Sudah seminggu aku tinggal di rumah Ken. Kondominium atau griya tawang, entahlah, aku lebih suka menyebutnya rumah. Aku menempati kamar di lantai dua. Seperti biasa, aku akan bangun lebih cepat sebelum tuan rumah keluar dari kamar. Sebagai seseorang yang menumpang, aku harus tahu diri. Menyiapkan sarapan salah satunya. Karena pembantu Ken tidak datang setiap hari.
Pagi ini aku membuat nasi goreng. Makanan yang aku tahu pasti takkan disentuh oleh Ken. Seminggu ini, yang kutahu dari seorang Keanu adalah hidupnya konstan. Dia hanya butuh setangkup sandwich dengan dua telur yang dimasak dalam oven. Untuk minumnya dia hanya mau air putih hangat. Aku selalu menyiapkannya tepat pukul tujuh-lima-belas. Dia akan keluar dari kamarnya dengan setelan rapi yang selalu berbeda setiap hari.
Ken bekerja tanpa mengenal hari. Tidak ada istilah weekend atau tanggal merah. Dia akan berangkat setiap pagi, lalu pulang cukup larut. Mungkin dia lupa telah meninggalkan seorang Samara di rumahnya. Eh, hei, memangnya siapa kamu, Mara? Kenapa kamu berharap menjadi istimewa? Dia menampungmu tanpa bertanya apa-apa. Seharusnya yang perlu kamu lakukan hanya berkata terima kasih. Itu saja.
Tujuh-tiga-belas, dua menit lagi Ken akan keluar dari kamarnya. Semua yang dia butuhkan untuk sarapan sudah siap di meja. Termasuk sepiring nasi goreng seafood milikku. Taburan cilantro dan tiga sendok acar lobak menjadi teman yang cukup menggugah selera. Untuk minumku sendiri, aku menyeduh secangkir teh chamomille. Entah kenapa ada teh tersebut di lemari kabinet Ken? Dia bahkan tidak pernah meminumnya.
Hari ini Kiara pulang dari Bali. Pesawatnya akan mendarat siang nanti. Aku sudah bilang pada Kia akan langsung mengunjunginya tanpa bercerita aku telah tinggal di apartemen ini selama dia pergi. Kia menganggap aku sedang menunggu oleh-oleh darinya. Dia akan tahu nanti, kalau aku meninggalkan rumah dan tak seorang pun mencariku sampai detik ini. Tidak ada yang khawatir atau bertanya di mana aku berada sekarang? Tidak kakakku, apalagi kakak iparku. Itu jelas tidak mungkin. Seharusnya aku tidak berharap mereka akan merasa kehilangan saat aku tidak ada.
“Baunya enak.” Ken duduk di seberang meja setelah menyimpan tasnya ke sofa. Dia memandangi isi meja yang lumayan penuh. Selain nasi goreng, aku menjajal kemampuan membuat risoles. Seminggu terakhir, aku mempelajarinya dari youtube. Aku tidak punya kegiatan lain selain menunggu. Menunggu kabar dari Kak Saga terutama. Mengenai CV-ku yang kukirim via email padanya.
Kakakku itu sama sekali tidak bertanya aku berada di mana sekarang. Kemungkinannya ada dua, dia bersyukur karena aku sudah tidak ada di rumahnya lagi, atau dia belum pulang sama sekali. Perseteruannya kali ini lumayan lama. Pasti sesuatu yang dahsyat telah terjadi.
“Kamu terlihat rapi. Ada rencana untuk keluar?” Ken menatapku lama. Dia meneliti penampilanku yang memang lebih rapi dari biasanya. Beberapa waktu terakhir aku sering terlihat mengenakan celana olahraga Ken dan kaus oblongnya yang menenggelamkanku.
Aku tidak terlalu pendek. Namun, jika dibandingkan dengan Ken yang kemungkinan tingginya di atas 180 senti itu, aku bukan apa-apa.
“Kia siang ini sampai.”
Ken berkedip sekali, dua kali, lalu keningnya berkerut. Apa dia melupakan soal Kiara? “Bagaimana dengan lamaran kerjamu? Tidak ingin mencobanya di perusahaan tempatku bekerja?” Ken meraih gelasnya. Dia menyeruput sebentar.
“Tidak. Perusahaanmu menyiksa karyawan. Aku memang butuh uang dan tempat tinggal. Tapi, aku juga butuh bertemu dengan temanku. Berkumpul dengan orang lain. Mencari pacar baru, mungkin.” Aku mengedikkan bahu. Entah kenapa aku tidak begitu kecewa lagi saat menyadari sudah tidak bersama Ronald. Kami memang tidak bisa bersama karena pandangan yang sama. Kami sama-sama tidak percaya LDR. Daripada menyesali putusnya kami, aku cenderung marah karena dia bisa begitu saja memaafkan papanya. Sedangkan sampai detik ini aku belum punya alasan untuk melakukan itu pada Ayah.
“Kenapa kamu berpikir perusahaanku begitu?”
“Perusahaanmu?”
“Ya. Perusahaan tempatku menghasilkan uang.” Ken mulai menggigit sandwich-nya. Aku pun mulai menyendok nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas. Di sini aku bisa masak sesukaku selama Ken tidak ada di rumah. Hal yang tidak bisa aku lakukan di rumah Kak Saga.
Suatu siang, Ken pernah pulang ke rumah. Dia bilang habis bertemu klien di luar. Dia mengajakku belanja. Kami seperti pasangan pengantin baru yang memutari supermarket. Membeli perabotan yang masih kurang, pun mengisi kulkas hingga penuh. Padahal aku lebih sering makan sendirian. Ken jarang makan di rumah kalau bukan untuk sarapan. Dia pulang ke rumah saat hari sudah tidak pantas lagi dikatakan petang. Biasanya aku sudah tidur. Sekali aku menunggunya pulang, sampai tidak sadar sudah berpindah ke tempat tidurku. Sejak saat itu aku tidak mau menunggunya lagi.
“Kamu selalu pergi pagi dan pulang larut malam. Kapan kamu akan mencari teman hidup? Tapi, kasihan dia kalau kamu tinggal seperti itu. Pasti hidupnya sangat membosankan.” Aku mengedikkan bahu. Laki-laki ini memang gila kerja atau di kantornya tidak ada orang lain yang cakap dalam bekerja?
“Itu karena kami sedang mengejar kuota export yang belum penuh. Kuartal kedua ini harus lebih banyak dari kuartal pertama. Pada kuartal ketiga kami bisa menurunkan produksi, karena akan banyak libur. Jadi, kita kebut sekarang. Supaya akhir tahun kami bisa sedikit santai.” Ken menelan gigitan terakhir.
“Bukan saat yang tepat untuk melamar kerja.”
Ken terkekeh. “Kamu ini pengangguran yang pemilih.”
“Ayah masih mengirimiku uang selama aku belum bekerja.” Aku mengedikkan bahu lagi. Sepertinya itu yang sering aku lakukan belakangan ini.
“Tidak ingin pulang ke Kalimantan?”
Aku menggeleng tanpa ragu. Ken tidak perlu tahu alasannya. Aku juga sedang malas membahas hal tersebut. Bisa membuat mood-ku buyar pagi ini. Itu tidak baik untuk kesehatan jiwaku. Terutama saat aku menjadi tunawisma seperti sekarang.
“Jika tidak ada kabar tentang lamaranmu, kamu bisa menghubungiku.”
“Kamu bisa menjaminku bekerja?” Sekarang aku memikirkan apa jabatan Ken di perusahaan tempatnya bekerja. Kalau dia punya pengaruh sebesar itu, dia pasti memiliki jabatan yang cukup tinggi. Aku merasa memiliki seorang sugar daddy sekarang.
“Iya.”
Aku meringis. Aku benar-benar seperti gadis simpanan. “Tidak, terima kasih. Aku akan pindah siang nanti. Terima kasih untuk semuanya.”
Ken memandangku lama. “Apa harus pindah?”
“Jangan bilang kamu mulai nyaman hidup denganku.” Tanganku merinding memikirkan itu. Sejauh ini Ken cukup sopan padaku. Dia tidak pernah berbuat apa-apa. Aku justru merasa menemukan seorang kakak pada dirinya yang agak cuek dan bertanya sekadarnya. Dia memastikan aku cukup nyaman di rumahnya. Aku tidak kekurangan makan, pun tidak merasa bosan. Untuk itu dia membiarkanku mengeksplor dapurnya sesuka hati.
“Tidak akan ada yang menyiapkan sarapan untukku lagi.” Dia tersenyum. “Kalau ada waktu datanglah kemari. Masak sesuatu untukku.”
“Memangnya kamu akan memakannya? Kamu tidak takut keracunan atau apa?” Aku mengacungkan sendok yang kupegang. Dia justru menarik sendok tersebut. Tanpa sungkan Ken menyendok nasi goreng buatanku dan menyuap cukup besar. Dia mengunyah perlahan. Aku masih terpaku dengan apa yang baru saja dia lakukan. Ken makan dengan sendok bekas dari mulutku? Kenapa ini menjadi aneh? Kami bahkan pernah melakukan ciuman panas, dan lebih dari itu.
“Enak. Sebaiknya kamu buka restoran dengan menu sarapan seperti ini. Bekerja untuk orang lain itu tidak enak.” Ken melakukan suapan kedua.
Aku berdeham. Sekujur tubuhku merinding sekarang. “Usaha itu butuh modal. Bukan hanya bakat.” Aku meraih cangkir teh yang belum kusentuh sejak tadi. Rasanya ada yang nyangkut di tenggorokan.
“Kalau kamu mau, aku bisa melakukan investasi untuk itu. Buatlah proposal yang masuk akal.” Ken menyerahkan sendokku setelah suapan ketiga. Dia mengunyah sambil bicara. Aku memandang sendok itu lama, sampai Ken meletakkannya di piring begitu saja. Dia menenggak sisa air hangat dalam gelas hingga tandas. “Jangan sungkan untuk mampir kalau sudah dapat pekerjaan.” Dia beranjak dari duduknya dan meraih tas. Langkahnya mantap menuju pintu apartemen. Dia keluar tanpa menoleh.
Aku memandang sisa nasi di piring. Walau belum kenyang aku tidak bermaksud untuk menghabiskannya juga. Aku memilih sepotong risoles yang ternyata keasinan. Aku harus mengurangi takaran garam untuk percobaan berikutnya. Restoran dengan menu sarapan? Bisa-bisa usahaku bangkrut sebelum dimulai. Aku tidak semahir itu di dapur. Hanya beberapa menu yang kukuasai. Itu pun karena aku sangat menyukai menu tersebut.
***