mana lo akan pindah?”
Kia menggeleng samar. Dia menggigit bibir bawahnya. Aku tahu, dia sedang menahan diri untuk mengatakan sesuatu. Ini pasti sangat rahasia. Kalau dipikir-pikir, hidup Kia memang penuh dengan rahasia.
“Kita masih bisa bertemu?”
“Kalau kondisinya sudah kondusif, kita akan bertemu lagi. Untuk sementara nomor gue akan mati.”
Aku merinding. Perutku terasa diaduk. Kia memang terlihat baik-baik saja seperti biasa. Hanya saja, aku menebak ada sesuatu yang bakalan terjadi. Dia harus bersembunyi.
“Lo jangan khawatir gitu dong. Gue baik-baik saja. But away, lo tinggal di mana? Lo nggak bisa tinggal di sana lagi sampai masalah kakak lo selesai, ya? Sudah seminggu, ya? Mereka mau cerai memangnya?”
Cerai? Jangan. Ibu bisa tambah sakit kalau sampai mendengar berita ini. Selama ini aku hanya berkata meraka baik-baik saja saat Ibu bertanya. Meskipun kelakuan Kak Saga seperti bocah, aku ingin Ibu berpikir putranya telah dewasa.
“Lo sudah ngubungin Kak Saga?”
Aku menggeleng. Kalau yang Kia maksud menghubungi kakakku layaknya keluarga yang bertanya soal kabar hari ini, itu tidak pernah aku lakukan selama ini. Rasanya pasti aneh. Hal terakhir yang kulakukan hanya mengirim email padanya yang sampai hari ini belum dia balas. Kami tidak sedekat itu untuk menelpon dan memberi kabar satu sama lain.
“Dia tahu lo pergi dari rumah?”
“Entah.” Aku mengedikkan bahu.
“Lama-lama gue pengin ngasah golok buat nebas kepala abang lo, Ra. Dia nggak hadir apa, ya, pas ada pembagian otak?”
Aku terkekeh. “Ibu yang akan mati duluan kalau lo lakuin itu.”
Kia menarik gelas colanya dan dia meneguk dengan rakus. Di meja tersedia dua porsi paha ayam beserta burger yang masih utuh tanpa niatan untuk disentuh.
“Coba lo tanya Kak Saga. Dia sudah pulang apa belum? Gue nggak akan bertanya lo ada di mana selama ini. Lo bilang saja sama Kak Saga kalau nginep di rumah gue, kalau ... dia ... nanya.” Kia mendengkus.
“Terus?”
“Tanyain kerjaan lo gimana? Lo sudah kirim CV, kan? Percuma jadi manager kalau nggak bisa buat lo kerja di sana. Gue rasa lo nggak bakalan balik ke rumah itu, deh. Kalau lo cerita lebih awal, gue bisa pulang cepat, Ra.”
“Masalah lo kayaknya lebih berat dari gue.” Aku meringis.
Kia tergelak. Sudut matanya berair. Aku tahu dia takkan mengatakan apa-apa. Dia akan menyimpannya sendiri. Mungkin suatu saat nanti dia akan mengisahkan hari ini saat kami duduk berdua di usia senja. Jika kami masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi tentu saja.
“Lo benaran akan pindah?”
Kia mengangguk. Dia mengusap sudut matanya dengan tisu sambil tersenyum. Kia mengajarkan banyak hal hari ini. Senyum belum tentu menyelesaikan masalah, tapi membuat segala sesuatunya terasa lebih mudah.
“Gue antarin lo ke rumah Kak Saga dan packing.”
“Lo mau tau, kan, di mana gue tinggal?”
Kiara tergelak. “Ketahuan sekali, ya? Di rumah Ronald? Kalian balikan?”
Jadi, ini yang Kia pikirkan? Aku tinggal di rumah Ronald seminggu ini. Apa dia tidak mengerti konsep putus sepasang kekasih? Walaupun berat, aku tidak boleh kembali lagi ke sana. Sudah dapat dipastikan aku akan kalah. Aku akan melakukan hal konyol. Meminta Ronald untuk tetap tinggal salah satunya. Hal itu jelas tidak mungkin.
“Bukan.”
“Di mana, Mara?” Kia memekik. Dia bisa mati berdiri saat tahu nanti.
***