Belum ada jam delapan saat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tante Nadia memang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia bilang akan menjemputku. Padahal aku sudah menawarkan diri untuk bertemu di luar, supaya lebih cepat. “Pacar kamu, Ra?” Kak Saga yang baru mengambil air dari kulkas memandangku yang sedang mengikat tali sepatu. Kak Sarah yang duduk di sampingku memberi tatap bertanya. Hari Minggu ini mereka sepakat untuk tidak lembur dan berencana mendatangi tempat terapi. Kak Sarah sudah membahasnya semalam, saat kami makan bersama. “Bukan, emaknya.” Aku segera bangun. “Maksud kamu Bu Nadia?” Kak Saga melotot. “Kecuali Ken punya emak lain. Duluan, ya, Kak.” Aku menoleh pada Kak Sarah yang bengong. “Seriusan, Ra?” “Iya. Kenapa? Kakak mau sungkem?” Aku menghentikan langkah.

