Pulang kerja langsung menuju rumah Ken sudah menjadi kegiatanku setiap hari sekarang. Dia akan mengantarku pulang hampir menjelang tengah malam. Padahal dia tahu benar aku akan terbangun pukul tiga pagi, sehingga sangat kekurangan jam tidur. “Pindah kemari saja.” Itu yang Ken katakan saat aku mulai protes. “Aku akan memelukmu hingga pagi sehingga waktu tidurmu tidak berkurang. Lagipula repot juga harus mengantarmu pulang. Padahal kita tinggal memejamkan mata saja sampai pagi.” Itu yang dia tambahkan begitu aku melotot padanya. Dia pikir akan semudah itu memboyongku ke rumahnya saat orang rumahku tahu, bahwa kami sedang dekat sekarang. Aku hanya bisa menyebutnya dekat. Ken tidak pernah memintaku menjadi kekasihnya. Dia hanya bilang menyukaiku. Itu saja. Apa itu pantas disebut itu saja? A

