Dia tinggal di griya tawang. Lantai paling atas tower nomor tiga. Sangat luas untuk ukuran unit apartemen. Bahkan lebih luas dari rumah Kak Saga yang berada di perumahan. Tidak ada penghuni lain. Menurut pengakuannya, dia masih lajang. Akan datang seorang cleaning service seminggu dua kali untuk membersihkan rumahnya.
“Kamu bisa pilih kamar ....” Dia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan yang terang benderang. Nuansa putih dan abu tua menunjukkan sisi maskulin pemiliknya. Tidak ada pajangan atau pernik yang menandakan kehadiran seorang wanita di tempat ini. Semuanya bersih, atau lebih tepatnya dingin. “Di atas juga ada kamar.” Dia mendongak. Ada tangga dengan teralis minimalis dan pijakan sewarna kayu di sisi lain kamar.
“Aku akan menunggu di sini saja.” Aku menyimpan tas di sudut sofa sebelum melesakkan diriku di sana. Permukaan sofanya sangat lembut. Hal ini dapat dipastikan akan membuatku terlelap tanpa menunggu waktu lama.
“Tidak ingin mandi?” Ken memandangku. Dia mengaku bernama Keanu. Aku cukup memanggilnya Ken saja. Tidak ada embel-embel lain. Tidak juga ingin menjelaskan apa pekerjaannya. Mungkin karena aku tidak bertanya. Cukup saling tahu nama satu sama lain. Tidak perlu perkenalan lebih lanjut.
“Tidak.”
Dia tersenyum. “Kalau butuh sesuatu, panggil aku. Aku akan mandi sebentar.” Dia menunjuk pintu bercat putih tepat di belakangku. Itu kamarnya? Kenapa aku harus memanggilnya? Kenapa dia mandi sebentar? Lama juga tidak mengapa. Aku takkan mengganggunya lagi, seandainya dia tidak keluar dari sana sampai besok pagi.
“Terima kasih.”
Ken sudah menghilang di balik pintu saat aku berusaha menebak-nebak, apa pekerjaan laki-laki ini? Dia cukup berduit. Aku tidak menyangkalnya. Kami berdua pernah berada di sebuah kamar president suit di hotel bintang lima. Walaupun hanya semalam, aku rasa harganya tidak murah.
Rumah dingin dan bersih hanya menjelaskan pemiliknya yang kaku. Tidak menjelaskan apa pun tentang kehidupan prbadinya sebagai seorang laki-laki. Bodohnya aku yang langsung setuju untuk ikut naik ke unit apartemennya, hanya karena hari sudah terlalu larut untukku berkeliaran sendirian. Tak seorang pun teman yang bisa kuhubungi sekarang. Tidak mungkin aku menghubungi Ronald setelah status kami yang bernama mantan pacar.
“Mau cokelat panas? Teh chamomile? Atau air putih? Kamu suka minuman apa?” Ken keluar dari kamar dengan outfit santai dan rambut masih basah tanpa disisir. Celana denim selutut dipadu dengan kaus oblong warna putih membuat kulit terangnya semakin cerah. Dia memiliki biji mata serupa kacang almond. Aku baru menyadarinya sekarang. Entah ibu atau ayahnya pasti memiliki darah bukan Indonesia. Dia berdarah campuran. Tidak heran melihat postur tubuhnya yang cukup tinggi tegap.
“Cokelat.” Aku menjawab sekenanya. Ponsel yang tersimpan di kantung ransel segera aku keluarkan. Semoga Kiara sudah mengaktifkan ponselnya hingga aku tidak perlu berlama-lama di sini. Walaupun tidak merasakan ancaman, atau bau bahaya, tetap saja Ken adalah orang asing.
Ken menuju pantri tidak jauh dari tempat dudukku. Dengan cekatan dia mengeluarkan mug dari lemari kabinet. Lalu, satu toples kaca berisi bubuk cokelat dia keluarkan setelahnya. Gerakan tangannya yang tidak ragu menunjukkan dia terbiasa melakukan itu. Ya, dia hidup sendiri. Setidaknya dia harus mengurus dirinya supaya tidak kelaparan.
Dua cangkir berisi cairan cokelat panas bersisihan di meja. Ken turut duduk di sofa. Dia mengawasiku yang terlalu fokus pada layar ponsel yang tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Kiara benar-benar tidak bisa dihubungi.
“Temanmu tidak bisa dihubungi? Mau kuantar ke unitnya? Barangkali dia benaran tertidur.”
Ah, ya. Kenapa tidak terpikirkan hal itu. Ken adalah salah satu penghuni apartemen. Dia memiliki kartu sebagai akses naik lift. Dia bisa mengantarku ke tempat Kiara.
“Minum cokelatmu dulu. Aku akan mengantarmu setelahnya.” Ken maraih cangkirnya.
“Kalau dia tidak ada?” Aku melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka satu. Biasanya Kiara sedang berkeliaran pada jam-jam seperti ini. Night club adalah rumah keduanya.
“Di sini ada tiga kamar kosong, Mara. Kamu boleh pilih salah satunya. Atau kamu tidak berani tidur sendiri? Aku tidak keberatan untuk menemani.” Ken terkekeh.
Aku mendengkus. “Apa yang kamu pikirkan tentangku? p*****r? Cewek simpanan om-om? Atau cewek gatel?”
“Wo wo wo. Kamu mudah marah ternyata. Aku tidak pernah berpikir seperti itu.” Ken menyimpan cangkirnya ke meja. Dia menyugar rambutnya yang masih basah. Terlihat tampan dan memesona. Dia memang memiliki semua yang dibutuhkan seorang pria untuk menjerat wanita model apa pun. Kaya, tampan, memiliki body yang hot. Aku tidak perlu menjabarkan apa yang ada di balik kausnya, kan? Meskipun samar, aku masih mengingat setiap jengkal tubuhnya yang bergesekan dengan kulitku.
“Tidak? Lalu apa yang kamu pikirkan?”
Ken tampak berpikir. “Cewek yang sedang patah hati.”
Tepat sekali. Apa aku meracau malam itu? Apa aku menceritakan semuanya? Apa aku membahas tentang Ronald? Seharusnya aku tidak mengikuti saran Kiara untuk mabuk dan bersenang-senang di club. Tempat seperti itu ternyata tidak cocok untukku. Aku bahkan tidak tahu saat seseorang memindahkanku ke kamar hotel dari lantai dansa yang membuat kepalaku pusing.
“Kita akan membahasnya sekarang?” Dia bertanya saat aku terdiam cukup lama. “Hari itu kamu langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.”
“Seharusnya aku meminta bayaran.” Aku mendengkus dan dia tertawa.
“Aku tahu kamu takkan melakukan itu. Kamu seorang mahasiswi. Bukan orang Jakarta. Lalu ....”
“Dari mana kamu tahu?” Apa dia menyelidikiku setelah pagi itu? Menakutkan.
“Memangnya aku akan diam saja tanpa memeriksa identitasmu? Kalau terjadi apa-apa, aku harus tahu, ke mana harus mengantarmu pulang.”
Masuk akal. Itu berarti pilihannya ada dua. Mengantarku ke kampus atau ke Kalimantan. Pertama lebih masuk akal.
“Apa kamu mabuk malam itu?”
“Tidak.”
Aku mengerjap. Seharusnya dia berkata mabuk, itu lebih baik. Dengan begitu aku bisa menyalahkan alkohol. Kami melakukan kesalahan karena alkohol.
“Kamu menyerangku.” Dia tersenyum.
Aku menunjuk d**a. Aku menyerangnya?
“Aku tidak keberatan dipanggil Ronald, kamu luar biasa.” Dia terkekeh.
Sial. Apa ada tempat untuk malu sekarang? Tubuhku terasa gerah. Aku takkan pernah menyentuh alkohol lagi. Itu bukan solusi.
“Seharusnya kita tidak usah bertemu lagi.” Aku menarik ransel. Aku harus segera pergi dari sini.
“Kamu malu?” Dia terkekeh lagi. “Minum dulu. Kita lupakan malam itu jika itu mengganggu.”
Sangat mudah baginya mengatakan itu. Dia laki-laki. Apa laki-laki memang tidak merasa peduli akan hal itu? Dia bisa saja menghindar kalau memang aku menyerangnya, bukan? Tapi, yang kulihat dia juga ... ah, sial. Kenapa aku harus mengingatnya sekarang? Bagaimana tidak. Dia berada tepat di hadapanku sekarang. Oke, benar. Yang harus aku lakukan adalah melupakannya. Kami dua orang dewasa yang tidak saling kenal. Itu hanya kecelakaan. Aku tidak akan ...
“Kamu pakai pengaman, kan?” tiba-tiba aku merasa ngeri. Kalau aku hamil bagaimana? Cerita-cerita novel online berkelebat di benakku. One night stand dengan orang asing berakhir hamil, ceweknya kabur, lalu beberapa tahun kemudian mereka bertemu. Oh, tidak. Aku takkan melakukan itu. Jika benaran hamil hanya ada satu pilihan, gugurkan segera. Otakku teramat b***t. Aku tidak mau terikat pernikahan dengan orang yang tidak dikenal. Kedua, aku tidak mau membesarkan anak seorang diri. Walau keluargaku bukan berisi orang-orang suci, kehamilan akan membawaku kembali ke Kalimantan. Itu tidak boleh terjadi.
“Kamu belum halangan sejak hari itu? Sudah sebulanan, kan?” Dia terlihat serius.
Mati. Dia tidak menggunakan pengaman. Aku belum haid. Aku harus memeriksakan diri. Bukan karena hamil atau tidak, menstruasiku memang tidak lancar sejak dulu. Menurut dokter karena aku terlalu stres.
Tawanya menyembur kemudian. “Tenang saja. Aku memakainya. Lagipula aku belum ingin mencetak Keanu Junior sekarang.”
Aku mengembuskan napas lega. Cangkir berisi cokelat panas yang belum aku sentuh segera kuraih. Mendadak leherku kering. Tingkah Ken membuatku ketakutan. Hamil, tidak punya tempat tinggal, belum memliliki pekerjaan bukan kombinasi situasi yang aku inginkan sekarang.
“Apa rencanamu?”
“Segera dapat pekerjaan.”
“Sudah lulus?”
“Tinggal wisuda.”
“Ada pengalaman magang di mana, gitu? Biasanya mahasiswa ada pelatihan lapangan di perusahaan. Jurusan apa?”
“Managemen.”
“Klasik.”
Aku mengangguk. Memang jurusan ini banyak diminati. Untuk bisa masuk saja butuh perjuangan, apalagi bisa keluar. Dalam dunia kerja, kami juga harus bersaing dengan lulusan luar negeri. Terutama jika ingin mengadu nasib di perusahaan besar skala nasional.
“Aku akan memasukkan lamaran di tempat magang dulu. Ke perusahaan lain juga.” Aku sudah membuat CV walau ijazah belum keluar. Transkrip nilai dari ujian semester bisa aku gunakan sebagai acuan, beserta surat keterangan lulus yang aku terima dua minggu lalu.
“Mau aku bantu?”
Aku yang sedang mencangklong tas hanya menatapnya tak mengerti.
“Pekerjaan.”
“Oh. Aku akan meminta tolong kakakku untuk memasukkanku ke sana.” Aku memang berencana meminta tolong pada Kak Saga dalam hal ini. Lagipula aku sudah mengenal beberapa orang di sana. Kak Saga yang membantuku untuk mencari tempat magang saat itu, setelah Kak Sarah mengabaikan permintaanku kala itu.
Tadinya aku berpikir akan berkarier di dunia periklanan. Yang aku lihat dari Kak Sarah, dia sangat menikmati pekerjaannya. Sayangnya dia sama sekali tidak peduli padaku. Lupakan Mara. Dia memang tidak menyukaimu sejak awal. Jangan terlalu kecewa.
“Jika butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku.”
“Kita takkan bertemu lagi.” Aku beranjak. Ken terkekeh. Dia turut keluar dari unit apartemennya dan kami bersisihan menuju lift.
“Kamu sangat malu rupanya.”
“Kenapa tidak berpikir aku marah?”
“Apa karena aku tidak sehebat Ronald?”
Oh, come on. Haruskah kita membahas ini sekarang?
“Oke, tidak akan aku bahas. Lagian kita tidak akan bertemu lagi.” Ken benar-benar tertawa.
Tawa itu berhenti saat ponselku berdenting. Pesan masuk dari Kiara yang membuatku lemas. Dia sedang berada di Bali sekarang. Minggu depan baru pulang. Ken semakin kuat tertawa.
***