Kamarku masih sama seperti dulu. Aku menyapa permukaan seprai yang –kurasa, baru diganti oleh Kak Sarah. Lipatan seprainya masih terlihat nyata soalnya. Pun pada bantal dan guling yang sekarang ditumpuk pada ujung dipan. Dipanku berukuran single. Terletak di sudut ruangan yang tidak terlalu luas. Ada satu buah almari dua pintu yang cukup ramping. Bagiku itu sudah cukup, karena aku tidak memiliki banyak barang. Entah kalau sekarang? Aku pergi dari rumah membawa satu koper dengan isian seadanya dan kembali dengan koper penuh serta beberapa paper bag. Aku tidak mungkin memasukkan tas dan stiletto ke koper, kan? Terpaksa aku mengangkutnya dengan wadah yang berbeda. Memang terkesan aku habis belanja. Kak Sarah bahkan sampai mengerutkan kening dan menaikkan alisnya saat membaca merk-merk dalam

